Kategori: Mengapa Kami Memilih Islam

  • Abdullah bin Salam

    Husain bin Salam adalah Kepala Pendeta Yahudi di Madinah. Walaupun penduduk Madinah berlainan agama dengannya, namun mereka menghormati Husain. Karena di kalangan mereka, dia terkenal baik hati, istiqamah, dan jujur.

    Husain hidup tenang dan damai. Baginya waktu sangat berguna. Karena itu ia membaginya dalam tiga bagian. Sepertiganya ia pergunakan di gereja Yahudi untuk mengajar dan beribadat. Sepertiga lainnya ia habiskan di kebun untuk merawat dan membersihkan tanaman. Sepertiga lagi untuk membaca Taurat dan mengajarkan kepada orang lain.

    Setiap kali menemukan ayat Taurat yang mengabarkan tentang kedatangan seorang nabi di Madinah, ia selalu membacanya berulang-ulang dan merenunginya. Dipelajarinya lebih mendalam tentang sifat-sifat dan ciri-ciri nabi yang ditunggu-tunggunya itu. Ia sangat gembira ketika mengetahui orang yang ditunggunya itu telah lahir dan akan hijrah ke Madinah. Karena itu ia selalu berdoa agar Allah memanjangkan usianya supaya bisa bertemu dengan nabi yang ditunggu-tunggunya dan menyatakan iman. Allah memperkenankan doa dengan memanjangkan usianya dan mempertemukannya dengan penutup para nabi, Muhammad SAW. Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, Husain bin Salam mencocokkannya sifat-sifatnya dengan yang ia ketahui dari Taurat. Begitu mengetahui persamaan-persamaan tersebut, ia yakin benar bahwa orang yang ia tunggu telah datang. Namun hal itu ia rahasiakan terhadap kaum Yahudi.

    Tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah dan tiba di Quba, seorang juru panggil berseru menyatakan kedatangan beliau. Saat itu Husain bin Salam sedang berada di atas pohon kurma. Bibinya, Khalidah bint Harits menunggu di bawah pohon tersebut. Begitu mendengar berita kedatangan Rasulullah, ia berteriak,”Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

    Mendengar teriakan itu, bibinya berkata, “Allah Mahapengasih. Seandainya engkau mendengar kedatangan Musa bin Imran, engkau tidak bisa membuat suara yang lebih keras.”

    “Wahai Bibi! Demi Allah, dia adalah saudara Musa bin Imran. Dia dibangkitkan membawa agamanya yang sama,” jawab Husain.

    “Diakah nabi yang sering engkau ceritakan?” tanya bibinya.

    “Benar!”

    Maka bibinya pun menerimanya.

    Lalu Husain bergegas menemui Rasulullah yang sedang dikerumuni orang banyak. Setelah berdesak-desakan, akhirnya Husain berhasil menemui beliau SAW. Ucapan pertama kali yang keluar dari mulut beliau SAW adalah, “Wahai manusia, sebarkanlah salam. Beri makan orang yang kelaparan. Shalatlah di tengah malam, ketika orang banyak sedang tidur nyenyak. Pasti engkau masuk surga dengan bahagia.”

    Husain bin Salam memandangi Rasulullah dengan lekat. Ia yakin, wajah beliau tidak menunjukkan raut pembohong. Perlahan Husain mendekati seraya mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Rasulullah menoleh kepadanya, “Siapa namamu?”

    “Husain bin Salam,” jawabnya.

    “Mestinya Abdullah bin Salam,” ujar Rasulullah mengganti namanya dengan lebih baik.

    “Saya setuju!” jawab Husain. “Demi Allah yang mengutus engkau dengan benar, mulai hari ini saya tidak ingin lagi memakai nama lain selain Abdullah bin Salam.”

    Setelah itu Husain yang sudah berganti nama dengan Abdullah bin Salam segera pulang. Ia mengajak seluruh keluarganya, termasuk bibinya, Khalidah yang saat itu sudah lanjut usia, untuk memeluk agama Islam. Mereka menerima ajakannya. Abdullah bin Salam meminta keluarganya untuk merahasiakan keislaman mereka kepada kaum Yahudi sampai waktu yang tepat.

    Beberapa saat kemudian Abdullah menemui Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi suka berbohong dan sesat. Saya minta engkau memanggil ketua-ketua mereka, tapi jangan sampai mereka tahu kalau saya masuk Islam. Serulah mereka ke agama Allah, saya akan bersembunyi di kamar engkau mendengar reaksi mereka.”

    Rasulullah menerima permintaan Abdullah bin Salam. Beliau memasukkannya ke dalam biliknya dan mengumpulkan para pemuka Yahudi. Rasulullah mengingatkan mereka tentang ayat-ayat Al Quran dan mengajak mereka masuk agama Islam. Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak mau menerima ajakan beliau. Bahkan dengan beraninya mereka membantah ucapan-ucapan Rasulullah.

    Setelah mengetahui bahwa mereka enggan menerima seruannya, Rasulullah bertanya, “Bagaimana kedudukan Husain menurut kalian?”

    “Dia pemimpin kami, Kepala Pendeta kami dan pemuka agama kami,” jawab mereka.

    “Bagaimana pendapat kalian kalau dia masuk Islam? Maukah kalian mengikutinya?” tanya Rasulullah.

    “Tidak mungkin! Tidak mungkin dia akan masuk Islam. Kami berlindung kepada Allah, tidak mungkin dia masuk Islam,” jawab mereka.

    Tiba-tiba Abdullah bin Salam keluar dari bilik Rasulullah dan menemui mereka seraya berkata, “Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Terimalah agama yang dibawa Muhammad. Demi Allah, sesungguhnya kalian sudah mengetahui bahwa Muhammad itu benar utusan Allah. Bukankah kalian telah membaca nama dan sifat-sifatnya dalam Taurat? Demi Allah, saya mengakui Muhammad adalah Rasulullah. Saya beriman kepadanya dan membenarkan segala ucapannya.”

    “Bohong!” jawab orang-orang Yahudi. “Engkau jahat dan bodoh, tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah,” umpat mereka lalu pergi meninggalkan Abdullah bin Salam dan Rasulullah.

    “Engkau lihat, wahai Rasulullah. Orang-orang Yahudi itu pendusta dan sesat. mereka tidak mau mengakui kebenaran walaupun di depan mata,” ujar Abdullah.

    Abdullah bin Salam menerima Islam seperti orang yang kehausan yang merindukan jalan ke telaga. Lidahnya selalu basah oleh untaian ayat-ayat Al Quran. Ia selalu mengikuti semua seruan Rasulullah sehingga suatu ketika beliau memberi kabar gembira dengan surga.

    Suatu ketika Qais bin Ubadah dan beberapa orang lainnya sedang belajar di serambi masjid. Dalam kelompok itu terdapat seorang lelaki tua yang ramah dan sangat menyenangkan hati. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya selalu menarik perhatian orang. Ketika lelaki itu pergi, orang-orang saling bertanya siapa dia. Di antara mereka ada yang berkata, “Siapa yang ingin melihat penduduk surga, lihatlah lelaki itu!”

    Qais bin Ubadah segera bertanya, “Siapa dia?”

    “Abdullah bin Salam,” jawab mereka.

    Qais bin Ubadah memutuskan untuk mengikuti lelaki itu sampai jauh keluar kota Madinah. Setelah diizinkan masuk, Qais menemuinya.

    “Apa keperluanmu anak muda?” tanya Abdullah.

    “Saya mendengar orang-orang berbicara tentang diri Bapak. Kata mereka, siapa yang ingin melihat penghuni surga, lihatlah Bapak! Mendengar ucapan mereka, saya mengikuti Bapak sampai ke sini. Saya ingin mengetahui mengapa orang banyak berkata begitu?”

    “Allah yang lebih mengetahui tentang penduduk surga,” jawab Abdullah.

    “Ya, tapi pasti ada sebabnya mengapa orang-orang berkata begitu?”

    “Baik, akan kujelaskan.”

    “Silakan, semoga Allah membalas segala kebaikan Bapak,” ujar Qais.

    “Pada suatu malam ketika Rasulullah masih hidup, saya bermimpi. Seorang laki-laki datang menemuiku seraya menyuruhku bangun dan mengajakku pergi. Tiba-tiba saya melihat sebuah jalan di sebelah kiri. Saya bertanya, ‘Jalan kemanakah ini?’

    ‘Jangan turuti jalan itu, itu bukan jalanmu,’ jawab orang itu.

    Tiba-tiba saya melihat jalan yang terang benderang di sebelah kananku. ‘Lewatilah jalan itu,’ kata orang itu.

    Saya mengikuti jalan yang terang itu hingga tiba di sebuah taman yang subur, luas, dan penuh dengan pohon-pohon hijau dan indah. Di tengah-tengah taman terdapat sebuah tiang besi. Pangkalnya tertancap di tanah dan ujungnya sampai ke langit. Di puncaknya terdapat sebuah aula berlapis emas.

    Orang itu berkata, ‘Panjatlah tiang itu!’

    ‘Aku tidak bisa,’ jawabku.

    Tiba-tiba datang seorang pembantuku lalu dia menaikkan tubuhku sampai ke puncak tiang. Aku tinggal di sana sampai pagi dengan perasaan yang sangat bahagia.

    Setelah hari pagi, kudatangi Rasulullah dan kuceritakan kepada neliau perihal mimpiku. Beliau bersabda, ‘Jalan yang engkau lihat di sebelah kiri adalah jalan ke neraka. Jalan yang engkau lalui di sebelah kanan adalah jalan penduduk surga. Taman yang indah itu adalah Islam. Adapun tiang yang terpancang di tengah taman itu adalah tiang agama. Adapun aula itu adalah pegangan yang kokoh dan kuat. Engkau senantiasa berpegangan dengannya sampai mati.’”

  • Liem Tjeng Lie Ikut Tahlilan

    Berikut ini adalah pengakuan seorang muallaf yang kami ambil dari salah satu mailing list di yahoo!groups.

    Assalammualaikum wr wb

    Selamat pagi Mas Dianda, saya adalah seorang muallaf dan istri sayapun juga
    seorang muallaf, sebelum kami mendapatkan Hidayah masuk ke dalam agama
    Islam kami adalah seorang aktivis gereja Katholik, saya dan istri adalah
    Ketua Mudika (Muda-Mudi Katholik) di wilayah tempat tinggal kami. Kami
    dipertemukan disaat kami mendapat tugas dalam pembuatan kandang Natal di
    Gereja
    Pergantian agama saya dari Katholik menjadi Islam cukup melalui
    pertimbangan yang cukup lama +/- 4 tahun dari tahun 1994-1998.

    Awal perkenalan saya dengan Islam adalah ketika saya mengembalikan keranda
    Kakak ipar saya ke Masjid dan setelah itu mengikut tahlilan untuk
    mendoakan almarhum kakak ipar saya (nb: kakak ipar saya juga muallaf,
    satu-satunya anggota keluarga istri saya yang masuk Islam karena
    pernikahannya dengan seorang gadis Minang)
    Ketika tahlilan hari terakhir, ustadz yang memimpin doa saat itu
    menyampaikan sedikit wejangan dan mendoakan agar suatu saat kelak ada
    keluarga dari almarhum yang akan mengikuti jejak almarhum untuk menjadi
    muslim, untuk membantu mendoakan almarhum. Kata-kata yang diucapkan oleh
    Pak ustadz, menggetarkan hati saya seolah-olah kata-kata itu ditujukan ke
    saya, walaupun saat itu hadir anggota keluarga lain yang non muslim.

    Singkat cerita, ketertarikan dan keinginan saya untuk mempelajari agama
    Islam semakin hari semakin bertambah, dan saya sering kali bermimpi tentang
    Islam dan menjadi muslim dalam mimpi. Betapa indahnya menjadi seorang
    muslim walaupun hanya dalam mimpi. Suatu hari saya utarakan keinginan saya
    untuk masuk Islam dengan istri saya tapi istri saya malah bertanya ” kamu
    mau menikah lagi apa ? “, saya jelaskan bahwa keinginan saya untuk masuk
    islam bukan karena ingin menikah lagi, tapi karena gejolak hati yang terus
    mencari agama yang benar, karena saya merasakan agama katholik yang saya
    yakini saat itu, sudah tidak dapat menentramkan jiwa saya.
    Karena istri percaya akan alasan yang saya berikan akhirnya ia berkata ” ok
    kalau mau masuk Islam nanti saja tunggu anak-anak sudah besar jadi tunggu
    pensiun dan tinggal di kampung, kalau dikucilkan keluarga sudah tidak
    masalah lagi “.

    Saya tidak patah semangat dan saya terus berdoa agar Allah SWT menggerakan
    hati istri saya dan memberikan istri saya hidayah agar mau masuk kedalam
    agama Islam, agama yang paling sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT,
    Walaupun saya belum menjadi muslim (ketika itu), tapi setiap akhir dari doa
    saya selalu mengucakan salah satu dari ayat Yaasin yang jika dilafaskan
    berbunyi “Innama amaruhu idza araadha syaian ayakaulalahu kun fa ya kun”
    jika Allah SWT berkehendak terjadi maka terjadilah, tidak ada yang mustahil
    di hadapan Allah SWT. (mohon maaf jika salah dalam penulisan lafas dan arti
    harafiah salah satu ayat Yaasin di atas )

    Maksudnya, “Innamaa amruhuu idzaa arooda syay`an ayyaquula lahuu kun fa yakuun”, yaitu YaaSiin ayat 82.

    Suatu hari istri saya membaca majalah mingguan “Bintang”, di salah satu
    cerita dalam majalah itu ada sebuah kisah kembalinya artis Gito Rolies ke
    dalam Islam setelah berpuasa Nabi daud.
    Istri saya lalu menyampaikan kepada saya mengenai kisah ini, dan mengatakan
    : ” Coba kamu puasa Nabi Daud, kali-kali saja saya bisa terpanggil juga
    menjadi muslimah”, lalu saya tanya: “Puasa Nabi Daud seperti apa sih ?”
    istri lalu menerangkan bahwa puasa Nabi Daud ialah puasa yang dilakukan
    secara berselang, sehari puasa, sehari tidak, dan seterusnya.
    Dan karena tekad saya untuk masuk Islam harus bersama dengan istri (karena
    saya pernah membaca kalau salah satu dari pasangan hidup kita tidak seiman,
    maka bila berhubungan, hukumnya adalah zinah), maka akhirnya dengan tekad
    yang bulat itu, saya lakukan puasa Nabi Daud selama 1 bulan penuh.

    Alhamdulillah 1 bulan setelah saya lakukan Puasa Nabi Daud, hati istri saya
    pun tergerak untuk mulai mempelajari Islam. Ada kejadian yang merubah
    pikiran istri saya, setelah saya lakukan puasa Nabi Daud, yaitu, ketika
    istri melakukan doa rosario di malam hari (pkl 02.00), sejenak terlintas
    dalam pikirannya betapa teduhnya ia melakukan doa secara Islam dengan
    menggunakan mukenah.
    Dan keesokan paginya istri saya langsung menceritakan kejadian malam itu
    dan mengatakan kepada saya untuk segera mencari tempat untuk belajar bagi
    warga keturunan Cina yang ingin masuk Islam.
    Saya sudah memiliki data tempat-tempat warga keturunan yang ingin masuk
    Islam. Akhirnya saya dan istri berkunjung ke Yayasan Haji Karim Oei di Jl
    Lautze Pasar Baru. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Bp H. Syarif
    Tanudjaya (sekarang Sekjen PITI dan pimpinan pengajian MUSTIKA). Ada satu
    statemen dari Bp Syarif yang semakin menggugah hati istri saya untuk segera
    bersahadat, yaitu ketika istri saya mengatakan ” saya mau masuk islam tapi
    saya mau belajar dulu” dengan bijaksana Pak Syarif mengatakan ” Proses
    belajar di Islam itu tidak pernah akan habis, bahkan kita berkewajiban
    untuk terus belajar hingga kita ke liang lahat, kalau diwaktu anda belajar
    dan anda belum menjadi Islam, alangkah sayangnya jika kita meninggal dalam
    keadaan belum memeluk agama Islam” .
    Alhamdulillah, satu minggu setelah pertemuan itu (1 April 1998) akhirnya
    kamipun bersahadat di Masjid Lautze.

    Betapa besarnya Rahmat dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kami
    sekeluarga, tak dapat kami membalas seluruh Rahmat Berkat dan Hidayah yang
    telah Engkau limpahkan bagi kami sekeluarga. Saya dan istri ingin sekali
    mengabdikan diri ini untuk kemaslahatan umat dan syiar tentang agama Islam
    yang sangat Mulia dan indah ini dan memuat aturan yang sangat lengkap bagi
    kehidupan manusia baik di dunia maupun kehidupan di akhirat.

    Kepindahan saya ke dalam agama Islam ini, bukan berarti saya menghapus
    seluruh pemahaman agama saya yang lama (Katholik), tetapi kepindahan ini
    merupakan kenaikan tingkat pemahaman dari agama yang lalu, dan merupakan
    penyempurnaan, dan meluruskan ajaran Nabi Isa yang telah di putar balikan
    oleh pengikutNya.

    Semoga kisah singkat saya ini dapat membuka mata hati kekasih Mas Dianda
    untuk menerima Hidayah Allah SWT.

    Wassalammualaikum wr wb
    Moh Haryanto Masin (Liem Tjeng Lie)

  • Dinding Pembatas Antara Dua Laut

    “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

    Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Chanel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia. (lebih…)

  • Dinding Pembatas Antara Dua Laut

    “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

    Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Chanel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.

    Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Captain Jacques Yves Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

    Fenomena ganjil itu membuat bingung Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

    Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laayabghiyaan…” Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

    Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

    Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

    Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

    Subhanallah… Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim. Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”

    Wallahu a’lam.

  • Dan Pendeta Yahudi itu pun Bersyahadat

    Seminggu menjelang Ramadan lalu, kelas the Islamic Forum nampak lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena banyak di antara muallaf itu ingin lebih mendalami puasa, baik dari segi hukum-hukum yang terkait maupun makna-makna hakikat dari puasa itu. Hampir semuanya wajah lama atau murid-murid lama, baik muallaf maupun non Muslims, yang telah mengikuti diskusi Islam di forum tersebut lebih dari 3 bulan. Tapi nampak juga beberapa wajah yang belum aku kenali sama sekali. (lebih…)

  • Jemie, Adzan Memanggilmu kepada Allah

    Sabtu 9 Juni lalu, saya datang ke Islamic Cultural Center of New York lebih awal. Selain ingin melihat dari dekat jalannya Weekend School (sekolah akhir pekan), juga sekretaris menelpon kalau ada seseorang yang ingin bertanya tentang Islam. Saya minta agar dipersilahkan datang setelah Zuhur sehingga bergabung dengan the Islamic Forum for non Muslims, kelas khusus setiap pekan bagi orang-orang non-Muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tapi rupanya, orang tersebut hanya bisa sebelum jam 12 siang itu.

    Sekitar pukul 11 pagi masuklah seorang wanita bule dengan kerudung yang rapih. Saya sedikit terkejut sebab ketika masuk ke ruangan saya dia mengucapkan salam dengan sangat fasih, bahkan hampir saja saya mengira kalau yang bersangkutan itu adalah orang Syam (Palestina, Jordan atau Libanon).

    Saya kemudian mempersilahkannya duduk dan bertanya: “Hi, what’s your name and where are you from?” Dengan sedikit tersenyum dia menjawab: “Hi,. I am Jemie. I am from here but my parents are from Texas”. Saya ingin tahu kefasihan dia dalam bersalam, maka saya tanya: “How come you said salaam in way that’s so perfect? I tended not to believe that you’re an American”. “Oh..I know Arabic and speak it fluently” jawabnya cepat.

    Mendengar itu, saya balik stir dari Inggris ke Arab. “Aena darasti al Arabiyah?” tanyaku. “Darastuha fi Suriyah, lakin qabla sanawaat”, jawabnya. Tanpa terasa percakapan saya dengannya memakan waktu cukup panjang dalam bahasa Arab, termasuk kenapa sampai belajar bahasa Arab di Suriah dan untuk apa. Dari penjelasannya, ternyata dia bekerja di Kementrian Luar Negeri dan sekarang ini pindah tugas di DPI (Department of Public Information) PBB New York.

    Saya kemudian memulai bertanya tentang keinginannya mengetaui Islam. “I know a lot about Islam. Basically I am coming this morning because I feel this is the right time for me”, katanya. “What do you mean the right time?” tanyaku. Dengan sedikit serius dia menjelaskan: “For the last many years, about 10 years, I have been so confused and struggling within my self”. “Why is that?” tanyaku dengan sedikit heran.

    Tiba-tiba saja, Jemie yang tadinya nampak tegar dan selalu tersenyum itu, kini meneteskan airmata. “You know, I tried my best not to this”, katanya sambil mengusap air matanya. “Why is that?” tanyaku. “This may kill my career” katanya agak gusar. Saya kemudian bertanya dengan serius: “What do you mean killing your career?”. Seolah memaksakan tersenyum, Jemie mengatakan bahwa dia khawatri kalau masuk Islam akan susah meniti karir yang lebih tinggi.

    Saya kemudian bertanya lebih jauh: “Why do you think in that way?”. Ternyata karena pengalaman yang dia lihat selama ini di beberapa negara Muslim. Menurutnya, mayoritas wanita Muslim di negara-negara Muslim tidak bekerja dan lebih memperioritaskan dirinya kepada pekerjaan-pekerjaan rumah saja.

    Saya kemudian mencoba menjelaskan ke Jemie bahwa tidak ada peraturan dalam Islam yang membatasi karir kaum wanita. Walau memang perlu diketahui bahwa karir itu akan dilihat kepada prioritas-prioritas tuntutan hidup. Kalau seandainya menjadi ibu rumah tangga itu menjadi tuntutan utama bagi wanita, dan ketika dipaksakan untuk meniti karir di luar maka berarti terjadi “kesemrawutan” dalam hidup.

    Dari penjelasan-penjelasan yang cukup panjnag itu nampaknya Jemie sudah banyak tahu. Cuma ada semacam ketakutan tersendiri bahwa nantinya setelah menjadi Muslim dia akan dilarang untuk berkarir. “In fact, Islam wants all Muslim women to be professional. Didn’t you read the hadith that commands the women to study as men?”, jelasku.

    Kini Jemie nampak lebih tenang. Hampir tidak berbicara dan bahkan beberapa kali saya pancing untuk bertanya juga tidak dihiraukan. Tiba-tiba saja sekali lagi nampak berlinang airmata dan mengatakan: “I have some thing to tell you!” “What’s that?” tanyaku. Dia dengan nampak serius sekali walaupun terus meneteskan airmata mengatakan: “When I was in Syria around ten years ago, I was so impressed with the Adzan”. Saya mengatakan bahwa memang adzan orang-orang Suriah itu indah. “Their voice is softer than other Arabs, kata saya. “But I swear, that adzan never gone from my ear. I feel being listening to it all the time” katanya serius.

    Tanpa sadar, saya langsung mengatakan “Subhanallah!”. Ternyata dia juga sudah tahu maknanya. Saya kemudian mengatakan: “Sister, God is loving you. Your heart is being attached to the divine inspiration, and I am sure you are being blessed with that”. Nampak Jemie hanya menangis mendengar nasehat-nasehat saya itu.

    Akhirnya, setelah memanggil dua saksi, Jemie dengan berlinang airmata secara resmi menerima Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!

    Semoga Jemie selalu dikuatkan di jalanNya! Amin!

    (Syamsi Ali, penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com)

  • Hidayah dari Bar

    Dua minggu menjelang Ramadan tahun ini, tepatnya Agustus 31 (2007), seperti biasa saya datang ke Islamic Center of New York, tapi kali ini agak telat. Selain karena memang sedang melakukan beberapa pekerjaan pribadi, juga karena di Islamic Center sekolah akhir pekan (weekend school) masih diliburkan. Jadi, saya tidak harus datang lebih awal seperti ketika masih ada sekolah akhir pekan.

    Memasuki Islamic Center sekitar setengah 12 siang itu juga masih terasa sepi. Tapi ketika melintasi resepsionis, di ruang itu telah menunggu seorang perempuan separuh baya. Seperti biasa, selain mengucapkan salam kepada petugas resepsionis, juga saya sapa perempuan itu dengan “hi, good morning!”. Dengan sedikit senyum dia manjawab “Good morning”.

    Saya kemudian diberitahu bahwa perempuan itu telah datang sejak jam 9-an pagi. Mungkin karena menyangka bahwa jam buka di Islamic Center persis jam kerja di perkantoran. Jadi dia bermaksud untuk datang sebelum ada kegiatan-kegiatan yang menyibukkan. Tentu saya merasa bersalah. Maka saya katakan “I am very sorry for being late?”. Dengan ramah dia jawab: “Oh it’s ok. I was prepared to wait!”.

    Saya langsung mengajaknya ke ruang pertemuan. Kelihatannya perempuan ini sangat hati-hati, baik dalam bersikap maupun dalam berucap. Bahkan ketika akan memasuki ruangan itu, dia harus bertanya dulu apakah boleh masuk atau belum. Mungkin pernah membaca atau mendengar bahwa di mesjid itu harus sopan, dll.

    “Hi, welcome! What’s you name?”, saya memulai percakapan itu. “Catherine”, jawabnya pelan, hampir saja tidak kedengaran. Saya memulai bertanya tentang pribadinya, seperti tempat tinggal, asal usul, dll. “I am from here, but my parents are living in Upstate”, jelasnya. “Now, may I know why you are here today?”. Dengan sedikit menunduk dia menjawab: “I don’t know what to say. But can I tell you a little bit about my back ground?”, tanyanya. “Of course, you are free to say what you want to say”.

    Dia menarik nafas lalu mulai bercerita. Cerita yang cukup penjang dan sedikit berbelit-belit. Dari cerita panjang itu dia menyampaikan bahwa dia termasuk anak yang seharusnya beruntung. Orang tuanya, menurutnya, beragama dan juga berpendidikan tinggi. “I enjoyed that privilege. I went to the best school, best college and university”, katanya. “Which university did you go?” tanya saya. “Columbia university”, jawabnya. “Graduated?”. “Yes, I finished my Master Degree in Journalism” jelasnya.

    “So where are you now?”. Maksud saya, dimana dia sekarang ini bekerja. Dia kemudian menampakkan wajah sedih, menarik napas lalu bercerita. Setamat kuliah dia tidak peduli mencari kerja. Menurutnya, di masa kuliah itu dia berkenalan dengan seorang yang kaya dan royal. Dialah yang selalu memenuhi kebutuhannya. Teman yang dia panggil “boy friend” itu dia kenal di sebuah bar di suatu malam. Sejak itu perkenalan itu menjadi lebih dekat dan menjadilah mereka pasangan “boy-girl friends”. Keduanya hidup di sebuah apartemen mewah di Manhattan .

    Menurutnya lagi, teman prianya itu walau selalu minum alcohol di night club, tapi juga kalau berdiskusi selalu mengait-ngaitkan argumentasinya dengan agama yang dianutnya, yaitu Islam. Bahkan di rumah dia, menurutnya lagi, ada Al-Quran dan buku-buku Islam. Bahkan tidak jarang mengajarkan Catherine tentang Islam. Sambil tersenyum kecut, Catherine mengatakan: “But now, we are not together any more”.

    Saya kemudian menjelaskan, betapa memang banyak umat Islam seperti itu. Agama bagi kita adalah sesuatu yang serius, tapi tidak semua bisa “commit” dengannya ajarannya. Ada orang yang siap mati membela agama ini, tapi belum tentu juga mempraktekkannya. “So what happens afterwards?”, tanyaku kemudian. Catherine menjelaskan bahwa ternyata bacaan yang selalu ia ingat di rumah mantan pacarnya itu adalah Al-Quran.

    “I searched it further on the internet and surprisingly I found a lot of interesting things”, jelasnya. “So, what do you think about Islam and deep did you search about it?”, tanyaku. Dia mengatakan bahwa dia sudah belajar mengenai five pillars (lima rukun Islam). Dia bahkan belajar sendiri mengerjakan shalat, tapi bacaannya tidak bisa dilakukan.

    Saya tidak berpanjang lebar lagi berbicara dengan Catherine. Saya langsung bertanya: “Do you think, Islam is the right way for you to follow?”. Dia sepertinya senang dan langsung mengatakan: “I am sure about that. But I am worried that I can not commit my self into it”. Nampaknya Catherine khawatir menjadi seperti mantan pacarnya, yang sangat yakin dengan agamanya tapi gagal melaksanakannya.

    Saya kemudian menjelaskan bahwa memang dalam beragama itu diperlukan komitmen. Dan komitmen itu diawali dengan niat dan tekad yang bulat. Jika niat itu sudah ada, selebihnya adalah usaha dan doa. “you know, combining your efforts and commitment will bring Allah’s help to make you a better Muslim”, kataku memotivasinya. “My question is, are you ready to accept Islam as your new faith?”, pancingku. Dengan sedikit pelan, mungkin masih ragu, Catherine mengangguk sambil mengatakan: “Yes, I think it’s the time for me”.

    Tanpa mengundur-undur waktu lagi, saya menelpon resepsionis untuk memanggil dua saksi. Alhamdulillah, disaksikan oleh para saksi pagi itu, Catherine resmi memeluk Islam sebagai jalan hidupnya yang baru. Allahu Akbar!

    New York , 27 September 2007

    (M. Syamsi Ali, penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com)

  • Imani, Buddhist to Islam

    Dua minggu menjelang Ramadhan, the Islamic Forum seperti biasanya, padat dengan peserta dialog. Sebagian besar memang adalah para muallaf dan non Muslim yang sudah beberapa bulan belajar Islam. Salah satu dari non Muslim itu adalah seorang gadis, hampir saja kusangka gadis Aceh atau Bangladesh. Wajah dan postur tubuhnya nampak jauh lebih muda dari umurnya yang ke 23. Sangat pendiam dan sopan, tapi sangat kritis dalam mempertanyakan banyak hal. Hari itu saya memang menjelaskan makna-makna spiritual dari ibadah puasa. Penjelasan saya terkonsentrasi pada kata “taqwa” yang didetailkan kemudian oleh S. Ali Imran:

    “Dan bersegeralah ke magfirah Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu yang senantiasa memberi, baik dalam keadaan senang maupun susah, menahan marah dan memaafkan manusia. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan orang-orang yang jika melakukan kekejian atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Allah dan mereka memohon ampunan dariNya atas dosa-dosa mereka…dst”.

    Siang itu penjelasan saya memang banyak berkisar pada makna “takwa” dalam konteks “ihsan”. Bahwa membangun ketakwaan tidak sekedar dilakukan lewat pendekatan formal hukum tapi yang menjadi inti sesungguhnya adalah kemampuan membangun “relasi spiritual” dengan Ilahi. Simbol keberagamaan (aspek-aspek formal agama) tidak menjamin ketinggian keberagamaan (religiusitas) seseorang. Tapi banyak ditentukan oleh, selain benar secara hukum formal, juga benar secara batin. Biasanya hukum formal ini terkait erat dengan masalah-masalah fiqhiyah, dan hukum batin ini terkait dengan kesadaran jiwa di saat melakukan penghambaan (ibadah).

    Tanpa terasa penjelasan itu memakan waktu lebih 1 ½ jam. Sebagaimana biasa, saya kemudian memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan komentar.

    Beragam pertanyaan yang diajukan oleh para peserta. “Nampaknya, Islam dan agama-agama lainnya tidak jauh berbeda”, komentar salah seorang peserta non Muslim. “I used to think that Islam is all about laws, do this, don’t do that…etc.” komentar yang lain.

    Seorang gadis yang ada di ruangan itu, yang sejak awal diam dan juga jarang memperlihatkan senyum, tiba-tiba angkat suara. Suaranya pelan dan hampir tidak kedengaran. “Do you believe in the incarnation?”, tanyanya lembut. “Before I respond to your question, can you explain to me, what do you know about the incarnation?” kata saya.

    Dia kemudian berbicara cukup panjang mengenai konsep inkarnasi dalam pandangan agama Budha. Penjelasannya cukup menarik, dan terkadang dibumbui pula dengan argumentasi rasional. Oleh karena tidak ada yang menyangka kalau gadis itu beragama Budha, hampir semua terheran-heran di saat dia mengatakan “in my belief…Buddhism”. Saya pun memotong langsung dan bertanya: “Sister, may I ask you a personal question?”. “Yes sir!” jawabnya. “Are you a Buddhist?”, tanya saya. “Yes sir. My mom is a strong follower of Buddhism, but my dad doesn’t really care about religion”, jawabnya.

    Dia memang nampak canggung menjawab pertanyaan itu. Tapi nampaknya pula bahwa dia adalah seseorang yang berani. “So, when we talk about religion, what do you mean by that word (religion)?”, pancingku. “I really don’t know. But as far as I know, we Buddhists neither we believe in religion nor in god”, jelasnya. “So in what do you have faith?”, tanyaku lagi. “Basically the center of our faith is in the nature itself. And we the people are the center of the nature”, katanya lagi.

    Saya tiba-tiba teringat dengan Kumar, seorang pemuda Bangladesh beragama Budha yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya juga tiba-tiba teringat dengan Nagakawa, seorang pendeta Budha yang seringkali saya temui dalam beberapa pertemuan antar-agama (interfaith) . Terbayang kegalauan mereka dalam melihat makna kehidupan ini. Mereka tidak tahu asal, dan juga tidak sadar ke mana mereka berjalan. Pencarian spiritualitas mereka hanya sebatas “pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat”. Inilah yang menjadikan Dalai Lama menjadi sangat populer di AS, tentu juga karena ada kepentingan politik Amerika terhadap China.

    “Let me ask you a question”, saya memulai diskuis itu lagi. Dia mengangguk. “Do you pray or supplicate?”, tanya saya. “Yes, in fact my mother pray every day at home”, jelasnya. “Now, here is the point”, kata saya. “If you believe in the nature, worship the nature, and you are the most important part that nature, to whom do you address your prayers or supplications?”

    Dia mulai tersenyum sambil menengok ke teman-teman lain yang ikut tersenyum ketika itu. “I don’t know. But as I heard, we pray towards the nature itself. According to Buddhism, this nature has power”, jelasnya. “But if you are an important part of this nature, and in fact you yourself the center of that nature, then basically you pray to your own self!”, jelas saya. “And if so, what is the point of asking to your own self? Iif you have that power, then what is the need to ask?”, tanya saya.

    Para peserta nampak tertawa mendengarkan pertanyaan-pertanya an saya tersebut. Sementara sang gadis itu nampak bingung dan hanya tersenyum mendengarkan semua itu. “Sister, in our religion God is the center of all issues”, lanjutku. Saya kemudian berusaha menjelaskan bahwa agama itu bukan sekedar pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat, melainkan konsep kehidupan. Bahwa spiritualitas memiliki tempat penting dalam agama, namun tanpa Tuhan, konsep spiritualitas seperti itu bersifat semu.

    Saya kemudian menjelaskan panjang lebar kehidupan Hollywood yang penuh dengan kegemerlapan duniawi. Ada dua kemungkinan yang terjadi pada akhir kehidupan para artis itu. Kalau tidak terjebak pada kehidupan “hedonistis” tanpa ujung, atau mereka akan terjebak kepada pencarian spiritualitas yang illutif.

    Pada akhir penjelasan itu, tiba-tiba gadis itu berkata: “It does make sense!”. Saya menimpali: “True religion does make sense. And Islam does make sense!”, jelasku.

    Kelas hari itupun bubar. Tapi tanpa terlupakan saya pinjamkan gadis itu sebuah buku perbandingan Islam dan Buddha tulisan Harun Yahya dan sebuah Al-Quran terjemahan.

    Dua hari kemudian, hari Senin, ketika saya tiba di kantor di pagi hari, tiba-tiba gadis itu sudah berada di ruangan resepsionis.. “Hi, how are you?”, sapa saya. Tanpa memperlihatkan senyum sedikitpun, gadis tersebut menjawab: “Hi, I am fine!”. Rupanya resepsionis menimpali bahwa dia sudah menunggu dari pagi. Maka segera saya ajak dia masuk ke ruang pertemuan.

    “What I can do for you this morning?”, tanyaku. “My mom took all my books”, katanya. “Why?” tanya saya. “She doesn’t want me to read those books, but I am really interested to know”, jawabnya. “It’s fine, that may cause you mom to study and know this religion too. I will give you some other books”, kata saya.

    Tanpa panjang lebar, saya kemudian menjelaskan Islam kepadanya. Saya memulai dari hakikat kehidupan, kedudukan manusia, dan bagaimana kebutuhan manusia kepada Yang Maha Dzat, Allah SWT. Selama saya menjelaskan itu, beberapa kali saya harus mengulangi karena beberapa terminology yang sama sekali asing baginya. Tapi akhirnya, nampak wajahnya puas.

    “Any thing else in your mind that you want to clarify or further to ask?”, tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala. “So, what do you think about the religion?”, tanyaku lagi. Dengan sangat pelan, dia menjawab: “I feel that Islam is quite rational and it does make sense to me”, katanya. “I like it!”, lanjutnya.

    Mendengar itu, saya segera memancing. “So, you are certain that the religion is the true one”. “I think so!”, jawabnya. “If you are still thinking that it’s true, it means you are not certain yet!”, kataku. Seraya tersenyum dia menjawab: “No, I am sure about it!”, tegasnya.

    “Does it mean that you believe in Islam? Do you believe in God?”, tanya saya. “Yes, I am sure God does exist, and sure that we need Him in our life”, katanya. “Ok, if I say to you, are you willing to embrace Islam, are you ready?”, tanyaku. Dengan sedikit menunduk, nampak seperti ragu, namun dengan mantap dia mengatakan: “Yes!”.

    Saya kemudian menjelaskan enam rukun Iman dan lima rukun Islam. Juga sedikit saya jelaskan kaitan Islam dengan kehidupan nyata manusia. “Any question before taking your shahadah?”, tanyaku. Dia hanya menganggukkan kepala.

    Saya kemudian menelpon resepsionis untuk memanggil dua saksi. Maka disaksikan oleh dua saksi di pagi hari itu, gadis belia ini mengucapkan: “Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah- wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah”, diikti pekikan takbir kedua saksi itu.

    Alhamdulillah, gadis yang kemudian memilih nama barunya “Imani” ini sudah mulai berpuasa Ramadhan lalu. Sayang, dia baru tahu kalau Ramadhan sudah masuk setelah 10 hari Ramadhan berlalu. Maka di bulan Syawal lalu, dia berusaha mengganti puasanya yang tertinggal ditambah puasa 6 hari Syawal.

    Sekitar 2 minggu lalu, Imani silaturrahmi ke rumah kami pada acara “open house” kami. Tapi setibanya siang itu di rumah kami, dia tidak makan. Rupanya dia sedang berpuasa sunnah Syawal. Maka kami ajak dia untuk tinggal sampai berbuka puasa. Setelah berbuka puasa, Imani pamitan pulang. Tapi karena sudah gelap dan akhir pekan yang biasanya subway tidak terlalu lancar, kami ajak Imani menginap di rumah kami.

    Di saat silaturrahim itu, betapa gembira Imani ketika bertemu dengan keluarga Srilanka yang putranya menikah dengan wanita Indonesia. Imani merasa mendapatkan keluarga barunya. Dan pagi hari, selepas shalat subuh Imani meninggalkan rumah sambil berpesan kepada anak kami: “Tell your mom, dad, thank you so much for your hospitality and the delicious dinner!”.

    Hari Sabtu lalu, dengan suara pelan Imani berbisik: “I hope I can find a husband who can teach me reading Arabic (Qur’an)”. “Insha Allah Sister! May Allah make it easy for you and we will do help you in any way possible!”, kataku. Baru ketika itu juga saya tahu kalau Imani sudah berumur 23 tahun dan sudah tahun ketiga di salah satu college yang berafiliasi dengan Columbia University di New York.

    Semoga Imani akan selalu dilindungi dalam naungan iman hingga akhir perjalanan hidupnya menuju Rabbnya!

    (Oleh M. Syamsi Ali, Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York)

    Baca juga:
    Buddhisme dan Atheisme
    Origin of Species dalam Buddhisme

  • Mohammad Asad Leopold Weiss*

    Tahun 1922, saya meninggalkan tanah air saya, Austria, untuk melakukan perjalanan ke Afrika dan Asia, sebagai wartawan khusus untuk beberapa harian besar di Eropa. Sejak saat itu, hampir seluruh waktu saya habiskan di negeri-negeri Timur-Islam.

    Hasil pengamatanku, ada perbedaan struktur masyarakat dan pandangan hidup antara mereka dengan orang-orang Eropa. Menurut saya, pandangan hidup mereka lebih manusiawi ketimbang cara hidup Eropa yang serba terburu-buru dan mekanistik.

    Mengapa bisa berbeda? Itulah yang membuatku penasaran untuk mempelajari. Dan salah satu yang saya pelajari adalah Islam, agama mereka. Secara teori, Islam itu mengagumkan. Tetapi mengapa ada kesenjangan antara ajaran Islam dengan kehidupan ummat Islam itu sendiri? Tentang ini saya telah bertukar fikiran dengan banyak ahli fikir kaum Muslimin di seluruh negara yang terbentang antara gurun Libia dan pegunungan Parmir di Asia Tengah, dan antara Bosporus sampai laut Arab.

    Saya kerap memberi pendapat atau saran, bagaimana agar kesenjangan itu bisa diperpendek. Perhatian terhadap hal itu, ternyata melebihi perhatian saya pada bidang lain.

    Perkembangan ini tidak terasa oleh saya, sampai pada suatu hari musim gugur di pegunungan Afghanistan, seorang Gubernur yang masih muda berkata kepada saya, “Tapi Tuan adalah seorang Muslim, hanya Tuan sendiri tidak menyadarinya.” Saya sangat kaget dengan kata-katanya itu dan secara diam-diam terus memikirkannya.

    Ketika kembali ke Eropa pada tahun 1926, saya fikir, satu-satunya konsekuensi logis dari pendirian saya ialah saya harus memeluk agama Islam. Saya pun kemudian menyatakan ke-Islaman saya. Sejak itu pula datang bertubi-tubi pertanyaan-pertanyaan yang berbunyi, “Mengapa Anda memeluk Islam? Apanya yang telah menarik Anda?”

    Menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam itu, saya akui bahwa saya tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan selain keterangan bahwa tidak ada satu ajaran tertentu dalam Islam yang merebut hati saya. Sebab Islam itu adalah satu kesatuan yang mengagumkan; satu struktur yang tidak bisa dipisah-pisahkan tentang ajaran moral dan program praktek hidup. Saya tidak bisa mengatakan bagian manakah yang lebih menarik perhatian saya. (Intinya dia memandang bahwa Islam itu seluruhnya adalah menarik dan mengagumkan)

    Dalam pandangan saya, Islam itu laksana sebuah bangunan yang sempurna segala-galanya. Semua bagiannya, satu sama lain merupakan pelengkap dan penguat yang harmonis, tidak ada yang berlebih dan tidak ada yang kurang, sehingga merupakan satu keseimbangan yang mutlaq sempurna dan perpaduan yang kuat.

    * Wartawan dan pengarang

    (Sumber: buku “Mengapa Kami Memilih Islam”, terbitan Rabithah Alam Islamy, Mekah)

    Leopold Weiss telah melihat betapa Islam ini merupakan suatu ajaran yang lengkap untuk segala sisi kehidupan manusia. Mulai dari ideologi, ibadah ritual, moral, ekonomi, sosial, politik, pemerintahan, wanita dan anak-anak, suami-isteri, kesehatan, kenegaraan, cara mendidik dan pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan seluruh aspek kehidupan, semua itu telah diberikan panduannya dalam Islam. Islam adalah ajaran yang bisa dijadikan sebagai panduan hidup yang lengkap dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Inilah yang membuat Leopold tertarik terhadap Islam, kesempurnaan dari Tuhan. Tidak ada agama yang dapat menandingi Islam. Saat semua ini terkuak, maka manusia akan berbondong-bondong untuk memeluk Islam. Itulah hari kemenangan (yaumul-fath).

    Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3)

    Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS. Al-Fath: 28)

    Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (QS. An-Nashr)

  • KARLA*

    Aku dibesarkan dari keluarga Katholik yang taat. Perjalananku menemukan Islam kurang lebih terjadi selama 20 tahun. Dimulai ketika umurku 12 tahun. Ketika itu masih belajar di sebuah sekolah theologi. Di situ kami diajari agama dan ketuhanan. Ada agama Kristen, Yahudi, Islam, Hindu dan Budha. Aku ingat, betapa besar kekagumanku terhadap Islam kala itu. Yang aku tahu, seorang Muslim itu bukanlah munafiq seperti yang selama ini aku ketahui dalam Kristen.

    Ketika SMU, aku mengikuti program TV bernuansa Islam. Aku terbuai dan tertambat untuk terus mengikuti pembicaraan dan wawancara-wawancara tentang banyak hal berkaitan dengan ke-Islaman. Aku benar-benar menjadi orang yang ketagihan. Aku sudah tidak ingat lagi di saluran mana program TV itu, tapi yang jelas, biasanya ditayangkan pada setiap Jum’at. Melalui saluran TV itu saya mengenal kata ‘Tuhan Yang Mahapengasih lagi Mahapengampun’. Aku tahu dan sangat percaya itu. Dalam hati aku berkata, “Ya Tuhan, mungkinkah aku menjadi Muslimah?”

    Sayang, aku tidak tahu di mana tempat yang membicarakan tentang Islam berada. Selain itu, aku masih diliputi rasa kekhawatiran terhadap keluargaku. Apa jadinya bila tahu aku begini.

    Tahun 1991, ketika duta besar Arab Saudi menggelar pameran, inilah kesempatanku untuk mencari tahu tentang banyak hal mengenai Islam. Sekitar bulan Februari, aku pergi ke Islamic Centre. Di depan imam, aku kemudian mengucapkan syahadat yang kedua, setelah pertama kali aku ucapkan sendiri di depan TV 10 tahun yang lalu. Sejak saat itulah, aku kemudian belajar shalat dan membaca Al-Qur`an. Ini benar-benar pengalaman yang sungguh mengagumkan.

    Bulan Oktober 2001 lalu, aku resmi menggunakan hijab (jilbab) sebagaimana layaknya seorang Muslimah. Satu hal yang pertama kali aku lakukan sejak aku berkerudung adalah kampanye ‘jilbab’. Pernah satu kali di kantorku aku menempel poster dengan tulisan ‘Solidaritas Jilbab’.

    Ketika itu banyak orang bertanya, “Apakah kamu dari golongan mereka?”

    “Ya,” jawabku.

    Banyak orang heran, bagaimana aku bisa masuk Islam. Sebab, bagi banyak orang di sini, tidaklah mungkin orang kulit putih atau dengan rambut pirang mau memeluk Islam. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, “Bagaimana mungkin, orang terdidik seperti kamu bisa masuk Islam?”

    Dia mengira orang Islam itu seperti yang diberitakan di media-media. Lalu saya jelaskan kepada mereka bahwa Al-Qur`an banyak memberikan hak kepada perempuan jauh dibanding yang tercatat dalam Alkitab. Itulah gambaranku menjadi seorang Muslimah. Aku kini telah memilih, “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya.”

    * Wartawati, seorang profesional

    (Sumber: www.islamtoday.com)