Kategori: Mengapa Kami Memilih Islam

  • Aminah As-Silmi*

    Suatu kali aku diminta mengisi ceramah di kelas teater. Hampir saja aku pingsan, sebab kelas itu ternyata dipenuhi oleh anak-anak Arab atau sering dijuluki ‘joki unta’. Buat saya, mereka adalah makhluq kotor yang menjijikan. Maka cepat saja aku mendorong pintu dan memutuskan pulang. Sampai di rumah, suamiku malah menyuruhku balik lagi.
    Maka aku sampaikan kepada mereka, bahwa mereka akan masuk neraka abadi jika tidak menerima Yesus Sang Juruselamat. Mereka diam saja. Kujelaskan sekali lagi, sesungguhnya Yesus itu selalu sayang padanya. Aku bahkan mengatakan, Al-Qur`an itu tidak benar dan agama Islam adalah agama yang salah dan Muhammad adalah Tuhan palsu.**
    Tapi, salah seorang diantara mereka justeru memberiku Al-Qur`an dan beberapa buku tentang Islam. Karena penasaran, aku membacanya. Makin lama kian penasaran, hingga tak terasa aku telah melahap 15 buku, termasuk buku hadits Shahih Muslim.
    Sejak saat itu, aku mulai mengalami persoalan keluarga. Terutama dengan suamiku, sebab ada banyak perubahan pada diriku. Dia mengira aku telah berselingkuh dengan pria lain, lalu mengusirku dari rumah. Aku pindah ke apartemen dengan anakku yang menghormati keputusanku mempelajari Islam.
    Suatu hari, aku kedatangan seorang pria ditemani tiga orang berjubah putih. Aku sangat terkejut ketika salah seorang di antara mereka mengatakan telah mengerti bahwa aku ingin masuk Islam. Secara cepat aku menjawab, “Aku seorang Kristen dan tak ingin menjadi seorang Muslim.”
    Mereka tetap bersabar, dan tidak kelihatan bodoh seperti banyak ditulis media. Dia bertanya, apakah saya meyakini hanya ada satu Tuhan. “Ya,” kataku.
    Dia bertanya lagi, apakah aku mempercayai Muhammad sebagai Rasul? Aku menjawab, “Ya.” Dia kemudian mengatakan, sesungguhnya aku telah menjadi seorang Muslim.
    “Bukan, aku adalah orang Kristen,” kataku membalas.
    Pada suatu siang di bulan Mei, aku memutuskan mengucapkan dua kalimah syahadah.
    Saat pertama masuk Islam, aku merasa telah terjadi perubahan dalam hidupku. Aku dan suami banyak mengalami masalah serius, hingga kemudian berakhir dalam sebuah perceraian di pengadilan.
    Sejak aku memilih Islam, hampir semua keluargaku, ibuku, semuanya memusuhiku. Termasuk saudaraku yang ahli kesehatan mental. Dia bahkan mengatakan bahwa aku telah mengalami gangguan mental dan harus berobat. Ayahku mengancam akan membunuhku. Aku harus pula kehilangan pekerjaan hanya karena aku telah menggunakan hijab (jilbab). Kini lengkaplah sudah, aku hidup tanpa suami, keluarga, pekerjaan. Semua teman-temanku bahkan telah berubah arah.
    Beberapa tahun kemudian, Allah memberiku rahmat luar biasa. Orang-orang yang kucintai itu kembali padaku. Entah bagaimana prosesnya, mereka mengikuti agama yang kuanut. Termasuk anakku yang sering kupanggil Whittney, juga telah menyatakan memilih jalan Islam dan mengucapkan syahadah. Aku semakin yakin, Allah SWT memang Mahapenyayang.

    * Wartawati, aktivis gereja dan feminis radikal.
    ** Sebagian orang Kristen, karena kurang informasi atau salah informasi, mengira bahwa ummat Islam menyembah Muhammad sebagai Tuhan. Hal ini juga yang ada dalam fikiran Cat Stevens sebelum ia masuk Islam dan merubah namanya menjadi Yusuf Islam.

    (Sumber: www.islamtoday.com)