Kategori: Tauhid Dalam Alkitab

  • Dari Tunggal Menjadi Tritunggal

    Pada dasarnya Kekristenan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dengan perjalanan bangsa Israel (Yahudi). Yesus sendiri menyatakan :

    Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yohanes 4:22)

    Maka ketika menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat, Yesus menyatakan konsep keimanan yang sangat monotheis :

    Jawab Yesus : “Hukum yang terutama ialah : dengarlah hai orang Israel, Tuhan (TUHAN, YHWH) adalah Ilah kita, Tuhan (TUHAN, YHWH) itu esa” (Markus 12:29)

    Inilah konsep keimanan yang diajarkan kepada orang Israel sejak semula dan dituliskan oleh Musa sebagai hukum yang utama : “Shema” (Dengarlah). “Dengarlah hai orang Israel : YHWH itu Ilah kita, YHWH itu esa” (Ulangan 6:4).

    Dalam upaya untuk melindungi konsep Allah yang satu dari segala jenis penggandaan (multiplication), penurunan nilai (watering down), atau pencampur-adukan (amalgamation) dengan ibadah-ibadah lain diseluruh dunia, orang Israel memilih bagi dirinya sendiri ayat Kitab Suci (Ulangan 6:4) untuk menjadi pernyataan iman (credo) yang sampai hari ini menjadi bagian liturgi harian di sinagog-sinagog yang juga ditanamkan sebagai kalimat pertama yang harus dihafal oleh anak sekolah berusia lima tahun. Inilah pengakuan yang oleh Yesus dianggap sebagai “yang paling utama dari semua perintah” (Pinchas Lapide, Jewish Monotheism and Christian Trinitarian Doctrine, 1981:27)

    Konsep keimanan ini pulalah yang dipahami oleh murid-murid Yesus :

    Namun bagi kita hanya ada satu Ilah saja, yaitu Bapa … dan satu tuan saja yaitu Yesus Kristus …. (1Korintus 8:6)

    Oleh sebab itu, pada dasarnya Kekristenan adalah agama monoteis yang sama seperti agama Yahudi, sebab Kekristenan mengakui Bapa, yaitu yang disebut Allah oleh orang Yahudi (Yohanes 8:54).

    Yudaisme, lingkungan di mana orang-orang Kristen purba hidup dan berasal, senantiasa merupakan agama monotheisme yang kuat. Dari Yudaisme inilah Kekristenan mewarisi monotheisme (Lohse, 1994:47)

    Apa yang disebut sebagai doktrin Trinitas hingga hari ini, merupakan satu doktrin yang peristilahannya tidak dapat ditemukan di dalam Alkitab. Bahkan perdebatan awal yang sangat panas antara kaum Athanasius dan Arius (Konsili Nicea, 325) tidaklah menyinggung mengenai ketritunggalan melainkan hanya mendebatkan tentang posisi Yesus terhadap Bapa. Doktrin Trinitas sendiri belum menemukan bentuknya yang utuh hingga abad ke-5 setelah disusunnya Kredo Athanasius di Perancis Selatan (bukan disusun oleh Athanasius dari Alexandria, hanya diambil dari nama yang sama).

    Tidak ada indikasi dalam Perjanjian Lama tentang pemisahan keilahan. Ini merupakan salah tempat untuk menemukan doktrin Inkarnasi Allah atau tentang hal-hal Trinitas dalam halaman-halamannya (Encyclopedia of Religion and Ethics, Clark, 1913, jilid 6:254).

    Kaum theolog hari ini telah setuju bahwa kitab-kitab orang Ibrani tidak berisikan doktrin Trinitas (The Encyclopedia of Religion, Eliade, 1987, 15:54).

    Doktrin trinitas tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama (New Catholic Encyclopedia, Pub. Guild, 1967:306)

    Kita harus jujur mengakui bahwa doktrin Trinitas tidak terbentuk sebagai bagian dari orang-orang Kristen mula-mula yang menuliskan Perjanjian Baru. Tidak ada jejak dari ide seperti ini dalam Perjanjian Baru. “Mysterium logicum” (pemikiran yang misterius) ini, bahwa Ilah itu tiga tetapi satu, berada sepenuhnya diluar pesan dari Alkitab. Ini adalah misteri yang Gereja letakkan dalam keimanan, tetapi tidak ada hubungan dengan ajaran Yesus dan murid-muridnya. Tidak ada satupun murid Yesus yang pernah bermimpi memikirkan bahwa ada tiga pribadi ilahi yang hubungan mutualnya dan kesatuannya menciptakan paradoks (pertentangan) yang di luar pengertian kita (Emil Brunner, Christian Doctrine of God, Dogmatics, 1950:205,226,238)

    Menuju ke Doktrin Trinitas

    Kekristenan mengalami penganiayaan yang hebat oleh para penguasa Romawi. Penganiayaan hebat terjadi pada zaman Kaisar Nero sampai Kaisar Diocletian. Tetapi setelah Kaisar Diocletian, muncul seorang Kaisar baru yaitu Kaisar Konstantin Agung yang menyadari bahwa Kekristenan telah merasuk masuk ke dalam kerajaannya dan akan sangat berbahaya untuk bermusuhan dengan Kekristenan. Maka pada tahun 314, Kaisar mengeluarkan Dekrit Toleransi Milan yang mengatur tentang agama Kristen sebagai agama resmi negara. Konstantin ingin menggunakan kekuatan agama Kristen untuk secara politis menyatukan Romawi. Pengaruh budaya Yunani (Helenisme) sangat kuat masuk ke dalam dunia Kekristenan.

    Maka refleksi dua tiga generasi Kristen pertama atas “fenomena” Yesus dan pengalaman umat Kristen sendiri terjadi dalam rangka alam pikir dan tradisi religius Yahudi, yang hanya sedikit terpengaruh oleh alam pikiran Yunani. Tetapi lama-kelamaan pengaruh alam pikiran Yunani bertambah besar. Sarana pemikiran yang awalnya Yahudi semakin menjadi Yunani. Maka iman kepercayaan Kristen yang mula-mula ditampung dalam gagasan dan istilah Yahudi lama-kelamaan dipindahkan kepada gagasan Yunani. Ada bentrokan antara alam pikiran Yahudi Kristen semula dengan alam pikiran Yunani Kristen kemudian, dan antara iman kepercayaan Kristen dan alam pikiran Yahudi dan Yunani (Groenen, 1987:36-37)

    Meski demikian, Kekristenan saat itu masih sangat didominasi oleh kaum Kristen unitarian yang “sampai awal abad ketiga masih merupakan mayoritas yang besar” (Encylopedia Britannica, Edisi 11, Vol 23, Hal 963).

    Kaisar Konstantin yang ingin menggunakan Kekristenan sebagai pemersatu politis Romawi merasa resah melihat perdebatan teologis yang telah mencapai rakyat jelata. Perdebatan besar terutama terjadi di gereja-gereja Mesir yang berpusat di kota Alexandria yaitu antara Uskup Agung Alexander dari Alexandria dan penerusnya Uskup Athanasius melawan Uskup Arius dari Alexandria yang didukung oleh Uskup Agung Eusebius dari Nicomedia. Maka Kaisar memutuskan diadakannya satu Konsili besar untuk memutuskan masalah-masalah teologis ini.

    Pada saat itu terdapat setidaknya 1800 orang Uskup Kristen, 1000 orang di wilayah Romawi Timur dan 800 orang di wilayah Romawi Barat. Tetapi apa yang dikatakan sebagai Konsili Ekumene Pertama di Nicea tahun 325 itu hanya dihadiri oleh 250 – 318 orang Uskup saja. Eusebius mencatat 250 Uskup, Athanasius mencatat 318 Uskup, dan Eusthatius dari Antiokia mencatat kehadiran 270 Uskup. Artinya jumlah yang sama sekali jauh dari jumlah keseluruhan Uskup yang ada.

    Uskup-uskup yang hadir terpecah dalam tiga golongan pemikiran yaitu kelompok homoousian yang menyatakan bahwa Yesus memiliki substansi yang sama (the same substance) dengan Bapa yang dipimpin oleh Uskup Alexander dari Alexandria, kelompok Arian yang menyatakan bahwa Yesus tidak mungkin sama substansinya, sekalipun sangat mulia, tetapi tetap adalah ciptaan Bapa dipimpin oleh Arius, dan kelompok yang ingin mencapai kompromi dengan menyatakan bahwa Yesus dan Bapa adalah berbeda tetapi mirip (similar) disebut kelompok homoiousians.

    Pertemuan yang berlangsung sejak 20 Mei 325 itu baru dapat menghasilkan kesimpulan pada tanggal 19 Juni 325 setelah Kaisar Konstantin sendiri datang pada tanggal 14 Juni 325. Kaisar datang dengan membawa satu cohort (setara brigade) tentara Romawi. Konstantin kemudian menangkap Arius, dan kedua sahabatnya Theonas dan Secundus, para Uskup dari Libya dan mengasingkan mereka. Semua tulisan Arius dikabarkan dibakar, sekalipun tidak ada catatan resmi tentang pembakaran ini. Kesimpulan yang diambil pada tanggal 19 Juni 325 diikuti dengan kutukan (anatema) terhadap Arius dan para pendukungnya.

    Kaisar nekad. Rapat itu mesti meredakan ketegangan dan menghentikan pertikaian serta menghasilkan semacam asas tunggal yang harus diterima semua pihak berselisih …. Keputusan Konsili menjadi hukum negara. Arius dan uskup-uskup pembangkang dipecat dan dibuang ke pedalaman. Tulisan-tulisan Arius dibakar dan siapa yang mempunyai tetapi tidak menyerahkan terancam hukuman mati (Groenen, 1992:131)

    Kesimpulan konsili dibacakan oleh Hosius dari Cordoba yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah “Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah sebenarnya dari yang sebenarnya”. Bahwa Yesus Kristus bukan diciptakan tetapi sama kekalnya dengan bapa (co-substantial) dan berasal dari substansi yang sama (homoousius). Konsili juga memutuskan untuk mengganti perayaan Paskah dari Passover Yahudi kepada Easter. Motivasinya menurut catatan Theodoret adalah pendapat Kaisar untuk menjauhkan perayaan dari tradisi Paskah Yahudi yang telah menyalibkan Yesus Kristus pada hari raya mereka itu. Hal tentang Roh Kudus sama sekali tidak dibicarakan oleh Konsili.

    Konsili diakhiri dengan “pesta” bersama Kaisar Konstantin pada tanggal 25 Agustus 325. Tiga bulan kemudian dua uskup yang menyampaikan ide kompromi dan tidak sepenuh hati mendukung kredo Nicea yaitu Eusebius dari Nicomedia dan Theognius dari Nicea diasingkan juga.

    Tetapi Kaisar rupanya menyadari bahwa kaum Athanasian tidak mendapat simpatik penuh. Maka pada tahun 328, Kaisar mengijinkan pulang para uskup Unitarian (Arian dan Eusebian) yang diasingkan. Tahun 336 di kota Konstantinopel diadakan pertemuan Uskup se Romawi Timur yang memutuskan bahwa ajaran Arius benar dan ortodoks. Tahun 337, Kaisar Konstantin yang banyak bermain dalam penentuan keputusan di Konsili Nicea baru dibaptis menjelang ajalnya, bahkan Kaisar dibaptis oleh seorang uskup Unitarian yaitu Eusebius dari Nicomedia. Sungguh ironi.

    Athanasius yang menyadari bahwa sekarang dirinya berposisi kalah, melarikan diri dari Alexandria, Mesir ke Roma di kawasan Barat yang cenderung lebih mendukung konsep homoousius pada tahun 339. Tahun 341 di Antiokia disusunlah dokumen kredo Arian untuk menangkal kredo Nicea. Pada pertemuan tahun 343 di Sardica, uskup-uskup gereja di Romawi Timur menghendaki penyingkiran selamanya Athanasius dari kedudukan Uskup Alexandria. Tetapi Athanasius justru berhasil memainkan peran politisnya dan kembali menguasai Keuskupan Alexandria tahun 346. Keadaan belumlah tenang bagi kaum Athanasian ketika dalam pertemuan di Sirmium (357) dihasilkan kesimpulan bahwa Bapa lebih besar daripada Anak, dan dalam pertemuan di Antiokia (361) kesimpulan Arian dianggap benar.

    Keadaan baru benar-benar mantap bagi kaum pendukung ide homoousius ketika Kaisar Theodius I naik tahta dan mengadakan Konsili Konstantinopel tahun 381. Di bawah pengaruh Basil dari Kapadokia, Gregory dari Nissa, dan Gregory dari Naziansus maka Konsili memutuskan untuk merevisi kredo Nicea. Mereka memasukkan Roh Kudus sebagai “sang Tuhan, Pemberi Hidup, Yang ada dari Bapa, dan bersama dengan Bapa dan Anak, Dia harus disembah dan dimuliakan”. Kaisar kemudian mengeluarkan dekrit bahwa doktrin Trinitas ini adalah doktrin sah dari agama resmi Kekaisaran dan semua penjelasan harus mengacu daripadanya. Dekrit ini diikuti dengan kutukan terhadap semua penganut Arian dan penentang kepribadian Roh Kudus.

    Kenyataannya suku-suku di perbatasan wilayah Romawi masih menganut paham Unitarian. Orang-orang Gothic yang telah mencetak Alkitab mereka tahun 351, bersama dengan suku Heruli, Vandal, Suevi (Swiss) demikian juga dengan suku-suku Teutonic dan Jerman. Inilah yang akan memicu perang penyerbuan suku-suku “barbar” ke wilayah-wilayah Romawi.

    Doktrin trinitas belum benar-benar diterima secara luas, hingga akhirnya diadakan Konsili Kalkedon (451) untuk menekankan kembali keimanan kepada Trinitas dan dalam Konsili inilah ditetapkan bahwa Yesus adalah “impersonal human nature”. Yesus adalah Allah yang tinggal dalam tubuh manusia. Maka Trinitas menjadi iman sah agama negara Romawi, yaitu Kekristenan.

    Mencari Kembali Akar Iman Kristen

    Dengan melihat bahwa untuk menjadikan Yesus sebagai Ilah yang setara dengan Bapa dibutuhkan waktu hingga tahun 325 di bawah kekuatan cohort Romawi yang dipimpin Kaisar Konstantin; dan bahwa untuk menjadikan Roh Kudus, Ilah ketiga yang setara dengan Bapa dan Anak dibutuhkan waktu hingga tahun 381 di bawah ancaman Dekrit Kaisar Theodius I; dan bahkan untuk memantapkan Trinitas diperlukan waktu hingga tahun 451, yang itupun masih disertai dengan gempuran suku-suku barbar Unitarian yang memberontak terhadap Romawi; Maka perlu dilacak akar iman Kekristenan yang sesungguhnya.

    Ketika pikiran Yunani dan Romawi, bukannya alam pikir Yahudi, yang mendominasi Gereja, maka terjadilah bencana yang oleh karenanya Gereja tidak pernah pulih baik dalam pengajaran maupun praktek-prakteknya (H.L. Goudge, Judaism and Christianity)

    Seorang penulis yang lain Macculay menyatakan : “Di abad kelima masehi, Kekristenan telah menaklukkan kekafiran, dan kekafiran meracuni (menginfeksi) Kekristenan”.

    Sungguh merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi kita untuk menemukan kembali apa yang Yesus maksudkan dengan menyatakan : “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3). Ini adalah pernyataan iman yang murni dari Sang Mesias, dan bukan pernyataan iman yang dituliskan oleh para Teolog ratusan tahun setelah Yesus, yang sebenarnya mereka tidak pernah melihat Allah (Yohanes 1:18).

    Alkitab dan sejarah telah membuktikan kebohongan Trinitas dan mendukung Tauhid.

    (unitarian)

  • Paulus vs Murid Yesus

    Paham Trinitas hanyalah salah satu paham yang berkembang di masyarakat pada abad-abad awal Masehi. Paham lain yang juga berkembang adalah paham Unitas (Tauhid) yang pada abad keempat dibela oleh Arius dan para pendukungnya. Lalu mengapa Kaisar Konstantin memilih Trinitas? Apakah karena Trinitas itu adalah kebenaran sejati? Melihat latar belakang Kaisar yang pagan, kami tidak heran jika kaisar lebih memilih Trinitas daripada Unitas. (lebih…)

  • ISLAMLAH ANDA

    Islam berdasarkan bahasa berarti tunduk, patuh, berserah, menyerahkan diri, selamat, damai. Muslim, berarti orang yang Islam, orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, orang yang tunduk patuh kepada Allah, orang yang ‘bertekuk-lutut’ di hadapan Allah. (lebih…)

  • ISLAMLAH ANDA

    Islam berdasarkan bahasa berarti tunduk, patuh, berserah, menyerahkan diri, selamat, damai. Muslim, berarti orang yang Islam, orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, orang yang tunduk patuh kepada Allah, orang yang ‘bertekuk-lutut’ di hadapan Allah.

    Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah (Aslim)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam (Aslamtu li Rabbil ‘alamin)”. [QS. Al-Baqarah: 131]

    Dalam ayat di atas dapat kita lihat bahwa “Aslim!” dapat berarti “Tunduk patuhlah!”. Jika kata “Tunduk patuh” kita ganti dengan kata “Islam” maka kalimat itu menajdi “Islamlah!”.

    Lalu Nabi Ibrahim menjawab: “Aslamtu li Rabbil ‘alamin.” Jika “Amantu” berarti “Aku beriman, aku percaya”, maka “Aslamtu” berarti “Aku berislam, aku tunduk patuh.” Dengan melihat makna kata Islam, kalimat di atas juga bisa diartikan “Aku menyerah kepada Tuhan semesta alam.”

    Sungguh menakjubkan. Kata-kata seperti ini ternyata diucapkan orang yang dianggap sebagai Yesus oleh orang Kristen ketika dia disalib.

    Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. [Lukas 23:46]

    Yahudi di kala itu biasa menyebut Tuhan semesta alam dengan sebutan “Bapa”. Maka dalam bahasa Arab menjadi “Yaa Robb!”. Sedangkan “nyawa” sepertinya bukan terjemahan yang tertutup dari kata aslinya. Kita tentu ingat bahwa bahasa Arab dan Ibrani mempunyai akar yang sama. Dalam bahasa Arab “Nafsii” dapat berarti nyawaku, jiwaku, diriku, nafsuku. Maka dalam bahasa Arab, ayat itu bisa berbunyi, “Yaa Robb, aslamtu nafsii ilaa yadayKa.” Artinya, “Wahai Tuhan, aku menyerahkan diriku ke dalam tangan-Mu (Kekuasaan-Mu)” Ini sebuah ikrar ke-Islaman yang mirip dengan ikrar ke-Islaman Nabi Ibrahim ketika Allah menyuruh beliau untuk ber-Islam. Orang yang disalib itu jelas-jelas menyerahkan diri-Nya untuk tunduk patuh kepada kekuasaan dan peraturan Allah, kepada Diinullah, kepada agama Allah. Secara singkat, kalimat itu bisa menajdi “Yaa Rabb, aslamtu nafsii ilayKa. Wahai Tuhan, aku menyerahkan diriku kepada-Mu)” Maka dengan demikian, orang itu telah meng-Islamkan dirinya kepada Tuhan alam semesta. Setelah menunjukkan ke-Islamannya di hadapan orang ramai, orang yang dianggap sebagai ‘Isa itu pun pingsan.

    Wa naadaa ‘Iisaa bishowtin ‘azhiim wa qaal: “Yaa Abaa, fii yadayka aslamtu nafsii!”

    Maka jelaslah bahwa seorang Muslim adalah orang yang tunduk kepada Allah, patuh kepada Allah, berserah diri kepada Allah. Jika Anda, wahai ahli kitab, ingin berdamai dengan Allah, maka masuklah ke dalam Islam! Allah telah menyeru Nabi Ibrahim: “Aslim!” Maka Nabi Ibrahim menyambut seruan itu: “Aslamtu li Robbil ‘alamin.” Alangkah indahnya jika Anda juga menyambut seruan Allah kepada Anda dengan kalimat yang sama. Sungguh Allah telah menyeru kalian:

    Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) (Isyhaduu bi annaa muslimuun)”. [QS. Ali Imran: 64]

    ‘Isa dan murid-muridnya telah menyeru orang-orang Yahudi yang ditangan mereka terdapat Taurat. Ketika mereka tidak mau tunduk kepada Allah yang esa, maka wajarlah jika beliau dan murid-muridnya berkata: “Isyhaduu bi annaa muslimuun!” untuk menunjukkan kepada para ahli kitab bahwa ‘Isa dan murid-muridnya adalah muslim dan berlepas diri dari ajaran bathil Farisi dan Saduki.

    Begitu juga kami telah mengajak kalian, wahai yang ditangannya terdapat Alkitab, agar Anda masuk ke dalam Islam dan tunduk-patuh kepada Allah yang esa. Jika Anda menolaknya, saksikanlah oleh kalian bahwa kami adalah Muslim dan kami berlepas diri dari ajaran bathil yang kalian serukan!

    Diriwayatkan dari Abu Dzar ra katanya: Nabi SAW bersabda: “Jibril as telah mendatangi aku lalu memberitahu berita gembira, yaitu siapa yang mati di kalangan umatku dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu, niscaya dia akan dimasukkan ke dalam Syurga.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, Ahmad bin Hanbal]

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu niscaya akan memasuki Neraka.” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad]

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra katanya: Ketika Mu’adz bin Jabal mengikuti unta Rasulullah SAW dalam satu perjalanan, Rasulullah SAW memanggil: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut: “Labbayk yaa Rasulallah! (Telah kuterima panggilanmu itu wahai Rasulullah.)” Rasulullah s.a.w memanggil lagi: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut lagi: “Labbayk yaa Rasulallah!” Rasulullah SAW memanggil: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut lagi: “Labbayk yaa Rasulallah!” Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mengucap Dua Kalimah Syahadat yaitu: laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan ‘abduHuu wa RasuuluH, niscaya terselamatlah dia dari api Neraka.” Kemudian Mu’adz berkata: “Bolehkah aku memberitahu perkara ini kepada orang ramai agar mereka sebarkan berita gembira ini?” Rasulullah SAW bersabda: “Kalau begitu, lakukanlah dan berserahlah kepada Allah!” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad]

    Kalimat di atas adalah kalimat keniscayaan, kepastian, bukan kalimat keraguan. Tidak ada keraguan di dalamnya. Ucapkanlah dua kalimah syahadah, maka bagi Anda surga.

  • Abdullah vs Abdul Masih

    Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sebentar lagi akan datang Ibnu Maryam sebagai pemimpin yang adil, akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan meletakkan aturan jizyah, dan akan menyebarkan uang sehingga tidak ada satu pun yang mau menerimanya lag, sehingga satu kali sujud kepada Allah SWT itu lebih berharga dari dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya.” (HR. Bukhori, Muslim, Turmudzi, dan Ahmad)

    Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. [QS. An-Nisa (4): 159]

    Hal yang dijanjikan itu tidak lama lagi akan terjadi. Maka bertaubatlah wahai Ahlul Kitab!

    Yesus Dalam Al-Qur`an (Jawaban untuk Abdul Masih)
    Keruntuhan Doktrin Kristen Trinitarian
    Menanggapi Doktrin Trinitarian

  • Dan Yesus Pun Bersujud

    (Isa berkata:) “Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. [QS. Ali Imran: 51]

    Maka ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Matius 26:39]

    Dalam sejarah agama di seluruh dunia, mungkin hanya Kristen saja yang mencatat bahwa Tuhannya bersujud dan berdoa kepada Tuhan. Kita tentu maklum bahwa Tuhan adalah Substansi Yang Mahakuasa. Tuhan tidak membutuhkan substansi lain untuk mewujudkan kehendak-Nya. Penyembahan kepada Tuhan dengan cara bersujud dan berdoa hanya menunjukkan kefaqiran hamba/makhluq kepada Tuhan/Pencipta dan ketidak-mampuannya dalam mewujudkan keinginannya tanpa kekuasaan dari Tuhan.

    Dari sini, setiap manusia yang beraqal budi dan berhati jernih harusnya sadar bahwa Yesus hanyalah makhluq/hamba yang lemah dan membutuhkan Tuhan untuk menolongnya. Hanya saja, awan kegelapan telah menghalangi aqal dan hati mereka dari kebenaran yang sangat terang ini. Dogma-dogma sinting telah membuat mereka melakukan hal terbodoh di dunia. Adakah hal yang lebih bodoh daripada menyembah makhluq?

    Tidak hanya itu, sementara sang tuhan menyembah Tuhannya dengan cara bersujud, sang hamba malah menyembah sang tuhan dengan duduk di kursi atau berdiri sambil bernyanyi. Apakah Perjanjian Baru telah mendongengkan bahwa Yesus bernyanyi di tempat ibadah untuk menyembah Tuhannya?

    Berhentilah menyembah Yesus. Mulailah mengesakan Tuhan yang haqiqi. Itulah yang dia inginkan. Kami ummat Islam telah mengesakan Tuhan yang disembah Isa. Tuhan kami dan Tuhan yang disembah Isa adalah Tuhan yang esa. Kami bersujud kepada Tuhan yang disembah Isa. Inilah hidup yang kekal. Inilah jalan yang lurus.

    Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Yahuwa adalah Ilah kita, Yahuwa itu esa.” [Markus 12: 29]

    Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang aku, sebab aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Ilahku dan Ilahmu.” [Yohanes 20:17]

    Nabi Isa mengajarkan ummatnya bahwa jalan yang lurus, kehidupan yang kekal, adalah dengan mengakui keesaan Allah dan mengakui kerasulan nabi Isa. begitulah syahadat bagi ummat nabi Isa.

    Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. [Yohanes 17:3]

    Adapun syahadat ummat Nabi Muhammad, nabi akhir zaman, adalah asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullooh, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang benar kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

  • YOHANES 8:58 (PRE-EKSISTENSI)

    Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” [Yohanes 8:58]

    Ummat Kristen menggunakan ayat ini untuk menunjukkan pre-eksistensi Yesus. Dan ketika Yesus berkata ‘Ego Eimi’ (Aku ini, akulah dia, I am, I am he), ummat Kristen yakin bahwa Yesus adalah Tuhan.

    (lebih…)

  • ASH-SHIRATH AL-MUSTAQIM

    Bagaimanakah Ash-Shirathal Mustaqim (jalan lurus) dalam pandangan Muslim dan Kristian? Bagaimanakah pandangan Al-Qur`an dan Alkitab terhadap jalan lurus? Kami akan coba untuk membahasnya secara singkat dengan mengemukakan ayat dari kedua kitab tersebut, dengan izin ALLAH.

    JALAN LURUS DALAM ISLAM

    Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah: 6)

    Muslim tidak pernah menganggap ‘jalan yang lurus’ atau ‘jalan lurus’ sebagai Tuhan. Karena Tuhan bukanlah jalan, Tuhan adalah tujuan. Ketika seorang muslim meminta kepada ALLAH agar ditunjuki jalan yang lurus, mereka sedang meminta agar ditunjuki kepada jalan yang menyampaikan mereka kepada ALLAH. Jalan Tuhan adalah suatu jalan yang harus ditempuh bagi mereka yang ingin bertemu dengan ALLAH. Lalu apakah ‘jalan lurus’ atau ‘jalan Tuhan’ itu? Jalan lurus yang harus ditempuh orang-orang yang ingin bertemu dengan ALLAH adalah mengesakan ALLAH dan menyembah-Nya dengan ikhlash.

    (Isa adalah utusan kepada bani Israil yang berkata:) “Sesungguhnya ALLAH, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 51)

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

    JALAN LURUS DALAM KRISTEN

    Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

    Kristian yang sudah terbius akan ‘keilahian’ Yesus, beranggapan bahwa pada ayat itu Yesus menunjukkan bahwa dirinya adalah jalan, dan dirinya adalah Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah menyebut dirinya sebagai jalan, karena Tuhan bukanlah jalan, melainkan tujuan. Sedangkan Yesus hanyalah mengajak manusia kepada jalan Tuhan, jalan yang harus ditempuh oleh semua orang yang ingin bertemu Tuhan. Bahkan Yesus dan para nabi harus melalui jalan tersebut jika mereka ingin bertemu dengan Tuhan, jalan itu adalah mengakui bahwa tidak ada yang berhaq disembah kecuali ALLAH, dan mengikuti jalan yang ditempuh oleh para nabi. Ummat Nuh harus mengikuti jalan yang ditempuh Nuh, ummat Musa harus mengikuti syariat yang dibawa oleh Musa, ummat Isa harus mengikuti jalan yang ditempuh oleh Isa, dan ummat Muhammad Rasulullah saaw harus mengikuti syariat yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saaw yang mana syariat itu beliau bawa dari Tuhannya. Oleh sebab itu ummat Nabi Muhammad harus mengakui bahwa tidak ada yang berhaq disembah kecuali ALLAH dan mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul ALLAH. Begitu juga ummat Nabi Isa as, mereka harus mengakui keesaan ALLAH dan mengakui Isa sebagai orang yang diutus oleh ALLAH.

    Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

    Yesus bukanlah Tuhan, karena Yesus bukanlah tujuan. Tujuan kita adalah ALLAH. Yesus hanyalah utusan ALLAH yang mengajak kepada bani Israil agar mengakui ALLAH sebagai Ilah mereka. Sedangkan Nabi Muhammad saaw diutus bukan hanya untuk bangsa Arab, bukan hanya untuk bangsa Israil, tetapi untuk semua ummat manusia. Nabi Muhammad saaw diutus untuk mengajak manusia agar mengakui ALLAH sebagai satu-satunya Ilah yang benar.

    SEMBAHLAH DIA

    Aku mengajak kepada kalian semua agar kembali kepada jalan yang lurus, jalan yang diridhoi oleh ALLAH. Sebagaimana yang diserukan Isa kepada kaumnya, sebagaimana yang diserukan para nabi kepada kaumnya, sebagaimana yang diserukan Muhamamd Rasulullah saaw kepada seluruh ummat manusia, aku menyeru kepada kalian, ‘Sesungguhnya ALLAH, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus’.

    ALLAH, Dialah yang menciptakan aku dan kalian, yang harus aku sembah dan yang harus kalian sembah. ALLAH, Dialah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia, Ilah yang esa.

    Kata Yesus kepadanya: “…Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yohanes 20:17)
    Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” (Markus 12:29)

    Yesus menyebut Tuhan sebagai ‘Ilah kita’, Ilahnya dan Ilah bani Israil. Yesus menyebut Tuhan sebagai Ilahnya, sebagai sesembahannya. Bahkan Yesus menyembah Tuhan. Tuhankah dia yang menyembah Tuhan? Tuhankah dia yang mengaku sebagai jalan menuju Tuhan? Pahamilah! Tuhan adalah tujuan, Tuhan bukanlah jalan. Tuhan adalah ALLAH, maka sembahlah Dia. ALLAH adalah Ilah yang benar, Ilah yang haq. Dialah ALLAH yang esa. HUWA ALLAHU AHAD!

  • ISLAM MENENTANG TRINITAS

    Berbeda dengan agama pagan, Islam menentang paham trinitas. Hal ini dapat terlihat dalam ayat-ayat berikut:

    Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Maidah: 17]

    Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu, berhentilah menganut ajaran trinitas). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. [QS. An-Nisa: 171]

    Muslim tidak menyembah tuhan yang dilahirkan oleh seorang perawan pada tanggal 25 Desember, kemudian disalib, kemudian mati, kemudian bangkit kembali. Tuhan yang disembah oleh Muslim adalah Tuhan Yang Mahaesa, tidak beranak atau pun diperanakkan, tidak mati, dan dunia tidak sanggup untuk menampung-Nya. Konsep ketuhanan seperti ini dapat terlihat dalam ayat-ayat berikut ini:

    Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. [QS. Al-Ikhlash]

    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. [QS. Al-A’taf: 143]

    Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, [QS. Al-Furqan: 58]

    Bahkam Alkitab juga menghendaki konsep ketuhanan yang seperti ini. Tetapi, entah mengapa, sebagian besar pemegang Alkitab malah menganut paham Trinitas.

    Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. [Markus 12:29]

    Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah (bait) yang kudirikan ini. [I Raja-raja 8:27]

    Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. [Roma 1:23]

    Lihatlah, bagaimana Alkitab juga tidak menghendaki paham Trinitas. Tetapi mereka telah menggantikan paham Tauhid dengan param Trinitas seperti kaum yang ingkar di masa lalu. Mereka lebih menyukai paham kebendaan (materialisme). Mereka tidak suka Tuhan Yang Ghaib, mereka lebih suka menyembah manusia, patung, binatang, dan sebagainya.

    Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zhalim. [QS. Al-Baqarah: 92]

    Lihat juga:

    http://www.wilsonsalmanac.com/jesus_similar.html
    http://hotarticle.org/saint-peter-square-kuil-matahari/ 
    http://hotarticle.org/yahudi-dan-iblis/

  • PEKERJA DI KEBUN ANGGUR

    Bagaimanakah perumpamaan ummat Nabi Muhammad dalam Alkitab dalam hal kedudukan mereka di sisi Allah? Ummat siapakah yang paling dicintai Allah?

    Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saaw bersabda, “Jarak masa tinggal kamu dibandingkan dengan ummat sebelumnya, yaitu seperti jarak antara shalat Ashar sampai matahari terbenam. Pengikut Taurat diberikan kitab Taurat (di pagi hari) lalu mereka mengamalkannya hingga menjelang siang hari, lalu mereka diberikan masing-masing satu qirath. Kemudian pengikut Injil diberi kitab Injil (di siang hari) lalu mereka amalkan hingga menjelang waktu Ashar, lalu mereka diberi masing-masing satu qirath. Kemudian kita diberi Al-Qur`an, lalu diamalkan hingga matahari terbenam, lalu kita diberi masing-masing dua qirath. Kemudian ahli kitab (Yahudi dan Nashoro) berkata, “Wahai Tuhan kami, Engkau berikan mereka masing-masing dua qirath, dan Engkau berikan kami masing-masing satu qirath, sedangkan kami paling banyak amal kebajikan?” Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata, “Apakah Aku telah berbuat zhalim kepada kalian (dengan mengurangi ganjaran kalian)?” Mereka berkata, “Tidak”, lalu Allah berkata, “Yang demikian itu adalah karunia-Ku yang Kuberikan kepada orang yang Aku kehendaki.” (HR. Bukhori) Dalam riwayat yang lain diberitakan bahwa Rasulullah saaw bersabda:
    Masa menetap kalian dibanding dengan ummat-ummat sebelum kalian adalah sebagaimana jarak antara shalat Ashar hingga terbenam matahari. Perumpamaan antara kalian dengan Yahudi dan Nasrani adalah seperti seorang laki-laki yang menyewa beberapa pelayan. Lalu ia berkata, “Barangsiapa yang bekerja dari pagi hingga pertengahan siang, maka baginya satu qirath.” Lalu bekerjalah seseorang, dan itulah kaum Yahudi. Kemudian dia berkata lagi, “Barangsiapa yang bekerja dari siang hingga waktu Ashar, maka baginya satu qirath.” Lalu bekerjalah seseorang, itulah kaum Nasrani. Kemudian tuan itu berkata lagi, “Barangsiapa yang bekerja dari Ashar hingga terbenam matahari, maka baginya dua qirath.” Maka bekerjalah seseorang, itulah kalian. Lalu pekerja pertama dan kedua berkata, “Mengapa kami lebih banyak bekerja, tetapi lebih sedikit ganjarannya?” Lalu tuan itu berkata, “Apakah aku menzhalimi haq kalian (dengan mengurangi upah yang aku janjikan kepada kalian)?” Mereka berkata, “Tidak” Lalu tuan itu berkata, “Yang demikian itu adalah karuniaku yang aku berikan kepada orang yang aku kehendaki.”

    Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa walaupun umur kita lebih pendek dari umur ummat-ummat terdahulu, tetapi kita bisa mendahului mereka dalam perlombaan mengumpulkan pahala dari Allah. Karena setiap ibadah yang diamalkan ummat Muhammad Rasulullah saaw akan dilipat-gandakan. Satu kebaikan digandakan hingga 10 kali lipat, 27 kali lipat, 70 kali lipat, 700 kali lipat, atau lebih daripada itu sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Bahkan dalam setiap tahun, kita mendapatkan malam lailatul qadar, di mana barangsiapa beribadah pada malam itu, maka pahalanya seperti orang yang beribadah selama seribu bulan siang dan malamnya. Padahal menurut injil Barnabas, malam tersebut hanya ada setiap seratus tahun bagi ummat-ummat terdahulu. Sedangkan bagi kita ummat Nabi Muhammad saaw, malam lailatul qadar ada setiap tahunnya. Jika kita mendapatkannya selama 20 kali saja, maka sungguh kita telah mendahului ummat-ummat sebelum kita. Bahkan dengan pelipat-gandaan bagi amal-amal kita setiap harinya saja, kita sudah bisa mengungguli ummat-ummat terdahulu. Apalagi jika kita bisa mendapatkan malam lailatul qadar tiap tahunnya. Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Itulah karunia Allah bagi ummat Muhammad Rasulullah saaw Sang Hamba Pilihan, Muhammad Al-Musthafa.
    MATIUS

    20:1 “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
    20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
    20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
    20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.
    20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
    20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
    20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
    20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
    20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
    20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.
    20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
    20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
    20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
    20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
    20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
    20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”