Blog

  • Siapakah yang Dikorbankan Nabi Ibrahim?

    Telah sampai riwayat -di dalam Al-Qur’anul-Karim- pada kita ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya itu mulai tumbuh,” berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun, pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang dikorbankan adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as. Tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari. Pendapat yang kedua di dalam tafsir Imam Ibn Abbas dan ulama lainnya.

    Pendapat ulama berikhtilaf tentang putra Nabi Ibrahim as yang disembelih akan tetapi menjadi pendapat jumhur bahwa mereka putra Nabi Ibrahim as yang diperintah untuk disembelih. “Wahai putraku aku bermimpi melihat menyembelihmu maka bagaimana pendapatmu?,” putranya masih 7 tahun.

    Pendapat yang lebih dikenal oleh ummat Islam adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dikorbankan itu adalah Nabi Ismail. Pendapat ini didasarkan, antara lain, pada QS. Ash-Shaaffaat ayat 97 sampai 112.

    [97] Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”.
    [98] Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.
    [99] Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.
    [100] “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
    [101] Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
    [102] Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
    [103] Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
    [104] Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
    [105] sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
    [106] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
    [107] Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
    [108] Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
    [109] (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.
    [110] Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
    [111] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
    [112] Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.

    Ayat-ayat itu menceritakan secara garis besar mulai dari Nabi Ibrahim dihukum oleh Namrudz. Lalu Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim as. Kemudian Nabi Ibrahim as hijrah ke Kanaan (Palestina). Sebelum beliau mempunyai anak sama sekali, beliau berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan. Maka Allah menggerakkan hari Sayyidah Sarah untuk memberikan Sayyidah Hajar kepada Nabi Ibrahim as untuk dinikahi dan menjadi isteri Nabi Ibrahim as. Maka mengandunglah Sayyidah Hajar dan melahirkan Nabi Ismail as. Setelah Nabi Ismail berusia 7 tahun (12 atau 13 tahun menurut pendapat yang lain), Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih Nabi Ismail as. Maka dibawalah Nabi Ismail untuk dikorbankan. Kemudian terjadilah mu’jizat tersebut.

    Ketika Nabi Ismail berusia 14 tahun, menurut suatu pendapat, barulah Nabi Ishaq lahir seperti disebutkan dalam ayat 112 di atas.

  • Kemulyaan Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra

    Beliau adalah salah satu qurratul aini li Rasulillah, belahan cinta Nabi Muhammad saw, yaitu putri beliau saw Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra ra. Beliau adalah lambang istri yang shalihah, putri yang shalihah, ibunda yang shalihah dan shahabiyah yang shalihah. Empat kemuliaan Sayyidatuna Fathimah ra menjadi Qudwah (panutan) sebagai istri yang shalihah, menjadi Qudwah sebagai anak yang shalihah berbakti kepada ayah dan ibunya dan menjadi Qudwah sebagai ibu yang shaleh terhadap anaknya dan menjadi sahabat Nabi saw yang mulia. Empat kemuliaan ini berkumpul pada Sayyidatuna Fathimah Zahra ra.

    (lebih…)

  • Ujian Keluarga Ibrahim

    Telah sampai riwayat -di dalam Al-Qur’anul-Karim- pada kita ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya itu mulai tumbuh,” berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun, pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang disembelih adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as. Tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari. Pendapat yang kedua di dalam tafsir Imam Ibn Abbas dan ulama lainnya.

    (lebih…)

  • Allah Mengundangmu

    Limpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa, untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..” Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah keadaan. Jalla wa’alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.

    (lebih…)

  • Para Pecinta Rasul

    Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika Sayyidina Zaid bin Haritsah ra (salah seorang budak) ditawarkan kepadanya kebebasan untuk kembali kepada ayahnya atau tetap bersama Rasul. “Kupilihkan padamu,” kata Rasul, “bebas jadi orang merdeka kembali pada ayahmu atau tetap bersamaku?” Maka berkata Sayyidina Zaid bin Haritsah ra: “Wahai Rasulullah, aku tidak memilih orang lain selainmu. Jangan berkata silahkan pilih. Tidak akan kupilih orang lain selainmu ya Rasulullah.” Demikian indahnya cinta Sayyidina Zaid bin Haritsah ra kepada Sayyidina Muhammad saw, dan ia bukan seorang sahabat besar dari Khulafaur Rasyidin. Bagaimana lagi cinta para Khulafaur-Rasyidin kepada Nabi? (lebih…)

  • Kemulyaan Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra

    Beliau adalah salah satu qurratul aini li Rasulillah, belahan cinta Nabi Muhammad saw, yaitu putri beliau saw Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra ra. Beliau adalah lambang istri yang shalihah, putri yang shalihah, ibunda yang shalihah dan shahabiyah yang shalihah. Empat kemuliaan Sayyidatuna Fathimah ra menjadi Qudwah (panutan) sebagai istri yang shalihah, menjadi Qudwah sebagai anak yang shalihah berbakti kepada ayah dan ibunya dan menjadi Qudwah sebagai ibu yang shaleh terhadap anaknya dan menjadi sahabat Nabi saw yang mulia. Empat kemuliaan ini berkumpul pada Sayyidatuna Fathimah Zahra ra.

    Ketika datang tamu kepada Sayyidatuna Fathimah Zahra ra, tiadalah ia ingin menemui tamunya sebelum meminta izin kepada suaminya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. Padahal ia adalah putrinya Rasulullah saw. Penghargaannya kepada suaminya tidak mau menemui tamu terkecuali sudah diizinkan oleh suaminya.

    Istri yang shalihah dan juga sebagai ibunda yang shalihah, ibunda yang selalu mendidik anak-anaknya dengan didikan yang mulia dengan pengajaran Nabi Muhammad saw.

    Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika Sayyidatuna Fathimah Zahra ra mengadu kepada Rasul karena selalu menumbuk gandum dengan tangannya sendiri, tangan yang demikian lembutnya tercabik-cabik karena kasarnya daripada alat untuk menumbuk gandum itu. Diriwayatkan oleh Alhafidh Al Imam Muhammad bin Alwi dalam kitabnya, bahwa Rasul saw selalu mencium pipinya Fathimah karena pipinya Sayyidatuna Fathimah ra wanginya sama dengan wanginya buah-buahan di surga. Sehingga jika Rasul saw rindu kepada surga, beliau mencium Sayyidatuna Fathimah ra, putrinya.

    Tangan lembut itu tercabik-cabik terkena kasarnya alat penumbuk gandum. Ia harus menumbuk gandum setiap harinya untuk membuat roti sendiri, untuk makanan anaknya. Suatu hari, beliau datang kepada Rasul meminta khadim, katanya, “Barangkali ada pembantu yang bisa membantuku dirumah untuk menumbuk gandum wahai ayahku.” Rasul saw menjawab, “Kuberi kau amalan yang lebih indah dari sekedar pembantu, yaitu bacalah Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x dan Allahu akbar 34x sebelum tidur. Itu akan membuatmu bersemangat dan memberimu kekuatan.”

    Ini mujarab, ini terijazahkan oleh guru mulia kita Alhafidh Almusnid Alhabib Umar bin Hafidh setahun yang silam. Beliau mengijazahkan setiap akan tidur untuk membaca Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu akbar 34x setiap akan tidur.

    Ini diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, dan ini adalah amalan yang dipegang oleh putri Rasulullah saw, Sayyidatuna Fathimah Zahra ra. Kita bertanya, mengapa tega sekali Rasulullah saw tidak mau memberi pembantu kepada putrinya? Bukankah ini putri yang paling disayangi? Kita bertanya, apakah Rasul ini kejam mendidik putrinya? Tentunya tidak.

    Jawabannya adalah putri beliau ini, Sayyidatuna Fathimah ra adalah seorang wanita shalihah yang sangat khusyu dalam beribadah, maka Rasul saw tidak menginginkan anaknya memakan dari makanan yang ditumbuk oleh pembantu, agar makanan anak-anak Sayyidatuna Fathima ra, yaitu Sayyidina Hasan dan Husein ra langsung mendapatkan makanan dari gandum yang ditumbuk sendiri oleh tangan ibunya. Keberkahan dari ibunya, Sayyidatuna Fathimah Zahra ra.

    Ini menjadi hikmah bagi kita, terutama bagi kaum wanita, untuk memberi makan anak-anaknya dari tangannya sendiri. Tangan wanita shalih dan ibunya sendiri itu lebih membawa keberkahan daripada tangan pembantu. Demikian didikan Nabi Muhammad saw. Sehingga muncul putra yang shalihin, Sayyidina Hasan wal Husein ra, yang keduanya menjadi imam besar bagi muslimin. Jadilah Sayyidatuna Fathimah Zahra ra ibunda bagi seluruh dzuriah Nabi saw hingga akhir zaman. Perbuatan yang sedikit menyakitkan tapi keberkahannya hingga akhir zaman.

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika Rasul saw ditumpahi kotoran onta saat bersujud. Sayyidatuna Fathimah ra keluar dari rumahnya dan berteriak, “Wahai ayahku,” seraya mendudukkan Sang Nabi dari sujudnya dan membersihkan kotoran onta dari pundak Sang Nabi saw seraya menangis. Rasul saw berkata, “Wahai Fathimah putriku, akan muncul suatu saat bahwa agama Islam akan merajai di muka bumi.”

    Hari-hari terakhir sebelum wafatnya Sang Nabi, Rasulullah saw memanggil Sayyidatuna Fathimah ra seraya berkata, “Wahai putriku, biasanya Jibril datang kepadaku di bulan Ramadhan satu kali, tetapi kali ini ia datang dua kali. Ini menunjukkan bahwa inilah tahun terakhirku dan aku akan wafat, wahai putriku!”

    Mendengar ucapan ini, maka menangislah Sayyidatuna Fathimah ra. Berkatalah Rasul saw, “Wahai putriku, apakah kau ridha sebagai kedudukan Sayyidatun-Nisa Ahlul Jannah? Kau ini adalah pemimpin seluruh wanita dari penduduk surga.” Maka beliau tersenyum dengan kabar gembira dari Rasulullah saw.

    Diriwayatkan oleh para fuqaha kita bahwa beliau tersenyum bukan karena derajatnya sebagai pemimpin wanita ahlul jannah, tetapi gembira karena telah dihibur oleh ayahnya yang menjadi manusia yang paling ia cintai. Tersenyum karena dihibur oleh ayahnya, Rasulullah saw. Sehingga Rasul saw bersabda, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, “Fathimah adalah belahan jiwaku. Akan murkalah aku pada siapa-siapa yang membuatnya marah.”

    Demikian agungnya putri Rasulullah saw ini, sehingga jadilah keturunan Rasul saw muncul dari keturunan Sayyidatuna Fathimah Zahra ra sebagaimana firman Allah yang menjadi dalilnya, “Sungguh wahai Muhammad, Kuanugerahkan padamu telaga al-kautsar, dan lakukanlah shalat yaitu shalat idul adha, dan setelah itu berkurbanlah. Inna syani’aka huwal abtar, justru yang membencimu dan mengatakanmu sebagai al-abtar itulah yang abtar.” Abtar adalah orang yg putus keturunannya. Jadi Rasul saw ini digelari oleh salah seorang musyrikin sebagai abtar, tidak punya keturunan lelaki, karena semua keturunan Rasulullah yang laki-laki telah wafat waktu bayi. Maka Allah menjawab, “Inna syani’aka huwal abtar,” yang abtar itu, yang putus keturunannya adalah yang mengucapkannya kepadamu, bukan engkau. Ayat ini dijadikan dalil oleh para muhaddits kita bahwa keturunan Rasul tidak terputus, melainkan berlanjut dari keturunan Sayyidatuna Fathimah ra. Dengarlah oleh kalian, wahai orang-orang yang menganggap Rasulullah itu abtar, Allah sendiri yang menjawab kalian, “Inna syani’aka huwal abtar.” Bukan Rasul yang putus keturunannya. Keturunan Rasul tidak terputus sampai kepada Sayyidina Hasan wal Husein ra. Tetapi terus berlanjut hingga zaman akhir.

    Rasul saw sebagai lambang manusia yang menghantarkan seluruh ummat kepada kemuliaan ini sangat dicintai oleh putrinya dan oleh para sahabat. Sayyidatuna Fathimah Zahra ra, setelah wafatnya Rasul tidak lagi keluar rumahnya seraya berkhalwat. Sehingga beliau ra wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah saw. Hal ini sesuai dengan kabar dari Sang Nabi bahwa orang pertama yang akan menyusul beliau saw dari sahabat beliau saw adalah Sayyidatuna Fathimah. Beliau ra yang pertama kali menyusul ayahnya, Rasulullah saw. Kemudian disusul oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra, lantas para sahabat lainnya kembali ke alam barzakh.

  • Ujian Keluarga Ibrahim

    Telah sampai riwayat -di dalam Al-Qur’anul-Karim- pada kita ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya itu mulai tumbuh,” berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun, pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang disembelih adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as. Tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari. Pendapat yang kedua di dalam tafsir Imam Ibn Abbas dan ulama lainnya.

    Pendapat ulama berikhtilaf tentang putra Nabi Ibrahim as yang disembelih akan tetapi menjadi pendapat jumhur bahwa mereka putra Nabi Ibrahim as yang diperintah untuk disembelih. “Wahai putraku aku bermimpi melihat menyembelihmu maka bagaimana pendapatmu?,” putranya masih 7 tahun.

    Mimpi dari para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah. Berbeda dengan mimpi kita, bukan wahyu dan bukan perintah Allah. Mimpi para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah, bila ia bermimpi menyembelih putranya maka berarti bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya. Akan tetapi Nabi Ibrahim as bertanya pada putranya. Kenapa harus bertanya kalau sudah perintah Allah? Demi mencoba iman putranya, karena seorang Nabi sudah cerdas dari kecilnya. Kalau dia memang betul Nabi, apalagi Rasul, sudah cerdas menerima perintah Allah sejak kecil.

    Maka berkata putranya ini, “Wahai ayahku, perbuatlah apa yang diperintah Allah. Kau akan temukan aku sebagai orang yang bersabar. Maka Nabi Ibrahim as membawa putranya ke atas bukit. Di saat itu syaithan menghalangi perbuatan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim tidak mau menurut dengan godaan syaithan yang menghalanginya seraya mengambil 7 buah batu dan melempari syaithan dan kejadian itupun hingga saat ini diabadikan dengan cara jumrah.

    Allah SWT menjadikan ummat ini mendapatkan kemuliaan-kemuliaan dari ummat yang terdahulu, perbuatan Nabi Ibrahim yang melihat syaithan yang menghalanginya menjalankan perintah Allah dilempari oleh Nabi Ibrahim as. Kita ummat Nabi Muhammad saw tidak mampu melihat syaithan tidak pula mampu untuk melempari syaithan, akan tetapi Allah menjadikan mereka yang berangkat hajji melempar batu jumrah yaitu di Mina untuk apa? Untuk mendapatkan keberkahan dari perbuatan Nabi Ibrahim as.

    Maha Suci Allah yang telah memperindah ummat ini dengan mengikat perbuatan mulia dari para Nabi dan Rasul diikat kepada ummat Nabi Muhammad saw.

    Nabi Ibrahim membawa putranya ke bukit. Syaithan, yang gagal menghalangi Nabi Ibrahim as, datang kepada istri Nabi Ibrahim. Lalu syaithan berkata, “Itu suamimu, anakmu dibawa keatas bukit mau disembelih.” Kagetlah isteri Nabi Ibrahim as dan berkata, “Apakah betul suamiku membawa membawa putraku untuk disembelih?” Maka berkatalah syaitan “Buktikan saja, memang begitu”.

    Kita lihat iman seorang wanita shalihah, maka berkatalah istrinya, “Aku takut suamiku ragu-ragu menerima perintah Allah..!”Malah ingin diyakinkan oleh beliau. Kalau seandainya Nabi Ibrahim as ada didepannya, mungkin beliau akan berkata kepada Nabi Ibrahim as, “Jangan ragu-ragu kalau sudah perintah Allah.” Demikian hebatnya iman beliau. Maka putranya dibawa keatas bukit dan seraya berkata, “Wahai ayahku, tajamkan pisaumu.” Demikian diriwayatkan di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari “Tajamkan pisaumu wahai ayah dan jadikanlah pakaianku ini sebagai kafanku karena kita tidak mempunyai kain kafan. Kalau nanti kena darah yang mengalir dari tubuhku tidak bisa dijadikan kafan maka jadikan saja pakaian ini kafan.” Maka pakaiannya pun dibuka. Bocah kecil ini pun berkata “Wahai ayah, ikatlah aku agar aku tidak berontak sehingga kau ragu-ragu menyembelihku nanti.” Sehingga kepalanya ditaruhkan diatas batu dan Nabi Ibrahim mengangkat pedangnya, maka malaikat Jibril membalikkan tangannya pada seekor kambing.

    Siapa yang mampu berbuat seperti ini dari kita? Sungguh berat mendapat perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Akan tetapi Allah mengikat perbuatan ini dengan ummat Nabi Muhammad saw. Sehingga seluruh ummat Nabi Muhammad saw disunnahkan menyembelih qurban sehingga mendapatkan pahala kemuliaan Nabi Ibrahim as. Demikian Allah mengikat ummat ini dengan banyaknya hal-hal yang mulia di masa yang lalu.

  • Allah Mengundangmu

    Limpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa, untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..” Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah keadaan. Jalla wa’alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.

    Maha Suci Allah yang undangannya memanggil nafas-nafas para pendosa untuk bertaubat, mengundang mereka untuk kembali kepada Rahmat ilahi, sehingga tiadalah seseorang dari hamba ini wafat terkecuali menyesali ternyata betapa indah dan lemah lembutnya Allah, ternyata betapa baiknya Allah, ternyata betapa indahnya kasih sayang Allah. Merugilah mereka yang telah meninggalkan Allah didalam hidupnya, didalam hari-harinya. Ia meninggalkan hal-hal yang dicintai Allah, sebagaimana Allah SWT memanggil hamba hambaNya kelak di Yaumil Qiyamah “yaa ayyuhal insan.., Maa gharraka birabbikal kariim…….?” Wahai manusia apa yang telah membuatmu meninggalkan-Ku, Tuhanmu yang Maha Pemurah? Tuhan yang telah menciptakanmu dan menjadikanmu ada dari ketiadaan.

    Bukankah kita wajib berbakti kepada ayah dan ibu? Sedangkan Allah lebih dari pada jasa ayah dan bunda kita “maa gharraka birabbikal kariim……….” apa yang membuat engkau meninggalkan Tuhanmu yang Maha Pemurah? Dia yang menawarkan pengampunan-Nya atas setiap dosa. Dia yang menginginkanmu selalu dekat kepada kasih-sayang-Nya, sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketika orang-orang menyesal di Yaumil Qiyamah, akan tetapi sebagian hamba-hamba Allah yang dimasa hidupnya selalu ingin bersama Allah, mereka berada dalam kebahagiaan yang kekal, mereka di dalam istana-istana termegah yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, sebagaimana dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhori Allah berfirman “A’dadatu li’ibaadiy……….” telah Aku siapkan bagi hamba hamba Ku yang shalih -yang berbicara ini adalah yang Maha Menciptakan jagat raya dengan segala kemegahannya- Kuciptakan dan Kusiapkan bagi hamba–hambaKu yang shalih apa–apa yang belum pernah terlihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah terlintas dalam lintasan pemikiran mereka.

    Firman Allah ini bagi mereka yang berfikir dan mendalami dan merenunginya merupakan undangan Allah kepada setiap jiwa kita. Telah Kusiapkan hidangan–hidangan dan istana agung untukmu wahai hambaKu. Sayanglah dan merugilah jika engkau menolak tawaranKu. Inilah makhluq yang paling merugi ketika ia menolak tawaran Rabbul ‘alamin untuk hidup bersama-Nya dalam kebahagiaan yang kekal.

    Sungguh Allah SWT adalah yang tiada henti–hentinya Maha bersabar kepada mereka yang berbuat salah dari hambaNya dan betapa indahnya umat Nabi Muhammad saw yang mendapat undangan untuk selalu menghadap lima kali dalam setiap harinya. Adakah lagi hamba yang lebih suci dan bercahaya dari umat Sayyidina Muhammad? Mereka lima kali setiap hari dipanggil Allah. Bukankah mereka benar–benar dimanjakan oleh Allah? Adakah seorang raja memanggil seorang rakyatnya lima kali sehari terkecuali ia seorang yang sangat dicintai? Demikian keadaanku dan kalian yang selalu mendapat undangan agung lima kali setiap hari. Betapa suci dan terang benderangnya ummat Nabi Muhammad saw, dan betapa rugi dan gelapnya mereka yang menolak Allah. Ketika ia dipanggil oleh Allah, ia menolak. Ketika ia dipanggil oleh Allah untuk menghadap, ia pun mungkar dan berpaling. Adakah yang lebih rugi dari orang yang menolak undangan seorang raja? Kalau ini rugi maka bagaimana dengan undangan Maha Raja langit dan bumi.

    Sambutlah undangan Rabbul ‘allamin, dengan semangat gembira kehadirat Allah atas anugerah-Nya. Jadikan siang dan malam kita selalu di dalam cahaya Rabbani, di dalam cahaya kehidupan yang kekal. Inilah hakikat kehidupan yang mulia.

    (majelisrasulullah.org)

  • Tuhankah Yesus?

    Banyak sosok di dunia ini yang dianggap sebagai ilah, tuhan yang disembah. Benarkah mereka semua adalah ilah? Atau hanya ada satu Ilah yang benar? Kali ini kita kaji tentang Yesus. Apakah Yesus itu adalah ilah yang benar? Benarkah bahwa Yesus itu adalah ilah yang esa? (lebih…)

  • Sikap Habib Munzir terhadap Demo 20 April 2008

    ImageImageAssalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, Bismillahirrahmanirrahiim
    Alhamdulillahirabbil Alamin,
    Wasshalatu wassalamu ala sayyidil mursalin,
    Wa ala alihi washahbihi ajmaiin,

    Semoga kebahagiaan dan kesejukan jiwa selalu menerangi hari hari saudaraku dimanapun kalian berasa, Wahai saudara saudaraku seperjuangan, Wahai para Pembela Sayyidina Muhammad, Wahai yg berbakti kepada Muhammad Rasulullah, Dengan ini saya, Hamba Allah yg hina, Khadim Majelis Rasulullah saw, Munzir bin Fuad Almusawa, menghimbau kepada saudara saudaraku sekalian, (lebih…)