Blog

  • MENDUSTAKAN RASULULLAH

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saaw bersabda: Siapa yang sengaja mendustakan aku, maka bersiaplah untuk menerima azab api Neraka. (HR. Bukhori, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)

    Di zaman ini telah ada orang-orang yang menyamakan antara hadits-hadits dha’if (lemah) dengan hadits-hadits maudhu` (palsu). Padahal kedua macam hadits ini adalah tidak sama posisinya. Hadits dha’if adalah benar-benar perkataan Rasulullah saaw, akan tetapi periwayatnya atau sanadnya memiliki kelemahan. Sedangkan hadits maudhu` adalah perkataan yang bukan perkataan Rasulullah saaw yang kemudian dikatakan sebagai hadits oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

    Dengan mengatakan hadits dho’if sebagai hadits palsu, itu sama saja dengan mengatakan perkataan Rasulullah saaw sebagai bukan perkataan Rasulullah saaw. Dengan menolak hadits dho’if, itu sama saja dengan menolak perkataan Rasulullah saaw dan mendustakannya.

    Dalam amaliyah, kita memang harus mengutamakan hadits shahih setelah Al-Qur`an. Jika tidak ada, maka kita harus berpegang pada hadits hasan. Akan tetapi bukan berarti kita meninggalkan begitu saja hadits yang lemah. Selama hadits yang lemah itu tidak bertentangan dengan hadits yang kuat (shahih atau pun hasan), maka hadits lemah itu bisa dipakai untuk diamalkan. Bahkan sesekali, kita perlu mengamalkan hadits dho’if dalam rangka memelihara ilmu dan perkataan Rasulullah saaw. Karena walau bagaimana pun, hadits dho’if itu adalah perkataan Rasulullah saaw yang tidak boleh didustakan.

    Untuk mengetahui dari siapakah atau dari orang bagaimanakah hadits dho’if ini diperoleh, ada baiknya Anda mengingat salah satu kisah Imam Al-Bukhori ketika mencari hadits dari seseorang di suatu daerah. Imam Al-Bukhori selalu menanyakan kepada penduduk di suatu daerah, adakah di daerah itu seseorang yang menghafal sebuah hadits Rasulullah saaw. Suatu hari dikatakan kepada beliau bahwa si fulan itu menghafal suatu hadits dari Rasulullah saaw. Si fulan itu bisa ditemui di tempat penggembalaan ternak. Maka pergilah Imam Bukhari ke tempat yang dimaksud. Diam-diam Imam Bukhori memperhatikan si fulan yang sedang menggembala ternak dari kejauhan. Lalu dilihatlah peristiwa itu, di mana si fulan mencoba menggiring ternaknya dengan menggerak-gerakkan tangannya yang tertengadah seakan ada makanan ternak padanya. Padahal di tangannya tidak ada apa-apa. Hal itu dilakukan hanya untuk mengelabui ternak tersebut agar mau menurut padanya. Melihat peristiwa itu, Imam Bukhori menganggap bahwa orang itu tidak pantas untuk meriwayatkan hadits Rasulullah, karena dia memiliki satu sifat tercela, yaitu bohong. Walau yang dibohongi itu hanyalah seekor hewan, tetapi Imam Bukhori tetap menganggapnya tidak pantas untuk meriwayatkan hadits Rasulullah saaw.

    Hal tersebut menjelaskan kepada kita betapa hati-hatinya beliau dalam mengumpulkan hadits. Beliau hanya mengambil hadits dari orang-orang yang memiliki kualitas tertentu. Setelah hadits-hadits itu diambil, barulah beliau klasifikasikan hadits-hadits tersebut. Sehingga apa yang disebut hadits dho’if itu bukan berarti palsu. Hadits dho’if tetaplah hadits, perkataan Rasulullah saaw yang tidak boleh didustakan.

    Diriwayatkan daripada Ali ra katanya: Rasulullah saaw bersabda: Janganlah kamu mendustakan aku, karena sesungguhnya orang yang mendustakan aku akan dimasukkan ke dalam api Neraka. (HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)

  • ALLAH BERSHALAWAT

    Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [QS. 33:56]

    Mungkin ada yang berkata bahwa Allah bershalawat, berarti Allah bukanlah Tuhan. Begini, Allah bershalawat, berarti Allah memberi rahmat, memberi kesejahteraan kepada Nabi, seakan Allah berfirman: “Kesejahteraan atas kamu wahai Muhammad”.

    Jika Anda bersalam kepada seseorang, apa yang Anda katakan kalau bukan, “Keselamatan atas kamu.”? Tetapi apakah manusia bisa memberi selamat? Tentu tidak. Salam dari manusia berarti doa, seakan dia berkata, “Keselamatan dari Allah atas kamu.” Sedangkan salam dari Allah adalah benar-benar pemberian keselamatan dari-Nya. begitu juga shalawat Allah atas Muhammad Rasulullah SAAW, itu merupakan pemberian kesejahteraan dari Allah bagi Muhammad Rasulullah SAAW.

    Allah memerintahkan kepada para malaikat dan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi, yaitu dengan mereka berucap: “Allahumma sholli ‘ala Muhammad,”, yang berarti: “Wahai Allah, berikanlah rahmat dan kesejahteraan atas Muhammad.”

    Orang yang banyak bershalawat atas Nabi, maka dia berhak mendapat syafaat Nabi di akhirat. Shalawat atas Nabi Muhammad SAAW itu bukan disebabkan Nabi Muhammad SAAW itu belum selamat. Justeru beliau SAAW telah selamat, beliau itu telah berada di Jalan Lurus. Dan ketika dikatakan bahwa Allah bershalawat atas Nabi, itu adalah bukti bahwa Muhammad SAAW telah selamat. Adapun orang Islam diajarkan untuk bershalawat kepada Nabi SAAW adalah agar orang itu beroleh syafaat/pertolongan Nabi. Sebab di hari berbangkit itu, Nabi Muhammad SAAW akan menjadi Jurusyafaat, Juruselamat, Jurubicara manusia di hadapan Allah. Muhammad Rasulullah SAAW adalah orang yang diizinkan Allah untuk memberikan syafaat dari Allah kepada manusia. Maka beruntunglah orang yang mendekatkan diri kepadanya dengan menjadi pengikutnya dan bershalawat atas dia.

    Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [QS. Al-Baqarah: 255]

    JALAN LURUS

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada Jalan Lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Al-An’am: 161]

    Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. [QS. Ibrahim: 1]

    Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada Jalan Lurus. [Al-Mu`minun: 73]

    Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas Jalan Lurus. [QS. Az-Zukhruf: 43]

    Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas Jalan Lurus, [QS. Yaa Siin: 3-4]

    Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat (bersholawat) dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia. [1 Timotius 2:1-5]

    Justeru orang Trinitarian itulah yang tidak selamat, karena mereka tidak berada di Jalan Lurus.

    (Isa berkata:) Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu (Bapaku dan Bapamu, Ilahku dan Ilahmu?), karena itu sembahlah Dia. (Mengesakan Allah) inilah Jalan Lurus”. [QS. Ali Imran: 51]

    Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. [Yohanes 17:3]

    Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu (Al-Ahad) yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” [Matius 19:17]

    Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. [Lukas 18:18-19]

    Ayat di atas menjelaskan bahwa ‘yang baik’ itu hanya Allah saja, sedang Yesus bukanlah Allah, maka jangan sebut Yesus sebagai ‘yang baik’. Yesus bukan Allah. Jika seseorang ingin masuk ke dalam hidup kekal bahagia, maka ikutilah segala perintah Allah. Yesus katakan: “Segala perintah Allah.” bukannya, “Segala perintahku.” Karena Yesus bukanlah Allah.

  • MUHAMMAD YANG PEMAAF

    Propagandis Kristen menyombongkan diri bahwa dalam sejarah umat manusia tidak ada yang paling baik hati dan pemaaf dibandingkan Yesus, yang sewaktu disalib berkata, “Yesus berkata, ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka Iakukan’, ” (Lukas 23: 34).

    Kedengarannya luar biasa, dari empat penulis resmi Kitab Injil, hanya Lukas yang diilhami oleh Roh Kudus untuk menuliskan kata-kata di atas. Ketiga penulis yang lain, Matius, Markus dan Yohanes tidak pernah mendengar kata-kata tersebut atau mereka merasa bahwa kata-kata itu tidak terlalu penting untuk dicatat. Lukas bukanlah salah satu dari dua belas murid terpilih Yesus. Berdasarkan Injil revisi dari ‘Revised Standard Version’ (RVS: versi revisi standar), kata-kata tersebut tidak ada dalam catatan asli yang berarti bahwa kata-kata tersebut merupakan tambahan yang tidak resmi.

    Dalam versi King James baru (diterbit ulang oleh Thomas Nelson Publisher tahun 1984), dikatakan bahwa kata-kata itu ‘bukanlah original teks’ dari catatan Lukas. Dengan kata lain bahwa kata-kata tersebut dibuat oleh beberapa orang yang fanatik. Meskipun pernyataan itu tidak otentik, kita mengetahui bahwa itu menunjukkan keimanan seseorang dan sifat pemaaf dari pemimpinnya.

    Karena sifat pemaaf merupakan sesuatu yang berharga, orang yang memaafkan harus berada dalam posisi orang yang memberi maaf. Jika korban dari ketidakadilan masih berada dalam genggaman musuhnya dan dalam posisi tersebut dia berteriak, “Saya maafkan kamu!” Itu tidak akan berarti apa-apa. Akan tetapi apabila korban ketidakadilan itu sudah terlepas dari genggaman musuh dan menang melawan musuh tersebut, dan dalam posisi tersebut ia berkata, “Ya, saya maafkan kamu”, barulah itu berarti sangat besar.

    Sifat Pemaaf Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

    Berlawanan sekali pernyataan maaf dari “Salib” dengan sejarah pertumpahan darah penaklukan kota Makkah oleh Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dihadapan sahabat-sahabatnya.

    “Kota yang telah memperlakukannya dengan sangat kejam, menindas, mengutuk dirinya dan pengikutnya, berada di bawah kakinya kini. Orang-orang yang dulu menindas dan menganiaya dirinya dengan tanpa belas kasihan sekarang berada di bawah belas kasihan beliau. Tetapi di saat kemenangannya, segala kesalahan mereka dimaafkan dan mereka dibebaskan untuk tetap tinggal di Makkah.” (Sayyid Amir Ali dalam Spirit of Islam)

    Sebelum beliau membebaskan mereka untuk tetap tinggal di kota tersebut, Beliau bertanya kepada mereka “Apa yang kamu harapkan dari tanganku hari ini?” Orang-orang yang telah mengenal Beliau bahkan sejak masa kanak-kanak itu berkata, “Kemurahan hati, wahai saudara dan keponakanku!” Air mata keluar dari kedua mata Rasulullah dan Beliau berkata, “Saya akan berbuat seperti apa yang diperbuat Yusuf pada saudara-saudaranya. Kalian boleh bebas pergi!”

    Dan, sekarang peristiwa seperti ini tidak ada persamaannya yang lain dalam sejarah dunia. Sekelompok demi sekelompok manusia datang dan masuk Islam. Firman Allah yang menggambarkan sifat agung Rasulullah:

    “Sesungguhnya telah ada pada (din) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”

    Seperti yang Lamartine katakan, “Berdasarkan semua standar kebesaran dan kejayaan yang bisa diukur, kita bisa bertanya, apakah ada orang lain yang lebih besar dari beliau?”

    Saya ulangi, kita juga bisa mengatakan sekali lagi, “Tidak! Tidak ada manusia yang lebih agung dari Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling agung yang pernah hidup!”

  • PERTUMBUHAN ISLAM

    “Dialah yang mengutus Rasul- Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan, cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fath: 28).

    Adalah janji Allah untuk memenangkan agama Islam atas seluruh agama. Dan janji itu telah menjadi nyata. Tujuan dari Islam disebutkan di dalam ayat ini. Islam adalah pemimpin, penguasa dan pengganti semua agama dan kepercayaan.

    Dalam bahasa Arab, kata Dien (secara harfiah berarti “Cara hidup”) untuk menggantikan semua agama, yaitu Hindu, Buddha, Kristen, Yahudi, Komunis dan isme-isme (paham-paham) lainnya. Inilah tujuan dari ‘Dien Allah’.

    Ayat yang sama juga diulang pada Surat Ash-Shaff ayat 9 dengan tambahan dibelakangnya: “… meskipun orang-orang musyrik benci. ”

    Kejayaan Islam

    Islam akan menang. Ini adalah janji Allah dan janji-Nya selalu benar. Tetapi bagaimana? Dengan pedang? Tidak, bahkan apabila kita mempunyai senjata laser! Bisakah kita menggunakannya? Dalam Al-Qur’ an disebutkan bahwa kita dilarang menggunakan kekerasan dalam mengajak orang lain untuk masuk Islam. Namun ayat-ayat Kitab Suci meramalkan bahwa Islam akan menjadi ajaran yang paling dominan dari semua agama.

    Kejayaan dari ajaran Islam ini sudah dimulai dan diperoleh dengan mengajarkan ideologi melalui sekolah-sekolah agama di seluruh dunia. Meskipun tidak dengan nama Islam, tetapi atas nama reformasi dan amandemen, Islam tetap bercabang menjadi berbagai aliran. Banyak hal-hal yang bersifat Islami tetapi bentuknya tidak diketahui atau sesuatu yang dulunya dilarang bahkan meskipun hanya diucapkan, kini mulai timbul di berbagai tempat.

    Perbankan syari’ah telah terbukti dapat menghadapi krisis moneter dengan mudahnya. Maka muncullah bank-bank syari’ah di Indonesia. Apakah ummat Islam yang memaksa bank konvensional untuk membuka bank syari’ah? Tidak, melainkan akal sehat merekalah yang memutuskan untuk mengikuti syariat Islam. Mereka telah melihat keunggulan system Islam dibandingkan system liberal, system kapital, system komunis. Adakah Injil mengajarkan suatu system perbankan yang dapat mengungguli system perbankan Islam?

    Penyebaran Islam di Tanah Air

    Adakah Islam masuk ke Indonesia dengan kekerasan? Tidak. Justeru Kristen itulah yang masuk ke Indonesia bersama para penjajah. Dan Nabi Muhammad tidak menyebarkan Islam melalui kekerasan. Bagaimana beliau bisa menyebarkan Islam dengan pedang? Sedangkan beliau dan pengikutnya adalah kaum minoritas yang tertindas di Makkah.

    “Beliau memilih untuk hijrah daripada harus berperang melawan rakyatnya sendiri; tetapi ketika penindasan mereka sudah di luar batas toleransi barulah beliau mengangkat pedang untuk membela diri. Mereka yang percaya bahwa suatu agama bisa disebarkan dengan kekerasan adalah orang yang bodoh yang tidak tahu jalannya suatu agama ataupun jalannya dunia. Mereka bangga dengan kepercayaannya karena mereka berada di suatu jalan, jalan yang jauh dari kebenaran” (Seorang jurnalis Sikh dalam Nawan Hindustan, New Delhi, 17 November 1947).

    Begitu juga penyebaran Islam di Indonesia saat ini. Kita dapat mendengar bahwa ada begitu banyak Pendeta dan biarawati yang masuk Islam dan kemudian menyebarkan Islam kepada jemaat Kristen dan berhasil. Padahal jemaat yang di Islamkan itu adalah kaum itelektual, rajin ke Gereja dan tidak miskin. Ini menunjukkan bahwa Islam memang agama yang haq (benar) dan dapat diterima oleh jiwa yang bersih yang rindu kepada kebenaran. Tetapi kita belum pernah mendengar bahwa ada seorang ustadz sholih lagi alim yang masuk Kristen kemudian menyebarkan Kristen tanpa iming-iming harta dunia dan berhasil. Tidak. Justeru yang sering terjadi adalah begitu banyak kaum pendosa yang lemah imannya, mereka masuk Kristen hanya karena iming-iming harta dunia semata. Ini menunjukkan bahwa Kristen hanya bisa diterima oleh orang-orang yang lemah jiwanya dan mudah menjual jiwanya kepada kesesatan.

    Manusia Pilihan Tuhan

    “Jika kebesaran tujuan, keterbatasan peralatan dan hasil-hasil yang mencengangkan adalah tiga kriteria kebesaran manusia, siapa yang bisa mempertaruhkannya di jaman modern ini dengan sejarah Muhammad? (Lamartine mengakhiri buku karyanya yang panjang ini dengan kata–kata): …. Ahli filsafat, ahli pidato, rasul, pemimpin negara, pejuang, pencetus ide-ide, penemu keyakinan yang rasional, penemu 20 kekaisaran di bumi dan menjadikannya menjadi satu kekaisaran spiritual, dia adalah Muhammad. Berdasarkan semua standar kebesaran dan kejayaan yang bisa diukur, kita bisa bertanya, apakah ada orang lain yang lebih besar dari beliau?” {Lamartine dalam Historie de la Turquie (Sejarah Turki), Paris 1854}.

    Lamartine rupanya sedang berkata, “Tidak ada orang lain yang lebih besar dari Muhammad (saaw).”

    Islam di Dunia Internasional

    “Di dunia ini, ada lebih banyak yang mengaku sebagai Kristen daripada mengaku Muslim, tetapi lebih banyak yang berlaku sebagai Muslim daripada berlaku sebagai Kristen. ” {R.VC. Bodley (orang Amerika) dalam The Messenger: The life of Muhammad (Rasul: Kehidupan Muhammad), USA, 1969}.

    Saya mengerti bahwa Mr. Bodley mencoba mengatakan pada kita bahwa di dunia ini ada orang-orang yang ketika diadakan sensus, mereka mengaku bahwa agama mereka adalah Kristen. Ini tidak berarti mereka menganut kepercayaan Kristen. Walau berasal dari Kristen, mereka tidak mau mengaku dirinya Kristen. Dari segi pandang bahwa seseorang yang melaksanakan apa yang mereka percayai, maka lebih banyak Islam di dunia ini dibandingkan Kristen.

    Berdasarkan urutan waktu, Islam berada 600 tahun di belakang Kristen, tetapi secara mengagumkan, Islam berkembang dengan cepat. “Satu Milyard”. Ini gambaran tentang keunggulan dan kesungguhan penganut Islam.

    (Ahmed Deedat dalam The Choice)

  • MUHAMMAD Shallallahu Alaihi wa Sallam:

    Nabi Tuhan yang benar berdasarkan Injil

    (a) ” … setiap roh (maksudnya setiap Nabi) yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah.” (Injil – 1 Yohanes 4: 2).

    Bandingkan dengan kitab suci Al-Qur’an surat Ali ‘Im-ran (3) ayat 45 dan banyak referensi Qur’an lainnya dimana Yesus diarahkan sebagai Kristus. Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Sallam (saaw) mengakui bahwa Isa Al-Masih (Yesus Kristus) adalah manusia yang diutus Allah kepada bani Israel. Maka jelaslah bahwa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Sallam adalah seorang nabi.

    Nama Muhammad Disebutkan di Dalam Injil:

    (b) “Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya (Muhammad) menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai putra-putri Yerusalem.” (Injil -Kidung Agung 5: 16).

    Dalam naskah Ibrani asli, kata “Muhummedim” diterjemahkan menjadi “segala sesuatu menarik” yang pada dasarnya adalah kata Muhummed dengan tambahan “im”. Dalam bahasa Ibrani “im” digunakan untuk menyatakan jamak.

    Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam Adalah Seorang “Penolong” Seperti Yesus Alaihis-salam.

    (c) “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan membe-rikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” (Injil – Yohanes 14: 16).

    Yesus Alaihis-salam adalah penolong pertama, dan yang lain tentunya seperti dia, sama seperti Yesus, seorang manusia dan bukan Tuhan.

  • INSYA ALLAH

    INSYA ALLAH secara harfiah berarti jika Allah Menghendaki. Ketika manusia berjanji, maka ada dua bagian dalam pemenuhan janji itu, 90% kehendak manusia itu dan 10% kehendak Allah. Mengapa manusia hanya memiliki 90%, bukannya 100%? Karena kehendak manusia belum tentu terjadi, sedangkan kehendak Allah pasti terjadi. Lalu mengapa dikatakan bahwa kehendak manusia itu 90%, yang berarti lebih besar porsinya daripada porsi Allah? Karena untuk membayar janjinya, manusia harus bersungguh-sungguh untuk menunaikannya, tidak boleh ia asal berjanji tetapi padahal ia tidak benar-benar berkehendak untuk memenuhinya.

    Namun berbeda jika Allah yang berjanji. Ketika Allah berjanji, maka hanya ada satu bagian (100%) dalam pemenuhan janji itu, yaitu 100% kehendak Allah. Maka jika Dia berkata, “Aku akan memasukkan hamba-Ku yang bertaqwa ke dalam Jannah, dengan kehendak-Ku.” Maka ini adalah janji yang 100% pasti dipenuhi. Karena jika Allah telah berkehendak, maka kehendak siapa pula yang dapat menghalangi-Nya? Tidak ada seorang pun yang punya bagian, walau hanya 1%, dalam pemenuhan janji Allah ketika Dia berjanji. Jika ada, maka si pemilik bagian 1% itulah yang kemudian menentukan apakah ia berkehendak ataukah tidak. Dan itu berarti bahwa Allah bergantung pada kehendak sesuatu yang lain. Akan tetapi tidak demikian. Tidak ada seorang pun yang punya bagian, walau hanya 1%, dalam pemenuhan janji Allah ketika Dia berjanji.

    Lalu bagaimana dengan manusia yang berjanji tanpa berkata, “Insya Allah.”? Manusia itu adalah manusia yang lalai atau mungkin sombong. Dia lalai bahwa kehendak manusia itu belum tentu terjadi, sedangkan kehendak Allah itu pasti terjadi. Dia sombong apabila dia meyakini bahwa kehendaknya pasti terjadi dan tidak ada yang bisa menghalangi terwujudnya kehendaknya, bahkan Tuhan pun tidak.

    Yasin: 82.

    Yesus menyadari hal ini, bahwa kehendaknya belum tentu terjadi, tetapi kehendak Tuhan pasti terjadi. Dan ini menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan yang kehendaknya pasti terjadi. Yesus hanyalah manusia yang kehendaknya itu tergantung pada kehendak Tuhan.

  • Temuan Arkeologis dari Kaum Tsamud

    Dari berbagai kaum yang disebutkan dalam Al Quran, Tsamud ada-lah kaum yang saat ini telah banyak diketahui keberadaannya. Sumber-sumber sejarah mengungkapkan bahwa sekelompok orang yang disebut dengan kaum Tsamud benar-benar pernah ada.
    Penduduk Al Hijr yang disebutkan dalam Al Quran diperkirakan adalah orang-orang yang sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab Al Hijr (Penduduk Al Hijr). Jadi kata “Tsamud” merupakan nama kaum, sementara kota Al Hijr adalah salah satu dari beberapa kota yang dibangun oleh kaum tersebut.

    Ahli geografi Yunani, Pliny sepakat dengan ini. Pliny menulis bahwa Domatha dan Hegra adalah lokasi tempat kaum Tsamud berada, dan kota Al Hegra inilah yang menjadi kota Al Hijr saat ini.

    Sumber tertua yang diketahui berkaitan dengan kaum Tsamud adalah tarikh kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang mengalahkan kaum ini dalam sebuah pertempuran di Arabia Selatan. Bangsa Yunani juga menyebut kaum ini sebagai “Tamudaei”, yakni, “Tsamud”, dalam tulisan Aristoteles, Ptolemeus, dan Pliny (hidup sebelum zaman Nabi Muhammad SAW, sekitar tahun 400-600 M), mereka benar-benar punah.

    Dalam Al Quran, kaum ‘Ad dan Tsamud selalu disebutkan bersama-an. Lebih jauh lagi, ayat-ayat tersebut menasihati kaum Tsamud untuk mengambil pelajaran dari penghancuran kaum ‘Ad. Ini menunjukkan bahwa kaum Tsamud memiliki informasi detail tentang kaum ‘Ad.

    “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata; ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu peng-ganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Al A’raf : 73-74)

    Sebagaimana dapat dipahami dari ayat ini, terdapat hubungan antara kaum ‘Ad dan kaum Tsamud, bahkan mungkin kaum ‘Ad pernah menjadi bagian dari sejarah dan budaya kaum Tsamud. Nabi Shalih memerintahkan untuk mengingat kejadian kaum ‘Ad dan mengambil peringatan dari me-reka.

    Kaum ‘Ad ditunjukkan kepada contoh dari kaum Nabi Nuh yang per-nah hidup sebelum mereka. Sebagaimana kaum ‘Ad mempunyai kaitan penting untuk sejarah kaum Tsamud, kaum Nabi Nuh juga mempunyai kaitan penting untuk sejarah kaum ‘Ad. Kaum-kaum ini saling mengenal dan kemungkinan berasal dari garis keturunan yang sama.

    Al Quran menceritakan tentang adanya hubungan antara kaum ‘Ad dan Tsamud. Kaum Tsamud diingatkan untuk mengingat kejadian kaum ‘Ad serta mengambil pelajaran dari penghancuran mereka. Meskipun secara geografis kaum ‘Ad dan Tsamud sangat berjauhan dan sepertinya tidak berhubungan, namun dalam ayat yang ditujukan kepada kaum Tsamud dikatakan untuk mengingat kaum ‘Ad.

    Jawabannya muncul setelah penyelidikan singkat dari berbagai sum-ber, bahwa memang terdapat hubungan yang sangat kuat antara kaum Tsamud dan kaum ‘Ad. Kaum Tsamud mengenal kaum ‘Ad karena kedua kaum ini sepertinya berasal dari asal usul yang sama. Britannica Micropaedia menuliskan tentang orang-orang ini dalam sebuah tulisan berjudul “Tsamud”:

    Di Arabia Kuno, suku atau kelompok suku tampaknya telah memiliki keunggulan sejak sekitar abad 4 SM sampai pertengahan awal abad 7 M. Meskipun kaum Tsamud mungkin berasal dari Arabia Selatan, sekelompok besar tampaknya pindah ke utara pada masa-masa awal, secara tradisional berdiam di lereng gunung (jabal) Athlab. Penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan sejumlah besar tulisan dan gambar-gambar batu tentang kaum Tsamud, tidak hanya di Jabal Athlab, tetapi juga di seluruh Arabia Tengah.

    Tulisan yang secara grafis mirip dengan abjad Smaitis (yang disebut Tsamudis) telah diketemukan mulai dari Arabia Selatan hingga ke Hijaz. Tulisan itu, yang pertama ditemukan di daerah Utara Yaman Tengah yang dikenal sebagai Tsamud, dibawa ke Utara dekat Rub’al Khali, ke selatan dekat Hadhramaut serta ke Barat dekat Shabwah.

    Kaum ‘Ad adalah sekelompok orang yang hidup di Arabia Selatan. Ada kenyataan penting bahwa banyak peninggalan kaum Tsamud ditemukan di daerah tempat kaum ‘Ad pernah hidup, khususnya sekitar bangsa Hadhram (Yaman Selatan), anak cucu ‘Ad, mendirikan ibu kotanya. Keadaan ini menjelaskan hubungan kaum ‘Ad dan Tsamud yang disebutkan dalam Al Quran. Hubungan tersebut diterangkan dalam perkataan Nabi Shalih ketika mengatakan bahwa kaum Tsamud datang untuk menggantikan kaum ‘Ad :

    “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata; ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya…. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi.” (QS. Al A’raf: 73-74)

    Singkatnya, kaum Tsamud telah mendapat ganjaran atas pembang-kangan terhadap nabi mereka, dan dihancurkan. Bangunan-bangunan yang telah mereka bangun dan karya seni yang telah mereka buat tidak dapat melindungi mereka dari azab. Kaum Tsamud dihancurkan dengan azab yang mengerikan seperti halnya umat-umat lainnya yang meng-ingkari kebenaran, yang terdahulu maupun yang terkemudian.

    Dari Al Quran diketahui bahwa kaum Tsamud adalah anak cucu dari kaum ‘Ad. Bersesuaian dengan ini, temuan-temuan arkeologis memper-lihatkan bahwa akar dari kaum Tsamud yang hidup di utara Semenanjung Arabia, berasal dari selatan Arabia di mana kaum ‘Ad pernah hidup.

    Dua ribu tahun silam, kaum Tsamud telah mendirikan sebuah kerajaan bersama bangsa Arab yang lain, yaitu kaum Nabatea. Saat ini di Lembah Rum yang juga disebut dengan Lembah Petra di Yordania, dapat dilihat berbagai contoh terbaik karya pahat batu kaum ini. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, keunggulan kaum Tsamud adalah dalam pertukangan.

    Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu peng-ganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Al A’raf : 74)

    Sumber: hyahya.org

  • SILSILAH MUHAMMAD RASULULLAH

    Nasabnya ialah Muhammad putera Abdullah putera Abdul Muthalib putera Hisyam putera Abdi Manaf putera Qushayy putera Kilab putera Murrah putera Ka’ab putera Lu’ay putera Ghalib putera Fihr putera Malik putera Nadhar putera Kinanah putera Khuzaimah putera Mudrikah putera Ilyas putera Mudhar putera Nazar putera Mu’iddu putera Adnan.
    Itulah batas nasab Rasulullah yang telah disepakati. Selebihnya dari yang telah disebutkan masih diperselisihkan. Tetapi, hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi ialah bahwa Adnan termasuk keturunan Ismail putera Ibrahim as.

    Lalu Allah membuka mata Hagar sehingga ia melihat sebuah sumur*; ia pergi mengisi qirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. Maka tinggallah dia di padang gurun Paran**. (Kejadian 21:19-21)

    Nabi Muhammad saaw pernah bersabda, “Memanahlah wahai keturunan Ismail, sesungguhnya bapakmu (Ismail) adalah seorang pemanah.” (HR. Bukhori, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban)

    * Sumur Zamzam
    ** Hijaz

  • KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAAW

    Nabi Muhammad saaw dilahirkan pada tahun gajah, yakni tahun dimana Abrahah al-Asyram berusaha menyerang Makkah dan menghancurkan Ka’bah dengan pasukan gajahnya. Lalu Allah menggagalkannya dengan mu’jizat sebagaimana diceritakan dalam Surat Al-Fiil. Menurut pendapat yang paling kuat, beliau lahir pada hari Senin malam, 12 Rabi’ul Awwal.
    Beliau lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya (Abdullah bin Abdul Muthalib) meninggal ketika ibunya (Aminah binti Wahhab bin Abdu Manaf bin Zuhra) mengandung beliau saaw dua bulan. Lalu beliau di asuh Abdul Muthalib, dan disusukannya kepada Halimah binti Abu Dzu’aib, seorang wanita dari Banu Sa’ad.

    Pada waktu itu pedalaman Banu Sa’ad sedang mengalami musim kemarau yang menyebabkan keringnya ladang peternakan dan pertanian. Tidak lama setelah Muhammad saaw tinggal di sana, pedalaman Banu Sa’ad kembali menghijau, sehingga kambing-kambing pulang dengan perut kenyang dan penuh air susunya. Kehadiran Muhammad saaw telah membawa keberkahan di sekitarnya.

    Ketika masih kecil, Muhammad saaw didatangi dua malaikat yang membedah dadanya untuk membersihkan hatinya dengan air dari surga dan dengan air zamzam.
    Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra katanya: Rasulullah s.a.w telah didatangi oleh Jibril as ketika baginda sedang bermain dengan kanak-kanak. Lalu Jibril as memegang dan merebahkan baginda, kemudian Jibril as membelah dada serta mengeluarkan hati baginda. Dari hati tersebut dikeluarkan segumpal darah, lalu Jibril as berkata: Ini adalah bahagian syaitan yang terdapat dalam dirimu. Setelah itu Jibril membasuh hati tersebut dengan menggunakan air Zamzam di dalam sebuah wadah yang terbuat dari emas, kemudian meletakkanya kembali ke dalam dada baginda serta menjahitnya sebagaimana asal. Dua orang kanak-kanak segera menemui ibunya yaitu ibu susuan Rasulullah saaw dan mereka berkata: Muhammad telah dibunuh. Seterusnya mereka mengusung baginda, ketika itu rupa baginda telah berubah. Anas berkata: Aku benar-benar pernah melihat bekas jahitan tersebut di dada baginda. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal)

  • MUHAMMAD RASULULLAH KETIKA REMAJA

    Ketika berusia 12 tahun, Rasulullah saaw diajak pamannya, Abu Thalib, pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Pada waktu kafilah sampai di Bashrah, mereka melewati seorang pendeta nashrani bernama Bukhaira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui Injil. Kemudian Bukhaira melihat Muhammad Rasulullah saaw. Lalu ia mulai mengamati dan mengajak berbicara. Kemudian Bukhaira menoleh kepada Abu Thalib dan bertanya kepadanya, “Apa status anak ini di sisimu?” Abu Thalib menjawab, “Anakku.” Bukhaira menyanggahnya, “Dia bukan anakmu. Tidak semestinya ayah anak ini masih hidup.” Abu Thalib berkata, “Dia adalah anak saudaraku.” Bukhaira bertanya, “Apa yang telah terjadi pada ayahnya?” Abu Thalib menjawab, “Ayahnya meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya.” Bukhaira berkata, “Anda benar. Bawalah dia pulang ke negerinya, dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya, pasti akan dijahati. Sesungguhnya anak ini akan memegang urusan besar.” Kemudian Abu Thalib cepat-cepat membawanya kembali ke Makkah.

    Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. 2:146)

    Dalam Injil Barnabas ada terdapat demikian:
    Kemudian berkata Andreas, “Guru ceritakanlah kepada kami beberapa pertanda mengenai Pesuruh Allah itu, supaya kami boleh mengetahuinya.” Yesus menjawab, “Dia tidak akan datang dalam masa kamu, tetapi akan muncul beberapa tahun setelah kamu. Bilamana Injilku akan dihapuskan, akhirnya bahwa di sana akan terjadi hampir tidak ada 30 orang beriman. Pada waktu itulah Allah akan menghibahkan rahmat di atas dunia ini, dan jadilah Dia akan mengutus Pesuruh-Nya. Di atas kepalanya akan berkumpul segumpal awan putih, karena itu dia akan jadi dikenal oleh seorang pilihan Allah*, dan akan terjadi olehnya diperlihatkan kepada dunia. Dia akan datang dengan kekuatan besar menentang orang-orang kafir dan akan menghancurkan penyembahan berhala di persada bumi. Dan itu menggembirakan aku, karena melalui dia, Allah kita akan menjadi termashur serta dimuliakan, dan aku akan dikenal menjadi benar; dan Dia akan melakukan pembalasan menentang terhadap siapa saja yang akan menagatakan bahwa aku lebih dari pada seorang manusia. Sesungguhnya aku katakan kepadamu, bahwa bulan itu akan membantu tidur kepadanya dalam masa remajanya, dan bila dia akan menjadi tumbuh dewasa dia akan memetik bulan itu dengan tangan-tangannya*. Biar dunia ini hati-hati terhadap tanggapan kepadanya, karena dia akan membunuh para penyembah berhala, karena lebih banyak yang telah di bunuh oleh Musa, hamba Allah itu, dan Yoshua tidak menyayangkan kota-kota yang mereka bakar; karena pada suatu luka yang lama menggunakan api. Dia akan datang dengan kebenaran lebih jelas daripada seluruh nabi, dan akan mencela siapa saja yang mempergunakan dunia ini dengan tidak benar. Menara-menara kota bapak kita akan memberi salam menyambut satu sama lain karena gembira, dengan demikian ketika itu penyembahan berhala akan diperlihatkan jatuh ke tanah, lalu mengakui aku seorang manusia seperti manusia lainnya, sesungguhnya aku berkata kepadamu, Pesuruh itu pasti akan datang.” (Injil Barnabas pasal 72)