Bapa Di Dalam Aku

Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu. [Yohanes 17:21-22]

Ayat ini juga menggambarkan seakan-akan Yesus dan Allah adalah satu substansi. Tetapi coba perhatikan lagi kata-kata yang kami garis bawahi. Adakah orang-orang Israel itu diharapkan menjadi satu substansi? Tidak, akan tetapi supaya mereka menjadi satu ‘ikatan’, seiya-sekata, saling menjaga, satu tujuan, satu kesaksian bahwa Allah itulah yang telah mengutus Yesus. Jika satu di sini diartikan satu substansi, maka bukan tritunggal lagi namanya, tetapi ‘banyak di dalam satu’. Sebab murid-murid Yesus juga ikut ambil bagian dalam persekutuan tersebut. Lalu apa sebenarnya arti dari A di dalam B, dan B di dalam A? Ini adalah suatu kiasan yang mempunyai beberapa makna.

1. Ketika seseorang berkata, “Aku di dalam kamu dan kamu di dalam aku.” Ini bisa berarti bahwa aku adalah kamu, dan kamu adalah aku; siapa yang menyakiti kamu berarti telah menyakiti aku, siapa yang telah menghina aku berarti telah menghina kamu; penderitaanmu adalah penderitaanku, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dari Nu’man bin Basyir ra katanya: Rasulullah saaw bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih-sayang dan saling cinta-mencintai adalah seperti satu tubuh. Bila salah satu anggotanya kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit.” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad bin Hanbal] Rasulullah pernah berkata dalam Baiat Aqabah kedua: “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.” Apakah hal ini berarti bahwa Rasulullah satu substansi dengan para shahabat dari kabilah khazraj? Tentu saja tidak, akan tetapi ‘senasib dan sepenanggungan’.

2. Ketika Yesus berkata, “Agar mereka juga di dalam kita.” Ini dapat berarti bahwa Yesus berharap agar mereka bersaksi bahwa Allah itu adalah Esa, dan bahwa Yesus adalah hamba dan utusan Allah. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” [Yohanes 17:3] Lihatlah bagaimana Allah itu bukan Yesus. Allah adalah Ilah Yang Esa, dan Isa al-Masih adalah utusan-Nya. Tiada Ilah yang benar kecuali Allah, dan Isa al-Masih adalah utusan Allah. Itu adalah kalimat syahadah (kalimat kesaksian) pada saat itu. Dan jika kita lihat ayat selanjutnya, yaitu:

Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. [Yoh. 17:23]

Maka di sini dapat terlihat bahwa Yesus berharap agar Allah mengasihi mereka seperti Allah mengasihi Yesus. Lalu bagaimana Kasih Allah terhadap Yesus? Kasih-Nya terhadap Yesus adalah seperti kasih seorang bapak kepada anaknya yang semata wayang. Dalam Yoh. 1:14 Alkitab Terjemahan Lama tertulis:

Maka Firman itu telah menjadi manusia serta tinggal di antara kita (dan kami sudah memandang kemuliaan-Nya, seperti kemuliaan anak tunggal seorang bapak), penuh dengan anugerah dan kebenaran.

Jadi kata-kata dalam ayat-ayat seperti ini adalah penuh dengan kiasan. Untuk dapat memahaminya, kita perlu memahami budaya, gaya bahasa, dan ilmu-ilmu yang berkembang pada masa itu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *