Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. Al-Anfal: 45)
Sebagian orang kafir ada yang membiasakan dirinya untuk berkata, “Aku bisa!†sebanyak 100 kali di pagi hari dengan suara yang dapat ia dengar. Hal ini mereka lakukan untuk menseting otak bawah sadar mereka agar menjadi otak yang sukses. Mereka yakin bahwa kesuksesan itu berawal pada otak yang sukses. Dan mereka menjadikan rasa percaya diri sebagai sesuatu hal yang harus ada dalam otak mereka. Mereka berpijak pada rasa percaya diri. Banyak orang percaya akan hal ini. Bahkan kaum muslimin juga ikut-ikutan melakukannya, bahkan banyak kaum muslimin yang menganggap bahwa rasa percaya diri adalah sesuatu yang diajarkan oleh agama.
Sebelum menjelaskan hal ini, saya ingin sedikit mengingatkan Anda tentang kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur`an yang bertanya kepada para ningrat di kerajaannya, siapa di antara mereka yang sanggup membawa singgasana Ratu Balqis kepadanya. Maka tampillah Jin Ifrit yang cerdas dan telah meneliti ayat-ayat kauniyah di alam semesta ini yang menyatakan kesanggupannya dan berkata, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.â€
Pada saat itu, berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Kitabullah, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.â€
Dari sini kita dapat memahami bahwa ayat-ayat Allah dalam Kitab-Nya itu lebih dahsyat dan akurat dalam memberikan data dan kesimpulan kepada para peneliti. Sedangkan ayat-ayat-Nya yang berupa alam semesta, jika tidak dikaji secara seksama, hanya akan menghasilkan kesimpulan parsial.
Konsep kesuksesan orang kafir sangat mirip dengan konsep kesuksesan Qarun yang berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.†Qarun beranggapan bahwa harta dan kesuksesan itu datang dengan kehebatan dirinya sendiri. Dia hanya melihat apa yang ada pada dirinya dan tidak melihat apa yang ada pada Allah. Dia berfikir bahwa dengan rasa percaya diri, dia dapat melanggengkan hartanya. Dia lupa bahwa ada Allah Yang Mahasanggup membuatnya binasa sebagaimana Dia telah membinasakan ummat sebelumnya yang lebih kuat darinya dan lebih banyak hartanya.
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 96)
Sekarang kita telah paham bahwa pemikiran tentang percaya diri ini adalah sesuatu yang tidak kuat dasar-dasarnya dalam agama. Bahkan Al-Qur`an mengajarkan kepada kita, bahwa ketika kita merasa gentar dalam menghadapi tantangan hidup, pada saat itulah kita harus meneguhkan keyakinan kita kepada Allah dan berdzikir kepada Allah Yang Mahabesar, Allahu Akbar. Uang 1 milyar, kesembuhan dari penyakit, dan segala hal itu adalah kecil di hadapan Allah Yang Mahabesar. Allah Mahasanggup untuk menyembuhkan kita dan menjadikan kita kaya.
Saya pernah mengikuti pelatihan di mana sang presenter menanyai orang di sebelah saya, “Apakah Anda sanggup menjadi orang yang berpenghasilan 7 juta rupiah per bulan pada 7 bulan yang akan datang?†Sang presenter mencoba untuk membangun rasa percaya diri dan menseting otak orang ini. Namun tampaknya belum berhasil. Orang di sebelah saya masih ragu-ragu dan berfikir agak lebih lama. Karena ini baru latihan ‘menseting otak sukses’, maka sang presenter menurunkan angka nominalnya hingga orang di sebelah saya berkata, “Ya, 3 juta per bulan.â€
Lalu saya berkata kepadanya, “Bagaimana Anda ini? Ketahuilah, Allah Yang sanggup membuat Anda mendapatkan 3 juta rupiah per bulan juga sanggup untuk membuat Anda mendapatkan 7 juta rupiah per bulan.†Tidak semestinya kita melihat apa yang ada pada kita, tetapi pada apa yang ada di sisi Allah.
Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang hal ini. Intinya adalah bahwa kesuksesan itu diawali dengan hati yang yakin kepada Allah, kemudian menseting otak kita dengan berdzikir mengucapkan “Allahu Akbar†33 kali setiap selesai shalat agar otak kita menjadi otak yang percaya kepada Kemahakuasaan Allah, kemudian kita menjadikan ikhtiar kita sebagai bukti kefakiran kita di hadapan Allah, bukan sebagai penyebab datangnya kesuksesan seperti yang dianut orang kafir dan Qarun.
Kepasrahan total baru kita dapat ketika kita mengakui kelemahan kita di hadapan Allah dan mengakui kekuasaan-Nya. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Sungguh, kita tidak dapat meraih sukses dan surga-Nya tanpa Kasih-Sayang dari Dia Yang membimbing kita di jalan-Nya yang lurus. Jalan Lurus akan dapat ditempuh oleh orang yang berhati lurus, berakal lurus, berlisan lurus, beramal lurus, dan berketeguhan yang lurus. Teguh dan pantang menyerah, shabar dan istiqomah, jiwa yang tegak lurus dalam menanti janji Allah dalam setiap langkahnya akan menemukan kesuksesan demi kesuksesan. Dan di ujung jalan itu akan dia temui kesuksesan besar, surga dan Wajah Tuhan-Nya.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)
Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa: 69)
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)
Tinggalkan Balasan ke cipta lusiana Batalkan balasan