Imani, Buddhist to Islam

Dua minggu menjelang Ramadhan, the Islamic Forum seperti biasanya, padat dengan peserta dialog. Sebagian besar memang adalah para muallaf dan non Muslim yang sudah beberapa bulan belajar Islam. Salah satu dari non Muslim itu adalah seorang gadis, hampir saja kusangka gadis Aceh atau Bangladesh. Wajah dan postur tubuhnya nampak jauh lebih muda dari umurnya yang ke 23. Sangat pendiam dan sopan, tapi sangat kritis dalam mempertanyakan banyak hal. Hari itu saya memang menjelaskan makna-makna spiritual dari ibadah puasa. Penjelasan saya terkonsentrasi pada kata “taqwa” yang didetailkan kemudian oleh S. Ali Imran:

“Dan bersegeralah ke magfirah Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu yang senantiasa memberi, baik dalam keadaan senang maupun susah, menahan marah dan memaafkan manusia. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan orang-orang yang jika melakukan kekejian atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Allah dan mereka memohon ampunan dariNya atas dosa-dosa mereka…dst”.

Siang itu penjelasan saya memang banyak berkisar pada makna “takwa” dalam konteks “ihsan”. Bahwa membangun ketakwaan tidak sekedar dilakukan lewat pendekatan formal hukum tapi yang menjadi inti sesungguhnya adalah kemampuan membangun “relasi spiritual” dengan Ilahi. Simbol keberagamaan (aspek-aspek formal agama) tidak menjamin ketinggian keberagamaan (religiusitas) seseorang. Tapi banyak ditentukan oleh, selain benar secara hukum formal, juga benar secara batin. Biasanya hukum formal ini terkait erat dengan masalah-masalah fiqhiyah, dan hukum batin ini terkait dengan kesadaran jiwa di saat melakukan penghambaan (ibadah).

Tanpa terasa penjelasan itu memakan waktu lebih 1 ½ jam. Sebagaimana biasa, saya kemudian memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan komentar.

Beragam pertanyaan yang diajukan oleh para peserta. “Nampaknya, Islam dan agama-agama lainnya tidak jauh berbeda”, komentar salah seorang peserta non Muslim. “I used to think that Islam is all about laws, do this, don’t do that…etc.” komentar yang lain.

Seorang gadis yang ada di ruangan itu, yang sejak awal diam dan juga jarang memperlihatkan senyum, tiba-tiba angkat suara. Suaranya pelan dan hampir tidak kedengaran. “Do you believe in the incarnation?”, tanyanya lembut. “Before I respond to your question, can you explain to me, what do you know about the incarnation?” kata saya.

Dia kemudian berbicara cukup panjang mengenai konsep inkarnasi dalam pandangan agama Budha. Penjelasannya cukup menarik, dan terkadang dibumbui pula dengan argumentasi rasional. Oleh karena tidak ada yang menyangka kalau gadis itu beragama Budha, hampir semua terheran-heran di saat dia mengatakan “in my belief…Buddhism”. Saya pun memotong langsung dan bertanya: “Sister, may I ask you a personal question?”. “Yes sir!” jawabnya. “Are you a Buddhist?”, tanya saya. “Yes sir. My mom is a strong follower of Buddhism, but my dad doesn’t really care about religion”, jawabnya.

Dia memang nampak canggung menjawab pertanyaan itu. Tapi nampaknya pula bahwa dia adalah seseorang yang berani. “So, when we talk about religion, what do you mean by that word (religion)?”, pancingku. “I really don’t know. But as far as I know, we Buddhists neither we believe in religion nor in god”, jelasnya. “So in what do you have faith?”, tanyaku lagi. “Basically the center of our faith is in the nature itself. And we the people are the center of the nature”, katanya lagi.

Saya tiba-tiba teringat dengan Kumar, seorang pemuda Bangladesh beragama Budha yang masuk Islam beberapa waktu lalu. Saya juga tiba-tiba teringat dengan Nagakawa, seorang pendeta Budha yang seringkali saya temui dalam beberapa pertemuan antar-agama (interfaith) . Terbayang kegalauan mereka dalam melihat makna kehidupan ini. Mereka tidak tahu asal, dan juga tidak sadar ke mana mereka berjalan. Pencarian spiritualitas mereka hanya sebatas “pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat”. Inilah yang menjadikan Dalai Lama menjadi sangat populer di AS, tentu juga karena ada kepentingan politik Amerika terhadap China.

“Let me ask you a question”, saya memulai diskuis itu lagi. Dia mengangguk. “Do you pray or supplicate?”, tanya saya. “Yes, in fact my mother pray every day at home”, jelasnya. “Now, here is the point”, kata saya. “If you believe in the nature, worship the nature, and you are the most important part that nature, to whom do you address your prayers or supplications?”

Dia mulai tersenyum sambil menengok ke teman-teman lain yang ikut tersenyum ketika itu. “I don’t know. But as I heard, we pray towards the nature itself. According to Buddhism, this nature has power”, jelasnya. “But if you are an important part of this nature, and in fact you yourself the center of that nature, then basically you pray to your own self!”, jelas saya. “And if so, what is the point of asking to your own self? Iif you have that power, then what is the need to ask?”, tanya saya.

Para peserta nampak tertawa mendengarkan pertanyaan-pertanya an saya tersebut. Sementara sang gadis itu nampak bingung dan hanya tersenyum mendengarkan semua itu. “Sister, in our religion God is the center of all issues”, lanjutku. Saya kemudian berusaha menjelaskan bahwa agama itu bukan sekedar pemenuhan kebutuhan spiritualitas sesaat, melainkan konsep kehidupan. Bahwa spiritualitas memiliki tempat penting dalam agama, namun tanpa Tuhan, konsep spiritualitas seperti itu bersifat semu.

Saya kemudian menjelaskan panjang lebar kehidupan Hollywood yang penuh dengan kegemerlapan duniawi. Ada dua kemungkinan yang terjadi pada akhir kehidupan para artis itu. Kalau tidak terjebak pada kehidupan “hedonistis” tanpa ujung, atau mereka akan terjebak kepada pencarian spiritualitas yang illutif.

Pada akhir penjelasan itu, tiba-tiba gadis itu berkata: “It does make sense!”. Saya menimpali: “True religion does make sense. And Islam does make sense!”, jelasku.

Kelas hari itupun bubar. Tapi tanpa terlupakan saya pinjamkan gadis itu sebuah buku perbandingan Islam dan Buddha tulisan Harun Yahya dan sebuah Al-Quran terjemahan.

Dua hari kemudian, hari Senin, ketika saya tiba di kantor di pagi hari, tiba-tiba gadis itu sudah berada di ruangan resepsionis.. “Hi, how are you?”, sapa saya. Tanpa memperlihatkan senyum sedikitpun, gadis tersebut menjawab: “Hi, I am fine!”. Rupanya resepsionis menimpali bahwa dia sudah menunggu dari pagi. Maka segera saya ajak dia masuk ke ruang pertemuan.

“What I can do for you this morning?”, tanyaku. “My mom took all my books”, katanya. “Why?” tanya saya. “She doesn’t want me to read those books, but I am really interested to know”, jawabnya. “It’s fine, that may cause you mom to study and know this religion too. I will give you some other books”, kata saya.

Tanpa panjang lebar, saya kemudian menjelaskan Islam kepadanya. Saya memulai dari hakikat kehidupan, kedudukan manusia, dan bagaimana kebutuhan manusia kepada Yang Maha Dzat, Allah SWT. Selama saya menjelaskan itu, beberapa kali saya harus mengulangi karena beberapa terminology yang sama sekali asing baginya. Tapi akhirnya, nampak wajahnya puas.

“Any thing else in your mind that you want to clarify or further to ask?”, tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepala. “So, what do you think about the religion?”, tanyaku lagi. Dengan sangat pelan, dia menjawab: “I feel that Islam is quite rational and it does make sense to me”, katanya. “I like it!”, lanjutnya.

Mendengar itu, saya segera memancing. “So, you are certain that the religion is the true one”. “I think so!”, jawabnya. “If you are still thinking that it’s true, it means you are not certain yet!”, kataku. Seraya tersenyum dia menjawab: “No, I am sure about it!”, tegasnya.

“Does it mean that you believe in Islam? Do you believe in God?”, tanya saya. “Yes, I am sure God does exist, and sure that we need Him in our life”, katanya. “Ok, if I say to you, are you willing to embrace Islam, are you ready?”, tanyaku. Dengan sedikit menunduk, nampak seperti ragu, namun dengan mantap dia mengatakan: “Yes!”.

Saya kemudian menjelaskan enam rukun Iman dan lima rukun Islam. Juga sedikit saya jelaskan kaitan Islam dengan kehidupan nyata manusia. “Any question before taking your shahadah?”, tanyaku. Dia hanya menganggukkan kepala.

Saya kemudian menelpon resepsionis untuk memanggil dua saksi. Maka disaksikan oleh dua saksi di pagi hari itu, gadis belia ini mengucapkan: “Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah- wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah”, diikti pekikan takbir kedua saksi itu.

Alhamdulillah, gadis yang kemudian memilih nama barunya “Imani” ini sudah mulai berpuasa Ramadhan lalu. Sayang, dia baru tahu kalau Ramadhan sudah masuk setelah 10 hari Ramadhan berlalu. Maka di bulan Syawal lalu, dia berusaha mengganti puasanya yang tertinggal ditambah puasa 6 hari Syawal.

Sekitar 2 minggu lalu, Imani silaturrahmi ke rumah kami pada acara “open house” kami. Tapi setibanya siang itu di rumah kami, dia tidak makan. Rupanya dia sedang berpuasa sunnah Syawal. Maka kami ajak dia untuk tinggal sampai berbuka puasa. Setelah berbuka puasa, Imani pamitan pulang. Tapi karena sudah gelap dan akhir pekan yang biasanya subway tidak terlalu lancar, kami ajak Imani menginap di rumah kami.

Di saat silaturrahim itu, betapa gembira Imani ketika bertemu dengan keluarga Srilanka yang putranya menikah dengan wanita Indonesia. Imani merasa mendapatkan keluarga barunya. Dan pagi hari, selepas shalat subuh Imani meninggalkan rumah sambil berpesan kepada anak kami: “Tell your mom, dad, thank you so much for your hospitality and the delicious dinner!”.

Hari Sabtu lalu, dengan suara pelan Imani berbisik: “I hope I can find a husband who can teach me reading Arabic (Qur’an)”. “Insha Allah Sister! May Allah make it easy for you and we will do help you in any way possible!”, kataku. Baru ketika itu juga saya tahu kalau Imani sudah berumur 23 tahun dan sudah tahun ketiga di salah satu college yang berafiliasi dengan Columbia University di New York.

Semoga Imani akan selalu dilindungi dalam naungan iman hingga akhir perjalanan hidupnya menuju Rabbnya!

(Oleh M. Syamsi Ali, Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York)

Baca juga:
Buddhisme dan Atheisme
Origin of Species dalam Buddhisme

Komentar

14 tanggapan untuk “Imani, Buddhist to Islam”

  1. Avatar lily
    lily

    akhirnya lu bangga juga bisa ngislami org budha. selamat!

  2. Avatar pencari
    pencari

    Bukan bangga, tetapi bersyukur. Ga ada salahnya ‘kan memberi kesaksian?
    Di NY sebenarnya telah berbondong-bondong orang yang masuk ke dalam Islam.
    Tanya kenapa?!

  3. Avatar wisnu_hm
    wisnu_hm

    Bangga? tak perlu berbangga. Sudah jadi kewajiban seorang muslim untuk menyampaikan kebenaran kepada siapapun dan bagi yang menerima tak ada pemaksaan mo jadi muslim apa ga
    Dia jadi muslim atow ga bukan karena kita tetapi karena Allah sudah memberikan hidayah kepada-Nya sehingga dia bisa bepikir jernih….

  4. Avatar febriaisman
    febriaisman

    Allhamdulillah…
    terus berjuang saudaraku…
    sampaikanlah Islam itu indah…

  5. Avatar toocool

    Barokallahu fikum

  6. Avatar Jules Noble
    Jules Noble

    Truly, that girl didn’t know much about Buddhism. Buddhist, as I know, have a God, who isn’t created by anybody. Their faith is that We ourselves decide our life. Good deeds will give good effect, and so will bad deeds. The difference with any other religion is that the God have no control to our life. He doesn’t punish human, He doesn’t control what we do. “Buddhists pray to themselves” isn’t quite right also. There’re many sites discuss about this, but have you ever see this matter from the Buddhist eyes? They have a quite different idea about God. That’s their vision about God. We have no right to judge them anyway.

    Kami tidak menghakimi. Sebaiknya Anda belajar lagi tentang buddhisme dari artikel berikut:
    Buddhisme dan Atheisme
    ‘Origin of Species’ dalam Buddhisme
    Dua artikel tersebut dibuat berdasarkan ajaran Buddha yg saya dapat dari rekan2 Buddhist.

  7. Avatar adi isa

    @Jules Noble on 2 September, 2008 said:

    Truly, that girl didn’t know much about Buddhism. Buddhist, as I know, have a God, who isn’t created by anybody. Their faith is that We ourselves decide our life. Good deeds will give good effect, and so will bad deeds. The difference with any other religion is that the God have no control to our life. He doesn’t punish human, He doesn’t control what we do. “Buddhists pray to themselves” isn’t quite right also. There’re many sites discuss about this, but have you ever see this matter from the Buddhist eyes? They have a quite different idea about God. That’s their vision about God. We have no right to judge them anyway.
    ==============================================================================================
    the truly, even you not really know what that girl’s want…hihihihihhi
    you know why? couse you are you, not her…hhihihihihi

  8. Avatar Jo-pX999 nO.6
    Jo-pX999 nO.6

    setahu gw ni y,ajaran buddha it kan tujuannya untuk menghilangkan smua keinginan duniawi supaya bs msk k surga kan?
    nah tp bknnya mw msk k surga it jg merupakan suatu wujud dari keinginan?

  9. Avatar Jalan-Terang
    Jalan-Terang

    Demikianlah memang seharusnya terjadi pada akhir Zaman ada orang yang diselamatkan dan ada orang yang disesatkan. ingat Jalan kebenaran bukan dengan memindahkan orang dari agama satu ke agama yang lain tetapi menyelamatkan orang adalah dengan membawa orang itu kepada Orang yang mengaku ” Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup” dan itu hanya dikatakan oleh satu Orang ????????????????????

    Jalan berbeda dengan tujuan. Jalan untuk dilalui, sedangkan tujuan untuk dicapai. Tujuan adalah Tuhan, jalan adalah ajaran Tuhan yg diajarkan melalui para nabi suci, termasuk ajaran asli nabi Isa. Sedangkan Kristen adalah suatu bentuk penyelewengan dari ajaran Tuhan.

  10. Avatar Wagimen
    Wagimen

    Saudara Lily, anda tidak perlu memberikan komentar seperti ini. Semuanya terpulang ke takdir dan jodoh. Tidak perlu merasa kesal. Kita perlu merasa bahagia apabila ada saudara kita yang telah menemukan pencerahan, baik itu melalui Islam, Kristen, Budhisme, atau pun agama dan kepercayaan lainnya. Semuanya telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
    Satu hal yang saya kira perlu diluruskan, seperti komentar yang diberikan oleh Sdr. Jules Noble, bahwa di Buddhisme itu ada di akui Sang Pencipta, dan itu adalah benar (jadi Budhisme itu tidak atheis. hehehehe…. maaf kalau anda salah menilai kalau Budhisme itu atheis). Budha bukan Sang Pencipta, melainkan Budha adalah sebagai nabi yang mengajarkan tentang kehidupan di dunia dan akherat kepada umat manusia. Jadi seperti Nabi Muhammad SAW, Jesus Kristus, dan mungkin nabi-nabi besar lainnya (maaf, saya tidak mencoba untuk membandingkan, tapi hanya sebagai contoh).
    Saya kira informasi yang diterima moderator dari rekan-rekan Budhist lainnya mungkin lengkap tetapi moderator tidak memahami secara benar (dapat dimengerti, karena moderator pasti lebih mendalami Islam).
    Peace for all !! :em47:

    quote 1. :
    Sebenarnya Sang Pencipta semua dan seluruh makhluk hidup adalah Esa, tetapi makhluk tersebut membeda-bedakan diri sehingga seolah-olah Sang Pencipta adalah berbeda-beda untuk setiap makhluk, dan juga muncul berbagai macam pendapat, keyakinan, aliran-aliran yang berbeda-beda.

    quote 2. :
    Semua Nabi besar umat manusia adalah benar dan mengajarkan jalan kehidupan dan akherat kepada umatNya menurut situasi, kondisi dan pemahaman yang terdapat pada masa/waktu dan tempat yang sesuai.

    Dalam Buddhisme tidak ada Sang Pencipta. Kalau pun ada yg disebut ‘tuhan’ dalam Buddhisme, itu hanyalah tuhan-tuhan atau pun dewa-dewa yg mengatur dsb, bukan Sang Pencipta. Buddhisme mengenal teory evolusi, namun bukan seperti yg diungkapkan Darwin. Jadi, dalam Buddhisme tidak dikenal Tuhan dalam artian Sang Pencipta. Mereka percaya kepada karma dan bukan taqdir.

  11. Avatar Jo-pX999 nO.6
    Jo-pX999 nO.6

    Akulah jalan kebenaran dan hidup,bukankah itu sudah merupakan bukti bahwa Yesus sdh menyatakan diri sbG Tuhan>?

    Tuhan adalah tujuan, dan bukan jalan. Tak mengertikah Anda?

  12. Avatar Wagimen
    Wagimen

    “Dalam Buddhisme tidak ada Sang Pencipta. Kalau pun ada yg disebut ‘tuhan’ dalam Buddhisme, itu hanyalah tuhan-tuhan atau pun dewa-dewa yg mengatur dsb, bukan Sang Pencipta. Buddhisme mengenal teory evolusi, namun bukan seperti yg diungkapkan Darwin. Jadi, dalam Buddhisme tidak dikenal Tuhan dalam artian Sang Pencipta. Mereka percaya kepada karma dan bukan taqdir.”

    => Untuk hal ini sudah saya jelaskan : Saya kira informasi yang diterima moderator dari rekan-rekan Budhist lainnya mungkin lengkap tetapi moderator tidak memahami secara benar (dapat dimengerti, karena moderator pasti lebih mendalami Islam).
    Jadi untuk hal ini, saya kira Saudara moderator tidak perlu judge bahwa budhisme itu adalah atheis, sebab Saudara tidak memahaminya, meskipun mendapatkan keterangan dari umat Budhist sendiri.

    Peace For All ! :em70:

    quote 1. :
    Yang Maha Kuasa bekerja dengan caraNya yang sangat misterius, sehingga banyak hal yang tidak dimengerti oleh umatNya.

    quote 2. : (sekali lagi) :em04:
    Semua Nabi besar umat manusia adalah benar dan mengajarkan jalan kehidupan dan akherat kepada umatNya menurut situasi, kondisi dan pemahaman yang terdapat pada masa/waktu dan tempat yang sesuai.

    kalo gitu, tanya sendiri deh sama buddhistnya

  13. Avatar me
    me

    Ternyata bukan hanya Kristenisasi saja yang ada yah….
    Islamisasi juga ada toh……..:em42

    Kami tidak berkeliaran mencari ‘domba sesat’ untuk dibeli imannya. Dalam kasus ini, orang Buddha itulah yg datang ke Islamic Center untuk mendapat pencerahan. Kami hanya menjelaskan apa itu Islam sesungguhnya.

  14. Avatar Heliphs
    Heliphs

    Sebarkan salam …
    berdoa yang baik …
    Semoga Tuhan Yang Maha Berkuasa atas jiwa memberikan ampunan dan petunjuk-Nya pada kita semua
    Semoga kesaksian ini memberikan manfaat yang baik bagi kita semua
    Amin

Tinggalkan Balasan ke Jo-pX999 nO.6 Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *