Liem Thin, Dia Mengundangmu

Namaku Liem Thin, sebut saja begitu. Riwayat kejahatanku cukup panjang. Waktu kecil, aku sering mengambil uang pamanku. Dia punya uang banyak, yang diam-diam sering aku ambil. Mungkin dia tidak tahu sehingga tidak pernah marah. Saat itu mulai tumbu bibit kejahatan pada diriku.

Ketika remaja, aku pernah menodong seorang pedagang yang sangat kaya. Tetapi dia berteriak-teriak, dan beberapa centengnya datang lalu mengejar serta menghajarku. Aku merasa sakit sekali dan dendam. Beberapa waktu kemudian aku mengajak teman-teman menyerang kediaman pedagang itu, dan tentu saja juga menyerang para centeng yang tempo lalu menyiksaku.

Kemudian aku semakin sering melakukan perbuatan kriminal kecil-kecilan. hal itu membuatku sering berurusan dengan polisi. “Kamu lagi, kamu lagi!” Kata mereka kesal.

Tetapi sesungguhnya aku berbuat jahat karena terdesak himpitan hidup. Tetapi mungkin, ini hanya alasan pembenaranku saja. Kalau aku menodong, biasanya aku mencari orang-orang yang benar-benar kaya. Jadi aku tidak sembarang menodong.

Apakah aku beragama? Ketika masuk sekolah dasar, di buku raportku tertulis bahwa aku beragama Islam. Tetapi aku sendiri tidak tahu apa itu agama Islam. Aku hanya tahu bahwa agama itu sesuatu yang menyeramkan. Bagiku agama hanyalah mimpi yang menakutkan. Dan Tuhan menurut gambaranku, mungkin lebih kejam dari Hitler. Hanya memasukkan orang ke neraka. Makanya aku tidak pernah tertarik untuk belajar agama, apalagi mendekat ke masjid atau tempat ibadah orang Islam.

Sampai suatu saat, ketika sedang nongkrong malam hari di daerah Pancoran, secara tak sengaja aku mendengar pengajian di Masjid Al-Munawar, Pancoran, yang suaranya terdengar sampai ke jalan.

“Wahai para pendosa, Dia memanggilmu untuk mendekat kepada-Nya. Jangan putus asa dari kasih-sayang-Nya. Dia Maharaja Tunggal Nan Abadi di alam semesta,” begitu terdengar suara yang berwibawa namun menyejukkan. Hatiku benar-benar bergetar saat itu, sampai aku hafal kalimat demi kalimat yang menyejukkan itu, yang seolah-olah ditujukan khusus pada diriku.

Aku bertanya siapa orang itu. Temanku menjawab bahwa itu pengajian Habib Munzir Al-Musawa, dan itu suara beliau. Malamnya aku menangis mendengar seruan yang menyentuh hatiku itu. “Akulah pendosa itu yang selama ini tidak tahu apa itu agama dan siapa itu Tuhanku.”

Senin malam berikutnya, aku berpapasan dengan Habib Munzir yang akan masuk ke Masjid Al-Munawar. Dia menoleh kepadaku dan tersenyum. Hatiku benar-benar lumer. Aku menyerah, tidak tahan melihat kharisma dan wibawanya. Aku benar-benar berjanji dalam hati bahwa aku akan mempelajari agama dan mengikuti ta’limnya.

“Wahai para pendosa, sungguh kasih-sayang dan ampunan-Nya melebihi dosa-dosa yang dilakukan seluruh manusia.” Beberapa kali aku mengikuti ta’limnya, seolah aku dilahirkan kembali, menjadi manusia baru yang siap menorehkan catatan suci dalam lembaran kehidupanku. Aku bertekad ingin menjadi manusia baru yang pasrah dan tunduk kepada aturan Allah.

Dalam hatiku, aku juga ingin menjadi pembantu Habib Munzir Al-Musawa. Dengan demikian, setiap hari aku bisa mendengar nasihat dan kalimat-kalimatnya yang menyejukkan.

Aku mulai belajar mengaji, mulai dari huruf alif. Aku hafalkan bacaan shalat yang menggunakan huruf latin. Aku benar-benar ingin menjadi manusia baru yang memulai hidupku dengan tuntunan dan bimbingan-Nya.

Setiap aku mengikuti ta’lim Habib Munzir, bertambah semangat keagamaanku. Senyum Habib Munzir yang begitu tulus seolah memberikan energi yang luar biasa kepadaku untuk selalu mendekat kepada-Nya. “Wahai para pendosa, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya melebihi alam semesta dan seisinya.”

Aku tata kembali hidupku. Aku mencari rizqi yang halal. Aku bulatkan niat dan tekad untuk tetap di jalan lurus yang diridhoi-Nya. Sungguh aku ingin meraih kasih-sayang-Nya, yang akan Dia berikan kepada siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin meraihnya.

(Sumber: Alkisah No. 14/2-5 Juli 2007)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *