Hari ini saya bangun kesiangan. But I’m not the only one. Saya bangun dan jam di HP saya menunjukkan pukul 06.34. Lalu berfikirlah saya sambil mempersiapkan diri untuk shalat. Mana kiranya yang lebih Allah sukai, saya shalat shubuh berjama’ah ataukah saya menghadiri Majelis Rasulullah semalam.
Mulailah saya menimbang. Sepertinya Allah lebih suka dengan kehadiran saya di Majelis Rasulullah semalam. Bukankah dengan mendekat kepada Habib Munzir, seseorang akan bertambah kekhusyuannya, meningkat ma’rifahnya, bertambah kehadiran hatinya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semalam Jiwa Muhammad seakan memenuhi kami semua. Seakan beliau meminjam raga kami untuk bermunajat kepada Allah. Atau seakan diri kami semua lebur kepada beliau SAW dan berhadap-hadapan dengan Maharaja alam semesta. Seakan diri kami mi’raj kepada-Nya. Atau seakan diri kami sujud di hadapan-Nya di Padang Perhimpunan (Padang Mahsyar).
Bukankah kualitas spiritual seperti itu sangat disukai Allah? Suatu kondisi dimana hamba merasakan eksistensi Sang Pencipta, dimana hamba merasakan kedekatan dengan Maharaja alam semesta, ketika hamba mengenal Robbul ‘alamin. Kualitas seperti ini belum tentu saya dapatkan jika saya shalat shubuh berjama’ah.
Mengenai sholat shubuh kesiangan, para shahabat pun pernah kesiangan. Mereka kesiangan ketika dalam perjalanan da’wah. Bukan kesiangan akibat hura-hura ataupun pekerjaan yang melalaikan.
Memang sebaiknya saya meraih keduanya, baik hadhir di Majelis Rasulullah maupun shalat shubuh berjama’ah. Tetapi jika harus memilih salah satu, maka hadirnya saya di Majelis Rasulullah semalam telah mengantarkan saya kepada kondisi spiritual yang diharapkan dari setiap ibadah. Memang semestinya kualitas spiritual seperti itu hendaknya ada pada kita dalam setiap ibadah bahkan dalam setiap aktivitas kita. Namun setahap demi setahap kita menuju kondisi tersebut hingga akhirnya malaikat menyalami kita di jalan dan bahkan ketika kita di pembaringan. Wallahu a’lam.
Bagaiman menurut Anda?
Tinggalkan Balasan