Suatu hari, khalifah Abdul Malik bin Marwan berdiri di tengah-tengah halaman Ka’bah dan berkata, “Tak ada yang boleh memberi fatwa kecuali Atha bin Abi Rabbah!” Padahal Atha adalah orang berkulit hitam berhidung pesek dan berambut keriting. Apabila Anda melihat Atha berada diantara murid-muridnya, ia tampak seolah-olah seekor gagak hitam di tengah lapangan yang putih. Kendati demikian, tak ada yang boleh memberi fatwa di seluruh negeri Islam saat itu, kecuali si hitam ini!
Islam tidak mengenal rasisme. Ummat Islam terkadang menyebut orang yang mengumandangkan adzan dengan sebutan bilal dan bukannya mu’adzin. Kita tahu bahwa orang pertama yang mengumandangkan adzan adalah Bilal bin Robah, seorang kulit hitam dari Ethiopia (Habasyah). Sejarah juga mencatat bahwa Kafur al-Ikhsyaidi, gubernur Mesir abad ke-4 hijriyah, adalah orang kulit hitam.
Sejarah juga mencatat bahwa Imam Bukhori yang telah menjaga sunnah Nabi SAW itu berasal dari Bukhoro, sebuah kota di Rusia. Kemudian kita juga mengenal Imam Muslim dari Tasyqand. Imam At-Turmudzi dan An-Nasa’i juga berasal dari Rusia. Empat orang dari pengarang kitab Hadits yang enam (Kutubus Sittah) merupakan orang non-Arab, namun ummat Islam, baik Arab maupun Ajam (non-Arab), tetap menerima mereka dan tidak merasa risih mengambil hadits-hadits Nabi dari orang selain Arab. Dan yang demikian itu karena Nabi bersabda, “Tak ada kelebihan orang Arab atas orang Ajam, dan tidak pula orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, kecuali dengan taqwa.”
(Amru Khalid, Silsilah Hidayah)
Tinggalkan Balasan