Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali ‘Imran: 103)
Sebagian ummat Islam kurang mensyukuri ni’mat Islam. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran mereka akan besarnya ni’mat Islam. Sebagaimana ni’mat sehat hanya disadari oleh mereka yang sakit, ni’mat Islam juga lebih dirasakan oleh mereka yang sempat merasakan kehidupan sebagai non-Muslim.
Para mualaf memaknai ke-Islaman mereka sebagai terselamatkannya mereka dari adzab yang abadi. Maka, betapa bersyukurnya mereka ketika memeluk Islam. Mereka seperti orang yang berhasil selamat dari suatu kecelakaan lalu-lintas yang merenggut nyawa semua penumpang. Atau seperti orang yang batal naik suatu pesawat, dan beberapa jam kemudian dia mendengar bahwa pesawat yang hampir ia tumpangi itu meledak, dan tidak ada satu pun penumpangnya yang hidup.
Rasa syukur seperti inilah yang dirasakan Umar bin Khoththob. Ketika ia menyatakan ke-Islamannya kepada keluarganya, Abdullah bin Umar bin Khoththob berkata bahwa dirinya telah memeluk Islam sejak satu tahun yang lalu. Maka Umar bin Khoththob pun menjadi marah dan berkata, “Mengapa engkau menyembunyikan ke-Islamanmu dan menelantarkan ayahmu? Apakah engkau tega sekiranya aku mati dalam kekafiran? Apakah engkau meninggalkan ayahmu, wahai Ibnu Umar?”
Namun adakah kepedulian dan kesyukuran atas Islam yang seperti ini dalam diri ummat Islam di zaman ini? Sikap kita terhadap Islam seperti sikap orang yang jarang sakit terhadap ni’mat sehat. Mereka jarang sekali bersyukur dan tidak peduli akan tindakan mereka yang mungkin bisa merusak kesehatan. Sebagian ummat Islam kurang peduli dengan ajaran Islam dan apa-apa yang dapat merusak ke-Islamannya.
Akhil karim, mari kita syukuri ni’mat Islam dengan berda’wah! Sebarkanlah ajaran Islam ini kepada mereka yang belum atau kurang mengenal Islam, atau pun kurang peduli dengan ajaran Islam! Jika Anda pengelola situs, silahkan salin artikel kami dalam situs Anda, dan masukkan situs kami dalam daftar blogroll/link dalam situs Anda. Jika Anda menggunakan internet dari warung internet, settinglah majelisrasulullah.org atau hotarticle.org sebagai homepage Anda saat membuka IE atau firefox. Jika Anda bisa menyisihkan Rp. 5.000,- sebulan, perbanyaklah satu artikel untuk dibagikan di lingkungan RT Anda. Sungguh, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan itulah salah satu ciri orang bertaqwa.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)
Tinggalkan Balasan