Setelah 9/11 Semua Berubah

Nama Imam Syamsi (di sana biasa ditulis Shamsi), demikian ia biasa disapa, relatif dikenal bagi komunitas Muslim Amerika Serikat, juga bagi warga AS pada umumnya. Syamsi adalah imam Masjid Indonesia di ”ibu kota dunia”, New York. Nama Masjid Indonesia mungkin tak berlaku formal, karena resminya bernama Islamic Center New York. M Syamsi Ali, nama lengkapnya, juga menduduki jabatan Direktur Jamaica Muslim Center dan Ketua Masyarakat Muslim Indonesia. Namun pekerjaan sehari-harinya adalah staf Humas di Perwakilan RI untuk PBB. Kepada wartawan Republika, Nasihin Masha, ia bertutur banyak tentang Muslim di negeri adidaya itu. Berikut ini petikannya.

Bagaimana perkembangan Islam pasca 9/11?
Saya menilai memang ada kecenderungan positif warga Amerika sesudah terjadi 9/11. Sebelum 9/11 mereka acuh tak acuh terhadap agama, jangankan terhadap Islam, terhadap agama kelahiran mereka saja mereka acuhkan. Gereja-gereja kosong, agama tidak lebih perayaan-perayaan sosial semata seperti Natal, dan lain-lain. Sebaliknya, anak-anak muda mereka semakin anti agama, yang dianggap kuno dan menjadi faktor keterbelakangan dan kebodohan.

Sebelum 9/11, Islam juga tidak terlalu menjadi sorotan. Mayoritas masyarakat tidak tahu apa atau belum pernah mendengar kata Islam itu sendiri. Media-media massa tidak terlalu banyak menyebut Islam, kecuali jika ada hal-hal sensitif yang terjadi di belahan dunia lainnya.

Setelah 9/11, semua ini berubah. Keinginan untuk tahu Islam menjadi sangat menonjol dan bahkan referensi Islam menjadi jualan paling laris di seantero Amerika Utara. Berbagai kalangan pun berminat untuk mendengarkan secara langsung apa itu Islam, dari gereja-gereja, sinagog, maupun perkantoran-perkantoran swasta bahkan pemerintahan. Maka dengan sendirinya para Imam memiliki akses lebih luas untuk memperkenalkan Islam kepada publik Amerika.

Namun, di satu sisi juga tidak disangkal, entah itu memang itulah nature dari kejadian 9/11, atau memang sebagai refleksi langsung dari tragedi tersebut, di sana sini kita lihat berbagai upaya untuk semakin mempersempit pergerakan umat Islam. Berbagai aturan atau regulasi diloloskan, yang memang secara langsung menggerogoti pergerakan dakwah Islam di Amerika. Juga mereka yang memang khawatir akan bangkitnya Islam di Amerika, tentu semakin takut dan melakukan semua cara untuk semakin menjelek-jelekkan Islam. Yang paling menonjol dari yang terakhir ini adalah kelompok ekstrem Kristen, evangelis.

Betulkah ada banyak penyerangan terhadap Islam?
Memang ada kasus-kasus yang terjadi seperti yang telah dilansir oleh berbagai media massa. Tapi saya pribadi melihatnya sebagai reaksi “alami” terhadap propaganda yang mengatakan bahwa Muslimlah yang melakukan penyerangan terhadap WTC. Namun satu hal yang positif terhadap ini adalah adanya kemungkinan bagi umat Islam untuk melakukan pembelaan. Artinya jika memang dianggap penyerangan karena agama maka ini namanya kriminal dan yang bersangkutan berhak melaporkan ke pihak yang berwewenang untuk diproses secara hukum.

Betulkah sebelum 9/11 perkembangan Islam sedang pesat-pesatnya terutama di kalangan African-American?
Memang sebelum 11 September Islam berkembang pesat di kalangan Afro Americans. Hal ini dikarenakan bahwa Islam itu dianggap pemerdeka dari berbagai belenggu, termasuk belenggu ras atau warna kulit. Warga Amerika kulit hitam selama ini secara informal dianggap penduduk kelas dua. Dengan Islam mereka merasa betul-betul mendapatkan kemerdekaan yang hakiki itu. Jadi Islam dijadikan sebagai tool of social change.

Betulkah masih banyak prejudice dan stereotip terhadap Islam, baik di media massa maupun dalam kehidupan sehari-hari?
Betul masih ada kasus-kasus yang terjadi. Tapi sejujurnya kecenderungan ke arah yang lebih baik itu semakin meningkat. Masyarakat AS semakin terbuka untuk menerima tetangga Muslim mereka. Bahkan ada keinginan untuk lebih tahu ajaran agama Islam.

Media massa juga demikian. Hampir semua media saat ini cenderung jujur dalam pemberitaan mengenai Islam, kecuali beberapa seperti New York Post. Fox News misalnya, dalam dua minggu terakhir ini telah mewawancarai saya dua kali. Pertama mengenai radikalisme dalam Islam dan kedua mengenai pernyataan Paus baru-baru ini. Dan alhamdulillah, semua kita lakukan secara baik dan diterima secara positif. Bagi saya pribadi, ini kesempatan baik untuk akses ke mainstream media di AS.

Bagaimana ceritanya sampai Andak bisa terpilih memimpin doa di kongres?
Sebenarnya yang benar saya tidak memimpin doa di Kongres, tapi di acara perhelatan akbar doa bersama untuk Amerika setelah kejadian 11 September. Acara itu dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi, termasuk mantan presiden Clinton dan isterinya yang senator, Hillary. Juga Gubernur New York, George Pataki dan Walikota New York, Guliani, serta beberapa senator dan anggota kongress dari kota New York. Ceritanya karena sebelumnya memang saya sudah seringkali diundang untuk rapat-rapat di kantor walikota dalam komite yang disebut “Committee on Religious Reconciliation” (Komite Rekonsiliasi antar agama). Kebetulan salah seorang pencetus badan tersebut adalah saya dan didukung oleh tokoh-tokoh agama di kota New York.

Saya ke Gedung Putih karena salah satu tokoh agama (satu-satunya Muslim) yang duduk dalam komite Agama untuk Pembangunan berkesinambungan dan Perdamaian. Tokoh-tokoh agama yang tergabung dalam komite ini adalah tokoh-tokoh agama senior dari semua agama. Ketika itu kita mengusulkan agar dilakukan pertemuan dengan Presiden Bush dan ternyata mendapat respon positif dengan diterimanya kita di Gedung Putih.

Kalau terpilihinya saya oleh Majalah New York sebagai salah satu dari 7 tokoh agama paling berpengaruh di kota New York, saya sendiri tidak tahu. Saya hanya diberitahu setelah majalah itu terbit. Tapi menurut yang saya dengar, mereka ini telah menyelidiki berbagai kegiatan dan pikiran-pikiran saya selama ini. Juga melakukan wawancara dengan berbagai pihak untuk menentukan siapa yang paling berpengaruh itu.

Adakah koordinasi antar lembaga dakwah di Amerika?
Secara formal memang ada. Untuk kontesk New York misalnya ada yang disebut Majelis As-Shura (Imams Council). Tapi secara praktik sangat susah mengefektifkan majelis ini karena keragaman komunitas Muslim. Ada yang karena latar belakang etnis, mazhab, dan juga tentunya adalah perbedaan metode dakwah yang dilakukan. Jadi memang masih berat untuk mengefektifkan koordinasi di antara komunitas Muslim di AS. (www.republika.co.id)

Komentar

Satu tanggapan untuk “Setelah 9/11 Semua Berubah”

  1. Avatar admin
    admin

    Kebayang ga, kalau suatu saat nanti, di Amerika akan ada satu negara bagian yang mayoritas penduduknya adalah Muslim dan pemerintahannya dipimpin oleh Muslim?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *