Mungkin pertanyaannya bukanlah ‘perlukah?’ atau ‘untuk apa?’, melainkan ‘mengapa seseorang ingin melihat Tuhan?’. Ada banyak alasan. Diantaranya, jika Anda mencintai sesuatu atau seseorang, tentu Anda ingin melihat, berjumpa dan selalu berada di sisinya. Begitu juga dengan orang-orang Mu’min, mereka sangat ingin berjumpa dengan Allah. Siapa yang ingin berjumpa dengan Allah, maka ia pasti berjumpa dengan Allah. Siapakah yang ingin berjumpa dengan Allah? Mereka yang dalam beribadah kepada-Nya tidak pernah menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun jua.
Mungkin ada yang bertanya: “Bukankah keinginan melihat Allah merupakan keinginan untuk percaya? Dan jika tidak melihat Allah maka ia tidak mau percaya kepada Allah?” Keinginan melihat tidak selamanya karena tidak percaya. Banyak contohnya dalam Al-Qur’an.
Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [QS. Al-Baqarah: 259]
Nabi Uzair tidak mungkin ragu akan kekuasaan Allah. Namun beliau berfikir, bagaimana kiranya gambaran kekuasaan Allah dalam menghidupkan sesuatu.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. [QS. Al-Baqarah: 260]
Dalam ayat di atas dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim meminta untuk diperlihatkan tentang kemampuan Allah dalam menghidupkan orang mati. Allah Mahatahu bahwa Nabi Ibrahim bukannya ragu. Allah bertanya kepada Nabi Ibrahim agar kita dapat mengambil pelajaran dari dialog tersebut. Diantaranya dapat kita pahami bahwa keinginan melihat Allah atau keinginan untuk melihat bukti eksistensi Allah atau pun keinginan untuk melihat Kemahakuasaan Allah tidak selalu terbit dari hati yang ragu atau pun tidak percaya. Adakalanya keinginan seperti itu terbit dari hati yang yaqin.
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. (QS. Al-A’roof: 143)
Nabi Musa sendiri sangat ingin melihat Allah. Apakah Nabi Musa orang yang tidak yaqin? Tidak mungkin. Lihat pembahasannya dalam Robbi Arinii Anzhur Ilayka
Bukankah Dibutuhkan Jarak untuk Bisa Melihat?
Sebenarnya tidak selalu dibutuhkan jarak untuk bisa melihat. Dalam hadits dikatakan bahwa ketika Mi’raj, Nabi telah berjumpa/melihat Allah. Padahal Nabi adalah yang paling ‘dekat’ dengan Allah. Bahkan ahli kalam berkata bahwa siapa yang menyangka Muhammad itu jauh dari Tuhannya, maka ia telah benar-benar kufur.
Ketika Anda bermimpi, Anda dapat melihat benda yang ‘jauh’ dan yang ‘dekat’. Padahal semua benda yang Anda anggap mempunyai jarak itu ternyata ada dalam kepala Anda sendiri. Semua benda itu ternyata tidak mempunyai jarak. Tetapi Anda dapat melihatnya. Ternyata tidak selalu dibutuhkan jarak untuk bisa melihat. Jarak, ruang dan waktu hanyalah persepsi. Saya senang sekali menonton semua film The Matrix. Karena di dalamnya terdapat banyak ilustrasi yang mempermudah saya untuk memahami haqiqat dari beberapa hal. Silahkan Anda membaca tulisan Kenyataan Dunia Nyata yang kami ambil dari karya Harun Yahya. Wallahu a’lam.
Tinggalkan Balasan ke iwan Batalkan balasan