Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Rasulullah saw, seorang yang benar serta dipercayai bersabda: “Kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Ketika genap empat puluh hari kedua terbentuklah segumpal darah beku. Ketika genap empat puluh hari kali ketiga bertukar pula menjadi segumpal daging. Kemudian Allah SWT mengutuskan malaikat untuk meniupkan roh serta memerintahkan supaya menulis empat perkara yaitu ditentukan rezeki, tempo kematian, amalan serta nasibnya apakah mendapat kecelakaan atau kebahagiaan. Maha suci Allah SWT di mana tiada tuhan selainNya. Seandainya seseorang itu melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Syurga sehinggalah kehidupannya hanya tinggal sehasta dari tempo kematiannya, tetapi disebabkan ketentuan taqdir niscaya dia akan bertukar dengan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Neraka sehinggalah dia memasukinya. Begitu juga dengan mereka yang melakukan amalan ahli Neraka, tetapi disebabkan oleh ketentuan taqdir niscaya dia akan bertukar dengan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Syurga sehinggalah dia memasukinya. [HR. Bukhori dan Muslim]
Timbullah pertanyaan di benak kita: “Bukankah dalam Al-Qur’an semua perbuatan baik dan buruk dicatat walau perbuatan sebesar biji zarah, dan perbuatan tersebut akan tetap dapat balasan dari ALLAH SWT?”
Saudara-saudariku yang kumuliakan, hadits tersebut sebenarnya menjelaskan besarnya kekuatan hati. Banyak orang yang beramal baik tetapi hatinya jahat, mengkufurkan orang Islam, mencaci para wali Allah, mencaci para shalihin, melarang orang bertabarruk atau bertawassul pada nabi dan shalihin, atau mencaci sahabat Nabi saw. Kelihatannya amal mereka baik, banyak qiyamullail, banyak puasa, banyak menghafal Alqur`an, banyak berinfak sedekah, membangun Masjid, dsb. Bahkan caci maki merekapun dianggap orang awam adalah kebenaran, karena mereka berkedok membasmi kebathilan, yaitu dengan memusyrikkan orang ziarah dsb.
Mereka yang seperti itulah yang akan Allah balikkan hatinya di saat hampir wafat hingga mati dalam su`ul khatimah. Allah SWT telah berfirman dalam hadits Qudsiy riwayat Shahih Bukhari : “Barangsiapa memusuhi wali-waliKu maka kuumumkan perang padanya”.
Jika Allah sudah mengumumkan perang padanya, sudah bisa dipastikan ia akan mati dalam kekufuran dan su’ul khatimah. Sebaliknya ada orang yang banyak bermaksiat misalnya, namun ia sangat cinta pada shalihin, cinta pada Allah, cinta pada Rasul, namun ia masih terus terjebak dosa-dosa, maka Allah SWT akan balikkan keadaannya di wafatnya dalam keadaan husnul khatimah. Allah berikan padanya hidayah dan keinginan bertobat. Allah SWT berikan dan penuhi hatinya dengan penyesalan atas semua dosa, lalu ia menangis, bersujud, merintih pada Allah, dan wafat dalam keadaan itu.
Sebagaimana hadits Nabi SAW riwayat shahih Bukhari: ketika Abu Dzar ra bertanya pada Rasul saw : “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan suatu kaum yang mencintai kaum lainnya tetapi ia tak mampu menyusul seperti amal shalih mereka?” Rasul saw menjawab : “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai wahai Abu Dzar!” Anas bin malik ra berkata ketika mendegar hadits ini, “Sungguh aku sangat gembira, karena aku bisa bersama Rasul SAW, aku mencintai Rasul SAW, Abubakar dan Umar, walau aku tak mampu menyusul dengan amal mereka” (Shahih Bukhari)
Wallahu a’lam
(majelisrasulullah.org)
Tinggalkan Balasan