Taqlid dan Tingkatannya

Semua orang Islam sudah harus melakukan perintah dan menjauhi larangan Allah, meskipun belum mampu berijtihad. Karena itu ada dua alternatif dalam mengetahui dan memahami perintah dan larangan Allah:

1.Berijtihad sendiri, yang dapat dilakukan oleh mereka yang memenuhi persyaratan. Jumlah mereka sangat sedikit.

2. Menerima dan mengikuti hasil ijtihad atau madzhab orang lain, yang dapat dilakukan oleh semua orang. Kenyataan juga menunjukkan bahwa hampir semua orang Islam melakukannya, setidak-tidaknya pada waktu permulaan yang cukup panjang, bahkan seumur hidup karena tidak pernah mencapai kemampuan untuk berijtihad sendiri.

Mungkin ada orang yang merasa mampu berijtihad sendiri. Tetapi kalau diteliti, seringkali baru mencapai taraf ‘merasa’ mampu, namun belum benar-benar mampu. Oleh karena itu ahlus sunnah wal jamaah mengambil haluan bermadzhab bagi kebanyakan kaum muslimin, yang dapat dilakukan oleh semua orang.

Bermadzhab sering disebut dengan bertaklid. Pengertian taklid hendaknya jangan digambarkan seperti kerbau yang dicocok hidungnya, taklid buta, atau membuta tuli tanpa ada kesempatan menggunakan akal pikiran, tanpa boleh mempelajari dalil al-Quran dan al-Hadits. Pada taraf permulaan memang demikian. Setiap pelajaran yang diberikan oleh ulama, kiyai, serta guru hendaknya diterima dan diikuti. Selanjutnya setiap muslim didorong dan dianjurkan untuk mempelajari dalil dan dasar pelajaran tersebut dari al-Quran dan al-Hadits.

Bermadzhab bukanlah tingkah laku orang bodoh saja, tetapi merupakan sikap yang wajar dari seorang yang tahu diri. Ahli hadits paling terkenal, Imam Bukhari masih tergolong orang yang bermadzhab Syafi’i. Jadi, ada tingkatan bermadzhab atau bertaqlid. Makin tinggi kemampuan seseorang, makin tinggi tingkat bermadzhabnya sehingga makin longgar keterikatannya, dan mungkin akhirnya berijtihad sendiri.

Ada alternatif lain yang disebut ittiba’, yaitu mengikuti hasil ijtihad orang lain dengan mengerti dalil dan argumentasinya. Beberapa hal yang dapat dikemukakan tentang ittiba’ antara lain:

a. Usaha untuk menjadikan setiap muslim dapat melakukan ittiba’ adalah sangat baik, wajib didorong dan dibantu sekuat tenaga. Namun mewajibkan ittiba’ atas setiap muslim dengan pengertian bahwa setiap muslim harus mengerti dan mengetahui dalil atau argumentasi semua hal yang diikuti kiranya tidak akan tercapai. Kalau sudah diwajibkan, maka yang tidak dapat melakukannya dianggap berdosa. Jika demikian, berapa banyak orang yang dianggap berdosa karena tidak mampu melakukan ittiba’?

b. Sebenarnya ittiba’ adalah salah satu tingkat bermadzhab atau taklid yang lebih tinggi sedikit. Dengan demikian hanya terjadi perbedaan istilah, bahwa ittiba’ tidak diwajibkan, melainkan sekedar anjuran dan didorong sekuat tenaga.

Kalau kita hayati kenyatannya, perbedaan faham mengenai masalah ijtihad dan taklid atau bermadzhab lebih banyak bersifat teoritis saja, sedangkan dalam praktek tidak banyak berbeda. Pihak yang menamakan diri golongan bermadzhab sesungguhnya ingin juga mampu berijtihad. Namun ketahudirian dan melihat kenyataan kemampuan yang dimiliki, ditempuhlah jalan yang lebih selamat dari kekeliruan di bidang agama yang membawa konsekuensi ukhrawi dan hal tersebut dapat dipertanggungjawabkan serta dibenarkan berdasar al-Quran dan al-Hadits. Jalan tersebut adalah sistem bermadzhab. (Ponpes Nurul Huda)

TINGKATAN TAQLID

Sebenarnya mujtahid Muntasib, Mujtahid fil Madzahib, dan Mujtahid Murajjih itu juga bisa dikatakan orang yang taqlid. Sebab, walau pun mereka berijtihad, tetapi mereka menggabungkan diri dalam salah satu madzhab. Namun demikian, mereka tetaplah disebut sebagai mujtahid karena memang melakukan istinbath. Namun istinbath yang mereka lakukan tidak keluar dari ushul yang dikonsep imam mereka, bahkan tidak keluar dari pendapat ulama sebelumnya dari madzhabnya, dan bahkan ada yang hanya mencari mana pendapat ulama sebelumnya dalam madzhabnya yang dalil-dalilnya lebih kuat. Namun tingkat keilmuan mereka dan methode yang mereka gunakan telah mencapai syarat mujtahid pada tingkatan-tingakatan tersebut.

Sedangkan di bawah Mujtahid Murajjih terdapat juga tingkatan taqlid yang tidak sampai kepada tingkat mujtahid.

1. Muwazzin.
Muwazzin adalah ulama yang sanggup membanding-bandingkan antara beberapa pendapat dan riwayat. Misalnya mereka menetapkan bahwa qiyas yang dipakai dalam pendapat ini lebih mengena dibanding penggunaan qiyas pada pendapat yang lain. Atau pendapat ini lebih shahih riwayatnya atau lebih kuat dalilnya. Jadi hampir mirip dengan Mujtahid Murajjih, namun lebih rendah dari Mujtahid Murajjih.

2. Muhafizh.
Muhafizh adalah ulama yang bertaqlid atau bermadzhab namun mempunyai hujjah dengan mengetahui hasil tarjih ulama terdahulu. Mereka mampu membedakan antara pendapat yang terkuat, yang kuat, yang dha’if, riwayat yang zhahir, madzhab yang zhahir, riwayat yang nadir (langka). Diantara muhafizh adalah seperti para pengarang kitab-kitab matan yang mu’tabar seperti kitab al-Kanz, ad-Durrul Mukhtar, al-Wiqoyah dan al-Majma’. Mereka tidak menukil di dalam kitab-kitabnya pendapat-pendapat yang ditolak (mardudah) dan riwayat-riwayat yang lemah (dha’if).

3. Muqollid.
Mereka adalah ulama yang mampu memahami kitab-kitab, tetapi tidak mampu melakukan tarjih terhadap beberapa pendapat atau riwayat. Tingkat keilmuannya belum cukup mendukung untuk dapat mentarjih. Mereka menerima ibarat yang terdapat dalam kitab-kitab sebagaimana adanya dan tidak mampu mengklasifikasi dalil-dalil, pendapat-pendapat maupun riwayat-riwayat.

Dan yang terendah dari tingkatan taqlid adalah taqlid muthlaq seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam, dimana dalam keseluruhan hukum Islam, mereka mengikuti pendapat imam mujtahid dalam madzhabnya, baik dengan mengetahui dalilnya atau bahkan tanpa mengetahui dalilnya karena kemampuannya yang sangat-sangat terbatas sekali.

Dengan adanya methode tertentu yang digunakan oleh Mujtahid Muthlaq yang biasa kita sebut Imam Madzhab, maka seseorang dari madzhab A tidak bisa seenaknya mengambil pendapat dari madzhab B, yang berbeda, untuk dia pegang dan diamalkan. Karena pengambilan pendapat atau methode ijtihad madzhab B jelas memeiliki beberapa perbedaan dengan methode yang digunakan dalam madzhab A.

Memang benar dalam satu madzhab terkadang ada dua atau lebih pendapat. Dan disitulah tugas mujtahid dalam madzhab tersebut untuk menjelaskannya. Memang bisa saja terjadi pendapat madzhab A ada pendapat 1 dan 2, begitu pula pendapat madzhab B ada pendapat 1 dan pendapat 2. Kebetulan pendapat A1 sama dengan pendapat B2. Maka ketika orang dari madzhab A mengambil pendapat A1, hal ini tidak bisa dikatakan sebagai pindah madzhab atau pun pencampuran madzhab. Karena orang itu memang tidak sedang mengamalkan B2, tetapi sedang mengamalkan A1. Walau pendapatnya sama, namun mungkin dalil dan methode yang digunakan untuk istinbathnya berbeda. Jadi, tidak ada dikenal dalam ilmu ushul fiqh bahwa seseorang itu boleh memegang 2 madzhab atau lebih dalam waktu bersamaan. Dan ijtihad tidak dapat dilakukan oleh orang yang hanya baru ‘merasa mampu berijtihad’. Ijtihad hanya dilakukan oleh orang-orang yang telah memenuhi syarat-syarat mujtahid. Wallahu a’lam.

Komentar

9 tanggapan untuk “Taqlid dan Tingkatannya”

  1. Avatar Fauzi

    mohon izin copas yah mas…..syukron….

  2. Avatar hassan
    hassan

    kalau didalam 1 madzhab ada 2 pendapat,, apakah itu tidak dinamakan menyelisihi pendapat imam yang terdahulu?

    masing2 madzhab punya ushul fiqh
    ada sebagian mujtahid dalam madzhab tersebut yg sudah mncapai derajat tertentu sehingga ia sanggup menggunakan ushul fiqh yg telah disusun imamnya untuk menggali hukum. Terkadang hukum yg dihasilkan agak berbeda dg sang imam. Tetapi tetap dianggap pendapat madzhab tsb karena dihasilkan dari ushul fiqh madzhab tersebut. Ada pula mujtahid di bawahnya yg hanya sanggup mentarjih, mana diantara pendapat2 dalam madzhabnya yg kuat dan mana yg lemah. Ingat, pendapat2 dalam madzhabnya, bukan mentarjih seperti yg dilakukan oleh wahhabi, dimana mereka mentarjih pendapat semua madzhab, lalu memilih yg terkuat. Itu bukan bermadzhab namanya. Dan bahkan lebih parah dari taqlid kondisinya.

    Orang yg taqlid ia bertaqlid kepada Imam atau madzhab yg mana pendapat yg diikuti adlah pendapat yg sesuai suatu ushul tertentu. pendapat itu keluar dg menggali sumber hukum. Sedangkan yg wahhabi lakukan malah menggali pendapat2 madzhab. Jika mereka enggan bermadzhab pada salah satu imam yg empat, ya sudah, buat saja ushul fiqh sendiri, lalu galilah sumber2 hukum berdasarkan ushul fiqh itu, lalu bangunlah madzhab baru.

    Apa yg wahhabi lakukan dlm hal ini adalah tidak bermadzhab. Tidak mengindahkan ushul fiqh tertentu, tidak mengambil madzhab tertentu. Istilah mudahnya tidak beriltizam atau tidak memegang satu madzhab tertentu. Maka menurut ibnu Taymiyyah, hal ini adalah munkar.

    kembali ke pertanyaan Anda. Jika ada 2 pendapat dalam satu madzhab, maka dilihat mana yg terkuat. Contohnya seperti yg dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam hal mengirim pahala bagi mayyit:

    وأما الصلاة والصوم فمذهب الشافعى وجماهير العلماء أنه لا يصل ثوابها الى الميت الا اذا كان الصوم واجبا على الميت فقضاه عنه وليه أو من أذن له الولي فان فيه قولين للشافعى أشهرهما عنه أنه لا يصلح وأصحهما ثم محققى متأخرى أصحابه أنه يصح وستأتى المسألة فى كتاب الصيام ان شاء الله تعالى

    “Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yang wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yang diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yang lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yang lebih shahih mengatakan hal itu sampai, dan akan kuperjelas nanti di Bab Puasa Insya Allah Ta’ala.” (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim Juz 1 hal 90)

    Ada pendapat yg masyhur, ada pendapat yg shahih. Mana yg Anda pilih? yg lebih shahih, atau yg lebih masyhur tetapi lemah?

  3. Avatar Krongthip Mahalakorn
    Krongthip Mahalakorn

    Assalamualaikom wr.wb.
    @Saudara Hassan

    Saya cadangkan bagi memantapkan diri sentiasalah mengamalkan
    membaca surah Al Fatihah dengan khusyok sekurang2nya 40 kali sehari dalam satu masa dengan niat memohon Allah mengurniakan kita jalan yang benar,jalan orang2 yang Allah kurniakan nikmat dan mohon menghidari dari jalan orang2 yang Allah murkai dan jalan orang2 yang sesat.

    Amalkan selalu selepas solat suboh atau bila masa saja. Semakin banyak dibaca semakin banyak kita berdoa. Insyallah semoga anda
    ditunjukkan jalan kebenaran.

    Biasakanlah diri solat hajat dan solat istighathah memohon pertunjuk dari Allah.”Allahus Shomad”

    Wallahu A’lam.

    Jika saranan dari ayahanda Krongthip dirasa berat, bisa juga fatihahnya dibaca sekali, tetapi pada ayat 6 diulang hingga 41 kali. dan semoga ianya tidak dianggap bid’ah 🙂

  4. Avatar hassan
    hassan

    banyak orang yang engan bermadzhab dikarenakan mereka merujuk pda perkataan imam madzhab tsb.
    “Tidak ada seorang pun, kecuali dia harus bermazhab dengan sunnah Rosulullah dan mengikutinya. Apapun yang saya ucapkan atau saya tetapkan tentang sebuah kaidah dasar sedangkan sunnah Rosulullah bertentangan dengan ucapanku, maka yang diambil adalah sabda Rosulullah, dan pendapatku juga seperti itu.” (Imam Syafi’i) *Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh Dimasyq, Riwayat Al-Hakim dengan sanad yang sampai kepada Syafi’i, Al-Fullani dalam “Al-Iqazh”, Ibnu Al-Qayyim dalam “I’lamu Al-Muwaqi’in”.

    “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah terang baginya Sunnah Rosulullah, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut hanya karena ingin mengikuti perkataan seseorang.” (Imam Syafi’i) *Al-Fullani dalam “Al-Iqazh”, Ibnu Al-Qayyim dalam “I’lamu Al-Muwaqi’in”

    Ibnu Hazm berkata, “Sesungguhnya, para ahli fiqih yang ditaqlidi itu adalah orang-orang yang membatalkan taqlid. Mereka telah melarang sahabat-sahabat mereka untuk bertaqlid kepada mereka. Yang paling keras di antara mereka adalah syafi’i. Beliau benar-benar telah menegaskan untuk mengikuti atsar-atsar yang sahih dan berpegag kepada apa-apa yang diwajibkan oleh hujah. Hal seperti ini belum pernah dilakukan oleh selainnya. Ia berlepas diri dari taqlid secara umum, dan telah mengumumkan hal itu. Semoga Allah memberikan manfaat dengannya dan memberikan pahala yang besar kepadanya. Demikian itu telah menjadi penyebab adanya kebaikan yang banyak.”

    Taqiyuddin As-Subki dalam “Ma’na Qaul sy-Syafi’i….Idzaa Shahha Al-Hadits” mengatakan, “Menurut saya, yang lebih utama adalah mengikuti hadist, dan orang itu menempatkan dirinya seakan-akan berada di hadapan Nabi, dan mendengar hadist itu dari beliau. Apakah ada kelapangan baginya untuk tidak mengamalkannya? Tidak, demi Allah…. Dan setiap orang dibebani sesuai jangkauan pemahamannya.”

    “Apabila hadist itu shahih, maka hadist itu adalah mazhabku.” (Imam Abu Hanifah) *Dikutip oleh Ibnu Abidin dalam kitab “Al-Hasyiah” dan “Rasmu Al-Mufti”.

    “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang kepada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Imam Abu Hanifah) *Disebutkan ileh Ibnu Abdil Barr dalam “Al-Intiqa’u fi Fadhaili Ats-Tsalatsah Al-Aimmahi Al-Fuqaha’i”, Ibnu Al-Qayyim dalam “I’lamu Al-Muwaqi’in”, Ibnu Abidin dalam “Hasyiyah Al-Bahri Ar-Ra’iq” dan “Rasmu Al-Mufti”.

    “Sesungguhnya saya hanyalah seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar. Maka perhatikanlah pendapatku. setiap pendapat yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, ambillah, dan yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Imam Malik Bin Anas) *Ibnu Abdi Al-Barr dalam kitab Al-Jami’, Ibnu Hazm dalam Ushul Al-Ahkam.

    “Tidak ada seorang pun setelah Nabi kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan ada yang ditinggalkan.” (Imam Malik Bin Anas) *Ibnu Abdi Al-Hadi dalam Irsyadu As-Salik, Ibnu Abdi A-Barr dalam Al-Jami’, Ibnu Hazm dalam Ushul Al-Ahkam, Abu Daud dalam Masa’ilu Al-Imam Ahmad.

    “Janganlah engkau taqlid kepadaku. Jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, maupun Ats-Tsauri. Tetapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Imam Ahmad bin Hanbal) *Ibnu Qayyim dalam Al’I’lam, Al-Fullani.

    “Janganlah engkau taqlid dalam perkara agamamu kepada salah seorang dari mereka. Setiap perkara yang sandarannya kepada Nabi dan para sahabat beliau, maka ambillah. Jika berasal dari tabi’in, maka seseorang dapat memilih.” (Imam Ahmad bin Hanbal) *Riwayat Abu Dawud dalam Masaail Al-Imam Ahmad.

    “Makna Al-Ittiba’ yaitu seseorang mengikuti apa saja yang berasal dari Nabi dan para sahabat beliau. Adapun yang berasal dari generasi tabi’in, maka dia boleh memilih.” (Imam Ahmad bin Hanbal) *Riwayat Abu Dawud dalam Masaail Al-Imam Ahmad.

    “Pendapat Al-Auza’i, Malik, serta Abu Hanifah, semuanya adalah pendapat. Bagiku semuanya sama adanya. Adapun Al-Hujjah hanya ada pada atsar-atsar Nabawiyah.” (Imam Ahmad bin Hanbal) *Ibnu Abdi Al-Barr dalam Al-Jami’

    atas ini semualah maka ada orrang-orang yang enggan bermadzhab,, ketika bertemu sebuah hadist mereka lihat bagaimana penafsiran ulama tentang hadist itu,, lalu memilih mana yg mereka rasa lebih tepat. bukan maksud saya untuk membantah atau mendebat,, justru dengan antum menjelaskan apa yang dimaksud dari perkataan para imam diatas,, saya harap saya dapat belajar lebih banyak dari antum soal bermadzhab.

    Jika Anda sanggup ittiba’ secara langsung kepada Qur`an dan hadits, silahkan saja. Tetapi jika Anda tidak sanggup, maka taqlid adalah jalan yg mudah dan dibolehkan bagi yg lemah. Sekuat apa Anda? Sekuat Imam Nawawi dan ibnu Hajar? Mereka tetap taqlid. Sekuat al-Bukhari? Beliau tetap taqlid. Sekuat Qadhi Iyyad al-Maliki? Beliau tetap taqlid. Apakah mereka tidak mengetahui hadits2 shahih sebagaimana para wahhabi mengetahui mana hadits yg shahih dan mana yg dhaif??

    “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika
    kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]

    Jika Anda tidak mengetahui hukum sesuatu, apa yg harus Anda lakukan sebagai orang lemah? Apakah Anda disuruh mengkaji Quran dan hadits? Anda disuruh bertanya kepada ahludz dzikr, ahlul ilm. Siapa mereka? Mereka adalah ulama yg ilmunya dan pemahamannya bersumber dari guru yg bersanad sambung-menyambung kepada Rasul.

    مَنْ قَالَ فِي القُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
    Siapa yg bicara tentang Al-Qur`an tanpa ilmu, maka bersiaplah akan tempat duduknya di neraka. (Sunan Tarmidzi no.2950)

    Apakah para Imam ini bicara tentang al-Qur`an, tentang Hadits, tentang agama tanpa ilmu? Bahkan mereka adalah orang-orang yg kuat. Akankah mereka bicara tanpa dalil yg dibenarkan agama?

    Lalu kita akan mengikuti cara berfikir wahhabi dalam beragama? Sedangkan wahhabi ini bicara tentang agama tanpa ilmu yg benar. Mereka tak mempunyai sanad. Mereka seperti seorang pembawa kayu bakar di malam hari, tidak mengetahui mana yg tali dan mana yg ular. Mereka menaiki atap tanpa tangga. Kita akan mengikuti orang yg bicara tentang agama tanpa ilmu?

    Lalu mengenai perkataan para imam tentang taqlid ini, apakah yg para imam maksudkan adalah seperti yg dimaksud oleh orang2 tak bermadzhab? Lalu mengapa pemahaman seperti itu luput dari pengetahuan para Imam seperti al-Bukhari, an-Nawawi, ibnu Hajar, dan para imam yg kuat sehingga mereka bermadzhab?

  5. Avatar Krongthip Mahalakorn
    Krongthip Mahalakorn

    Assalamualaikom wr.wb.

    @ Saudara Hasan.

    Ana salute dengan saudara kerana dari pernyataan yang dikemukakan ternyata saudara seorang yang banyak membaca dan mungkin banyak pelajarannya. Ana kagum kerana dari segi pengetahuannya saudara lebih mantap. Ana mohon untuk tumpang usrah supaya sama2 dapat manfaat. Harap saudara ga keberatan.

    Daripada penelitian ana dari apa yang saudara kemukakan dan konklusi yang saudara jelaskan itu nampaknya ada sedikit kekeliruan kefahaman ungkapan.

    “Janganlah engkau taqlid kepadaku. Jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, maupun Ats-Tsauri. Tetapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Imam Ahmad bin Hanbal) *Ibnu Qayyim dalam Al’I’lam, Al-Fullani.

    “Janganlah engkau taqlid dalam perkara agamamu kepada salah seorang dari mereka. Setiap perkara yang sandarannya kepada Nabi dan para sahabat beliau, maka ambillah. Jika berasal dari tabi’in, maka seseorang dapat memilih.” (Imam Ahmad bin Hanbal) *Riwayat Abu Dawud dalam Masaail Al-Imam Ahmad.

    Segala ungkapan diatas ini benar. Yang kelirunya dimana?

    Ungkapan diatas bermaksud kalaulah mereka yang tersebut diatas mengeluarkan pendapat mengikut hawa nafsu tanpa sandaran kepada Nas maka janganlah diikuti. Itu maksud sebenar. Begitulah sifat seorang yang digelar Imam yang menjadi konsulten kepada Imam2 lain. Bersifat Tawadu’ dan mengingatkan kebenaran

    Sehingga ke hari adakah sesiapa yang boleh membuktikan semua Imam Mazhab yang ente sebut diatas menetapkan disiplin agama dengan tidak mengikut atau tidak bersandarkan kepada Al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w?

    Adakah Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab ada mengatakan semua imam2 diatas tidak bersandarkan Al-Quran dan sunnah? ( Ana pun nggak tahu)

    (Syiah,khawarij tiada di kira pakai. Begitu juga yang menempel nama Islam tapi bukan Islam -ente pasti tahu ini macam druze di Lebanon, Ahmediyah dll. tiada dalam kiraan)

    Mengapapula (dalam keadaan biasa) kita tidak tidak dibenarkan mencampur aduk disiplin mazhab2 mengikut sesuka hati? Ini kerana usul Fiqh yang diolah itu ada perkaitan antara satu bab dengan bab yang lain tetapi boleh bertaqlid dalam sesuatu bab bila ada dhorurah.
    Kalau mahu dicampur aduk rosaklah lagu dan pincanglah irama.

    Semenjak dulu lagi berlaku khilafiah dalam bab2 agama ini jadi yang menjadikan kepada Mazhab ini hanyalah perkara khilafiah yang furuqi bukan perkara muhkamat. Dalam perkara khilafiah ini ada lagi unsur lain yang diambil kira iaitu dalil, kerana amalan ahli Madinah juga termasuk dalam perkiraan. Imam2 ini pula bila mahu menetapkan sesuatu perkara mereka berijma’ dahulu dikalangan mereka bukan bikin gitu2 aje. Mereka ini adalah orang yang menerima pertunjuk, maqam mereka berbeza, kita tidak setaraf
    dengan mereka.

    Sedarilah Imam2 pengumpul hadith spt Imam2 Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tarmizi, Ibnu Majjah dan lain2 lagi tak termasuk Nasr Din Al Bani, semuanya mengikut mazhab. Begitu juga para Wali seperti Sheikh Abdul Qadir Jailani dan wali di Jawa dan Malaysia
    (yang ana tahu bukan kenal) semuanya bermazhab.

    Dimana kita berbanding mereka? Adakah iman ,ilmu , ubudiah, taqwa dan zuhud kita melebihi mereka? Andainya mereka yang
    darjat tinggi disisi Allah bermazhab mengapa tidak kita mahu ikutin?

    Tanyalah hati, tepuklah dada dan tanya selera?

    1.Adakah kita mahu mengikut agama atau mahu agama ikut kita?

    2.Adakah kita sudah mencapai darjat Mujtahid Mutlaq atau sheikh
    yang kita ikutin itu sudah mencapai darjat mujtahid Mutlaq?
    Yang bisa istinbat hukum sendiri.?

    3.Apakah kita yang masih lompong ini mahu ikutin yang lompong
    juga atau mahu ikutin yang mantap terbukti mendapat kemuliaan
    Ilahi?

    Ilmu ana amat sedikit, ini sahaja dapat ana kongsikan. Harap maaf
    kalau ada perkataan yang irritatif.

    Wallahu A’lam.. Wa assalamu…………..

    p/s
    Harap as sahab admin mengoreksi yang capet, maklumlah ilmu tiada, cuma dinukilkan bagi mujahadah dan muhasabah diri
    dengan harapan si Hasan memperoleh pertunjuk.

    tambahan sikit untuk dhoruroh. Dlm setiap madzhab ada dibahas mengenai ini. Sehingg dlm kondisi dhoruroh pun, seseorang tak perlu memakai pendapat madzhab lain. Wallahu a’lam.

  6. Avatar hassan
    hassan

    @Krongthip Mahalakorn
    syukron mas,, ana harap mas admin dan jg antum tak keberatan dengan ana yang banyak tanya ini.. he

  7. Avatar Krongthip Mahalakorn
    Krongthip Mahalakorn

    Assalamualaikom wr.wb.
    @ Saudara Hassan.

    Ana sememangnya tidak keberatan tapi ilmu ana amat terbatas,
    ana hanya boleh membicarakan apa yang ana tahu dan faham aje.
    Mas admin lebih ganteng dan paling baik berguru lah dengan sheikh Habib Munzir Al Musawa atau sesiapa kerana ana yakin di Indonesia
    terlalu ramai guru yang mursyid. Kitab yang ana baca juga versi Indonesia. He..he..kalau yang sulit2 atau tinggi2 ana juga nggak mampu.

    Sebenarnya sikap ambil tahu yang ada pada diri saudara itu adalah sesuatu yang amat baik. Ana pun masih capet malah masih banyak kejahilannya dan cuma ana juga bersikap seperti saudara iaitu mengambil tahu. Sikap mengambil tahu itu adalah permulaan segala
    usaha.

    Ana berdoa semoga saudara dikurniakan jalan kebenaran. Allah menyediakan jalan dan memilih jalan terbaik itu adalah usaha kita.
    Pentingnya kita berlapang dada dan sentiasa memohon pertunjuk dari Nya semoga kita tidak dibatasi hijab menuju kebenaran.

    Ada hadis Rasulullah yang maksudnya (kurang lebih) “Di akhir zaman
    umatku akan terbahagi kepada 73 golongan yang ke syurga hanya satu golongan saja.- 72 golongan lagi tertolak.

    Ana selaku sang jahil lagi lemah , memilih untuk mengikuti jalan orang2 terdahulu yang terbukti mendapat kemuliaan Ilahi, Maklumlah
    era kita ini era fitnah yang banyak pancaroba dan kita sendiri (ana) amat lemah.

    Dari segi teknologi kita ikut yang baru tapi dari segi agama kita kena ikut yang awal.

    Nabi s.a.w. kan berpesan selepasku ikutlah Khulafa Rashidin, sahabat2 tabiin, tabiin-tabiin dan yang mengambil ilmu dari mereka maksudnya ilmu yang mempunyai sanad.

    Wallahu a’lam

    (mohon bantuan admin untuk koreksi kalau capetnya)

  8. Avatar mamo cemani gombong
    mamo cemani gombong

    Krongthip Mahalakorn,@ mantaaab …….salam

  9. Avatar hassan
    hassan

    mujtahid murajih itu, ialah ulama yang mentarjihkan suatu pendapat tapi masih daam satu madzhab ya, dan ga da sangkut-pautnya sama madzhab lain, betul ga mas??

    na’am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *