Maha Suci Allah Jalla Wa Alla Yang Maha Membuka segenap kebahagiaan dunia dan akhirat, Yang didambakan dari segala apa-apa yang diinginkan berupa anugerah. Maha Memiliki segala apa-apa yang didambakan oleh hamba hamba-Nya. Maha Menyimpan segala hal yang indah yang disiapkan bagi hamba-hamba-Nya. Matahari Kebahagiaan Yang tiada pernah terbenam. Matahari Pengampunan Yang tiada pernah padam pengampunan-Nya. Kasih-Sayang Yang kekal dan abadi melebihi segenap kasih-sayang makhlup-Nya. Maha Membuka segenap rahmat dan kesejahteraan dengan doa dan munajat. Maha Mengundang hamba-hamba-Nya kepada kebahagiaan, pengampunan, kemuliaan, keluhuran dengan doa-doa dan pendekatan ke hadirat-Nya.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Allah SWT telah menyampaikan kepada kita rahasia kebahagiaan yaitu dengan doa-doa dan munajat kita serta pengikutan (ittiba) kita kepada Sayyidina Muhammad SAW. Allah SWT mengajarkan doa, mengajarkan munajat, doa dan munajat yang tiada taranya. Doa dan permintaan yang tidak akan bisa dikabulkan terkecuali oleh Allah SWT. Allah SWT mengajarkan doa-doa yang mengenalkan kita betapa kasih-sayang dan indahnya Allah.
Robbanaa laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa. Wahai Allah jangan Engkau murka dan jangan Engkau tulis jika kami lupa dan kami berbuat salah. Demikian indahnya doa dan keindahan bagi yang dikabulkannya. Betapa mudahnya cobaan ini, betapa indahnya, laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa, jangan Kau tulis, jangan Kau perberat, jangan Kau bebani dan maafkanlah jika kami lupa dan kami salah. Ini doa yang mengajarkan adalah Allah. Allah Swt ingin memberimu maaf dari dosa yang kau lupa dan yang kau tidak lupa. Maka diajarkan-Nya doa-doa kepada kita agar Allah tidak lagi mempermasalahkan dosa-dosa kita. Allah SWT mengajarkan gemuruh munajat di dalam jiwa ini untuk membuka kebahagiaan.
Robbanaa laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa, robbanaa wa laa tahmil a’lainaa ishron kamaa hamaltahuu a’lalladziina min qoblinaa.
Kulihat si fulan musibahnya berat. Kulihat si fulan cobaannya dahsyat. Wa laa tahmil a’lainaa ishron kamaa hamaltahuu a’lalladziina min qoblinaa. Jangan bebani kami dengan beban yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa’fu ‘annaa waghfirlanaa, maafkanlah kami, ampunilah kami. Fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin, tolonglah kami untuk menghadapi orang-orang yang kuffar, dari kejahatan mereka, dari tipuan mereka.
Demikian indahnya seorang mu’min diajarkan oleh Allah SWT untuk selalu mengadukan keadaannya bahkan dosa-dosanya kepada Allah SWT. Seindah-indah tempat pengaduan segala hal dan tidak akan bisa menghapus dosa kecuali Allah SWT. Allah SWT mengundang kita dan mengenalkan Dzat-Nya dan mengenalkan betapa lemahnya kita di hadapan Allah SWT. Manusia itu tidak tahu apa yang akan dikerjakannya esok hari, apa yang akan datang padanya esok dan bagaimana keadaan esok harinya, apa yang akan ia perbuat esok, ia tidak tahu. Betapa lemahnya manusia di hadapan Allah SWT.
Seandainya kita melihat, ini manusia esok akan begini atau akan begitu. Orang itu melihat betapa lemahnya dia. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak tahu akan wafat dimana. Entah di barat, entah di timur , entah di darat, entah di laut.
Demikian hadirin-hadirat. Allah mengingatkan betapa lemahnya kita di hadirat-Nya. Maha Suci Allah SWT Yang Maha Luhur, Yang Membukakan kepada kita gerbang-gerbang doa dan munajat untuk mencapai keluhuran, untuk mencapai kebahagiaan, untuk mencapai kemuliaan, untuk mencapai keindahan, untuk mencapai keridhoan dan kedekatan ke hadirat-Nya.
Dan itulah seindah-indahnya anugerah, itulah semulia-mulia anugerah setelah seluruh kenikmatan dunia akan berakhir dan setelah itulah, hadirin-hadirat, kita memahami betapa agungnya sujud, betapa berharganya kalimat “Subhaana rabbiyal a’laa wa bihamdih”. Betapa mulianya langkah langkah menuju Masjid dan majelis dzikir. Setelah kita selesai hidup di muka bumi dan diturunkan tubuh kita ke dalam qubur dan ditinggalkan oleh semua kekasih dan teman, baru kita memahami, ternyata kekasih yang haqiqi adalah Allah SWT. Allah Yang Maha Tidak Meninggalkan semua yang mencintai-Nya. Semua kekasih meninggalkan kekasihnya di qubur dan tiada mau menemani kekasihnya di alam qubur.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah. Semakin dalam ilmu dan pemahaman kita tentang Allah Swt dan agama ini, semakin indah dan sempurna hari-hari kita. Sebaliknya, semakin sirna hal-hal ini dari kita, semakin hancur kehidupan kita. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dekat waktunya nanti, waktunya hari kiamat, jika sudah dekat akan datang masa munculnya kejahilan”. Apa ini kejahilan? Kejahilan bukan hanya ketidak-tahuan tapi yang tidak tahu merasa tahu, yang tidak tahu tapi tidak mau diberi tahu. Ini yang disebut “jahl”.
Kalau seandainya tidak paham saja, tidak sampai ke derajat jahl. Tetapi jahl adalah yang tidak tahu namun tidak mau diberi tahu . Jika seandainya ia diberi pengetahuan ia tetap menolak. Ini yang akan muncul nanti kata Rasulullah SAW di akhir zaman. Dan ilmu semakin sirna, syari’atul muthahharoh (syariat yang suci) semakin sirna. Dan di saat itulah, hadirin hadirat, banyak terjadi permusuhan, peperangan, pembunuhan.
Al Imam Ibn Hajar Asqalani di dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari menjelaskan makna dari hadits ini adalah tandzir (peringatan) dari Rasul SAW untuk menjaga generasi ulama. Yang dimaksud munculnya kejahilan dan maksud terhapusnya ilmu adalah wafatnya para ulama. Ketika para ulama diwafatkan oleh Allah SWT dan generasi muda tidak ada yang meneruskan perjuangannya maka terjadilah hal-hal seperti ini.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, sungguh kebahagiaan bagi satu lingkungan masyarakat adalah yang masih mempunyai ulama. Ulama adalah pewaris para Nabi dan penuntun mereka kepada keluhuran. Sebagaimana Rasul SAW bersabda, “Allah tidak mencabut ilmu dari dada yang memiliki ilmu itu, tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan mewafatkan ulama”, ini diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari. Kenapa? Karena Muslimin Muslimat tidak lagi menginginkan munculnya generasi ulama. Dengan wafatnya ulama, sirnalah ilmu sampai tidak lagi tersisa seorang ulama dalam satu lingkungan masyarakat. Maka mereka mengambil guru-guru berupa orang yang tidak mengerti syariah, lantas mereka itu ditanya lalu menjawab dan berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan. (HR Shahih Bukhari)
Hadirin-hadirat, hadits ini adalah tandzir (peringatan) untuk membangkitkan generasi ulama. Sebagaimana riwayat Imam Tirmidzi, Rasul Saw bersabda “Sungguh orang yang paling mulia menginjak permukaan bumi adalah para ulama, mereka itu jika agama ini terkotori dan tercela, mereka itulah yang membenahinya”. Bahwa ketika seorang mu’allim, seorang guru mengajarkan kepada seorang anak mengucap “Bismillahirrahmanirrahim” saja sampai anak itu bisa mengucapkannya, maka Allah Swt mencatatkan bagi sang pengajar pengampunan, bagi sang anak pengampunan dan bagi ayah-ibunya pengampunan. Demikian rahasia pengampunan dan rahmat ilahi yang dimunculkan dengan keberadaan ulama.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah. Hingga semakin sirnanya ulama ini, mulailah muncul kegelapan dan ketidakpahaman dan muncullah aliran-aliran yang sesat, muncullah tuntunan-tuntunan yang keluar dari syari’atul muthahharoh (syariah yang suci).
Demikianlah kerusakan ummat semakin terjadi dan sampailah pada puncak kerusakan ummat dengan terbitnya matahari dari barat. Sebagaimana sabda Nabiyyuna Muhammad SAW di dalam riwayat Shahih Bukhari “Seburuk-buruk dan sejahat-jahat manusia adalah mereka yang masih hidup sampai saat merasakan terbitnya matahari dari barat.” Karena di saat itu tidak tersisa lagi seorang Muslim pun di muka bumi. Kesemuanya adalah mereka yang menyembah selain Allah SWT sehingga Rasul SAW bersabda yang diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, beliau terbangun di tengah malam seraya berseru dengan keras “Subhanallah, betapa banyaknya anugerah yang Allah turunkan di malam ini dan juga betapa banyaknya fitnah akan segera turun. Siapa yang bisa membangunkan keluargaku kesemuanya dan orang-orang dari tetanggaku untuk melakukan shalat malam. Bisa saja orang-orang yang berkecukupan di muka bumi akan terbuka dan terhinakan dari kecukupannya di yaumal qiyamah. Orang-orang yang berkecukupan di dunia akan merasakan kekurangan di yaumul qiyamah,” beliau SAW berkata demikian seraya mengalirkan airmata yang mengundang para tetangganya untuk melakukan qiyamullail.
Demikian hadirin-hadirat, yang dimuliakan Allah. Maka dalam kesempatan ini, saya akan kembali mengulas lagi sedikit tentang bagaimana sejarah pejuang para ahlul hadits yang meneruskan hadits-hadits Rasul SAW dari para ulama. Karena hal ini telah disampaikan tetapi banyaknya sebagian hadirin masih ada yang belum mendengarnya dan sebagian saudara kita memintanya maka saya kembali memperjelaskannya. Bahwa kita semua Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mengambil dalam satu sanad walaupun dalam madzhab yang berbeda. Madzhab yang ada pada Ahlussunnah wal Jama’ah yang masih ada hingga saat ini adalah 4 Madzhab besar, yaitu Madzhab Imam Malik, Madzhab Imam Hanafi, Madzhab Imam Syafi’i dan Madzhab Imam Hambali.
Dan keempatnya ini bukan terpecah – belah sanadnya tapi merupakan satu sanad. Sanad adalah mata rantai guru atau rantai periwayat. Al Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i adalah murid Imam Malik dan Imam Malik hidup satu zaman dengan Imam Hanafi. Dan Imam Hanafi ini adalah tabi’in bersama Imam Malik yang berguru kepada para Sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Jadi keempat Imam Madzhab ini adalah satu rumpun bukannya berpecah pecah dari sanad yang berbeda. Sama rumpunnya walaupun fatwa mereka berbeda.
Oleh sebab itu hadirin-hadirat, berbeda dengan mereka yang diluar Ahlussunnah wal Jamaah, karena rumpunnya berbeda. Entah mengambil jalur guru dari mana. Karena keempat madzhab ini berasal dari satu rumpun. Karena mengambil dari satu rumpun dari tabi’in, dari sahabat Rasul, dari Rasulullah Muhammad SAW. Dan di dalam ilmu hadits kita mengenal derajat ahli hadits yang diantaranya di sebut Al Hafidh, Hujjatul Islam, Al Hakim. Dan kita perlu menjabarkan sebagaimana diperjelas oleh Al Imam Ibn Hajar Asqalani di dalam kitabnya Nukhfathul Fiikar bi Syarah Nukhfathul Fiikar beliau menjelaskan bahwa derajat para pakar hadits terendah adalah Al Hafizh.
Al Hafizh adalah orang yang telah menghafal 100.000 hadits beserta sanad dan hukum matannya. Mereka yang sudah hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya maka mereka sudah mencapai gelar Al Hafizh. Al Hafizh di dalam ilmu hadits bukan seorang yang hafal Alqur’an. Al Hafizh di dalam ilmu hadits adalah yang hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Padahal kalau panjang haditnya 1 baris, kalau disertakan dengan sanad dan hukum matannya bisa menjadi 2 halaman panjangnya. Mereka inilah orang-orang jenius yang dipilih oleh Allah SWT untuk menjaga syari’atul muthahharoh (syari’ah yang suci). Dahulu orang tidak bisa percaya kalau ada jutaan hadits atau jutaan kalimat masuk ke dalam microchip yang kecil seperti ujung ibu jari. Di masa sekarang kita sulit percaya kalau ada orang yang hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. (Padahal banyak profesor yang mengatakan bahwa manusia dapat menampung data dari seluruh alam semesta ini dalam otaknya.)
Allah SWT menjaga syariah ini dengan keberadaan mereka. Jumlah mereka bukan hanya 1 atau 2, tetapi ribuan huffazh dimasa itu, masa kejayaan para tabi’in, para tabiut tabi’in dan orang sesudahnya. Dan kita mengenal 7 nama dari periwayat hadits terbesar. Muhaddits itu banyak orangnya. Banyak ahli hadits yang mengumpulkan hadits dan mencatatnya, tetapi diantaranya terdapat 7 Imam Besar yang terkuat riwayatnya, antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Nasa’i, Al-Imam Tirmidzi, Al-Imam Ibn Majah, Al-Imam Abi Dawud, Al-Imam Muslim dan Al-Imam Bukhari. Ketujuh imam ini lebih kuat riwayatnya daripada yang lainnya. Yang lainnya masih banyak, ada Imam Daruquthni, Imam Hakim dan lainnya. Yang ketujuh ini diklasifikasikan lagi yaitu menjadi “Imam Kutubussittah” yaitu 6 Imam Besar yang tadi disebutkan terkecuali Imam Ahmad bin Hanbal.
Imam Ahmad bin Hanbal peringkat yang nomor 7 dan yang terakhir. Ia pun tidak termasuk dalam klasifikasi 6 imam besar. Imam Ahmad bin Hanbal ini hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya. Dan Imam Ahmad bin Hanbal terkenal dengan gelar “Sayyidul Huffazh”, salah seorang dari yang paling banyak hafalan haditsnya. Ini derajat yang ketujuh, bagaimana dengan imam-imam besar yang diatas beliau?
Dan Imam Ahmad bin Hanbal ini adalah murid Imam Syafi’i. Oleh sebab itu, hadirin – hadirat, jika masa sekarang muncul orang yang menghina, meremehkan fatwa Imam Syafi’i, hal itu semata-mata karena ia tidak mengerti siapa Imam Syafi’i. Imam Syafi’i mempunyai murid yang banyak, diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal dan beliau hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya.
Ketika salah seorang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia ingin menjadi muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal memberikan 1 tumpukan hadits seraya berkata, “Ini ada 10.000 hadits. Kau hafalkan dulu. Kalau sudah hafal, baru bisa jadi muridku.” Demikian syaratnya menjadi murid seorang imam besar. Seorang muhaddits besar dan orang semacam Imam Ahmad bin Hanbal tidak akan menerima seorang murid terkecuali ia telah menghafal lebih dari 10.00 hadits. Maka orang tersebut menghafal hadits-hadits tersebut. Ketika ia telah mampu, ia datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal seraya berkata “Aku sudah hafal wahai imam, 10.000 hadits yang kau berikan.” Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Itu 10.000 hadits adalah hadits palsu, bukan hadits yang shahih, bukan pula hadits hasan bukan pula hadits dhaif derajatnya. Tettapi itu adalah hadits palsu.” Maka berkata muridnya, “Wahai imam, kau beri aku 10.000 hadits palsu?” Dan Imam Ahmad menjawab, “Itu untuk memperkuat hafalanmu”.
Demikian hadirin hadirat cara mereka menjaga ilmu hadits, kenapa? Jika kau menghafal hadits shahih dan salah, maka kau berdosa. Kau akan menipu umat hingga akhir zaman dengan mengatakan hadits yang salah sebagai hadits shahih. Oleh sebab itu, diberi hadits palsu, kalau salah tidak berdosa. Jika kuat hafalannya, baru diberikan hadits-hadits shahih dan dimasa itu hadits tidak ditulis, tetapi dihafal. Berbeda dengan masa sekarang, di masa itu sangat sedikit sekali hadits yang ditulis. Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya, beliau hanya sempat menuliskan 20.000 hadits saja di dalam Musnadnya. Dan 980.000 hadits itu sirna dengan wafatnya beliau dan wafatnya murid-muridnya. Ada yang terjaga pada murid-muridnya. Jika murid-muridnya tiada menulisnya, maka akan sirna 980.000 hadits dari sanubari Imam Ahmad bin Hanbal (hanya 20.000 hadits yang tertulis).
Hadirin-hadirat inilah derajat yang ketujuh, diatasnya ada lagi derajat klasifikasi 6 imam besar. Dari 6 imam besar ini diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu “Shahihain”, yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim”. Dan sisanya yang 4 adalah imam lainnya yaitu Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi, Imam Abi Dawud dan Imam Ibn Majah. 4 imam besar ini dikalahkan oleh mereka tertinggi yaitu Imam Muslim dan Imam Bukhari. Dan daripada yang tertinggi dari 7 periwayat hadits adalah Imam Bukhari dan kedua adalah Imam Muslim.
Oleh sebab itu Imam Bukhari paling dipegang riwayat haditsnya, kalau sudah diriwayatkan oleh Imam Bukhari tidak ada lagi ahli hadits yang mempermasalahkannya. Hadits riwayat Imam Muslim masih banyak dipermasalahkan. Kalau Imam Bukhari tidak ada lagi yang mempermasalahkannya. Beliau adalah seorang pemuda jenius. Beliau itu bernama Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari, beliau adalah seorang yang sangat mencintai Sayyidina Muhammad SAW.
Imam Bukhari di dalam Tadzkiratul Huffazh dan Siyar A’lamun Nubala dijelaskan saat usianya 17 tahun beliau sudah hafal 200.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Di usia 17 tahun, seorang yang sangat jenius yaitu Imam Bukhari. Sehingga imam-imam lainnya di masa itu melihat bocah kecil ini sudah hafal puluhan ribu bahkan ratusan ribu hadits, mengungguli mereka. Diantara (yang mengaguminya) adalah Imam Muhammad bin Salam, salah seorang senior ahli hadits di masa itu. Ia berkata, “Kalau aku meriwayatkan hadits, aku tidak pernah gemetar, kecuali jika ada bocah ini,” yaitu Imam Bukhari. “Kalau ia ada disini, aku gemetar. Karena ia lebih tinggi hafalannya dariku”. Demikianlah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari.
Derajat yang kedua adalah Imam Muslim. Al Imam Muslim suatu waktu mendapatkan permasalahan dalam hadits dan ia tidak mampu menjawabnya. Mencari jawaban tidak jumpa dan tidak ketemu. Akhirnya ia mendatangi Imam Bukhari. Dan ketika ia menyampaikan permasalah haditsnya, maka Imam Bukhari menjawabnya seperti membaca surat Al-Ikhlas, dengan gampang dan mudahnya Imam Bukahri menjawab. Demikian diriwayatkan di dalam Tadzkiratul Huffazh. Maka berkata Imam Muslim, “Ijinkan aku mencium kedua kakimu wahai raja ahli hadits!”
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari. Beliau lahir tahun 194 H, jauh setelah lahirnya Imam Syafi’i. Setelah Imam Syafi’i jadi Imam, barulah lahir Imam Bukhari. Oleh sebab itu, bukan levelnya kalau Imam Bukhari dibandingkan dengan Imam Syafi’i. Karena jauh sebelum Imam Bukhari lahir, Imam Syafi’i sudah jadi imam besar. Akan tetapi Imam Bukhari adalah orang tertinggi yang diakui ilmunya di dalam hadits.
Dan hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Imam Bukhari adalah orang yang sangat mencintai Rasul SAW seraya menulis Shahih Bukhari sebanyak kurang lebih 7000 hadits, yang beliau tulis diantara makam Rasulullah SAW dan mimbar Rasulullah SAW di Masjid Nabawiy. Beliau berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat kemudian menulis 1 hadits, dan kembali berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat dan kembali menulis hadits sampai mencapai lebih dari 7000 hadits yang sampai saat ini dikenal dengan “Shahih Bukhari”. Dan inilah Ash-hahul Kitab, kitab yang paling shahih dari semua hadits-hadits yang shahih.
Dan hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, ketika Imam Bukhari ditimpa banyak fitnah, maka murid-muridnya berkata, “Wahai imam, kenapa tidak kau jawab mereka yang memfitnahmu dengan fatwa-fatwamu?” Imam Bukhari menjawab, “Aku teringat hadits Rasul SAW, akan kalian lihat hal-hal yang tidak kalian sukai berupa fitnah dan permasalahan, maka bersabarlah kalian sampai kalian berjumpa dengan aku di telaga haud.” Jika aku mendengar dan teringat hadits ini, aku tenang dan tidak perduli dengan fitnah yang datang menimpaku.
Demikian Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari dan juga imam-imam besar lainnya. Mereka para pecinta Rasulullah SAW dan sangat memuliakan Rasul SAW. Imam Ahmad bin Hanbal diriwayatkan di dalam Tadzkiratul huffazh dan Siyar A’lamun Nubala, ketika Imam Ahmad bin Hanbal ini wafat maka jenazahnya dishalatkan lebih dari 800.000 Muslimin-Muslimat dan ia pun berwasiat pada putranya, “Jika aku wafat, aku menyimpan 3 helai rambut Rasulullah SAW. Letakkan 1 helai rambut dibibirku, yang 2 helai taruh di kedua mataku dan makamkan aku dengan itu.” Demikian cintanya Imam Ahmad bin Hanbal sehingga ia tidak ingin dikebumikan kecuali dengan terus mencium rambutnya Rasulullah SAW. Demikianlah Mahabbah, demikianlah cinta sang Imam kepada Nabi Muhammad SAW.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, demikian pula Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas bin Malik, seorang yang sangat mencintai Rasul SAW (Anas bin Malik adalah khadam Rasulullah SAW). Imam Malik ini kalau ditanya, maka ia berkata, “Kau mau tanya soal hadits atau soal hukum. Kalau bicara hukum, aku jawab langsung. Kalau tanya soal hadits, tunggu dulu.” Jika orang bertanya hadits, beliau berwudhu, setelah berwudhu lalu memakai minyak wangi, memakai siwaknya, memakai sipat matanya lantas memakai jubahnya baru berkata “Qaala Rasulullah Saw”. Demikian Imam Malik bin Anas bin Malik alaihi rahmatullah. Beliau adalah seorang imam di Madinah Al Munawarrah dan menjadi pemimpin para ahli hadits di zamannya seraya menulis kitab hadits yang dinamakan : Almuwaththa’ (yang menginjak). Kenapa kitab haditnya ini dinamakan kitab yang menginjak? Karena menundukkan seluruh kitab hadits di masanya, demikian Imam Malik bin Anas bin Malik.
Hadirin – hadirat ketika generasi mereka semakin sirna, Al Imam Ibn Hajar mengklasifikasikan bahwa derajat ahli hadits yang pertama Al Hafidh yaitu yang hafal 100.000 hadits beserta sanad dan hukum matannya dan diatasnya terdapat lagi Hujjatul Islam yaitu yang hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Maka kita mengenal Hujjatul Islam Al Imam Ghazali, beliau ini telah sampai derajat haditsnya melebihi 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Jika orang di masa sekarang meremehkan fatwa Imam Ghazali, hati – hati beliau itu hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Demikian juga Hujjatul Islam Al Imam Nawawi dan masih banyak lagi para perawi hadits dan para muhadditsin dari masa ke masa. Tinggallah kita di masa kini yang mesti harus terus membangun generasi para ulama.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Allah Swt terus memuliakan umat ini dari zaman ke zaman, walaupun mereka sudah semakin hari semakin kekurangan ilmu tapi mereka masih mempunyai sanad, mereka masih mempunyai pertalian guru, mereka berguru pada gurunya, gurunya berguru pada gurunya sampai kepada ahli hadits sampai kepada Rasulullah Saw.
Demikian hadirin – hadirat hingga masa kini sangat berharga kita mencari guru yang mempunyai sanad, yang mempunyai hubungan pertalian dengan guru – guru para ahli hadits, para ahli alqur’an, para ahli fiqh dan para ahli syariatul muthaharoh sehingga ilmu kita jelas mengikuti guru yang mempunyai guru yang jelas sanadnya. Berbeda dengan orang yang sembarang m engambil guru, tidak mengetahui gurunya hanya mempunyai buku dan setelah itu fatwanya hanyalah terikat pada huruf – huruf di bukunya. Ketika dimintai pertanggungjawaban di yaumal qiyamah, ia tidak bisa membawa pertanggungjawabnnya karena sanadnya bersambung kepada hal yang terputus.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Di malam hari yang diberkahi Allah Swt ini, kita telah mendengar bagaimana Rasul Saw memberi semangat kepada kita untuk membangkitkan kembali generasi ulama, membangkitkan kembali generasi sunnah Nabi kita Muhammad Saw.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Oleh sebab itu mari kita benahi umat, kita benahi diri kita kalau seandainya kita sibuk dengan pekerjaan, niatkan keturunan kita kelak menjadi ulama, menjadi pewaris para Nabi, menjadi pejuang syariatul muthaharoh.
(majelisrasulullah.org)
Tinggalkan Balasan