Perlukah Ta’wil?

Mayoritas salaful ummah beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat tanpa menjelaskan maknanya. Namun bukan berarti mena’wil ayat-ayat tersebut adalah terlarang. Mena’wilkan atau menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan kaidah tafsir yang telah ditetapkan adalah boleh jika diperlukan.

Perlukah ta’wil itu saat ini? Ketika ahlul bid’ah muncul dan berkata bahwa ayat-ayat mengenai sifat-sifat Allah seperti istiwa, turun, dsb bukanlah ayat-ayat tasybih, sehingga tidak ada ta’wil bagi ayat-ayat tersebut, artinya ayat-ayat tersebut harus dimaknai secara harfiah, maka pada saat itulah ta’wil diperlukan untuk menyelamatkan aqidah kebanyakan orang. Ahlul bid’ah yang dimaksud adalah kaum mujassimah dan musyabbihah.

Adapun ta’wil adalah memalingkan suatu lafal dari makna lahir. Ta’wil juga bisa disebut sebagai tafsir. Maka metode ta’wil mempunyai aturan dan syarat yang sama dengan tafsir. Sehingga hanya orang-orang yang memenuhi syarat-syarat mufassir saja yang boleh mena’wil.

Diantara ayat mutasyabihat itu adalah surat Thoha ayat 5, yang terjemahnya: “Ar-Rahman beristiwa di atas arsy.” Ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang ayat ini, beliau menjawab, “Istiwa di atas arsy terserah pada Allah dan bagaimana saja Dia Kehendaki dengan tiada batas dan tiada seorang pun yang sanggup menyifatinya.”

Jawaban Imam Ahmad tidak menunjukkan bahwa ayat tersebut adalah muhkamat. Justeru beliau menunjukkan bahwa hanya Allah yang lebih tahu tentang bagaimana ta’wil dari ayat tersebut. Begitulah sifat ayat mutasyabihat, hanya Allah Yang lebih tahu tentang ta’wilnya. Dan tidak ada yang dapat menghalangi Allah jika Dia berkehendak menjelaskan ta’wilnya kepada sebagian kecil ulama. Sikap Imam Ahmad yang enggan mena’wilkan bukan karena ayat itu tidak memerlukan ta’wil sehingga dianggap ayat muhkamat. Tetapi beliau enggan mena’wilkan, karena memang hanya Allah saja yang lebih tahu tentang ta’wilnya. Namun ketika muncul kaum mujassimah dan musyabbihah, maka mena’wilkan ayat-ayat seperti itu adalah jalan yang lebih selamat.

Paham mujassimah berbeda dengan paham yang dipegang Ahmad ibnu Hanbal. Mereka berkata bahwa yang tidak diketahui adalah bagaimana istiwa’nya. Padahal yang benar adalah bahwa yang tidak perlu dicari itu adalah bagaimana ta’wil dan ma’na dari kata istiwa’. Tidak perlu dicari ta’wilnya pada zaman beliau, tetapi perlu dita’wil ketika muncul kaum mujassimah dan musyabbihah.

Allah Lupa

“Nasuullaha fanasiahum” Mmereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka) [QS At-Taubah: 67]
“Innaa nasiinaakum”. (Sungguh Kami telah lupa pada kalian) [QS. As-Sajdah: 14]

Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dg sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : “dan tiadalah tuhanmu itu lupa” (QS. Maryam: 64)

Allah Sakit

diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : “Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yg dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, “wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125)

Tangan Allah dan Nuzul

Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”; [QS. Ali Imran: 73]

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman : ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya, siapa yang memohon kepada-Ku, niscaya Aku memberinya, siapa yang meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuninya?”

Kaum mujassimah berkata bahwa ayat dan hadits seperti itu tidak memerlukan ta’wil. Artinya ayat dan hadits seperti itu harus diterima secara harfiah dan tidak dipalingkan dari makna harfiahnya. Lalu mereka mempermanisnya dengan kata-kata, “Namun Tangan Allah tidak seperti tangan manusia,” atau “Namun turunnya Allah tidak seperti turunnya manusia,” dsb. Jadi mereka beranggapan bahwa Allah benar-benar mempunyai tangan, maka mereka telah menjisimkan Allah. Dan mereka beranggapan bahwa Allah benar-benar turun, secara harfiah. Dan itulah penyerupaan. Adapun kata-kata dibelakangnya hanyalah pemanis untuk mengecoh ummat. Pengakuan kaum mujassimah sebagai kaum salaf perlu ditinjau kembali.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *