Menanti Sanad Sang Ustadz

Dalam Bible dikatakan bahwa Petrus dan Barnabas yang merupakan murid langsung dari Yesus telah mengajarkan unitas (Tauhid). Lalu datanglah Paulus yang mengaku sebagai murid Yesus. Padahal dia tidak pernah bertemu dengan Yesus secara langsung. Dia hanya mengaku-ngaku saja bahwa ia telah melihat Yesus dalam ‘penampakan’. Lalu Paulus mengajarkan trinitas. Sebagai orang yang cerdas dan ilmiah, semestinya Kristiani lebih memilih Petrus dan Barnabas daripada Paulus. Sanad menjadi penting, karena ia menentukan siapa yang lebih punya otoritas dan layak sebagai pewaris da’wah para Nabi.

Khawarij

Ketika Ali dan Muawiyah setuju untuk bertahkim, sekelompok kaum kecewa dam berkata, “Mengapa kalian berhukum kepada manusia? Tidak ada hukum selain hukum yang ada di sisi Allah.” Sayyidina Ali berkata, “Itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan dengan keliru.” Lahirlah kaum Khawarij yang terkenal ghuluw (ekstrim) dan mudah menganggap kafir orang-orang di luar kelompoknya. Mereka membaca Al-Qur’an dan Hadits yang sama, tetapi mereka menafsirkannya secara berbeda. Karena guru mereka bukanlah guru yang bersambung sanad ilmunya kepada Rasulullah SAW. Penafsiran mereka didasarkan kepada penafsiran guru-guru mereka, yang penafsiran seperti itu tidak diajarkan Rasul dan ulama-ulama yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah SAW. Maka penafsiran dan ajaran siapa yang lebih layak kita ambil? Ajaran khawarij ataukah ajaran para pewaris Nabi? Ajaran mereka yang terputus sanadnya ataukah ajaran mereka yang bersambung sanadnya?

Mu’tazilah

Ketika Wasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Hasan Al-Basri di Masjid Bashrah, datanglah seseorang yang bertanya mengenai pendapat Hasan Al-Bashri tentang orang yang berdosa besar. Ketika Hasan Al-Bashri masih berfikir, Wasil bin Atho mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan, “Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah mu’min dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi di antara keduanya, tidak mu’min dan tidak kafir.” Kemudian Wasil menjauh memisahkan diri dari Hasan Al-Bashri dan pergi ke tempat lain di lingkungan Masjid. Di sana Wasil mengulangi pendapatnya di hadapan para pengikutnya. Hasan Al-Bashri berkata, “Wasil memisahkan diri (i’tazaala) dari kita.”

Wasil mengajarkan apa-apa yang tidak diajarkan Rasul dan para pewarisnya SAW. Wasil memisahkan diri dari Hasan Al-Bashri yang sanad ilmunya bersambung. Dan sebagian orang di zaman ini telah mengikutinya. Maka terputuslah sanad Wasil dan para pengikutnya dari Rasulullah SAW.

Mana Sanadmu?

Saat ini, banyak pemuda mengikuti ustadz-ustadz yang sanadnya tidak jelas dan pendapatnya bertentangan dengan para pewaris Nabi. Sedangkan para pewaris Nabi memahami Al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul dari generasi ke generasi secara benar dan konsisten. Namun anehnya, para pemuda ini lebih percaya kepada ustadz-ustadz yang sanad gurunya tidak jelas daripada kepada para pewaris Nabi. Terkadang para pemuda ini merasa bahwa mereka orang yang cerdas yang dapat memfilter perkataan keliru sang ustadz dha’if. Jika ada ulama shahih, mengapa kita harus belajar kepada ustadz dha’if? Dengan apa kita memfilter? Dengan Al-Qur’an dan Hadits yang ditafsiri sesuai aqal manusia sok cerdas? Para pemuda ini merasa bahwa mereka telah pantas mentarjih, berijtihad, dsb. Ilmu apa yang telah mereka miliki hingga merasa pantas menjadi mujtahid? Dari mana mereka mendapat ilmu seperti itu? Dari para pewaris Nabi? Dari ulama shahih? Atau justeru dari buku-buku karangan ustadz-ustadz dha’if yang tidak jelas sanadnya? Mereka ini, jika dimintai untuk menjelaskan sanad ilmu mereka, mereka tak dapat menyebutkannya. Tetapi dengan seenaknya mereka mendha’ifkan hadits hasan. Tanpa sanad mereka bicara semaunya. Berlagak seperti mujtahid, padahal ilmunya tak seberapa.

Salah satu di antara mereka ada yang meminta saya untuk menyebutkan sanad guru saya. Insya Allah itu mudah bagi saya. Maka saya katakan padanya bahwa jika saya bisa menyebutkan sanad guru saya dan dia tidak bisa, maka dia harus bertaubat dari mengikuti Abdul Aziz bin Baz, al-Utsaimin dan kelompoknya dan ikut kepada guru kami. Jika saya tidak bisa menyebutkan sanad guru saya dan dia bisa menyebutkan sanad ustadz-ustadznya yang salafy, maka saya akan ikut salafy dan meninggalkan guru saya. Tetapi jika kami sama bisa menyebutkan sanad kami masing-masing, maka silahkan masing-masing dari kami mengikuti guru-guru kami seperti semula.

Namun hingga saat ini, dia belum muncul lagi untuk menanggapi. Jika ada temannya yang sanggup, silahkan saja. Kami nantikan sanad ustadz Anda. šŸ™‚

Komentar

5 tanggapan untuk “Menanti Sanad Sang Ustadz”

  1. Avatar Abul Miqdad
    Abul Miqdad

    Wawasan anda sangat sempit…zaman sekarang -meski tradisi sanad tetap penting untuk dilestarikan-, tapi semua sanad telah terbukukan dalam karya-karya para ulama. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana memahami kandungan dari hadits-hadits Nabi (dirayah). Fenomena “mengumpul-ngumpul sanad” juga sudah lama dikritik para ulama salaf kalo hanya membuat orang tertipu dengan sanadnya, padahal ia sendiri nggak paham apa kandungan hadits atau riwayat tersebut.
    Para ulama yang Anda sebutkan: Imam Abdul Aziz bin Baz dan Imam Muhammad al-‘Utsaimin adalah ulama yang memiliki sanad, hanya saja mereka tidak termasuk orang yang suka menggembar-gemborkan sanad tersebut, sebab yang lebih penting dari itu: Anda paham kagak ama kandungan hadits itu ato kagak?

    Intinya: di zaman sekarang-bahkan sejak zaman dahulu-, “memiliki sanad” tidak identik dengan “memiliki pemahaman yang benar” (Kalo ada waktu, saya akan nukilkan penjelasan imam-imam hadits seperti: al-Khathib al-Baghdadi, al-Dzahaby, Ibnu Katsir, Abu Syamah al-Maqdisy, dsb).

    By the way, tanpa bermaksud riya’ dan takabbur, saudaraku…alhamdulillah hamba yang faqir ini juga telah mendapatkan sanad dari lebih 10 orang ulama abad ini yang semuanya bersambung kepada para penyusun al-Kutub al-Tis’ah, kitab-kitab hadits lainnya, disamping sanad ke karya para ulama besar.

    Abul Miqdad al-Madany
    abulmiqdad@gmail.com
    abulmiqdad.multiply.com
    abul-miqdad.blogspot.com

    Kesannya Anda dan kelompok Anda ngerti makna kandungan hadits ya…
    Padahal tafsiran Anda dan kelompok Anda banyak yg keliru dan bertentangan dengan ajaran Rasul.
    Yang namanya sanad itu harus diajarkan dan diberitahukan. Apakah mengajarkan dan memberitahukan sanad itu dikatakan menggembar-gemborkan dan pamer sedangkan ia termasuk sebagian dari agama?

    Bagaimana mungkin seorang yg mengerti kandungan Al-Qur`an dan Hadits namun mengatakan bahwa Nabi itu abtar, tawassul dg nabi itu bid’ah, dzikir berjama’ah itu bid’ah, lalu mengatakan bahwa ayat2 seperti “Allah istiwa di ‘arsy” itu ayat muhkamat yg tidak perlu dita’wil?

  2. Avatar IWAN
    IWAN

    Mau tanya neh, sah atau tidak amalan org islam yg ilmunya hanya dari baca buku agama atau ndengerin ceramah ustad yg gak bersanad? trus kalo di sekitar kita gak ada ustad yg bersanad apakah kita gak usah beramal saja daripada nanti keliru?

    šŸ™‚ Jika amalan itu sesuai dengan syari’at Islam dan diniatkan dengan benar, maka amalan itu sah.
    Jika ustadz itu tidak diketahui sanadnya, maka lihatlah ilmunya, apakah sesuai dengan ilmu yang diajarkan oleh ustadz yang jelas sanadnya atau apakah sesuai dg ajaran mayoritas ummat Islam. Karena saat ini banyak juga kelompok2 sempalan yg mengaku sebagai ASWAJA padahal ajarannya berbeda dengan ajaran ASWAJA, mengaku dari mazhab yg empat tetapi ternyata ajarannya berbeda dg aajran mazhab yg empat. Di situlah gunanya kita belajar kepada ustadz. Membaca buku itu baik, tetapi hanya belajar dari buku saja, itu berbahaya. Beramal, selama kita masih mengaji kepada ustadz yang benar, maka kekeliruan kita dalam beramal akan dimaafkan jika ilmu tsb belum sampai. Demikian akhi.

  3. Avatar IWAN
    IWAN

    Jadi intinya ilmu itu hrs sesuai Quran & hadis serta mengikuti pemahaman ulama salaf meskipun disampaikan oleh ustad tak bersanad atau cuma baca buku
    saja, begitu kan.

    Hrs sesuai Qur`an dan hadits serta mengikuti pemahaman ulama sahih meskipun disampaikan oleh ustadz tak bersanad. Jika dikatakan ‘ulama salaf’, ulama salaf yg bagaimana yg Anda maksud. Orang salafy mengaku bahwa ustadz2 mereka adalah ulama salaf, padahal bukan. Sekali lagi saya katakan bahwa membaca buku itu baik, tetapi hanya belajar dari buku saja, itu berbahaya.

    Sekarang coba Anda fikir, lalu jawab dengan jujur. Apakah ulama salaf membid’ahkan dzikir berjama’ah seperti halnya pembid’ahan terhadap dzikir berjama’ah yg dilakukan kelompok sempalan yg menamakan diri mereka ‘salafy’?

  4. Avatar IWAN
    IWAN

    Kalo ada yg ngomong bhw ustadnya ulama salaf berarti dia ngigau sebab para ulama salaf itu skrg adanya di kuburan mrk. Mungkin maksudnya ngikuti pemahaman para ulama salaf. Mau dzikir jamaah ya silakan mau sendirian ya boleh, gitu aja kok repot.

  5. Avatar bambangsoekotjo
    bambangsoekotjo

    coba saudara abul miqdad…..tujukin disini sanad yg ente punya
    semua nye

    ane tunggu

Tinggalkan Balasan ke IWAN Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *