Muhammad Abduh Sang Mujaddid?

Taqlid merupakan tindakan mengikuti pendapat dan metode yang digunakan oleh para salafush shalih dalam agama. Sedangkan tajdid merupakan kebalikan dari taqlid. Tajdid atau pembaharuan adalah istilah yang digunakan bagi mereka yang tidak mengikat diri kepada salah satu madzhab.

Orang yang melakukan tajdid itu umumnya lebih mendahulukan aqal dari pada wahyu. Mereka memberikan porsi peranan yang lebih besar kepada aqal daripada kepada wahyu. Mereka sering disebut juga sebagai kaum rasionalis. Mereka tidak mengenal sistem madzhab. Mereka merasa bahwa aqal mereka cukup cerdas untuk mentarjih pendapat para Imam terdahulu dan ilmu mereka cukup luas untuk memilih dalil mana yang lebih shahih dan kuat.

Sementara orang yang bertaqlid biasanya disebut sebagai tradisionalis, karena mereka memang menjaga tradisi para ulama terdahulu yang mengenal sistem madzhab yang mempersilahkan orang kebanyakan untuk taqlid kepada ulama yang memang layak berijtihad.

Rasionalisme dalam Islam semakin berkembang melalui Muhammad Abduh yang mengagumi Syaikh Hasan ath-Thawil yang mengajarkan kitab filsafat karangan Ibnu Sinna, logika karangan Aristoteles dan lain sebagainya.

Muhammad Abduh sangat membenci sikap taqlid, hal ini sebenarnya mulai dia rasakan sejak menginjak al-Azhar, dimana dia mendapati terpolanya 2 pemahaman, yaitu kaum mayoritas yang penuh taqlid dan hanya mengajarkan kepada siswa-siswanya tentang pendapat-pendapat ulama terdahulu, sementara kaum minoritas adalah mereka yang suka akan pembaruan Islam (pola Tajdid) yang mengarah pada penalaran dan pengembangan rasa.

Salah satu pemikiran dan keinginan dari Muhammad Abduh adalah membebaskan akal pikiran dari belenggu taqlid dengan cara memahami langsung dari sumber pokoknya : al-Qur’an. Abduh menilai bahwa kitab-kitab tafsir pada masanya dan masa-masa sebelumnya tidak lain kecuali pemaparan berbagai pendapat ulama yang saling berbeda dan pada akhirnya malah menjauh dari tujuan diturunkannya al-Qur’an.

Menurutnya, sebagian kitab-kitab tafsir itu sedemikian kering dan kaku karena penafsirnya hanya mengarahkan perhatian kepada pengertian kata-kata atau kedudukan kalimatnya dari segi i’rab dan penjelasan lain menyangkut segi teknis kebahasaan yang dikandung oleh redaksi ayat-ayat al-Qur’an. Oleh karena itu, kitab-kitab tafsir tersebut cenderung menjadi semacam latihan praktis dalam bidang bahasa dan bukan kitab tafsir yang sesungguhnya. Muhammad Abduh berpendapat bahwa wahyu al-Qur’an menuntut pembuktian secara akal mengenai klaim-klaim yang disampaikannya. Hal ini dilatari kegemarannya pada filsafat Yunani yang menuntut kebenaran ilmiah. Sehingga banyak hadits dan peristiwa dalam Islam, yang menurutnya bertentangan dengan aqal, kemudian diingkari atau ditafsiri sesuai dengan aqalnya semata. Diantara hal yang dipersoalkan Muhammad Abduh adalah keshahihan peristiwa Isra` Mi’raj dengan ruh dan jasad. Menurutnya, hal ini tidak masuk aqal.

Muhammad Abduh tidak menghiraukan segi-segi ma’tsur, tidak pula memperhatikan cara pentakhrijan serta sejarah yang menyangkut ayat-ayat al-Qur’an. Karenanya tidak heran bila banyak hadits-hadits yang dianggap shahih sejumlah ulama malah ditolak dan diabaikan olehnya hanya karena dianggap tidak sesuai dengan pemikiran logis atau tidak sejalan dengan redaksi ayat-ayat al-Qur’an. Sebaliknya ada juga hadits atau riwayat yang oleh ulama dinilai lemah justru dikukuhkan oleh Muhammad Abduh karena kandungannya sejalan dengan pemikiran logis.

Begitulah kaum rasionalis yang menganggap diri mereka sebagai mujaddid. Mereka mengedepankan aqal dan menjadikan Al-Qur`an sebagai mu`in (penolong) di belakang aqal mereka. Maka bohonglah mereka jika mereka berkata bahwa tidak ada Imam selain Al-Qur`an. Justeru mereka telah menjadikan aqal sebagai Imam.

Pola rasionalisme ini kemudian dianut pula oleh Hassan Al-Banna dan kemudian oleh para pemuda yang lemah aqal namun merasa bahwa dirinya cukup cerdas untuk mentarjih dan berijtihad. Bukan hanya Hassan Al-Banna dan aktivis Ikhwanul Muslimin yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh, bahkan para pemuda Salafy pun melakukan apa yang dilakukan Muhammad Abduh. Mereka menolak untuk bertaqlid dan lebih memilih untuk berijtihad layaknya seorang ulama besar. Bahkan rasionalisme semacam inilah yang melahirkan liberalis-pluralis seperti Nur Cholis Majid (Cak Nur) dan Ulil Abshar Abdalla. Maka muncullah pertanyaan di benak kita. Benarkah gerakan mereka ini dalam rangka memurnikan agama, ataukah justeru mengotorinya? Benarkah mereka melakukan gerakan pembaruan dalam artian membuat agama Islam ini kembali seperti baru munculnya dahulu seperti jika Anda membeli suatu barang, kemudian rusak, lalu Anda memperbaiknya sehingga kembali seperti baru Anda beli dahulu? Atau justeru merupakan gerakan pembaruan dalam artian membuat agama baru yang agak berbeda dengan agama sebelumnya yang jika menggunakan istilah Ulil adalah re-embodiment?Jika Anda memang orang yang cerdas, harusnya Anda sadar betul akan kemana arah Muhammad Abduh dan para pengikutnya.

Komentar

4 responses to “Muhammad Abduh Sang Mujaddid?”

  1. Avatar hujan
    hujan

    entah diposisi mana dia. di satu sisi dia menghujat orang yang mendahulukan akal dan tidak menganggap Al-qur’an sebagai imam. di sisi lain ia, menghujat sekelompok orang yang benar-benar menjunjung tinggi Al-qur’an.sungguh suatu kebodohan

    Yang menghujat orang yg menjunjung tinggi Al-Qur`an itu siapa? Dan yang Anda maksud dengan sekelompok orang yg menjunjung tinggi Al-Qur`an itu siapa?

    Begitulah kaum mu’tazilah. Konyolnya, orang seperti Muhammad Abduh itu kemudian diikuti oleh Muhammad Rasyid Ridho dan juga Hassan Albanna pendiri IM. Konyolnya lagi, banyak pemuda Indonesia yg katanya intelek malah mengidolakan Hassan Albanna dan mendirikan partai dengan lambang yg aneh.

    1. Avatar wahabitolol

      Saya setuju dgn penulis. Krn org2 yg disebutkan penulis spt mhd abduh,hasan al bana,sayid qutb,yusuf qardhawi,syekh njd bin abdul wahabi,bin baz,albani dsb tak pantas diikuti.krn mrk tak mengikuti ijtima,qiyas para ulama terdahulu yg bersumber alquran dan hadits yg keilmuan mereka bersanad smp rasulullah baik ilmu tafsir alquran,hadits,fiqh dsbny .para ulama ini mempunyai guru2 dan mrk belajar langsung kpd guru2 mrk,kmdn guru mrk mempunyai gury yg bersanad smp ke Rasululloh SAW. Smntra mrk yg sok merasa pembaharu mrk tak bersanad,tak mempunyai guru dlm ilmu agama dan mengikuti jumhur ulama madzhab terdahulu. Ulama terdahulu saja bermzhab,kok mlh mrk skrg berani memishkan dr ulama pewaris nabi. Alangkah ruginya pengikut mrk ini,yg diikutinya tak mempunyai guru dan tak bersanad smp ke Rasululloh
      Mrk belajar hny melalui buku,mrk asingkan para ulama yg mengerti isi2 kitab tsb,mrk ambil mnrt nafsu syahwat mrk. Naudzubillah min zalik. Inilah golongan pendusta agama. Mrk berfatwa seakan mrk setingkat Imam Mujtahid,pdhl ilmunya tak ada. Khatam alquranpun mrk tak lakukan,hapal 1 hadits bersta sanad dan matannya saja tak bisa,berzikir dan sholawatpun tak mau. Inilah akhir zaman dimn musuh2 Islam menciptakan org yg mrk didik utk menghancurkan Islam. Mrk itu tak berhak berfatwa krn mrk bkn muhaddits,mufassir apalagi hujjatul islam dan imam mujtahid. Akal dan pikiran syetanlah yg menghancurkan aqidah mrk. Wahai para pengikut mrk sadarlah. Jgn sok berilmu,tp kosong bunyinya. Kln tak berhal berfatwa krn kln bkn ahli dalam agama.

  2. Avatar damai
    damai

    sudahlah tidak usah saling menghina satu dengan yang lain, selama itu tidak sesat dan menyesatkan. Biarkanlah mereka menjalankan syariat yang mereka ketahui selama berumber dari al Qur;an dan Sunnah. Dan gak usak saling merasa benar. Tidakkah anda sadar diluar sana musuh2 Allah sedang menyusun siasat untuk menghancurkan agama Allah yang mulia

    kalo sesat menyesatkan gmn? Anda sadar ga kalo musuh2 islam telah menjalankan siasat mereka melalui orang2 spt m abduh?

  3. Avatar Ubaidillah, ST.,M.Sc.
    Ubaidillah, ST.,M.Sc.

    Artikel yang bagus, namun akan menjadi ilmiah jika ada rujukan yang jelas. Mohon antum bisa update tulisan yg bagus ini.

    Matur nuwub

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *