Dalam Islam, tujuan akhir ummat Islam adalah Allah. Mengapa ummat Islam beramal shalih? Tujuannya adalah agar dapat berjumpa dengan Allah.
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [QS. As-Sajdah: 19]
Jadi, orang yang beriman, yaitu yang mengakui bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah, dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka mereka masuk surga. Namun surga itu ada tingkatan-tingkatannya. Tingkatan surga yang didapatnya itu tergantung dari amal shalih yang dikerjakannya. Semakin banyak amal shalihnya, semakin tinggi tingkatan surga yang didapatnya, dan semakin sering dan jelas ia memandang Allah. Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa seseorang dapat masuk surga itu karena amalnya. Yang benar itu bahwa seseorang itu masuk surga karena kasih-sayang Allah yang telah menjadikan dia Muslim dan Mu`min. Amal shalih itu untuk menentukan derajat surganya. Dan tidaklah seorang Muslim dan Mu`min itu dapat beribadah kecuali dengan kasih-sayang Allah yang telah memberinya taufiq dan hidayah serta kemudahan dalam beribadah.
Sedangkan Nabi Muhammad adalah teladan bagi ummat Islam. Dengan mengikuti jejak beliau itulah kita bisa sampai kepada Allah.
Katakanlah (wahai Muhammad) : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)
Sedangkan Al-Qur’an merupakan pedoman, di dalamnya terdapat perintah dan larangan bagi mereka yang ingin berjumpa dengan Allah.
Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqoroh: 2)
Jika Anda benar-benar membaca Yohanes 14:6, maka jelaslah bahwa Yesus ingin agar Anda menjadikan dirinya sebagai teladan, bukan sebagai Tuhan. Nabi Isa tidak berkata dari dirinya sendiri, dia hanyalah menyampaikan wahyu dari Allah, sama seperti Nabi Muhammad, hanya menyampaikan wahyu.
Kawanmu (yaitu Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [QS. An-Najm: 2-4]
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus … Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. [Yohanes 17:3,7,8]
Nabi Isa adalah utusan (rasul) Allah, sebagaimana Nabi Muhammad juga utusan Allah. Semua Rasul Allah mempunyai misi yang sama, yaitu mengajak manusia untuk mengesakan Allah dan membimbing manusia untuk menapaki jalan yang lurus. Segala wahyu yang Allah sampaikan kepada para Rasul adalah untuk menunjuki manusia akan jalan lurus itu. Dan Rasul terakhir yang membawa syariat yang final adalah Nabi Muhammad. Syari’at yang lebih tegas dari apa yang dibawa Nabi Isa, namun lebih lunak dari apa yang dibawa oleh Nabi Musa, syari’at pertengahan. Inilah syari’at yang akan digunakan oleh Nabi Isa untuk menghukum manusia pada kedatangannya yang kedua. Katakan kepadaku, jika Nabi Isa menggunakan Injil untuk menghukum manusia, lalu apa yang akan ia lakukan kepada orang yang berzina? Apa yang akan dilakukannya terhadap orang yang membunuh? Apa yang akan dilakukannya terhadap orang yang merampok? Nabi Isa akan menghukum manusia dengan Al-Qur`an. Karena itulah dia menjadi hakim yang adil, dengan menjalankan hukum yang adil, yaitu Al-Qur`an.
Kristiani sering berkata, “Bagaimana Anda dan ummat Islam percaya bahwa Muhammad itu mengajak kepada keselamatan sedang dia sendiri minta didoakan?” Ketahuilah jika Anda mengucapkan shalawat dengan iman dan Islam, maka syafaat itu akan diberikan kepada Anda. Jadi, manfaatnya untuk Anda sendiri, bukan untuk Nabi Muhammad. Nabi Muhammad itu sudah dijamin untuk masuk surga. Anda dan kawan-kawan Anda telah dicekoki informasi yang salah tentang Islam.
Sekarang, bagaimana jika perkataan serupa diterapkan kepada Yesus? Bagaimana Yesus akan menyelamatkan Anda, sedangkan dia sendiri telah sujud dan berdoa untuk diselamatkan dari penyaliban? Juruselamat yang memohon untuk diselamatkan? Jika ia memang ingin menyelamatkan Anda melalui penyaliban, mengapa ia meminta agar diselamatkan dari penyaliban? Ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin Yesus memang bukan Juruselamat. Kedua, mungkin karena penyaliban memang bukan untuk menyelamatkan manusia. Jika benar bahwa Yesus adalah juruselamat dan penyaliban adalah untuk menebus dosa manusia, lalu mengapa ia tidak mau disalib dan malah meminta agar terhindar dari penyaliban?
Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
Yesus sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar dapat menyelamatkan dirinya dari tentara Roma dan para imam Yahudi. Namun Allah Yang Mahatahu lagi Mahakuasa telah mengangkat Nabi Isa ke langit dan mengubah seseorang menjadi serupa dengan Nabi Isa dalam hal rupa dan suara. Maka orang itulah yang telah disalib. Begitulah cara yang Allah kehendaki untuk menyelamatkan Nabi Isa. Sungguh, Allah tidak tuli terhadap doa orang-orang yang shalih.
Tinggalkan Balasan