Mengapa Mencantumkan Ayat Alkitab

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.(QS. Al-Baqoroh : 79)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nashoro telah mengarang kitab-kitab, lalu berkata, “Ini adalah inspirasi dari Allah.” Padahal itu bukanlah yang diwahyukan Allah. Taurat yang mereka pegang itu jelaslah bukan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa dan bukan pula salinan langsung dari Taurat Nabi Musa. Akan tetapi itu merupakan kitab yang ditulis pada saat pengasingan di Babilonia, beratus-ratus tahun setelah Nabi Musa wafat. Ayat-ayatnya tentu tak sama persis dengan ayat-ayat Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa. Begitu pula kitab-kitab para Nabi, itu merupakan kitab kisah para Nabi versi pendeta Yahudi.

Injil telah diturunkan kepada Nabi Isa. Namun setelah beliau diangkat ke langit, para pengarang menulis kitab-kitab tentang Nabi Isa lalu dikatakan bahwa itu adalah inspirasi dari Allah. Tanyakan kepada orang Kristen, apakah Injil Matius, Injil Lukas, Injil Markus, dan Injil Yohanes merupakan kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa? Tentu mereka yang jujur akan berkata bahwa keempat Injil itu bukanlah Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa.

Tidak hanya itu, selain bukan merupakan salinan dari kitab Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa, Alkitab yang dipegang orang Kristen saat ini juga berbeda dengan manuskrip-manuskrip abad pertama. Hal ini diakui oleh sarjana-sarjana mereka.

Jika mereka bertanya kepada Muslim, “Mengapa Anda masih mencantumkan ayat-ayat Alkitab sebagai pendukung pendapat Anda?” Perlu diketahui bahwa kami tidak menggunakan Alkitab sebagai dasar agama kami sebagaimana Kristiani menggunakan kitab orang Yahudi sebagai kitab suci mereka. Dasar agama Islam adalah Kitabullah wa Sunnatur Rasul (Al-Qur’an dan Hadits). Lalu untuk apa saya mencantumkan ayat-ayat Alkitab? Karena orang Kristen masih percaya kepada kitab palsu tersebut. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kitab palsu yang mereka percayai pun mendukung ajaran Islam. Apalagi kitab asli yang diturunkan kepada para Nabi, tentu lebih jelas lagi dalam mendukung ajaran Islam.

Jadi sekarang pertanyaanya adalah jika mereka sadar bahwa Alkitab mereka penuh dengan kesalahan, lalu mengapa mereka masih menganggap Alkitab mereka sebagai kitab suci yang mendasari iman mereka? Bukankah itu merupakan kejahilan yang nyata? Maka celakalah mereka yang menulis kitab palsu karena kedustaan mereka dan karena mereka telah menyesatkan banyak manusia melalui kitab palsu mereka. Dan celakalah mereka yang mengajak manusia untuk mengikuti kesesatan itu, kesesatan yang didasari oleh kitab yang mereka ketahui sebagai kitab palsu.

Komentar

4 tanggapan untuk “Mengapa Mencantumkan Ayat Alkitab”

  1. Avatar panjul
    panjul

    sadar n insyaflah……

  2. Avatar Kucrut
    Kucrut

    dasar panjul…
    gw kagak pingsan…udah sadar dari dulu….

    Jadi Anda dah sadar dari dulu bahwa Alkitab Anda itu palsu…? :em32:

  3. Avatar suma
    suma

    insyaplah wahai manusia :em61: :em29:

  4. Avatar Rivo Kigen Lempas
    Rivo Kigen Lempas

    Saya orang Kristen..
    Anda memang benar, kami menggunakan kitab yang ditulis oleh manusia. Tapi perlu anda ketahui saya percaya Yesus bukan karena apa yang kulihat atau apa yang ku dengar ataupun apa yang ku baca. Saya percaya karena iman. Iman saya bertumbuh bukan dari cerita orang, tapi dari apa yang telah nyata Dia lakukan dalam hidup saya.
    Alkitab yang saya baca setiap hari adalah referensi, dan bagiku itu tidak ada bedanya dengan buku – buku yang lain. Namun iman saya akan tetap teguh karena Dia benar-benar menyatakan kasih-Nya dalam hidupku dan pastinya hidup anda juga.

    Ya, saya tahu Anda dan sebagian orang Kristen memang begitu. Itulah yg disebut kebutaan. Mencintai Allah itu haruslah dengan hati, aqal-budi dan perbuatan. Tanpa aqal-budi, tanpa ilmu, maka itu adalah kebutaan. Itu iman buta, keyaqinan buta.

Tinggalkan Balasan ke Rivo Kigen Lempas Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *