Makin lama, PKS makin konyol. Mereka memaksakan akronim PKS dalam berbagai kampanyenya. PKS terlihat lebih sering memberikan slogan-slogan kosong dari pada visi misi yang jelas. Lebih sering membuat citra gaul dan merangkul semua kalangan daripada langkah kerja kongkrit. Tetapi itu semua tetap tak dapat menghapus kesan kaku dan eksklusif para kadernya.
Inilah diantara celotehan mereka yang terlihat tidak dewasa.
SBY itu PKS, Presiden Keren Sekali.
Jusuf Kala itu PKS, Putera Kelahiran Sulawesi.
Megawati itu PKS, Puteri Keluarga Soekarno.
Gus Dur itu PKS, Priayi Kalangan Santri.
Rasulullah itu PKS, Panutan Kita Semua.
Untuk hal ini, saya pinjam komentar Romy Rafael di acara audisi magician, “So what?” Apa yang ingin ditunjukan oleh slogan-slogan anak kecil seperti ini? Apakah mereka fikir bahwa mereka sedang bicara kepada anak kecil? Apakah itu menunjukkan dalil bahwa PKS berada di jalan yang benar? Bagaimana kalau saya buat akronim seperti di bawah?
PKS= Partai Komunis Sosialis
PKS= Pemuda Kurang Sehat
PKS= Pemuda Kurang Sholawat
PKS= Pijat Karaoke Seks
PKS= Pencetak Kader Sesat
PKS= Pengikut Kiyai Sableng
PKS= Partai Kedekut Sangat
Dan masih banyak lagi slogan-slogan aneh yang bisa Anda buat dari akronim PKS. Akan tetapi… so what?
Itulah sebagian dari kekonyolan demokrasi. Slogan-slogan kosong, janji-janji palsu, pertemanan semu, dan berbagai hal yang memuakkan. Mereka ingin mensejahterakan rakyat, padahal untuk mensejahterakan kadernya saja mereka tak sanggup. Dengan sistem yang bagaimana mereka akan mensejahterakan rakyat?
Ya Allah, percepatlah munculnya Imam Al-Mahdi!

Tinggalkan Balasan ke Dedew Batalkan balasan