Kartini, Pendahulu Musdah Mulia

Fakta yahudi di indonesiaMelihat acara Metro Files tempo hari yang mengulas tentang Kartini, saya jadi teringat dengan buku Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara, yaitu Fakta dan Data yahudi Indonesia. Di antara yang diulas dalam acara Metro Files tersebut dikatakan bahwa Kartini berteman dengan seorang Yahudi bernama Estelle atau Stella. Hal ini membuat saya mendekati pesawat televisi. Saya berusaha memperhatikan sambil sesekali berdiskusi dengan kedua adik saya. Ternyata pernyataan Ridwan Saidi tentang Kartini juga diakui oleh budayawan dan sejarawan lainnya.

Dalam buku Fakta dan Data Yahudi Indonesia, yang ditulis Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara, yang diterbitkan oleh Khalifa (grup Pustaka Kautsar), 2006, terdapat sedikit ulasan mengenai R.A. Kartini. Ulasan tersebut tadinya mau saya ketik sendiri. Tetapi karena telah ada blogger yang memuat ulasan tersebut di blognya, maka saya salinkan tulisan tersebut di sini.

Penyebaran ajaran teosofi lumayan luasnya, dan memasuki pelbagai lapisan masyarakat. Banyak pemeluk Islam, Kristen, dan Hindu yang terjaring. Juga orang Cina penganut Konghucu, dan mereka yang menganut Kejawen. Kaum Teosofi amat agresif dalam mencari pengikut terutama dari kalangan muda terpelajar dan berbakat. Mereka juga memasuki golongan priyayi.

Barangkali cukup menarik untuk dikaji pikiran-pikiran RA Kartini tentang agama sebagaimana tertulis dalam surat-suratnya kepada kenalan-kenalannya di negeri Belanda.

Tahun-tahun datang dan mereka (tahun-tahun, RS) kemudian pergi … Kami bernama orang-orang Islam karena kami keturunan orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna. Demikianlah kami hidup terus sampai terbitlah matahari yang akan mendatangkan pergulingan di dalam kehidupan rohani kami. (Surat 15 Agustus 1902 kepada E.C. Abendanon)

In ‘t kort, zendingsarbeid – doch zonder doop, ringkasnya, beramal tanpa baptis.

Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun Islam, dan lain-lain. (Surat 31 Januari 1903)

Selalu menurut paham dan pengertian kami, inti segala agama adalah Kebajikan, yang membuat setiap agama menjadi baik dan indah. Tapi, duh: Orang-orang ini, apakah yang telah kalian buat atasnya (maksudnya Kebajikan, RS).

Agama adalah dimaksudkan sebagai karunia, untuk membentuk antara sesama makhluk Tuhan, cokelat atau putih, dari kedudukan, jenis, kepercayaan apa pun, semua kita adalah anak-anak dari satu Bapak, dari satu Tuhan!

Tak ada Tuhan lain kecuali Allah! Kata kami orang-orang Islam, dan bersama kami juga semua orang beriman, kaum monoteis, Allah adalah Tuhan, pencipta sekalian alam.

Anak dari satu Bapak, dasar segala agama dara dan saudari jadinya, harus saling cinta mencinta, artinya tunjang-menunjang, bertolong-tolongan. Tolong menolong dan tunjang menunjang, cinta mencinta, itulah nada dasar segala agama. (Surat 21 Juli 1902 kepada Ny. Van Kol)

Hanya ada satu kemauan, yang boleh dan harus kita punya: kemauan untuk mengabdi kepadanya: Kebajikan (Surat Oktober 1900 kepada Ny. M.C.E. Ovink Soer)

Dari kutipan surat-surat RA Kartini tersebut kita menjumpai persamaan pendiriannya dengan Labberton. Labberton mengatakan, sifat agama-agama adalah sama yaitu cinta pada sesama. Sedangkan RA Kartini menggunakan istilah “nada dasar” agama-agama adalah sama yaitu cinta kepada sesama dan tolong-menolong. Lagi-lagi keduanya melihat agama dalam dimensi tunggal, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia saja. Keduanya mengabaikan dimensi lain jaran agama yaitu hubungan antara manusia dengan Allah (Hablum minallah).

Kebajikan dengan “K” besar (sebagimana Nurcholis Madjid menulis Kebenaran dengan “K” besar, lihat naskah ceramah budaya Nurcholis Madjid, Taman Ismail Marzuki, 21 Oktober 1992) sering digunakan Kartini dalam surat-suratnya.

Kaum teosofi juga banyak yang berbuat sama. Menjadi pertanyaan kini : apakah Kebajikan dengan “K” besar dan Kebenaran dengan “K” besar itu adalah menjadi tujuan hidup atau ultimate goal kehidupan kita ? Jika ya, tentu konsep ideologi yang mereka anut dengan paham ilmu kalam yang kita anut amat berbeda. Ultimate goal kita adalah li mardhatillah, keridhaan Allah.

Apa yang diistilahkan oleh Labberton dengan “syariat agama yang dikeras-keraskan”, maksudnya adalah jangan sampai terjadi syaria diperkuat. Karena seorang pakar bernama Daniel Lev, yang juga Yahudi, pernah mengatakan bahwa selagi masih ada orang yang menjalankan syariat Islam, maka Islam dan hukumnya akan tetap eksis. Itulah sebabnya kita sering mendengar tentang ucapan yang nadanya mencela sikap fanatisme beragama.

Padahal ikut perkumpulan sepakbola saja mesti fanatik, apalagi menjadi penganut agama.

Kaum teosofi dengan pelbagai kedok dan aktivitasnya mencoba untuk menembus dinding fanatisme agama. Dan sejauh itu mereka tidak pernah berputus asa. Pelbagai cara ditempuh termasuk menggarap keluarga muda yang potensial. RA Kartini menjadi sasaran garapan mereka. Setelah gagal mengajak Kartini sekolah ke negeri Belanda, maka ke dalam kehidupan Kartini dimasukkan seorang gadis kader Zionis bernama Josephine Hartsteen. Hartsteen adalah nama keluarga Yahudi. Josephine meninggal dunia dalam usia muda.

(amanah-land)

Saat ini kita mengenal Aminah Wadud dan Musdah Mulia sebagai pengusung emansipasi wanita sambil menggembar-gemborkan slogan-slogan Yahudi seperti “Liberte, Fraternite, Egalite” atau kebebasan, persaudaraan, dan kesetaraan. Namun mereka bukanlah yang pertama kali melakukan ketololan seperti itu. Sebelum mereka telah ada Kartini yang juga seperti Musdah Mulia telah mengalami masa kecil yang menurutnya tidak menyenangkan. Ya, benar, saya ingin katakan kepada Anda, bahwa mereka adalah wanita-wanita yang memiliki masalah kejiwaan.

Karena hal itu, mereka melakukan ‘pemberontakan’ terhadap ‘yang mereka musuhi’. Mereka merasa bahwa mereka tidak mendapatkan kebebasan karena aturan yang berlaku di dalam keluarga mereka. Kartini misalnya, dia merasa bahwa aturan keraton itu sangat kolot dan harus disingkirkan. Sedangkan Musdah Mulia berfikir bahwa aturan Islam tentang wanita itu terlalu membatasi dan harus diubah. Padahal aturan Islam tentang wanita itu tidak seketat yang dibayangkan Musdah Mulia yang terlanjur mendapatkan pendidikan ketat dari keluarganya demi melindunginya dari segala keburukan yang dapat menimpa wanita. Musdah Mulia dan Kartini bukanlah wanita yang dapat melihat keindahan dalam peraturan. Mereka adalah wanita-wanita yang ingin bebas dari peraturan yang dibuat pihak lain. Mereka hanya mau menjalankan peraturan yang sesuai dengan kehendaknya. Dengan kata lain, mereka merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih pantas membuat peraturan, karena mereka merasa bahwa mereka lebih bijaksana dari siapa pun, bahkan lebih bijaksana dari Tuhan.

Beberapa virus yang disebarkan Musdah Mulia itu antara lain:
Pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, wanita boleh menikah dengan pria yang beda agama, boleh nikah mut’ah (kawin kontrak), ijab qabul bukan rukun nikah, dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri. [Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam]

Semua laki-laki dan perempuan sama, tak peduli etnis, kekayaan, posisi-posisi sosial, bahkan orientasi seksualnya. “Tidak ada perbedaan antara lesbian dan tidak lesbian. Dalam pandangan Allah, orang-orang dihargai didasarkan pada keimanan mereka,” kata tokoh ICRP ini.

Musdah Mulia bersama kalangan liberal menulis Fiqih Lintas Agama. Isinya banyak membuang makna teks Alquran dan menggunakan konteks kekinian secara amburadul berdasarkan pandangan-pandangan Barat.

Adapun Aminah Wadud telah kita kenal melalui tindakannya menjadi imam dalam shalat Jum’at bersama kaum liberal. Padahal tak pernah di gereja manapun dimana seorang wanita memimpin jemaat pria dalam kebaktian Minggu. Suatu egalite yang berlebihan. Sungguh mereka telah melampaui batas.

Jauh di masa lalu, kitalah yang pertama kali meneriakkan di tengah-tengah kelompok masyarakat kata-kata, “Kebebasan (Liberte), persamaan (egalite) dan persaudaraan (fraternite)” Kata-kata yang berulang kali diucapkan sejak saat itu oleh para pembeo yang bodoh yang mengejar-ngejar umpan ini dan mempengaruhi kesejahteraan dunia, kebebasan individu sesungguhnya, yang sebelumnya sangat dijaga terhadap tekanan masyarakat. Orang-orang non-Yahudi tidak dapat mengerti apa pun berkenaan dengan kata-kata yang mudah diucapkan tersebut, karena keabstrakannya; tidak mencatat kontradiksi dalam makna dan hubungan timbal-baliknya; tidak melihat bahwa di alam tidak ada kesetaraan, tidak mungkin ada kebebasan; bahwa alam itu sendiri telah mengokohkan ketidak-setaraan fikiran, karakter, dan kapasitas, sebagaimana kekalnya alam dalam menegakkan subordinasi terhadap hukumnya. (Protokol Zionis 1:25)

Komentar

2 responses to “Kartini, Pendahulu Musdah Mulia”

  1. Avatar RESISHA

    Assalamu’alaikum Wr Wb

    Afwan itu sumbernya bisa bisa dipercaya atau tidak. Bukannya ana tidak percaya Tapi ke validan sumber itu perlu. Jadi bila ana mau memberi tahu artikel ini kepada teman2 yang lain di kampus. Tidak ada saling tuduh-menuduh atau saling menyalahkan.

    Ini berdasarkan penelitian sejarawan dan budayawan terhadap surat2 Kartini. Metro Files juga membenarkan hubungan Kartini dengan Stella atau Estelle yg Yahudi. Namun Anda juga perlu membaca artikel kami tentang taubatnya Kartini di akhir hayatnya agar menjadi lebih paham akan arah pembicaraan dari artikel yg ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *