Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. [QS. Ali Imran: 95]
Maksud dari ayat di atas adalah agar Nabi Muhammad dan ummatnya berkata: “Benarlah Allah akan segala yang Dia beritakan dan Dia syari’atkan dalam Al-Qur`an,” dan agar Nabi Muhammad dan ummatnya mengikuti millah Nabi Ibrahim yang Allah syari’atkan di dalam Al-Qur`an melalui lisan Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya apa yang diberitakan dan disyari’atkan dalam Al-Qur`an itu adalah haqq (benar), tidak ada syak di dalamnya.
Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” (Benarlah Allah Yang Mahaagung) setelah membaca ayat Al-Qur`an adalah boleh, bahkan dianjurkan. Karena lafazh tersebut adalah suatu pengakuan akan benarnya Allah atas segala yang difirmankan-Nya, atas segala yang diberitakan-Nya dan atas segala yang disyari’atkan-Nya dalam Al-Qur`an.
Jadi tidak benar sangkaan sebagian orang yang berkata bahwa mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an itu adalah bid’ah. Pembid’ahan terhadap hal ini hanyalah terbit dari hati-hati yang keruh yang kurang mengenal syari’at Islam. Pembid’ahan terhadap hal ini hanya terbit dari hati-hati yang tertipu oleh hawa nafsunya yang terus membisikkan dia agar mengikuti segala fatwa keliru guru-gurunya secara buta.
Sesungguhnya mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an itu adalah perihal yang baik. Dan Allah memerintahkan kita agar berbuat yang baik. Maka segala yang baik itu adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah melalui firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan… [QS. An-Nahl: 90]
Bahkan mereka yang membid’ahkan hal ini, anehnya, tidak membid’ahkan ucapan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat. Padahal tak ada perintah untuk mengucapkan itu. Yang ada hanyalah berita dari Allah akan kedudukan mereka melalui firman-Nya seperti:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [QS. At-Taubah: 100]
Namun tak ada perintah atau pun contoh dari Rasulullah untuk mengucapkan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat. Nabi hanya berkata: “Yaa Mu’adz!” atau “Yaa ‘Umar!” atau “Yaa ‘A-isyah!”. Namun ihsannya mengucapkan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat memang tak ada yang menyangkal. Karena Allah menyuruh kita untuk berbuat ihsan. Termasuk perkara yang ihsan adalah mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an. Termasuk perkara yang ihsan juga adalah melepaskan alas kaki sebelum masuk ke dalam Masjid walau hal ini tak dicontohkan oleh Nabi, bahkan hal itu merupakan kebiasaan Nabi Musa dan ummatnya. Termasuk perkara yang ihsan adalah membukukan Al-Qur`an, walau Nabi tak pernah menyuruhnya. Termasuk perkara yang ihsan adalah membukukan Hadits walau Nabi tak pernah menyuruhnya. Namun semua itu adalah ihsan menurut shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan para ulama shalih yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Dan segala yang ihsan seperti itu cukup didasari ayat, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan… “
Tinggalkan Balasan