TASYABBUH (2)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.[QS. Ali Imran: 100]

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. [QS. Al-Ahzab: 59]

Tasyabbuh adalah menyerupai gaya, sikap, cara atau kebiasaan suatu kaum. Dan tidak boleh kita bertasyabbuh terhadap non-muslim sebagaimana Abu Sa’id al-Khudry ra telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saaw bersabda, “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka.” Lalu para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?” Baginda bersabda, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad]

Sebelum TV dan film Barat masuk ke Indonesia, kita masih mudah mengenali dan membedakan, mana yang muslimah dan mana yang bukan, mana “wanita baik-baik” dan mana yang “bukan wanita baik-baik”. Tetapi lihat sekarang, begitu banyak wanita mengaku sebagai muslimah dan wanita baik-baik berpakaian seperti wanita-wanita jahiliyah. Sehingga “mata yang khianat” mengganggu mereka di jalan-jalan, di pasar-pasar, dan tempat lainnya. Jika Anda mempunyai isteri yang “dipandangi” dengan sedemikian rupa oleh laki-laki lain, apakah Anda tidak merasa terganggu? Padahal laki-laki itu tidak mengucapkan sesuatu yang mengganggu, tidak pula menggodanya, hanya memandangnya saja. Tetapi Anda tentu merasa terganggu dengan pandangan laki-laki itu. Begitu pula jika Anda memiliki seorang puteri yang dipandangi laki-laki bermata khianat. Apakah Anda, para wanita yang masih “sehat aqal”, tidak terganggu oleh “pandangan” mata yang khianat? Maka julurkanlah jilbab Anda ke seluruh tubuh, wahai ukhti, wahai saudariku, agar engkau mudah dikenali dan tidak diganggu. Bagi Anda yang telah mengenakan “jilbab gaul”, hentikanlah keujuban Anda yang merasa lebih baik dari pada yang tidak berjilbab sama sekali, dan sempurnakanlah dengan memanjangkan jilbab Anda hingga ke dada dan kenakanlah baju kurung yang longgar dan rapat bahannya, bukan yang ketat dan tembus pandang.

Jika benar bahwa Anda mencintai Allah, maka ikutilah syariat yang dibawa oleh Sang Nabi (saaw). Berhentilah dari mengikuti syariat kafirin yang menyesatkan! Berhentilah dari menteladani gaya kafirin yang tidak beradab! Apakah tidak ada sesuatu yang harus Anda ikuti dalam Islam? Apakah tidak ada yang harus Anda teladani dalam Islam? Tidakkah Anda mengetahui bahwa Nabi telah memerintahkan isteri-isteri dan puteri-puteri beliau untuk menutup aurat? Lalu mengapa Anda tidak mengikuti beliau untuk memerintahkan yang demikian? Apakah Anda takut dihina oleh dunia karena Anda tidak mengikuti trend dunia? Dan Anda tidak takut dihina Allah karena tidak mengikuti syariat Sang Nabi (saaw)?

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali Imran: 31]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [QS. Al-Ahzab: 21]

Orang yang meyakini akan datangnya hari akhir akan mempertimbangkan hal ini. Karena mereka sadar bahwa dunia ini tak lebih dari tiga jam. Setelah itu ia akan hidup selamanya di akhirat. Jika satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia, bukankah itu berarti 100 tahun di dunia sama dengan 2 jam 24 menit di akhirat?

1000 tahun dunia = 1 hari akhirat = 24 jam akhirat

100 tahun dunia = 24 jam akhirat : 10 = 2,4 jam akhirat = 2 jam 24 menit

Dan pada saat ini jarang manusia yang hidup hingga seratus tahun. Ada yang hidup 90 tahun kemudian selesai. Hidup 80 tahun atau 70 tahun, kemudian selesai. Bahkan ada yang hidup 20 tahun, kemudian selesai. Tidakkah datang kepadamu berita bahwa ada seorang bayi yang baru lahir dan satu menit kemudian hidupnya berakhir?

Sekarang, mungkin Anda dapat tertawa terbahak-bahak. Tetapi tidak ada jaminan bahwa esok Anda masih bisa tertawa terbahak-bahak di atas tumpukan dosa Anda yang menyeret Anda ke dalam siksaan beribu-ribu tahun lamanya. Sudahkah datang janji Allah kepada Anda bahwa Anda telah dijamin masuk sorga tanpa mampir ke neraka? Bahkan seorang Abu Bakar Ash-Shiddiq, salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga tanpa dihisab telah berkata, “Seandainya aku hidup sebagai rumput ini. Dia hidup, dimakan ternak, mati, dan selesai. Sedangkan aku… Aku hidup, mati, kemudian dihidupkan lagi untuk menghadapi hari berbangkit.”

Apakah Abu Bakar tidak percaya akan janji Tuhannya? Bukan, melainkan ia percaya bahwa hari berbangkit itu adalah memang hari yang sangat berat sebagaimana yang diberitakan Tuhan. Pada hari itu matahari didekatkan ke atas kepala kita. Dan kita harus menunggu bersama trilyunan manusia yang berdesak-desakkan dengan peluh mereka yang membanjir. Dan tidak tahu kita, apakah kita akan masuk surga langsung, ataukah harus mampir ke neraka, ataukah akan masuk neraka selama-lamanya karena kita telah murtad tanpa kita sadari? Namun bukan soal surga dan neraka yang digelisahkan Abu Bakar, melainkan ia malu menghadap Tuhannya sedangkan dia sebelumnya tentu telah pernah berbuat dosa. Dosa-dosanya yang menururt kita tak seberapa telah membuat dia lupa kepada segala amal shalihnya yang begitu banyak. Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah menganggap besar segala amal shalihnya. Dia hanya memandang kepada Kasih-Sayang Tuhannya dan bersyukur atas segala anugerah dari Tuhannya. Abu Bakar Ash-Shiddiq baru merasa tenang ketika beliau mengingat dan mengharap Kasih-Sayang Allah. Coba Anda bayangkan, orang yang pernah berbuat dosa ini, yang dosanya kemudian telah diampuni Tuhan sebelum dia wafat, dia masih malu dan gelisah memikirkan pertemuan dengan Tuhannya. Tetapi kita masih bisa tertawa seakan dosa-dosa kita yang bertumpuk-tumpuk itu telah diampuni Tuhan. Padahal tidak ada pada kita amal-amal shalih seperti amal-amal yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ingatlah bahwa amal shalih itu adalah salah satu tanda dari Kasih Sayang Allah. Tidaklah kita dapat beramal shalih, kecuali dengan adanya Kasih-Sayang Allah. Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang itulah yang telah menggerakkan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk beramal shalih dan kemudian memasukkan beliau ke dalam surga-Nya. Maka berlomba-lombalah kita dalam meraih tanda-tanda Kasih-Sayang Allah ini.

Wahai akhi, wahai ukhti, tidak adakah seseorang yang harus kita teladani sehingga kita mesti meneladani orang-orang kafir? Pergilah ke pusat-pusat perbelanjaan! Perhatikanlah! Maka kamu temukan, seakan tidak tersisa satu pun dari pengikut Muhammad Rasulullah saaw di sana. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang lalai. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang ittiba’ (mengikut) kepada kafirin. Ketahuilah wahai ukhti wa akhi, ketahuilah wahai saudara dan saudariku, bahwa seseorang yang mengikuti gaya suatu golongan, maka dia termasuk ke dalam golongan tersebut! Apakah kita akan tetap mengikuti gaya dari golongan kafir dan termasuk ke dalam golongan mereka serta keluar dari golongan Muhammad Rasulullah saaw? Ataukah semestinya kita ittiba’ kepada Rasulullah saaw sang suri tauladan yang baik dan sempurna? Sungguh, jika kita mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sudah semestinya kita ittiba’ kepada Rasulullah saaw dan menundukkan hawa nafsu kita di bawah syariat yang di bawa oleh Sang Pesuruh Allah saaw. Tidak ada golongan yang pantas kita serupai selain golongan yang ittiba’ kepada Muhammad Rasulullah saaw.

Dari Anas ra katanya: Nabi saaw bersabda: “Barangsiapa yang tidak suka sunnahku, dia bukanlah termasuk golonganku.” [HR. Bukhori]

Shalawat serta salam tercurah atas Tuan kami Muhammad dan atas keluarga beliau dan para shahabat beliau dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Keberkahan Allah atas Partai Muhammad saaw.