MEMBACA BERSAMA ALLAH

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.  (Al-‘Alaq : 1 – 5)
 

Wahyu pertama adalah tanda pelantikan seorang Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul  Allah. Sebagai pesan pelantikan, tentulah wahyu pertama itu bukan perkataan main-main atau sembarangan. Tetapi itulah pesan yang sangat perlu diperhatikan.
Membaca adalah suatu hal yang selalu kita lakukan. Segala tindakan kita adalah hasil dari membaca; membaca pengalaman, keinginan, alam semesta, dll. Membaca adalah hal yang kompleks. Salah dalam membaca dapat berakibat fatal.
Setelah diciptakan Allah, Nabi Adam diajarkan untuk ‘membaca’ benda-benda. Kemudian Allah menyuruh beliau a.s. untuk membacakannya di hadapan para malaikat, sehingga para malaikat kagum dan mengakui Kemahatahuan Allah dan mengakui kelayakan Nabi Adam sebagai khalifah. Kemudian Allah mendampingi Nabi Adam untuk membaca sebuah pohon yang harus dihindari. Nabi Adam pun menghindari pohon tersebut sesuai dengan yang ia baca bersama Allah. Tetapi kemudian Iblis mendampingi Nabi Adam untuk membaca kembali pohon tersebut; dan Nabi Adam mengikuti bacaan Iblis sehingga ia tergelincir.
Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Q.S. Al-Baqarah: 35–36)
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-A’raf: 200)
Agar sewaktu kita ‘membaca’ tidak didampingi oleh syaithan, Allah menyuruh kita untuk berta’awudz; memohon perlindungan kepada Allah. Kemudian agar kita mendapat bimbingan dari Allah sewaktu membaca, kita diperintah untuk membaca basmallah (Al-‘Alaq: 1). ‘Bi’ pada kata ‘Bismillah’ atau ‘Bismirabbik’ mengandung pengertian dengan sebab, dengan pertolongan, dengan didampingi. Jadi sewaktu kita membaca basmallah, niatkan dalam hati kita bahwa kita memohon pertolongan dan ‘mengundang’ Allah untuk mendampingi kita; dan kita tanamkan pula dalam hati kita bahwa kita tidak dapat membaca kecuali dengan Allah, dengan pertolongan, Kasih-Sayang, dan idzin dari Allah.
Hidup bersama Allah; itulah kunci kejayaan para pendahulu kita. Cara yang paling cepat dan tepat untuk meraih keberhasilan adalah dengan berserah diri (taslim) kepada Allah. Hanya Allah yang dapat kita andalkan. Cukuplah Allah bagi kita.
Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (Q.S. At Taubah: 59)
Nabi Ibrahim a.s. dulu pernah menggunakan aqal dan tenaganya untuk mencari Tuhan. Tetapi setelah beliau a.s. gagal menemukan Tuhan yang hebat dan kekal, beliau pun putus asa. Beliau menyerah; menyerah kepada Tuhan pencipta langit dan bumi. Pada saat beliau a.s. menyerah (taslim) itulah Allah menunjukkan kepada Nabi Ibrahim a.s. bahwa Dialah Tuhan alam semesta.
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. Al-An’am: 75–79)
 

Â