SHOLAT
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S. Thaha: 14)
Amal shalih yang kita lakukan hendaknya dalam rangka mengingat Allah. Bukan untuk pamer, menzhalimi, dll. Sesungguhnya Allah telah memberikan kita banyak ni’mat. Jika kita bersyukur kepada Allah dengan sholat seribu raka’at setiap hari, belum tentu dapat mengimbangi ni’mat Allah itu. Maka tidak pantas jika kita menyombongkan diri. Sholat mengajarkan kita untuk selalu mengagungkan Allah, mensucikanNya, tawakkal, tawadhu, khusyu, serta mendekat kepadaNya. Shalat juga mengajarkan kita untuk melakukan segala sesuatu dengan urutan atau tahapan yang baik, tidak menunda kebaikan, sesuai dengan jadwal yang sudah diatur.
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisaa`: 103)
Shalat berjama’ah mengajarkan kita tentang pentingnya sinergi. Sebab dengan berjama’ah kita akan membuat suatu amalan menjadi sempurna dengan adanya penggabungan potensi dari masing-masing pribadi. Jika kita bekerja sendiri, mungkin ada suatu hal yang kita tidak dapat melakukannya. Tetapi dengan berjama’ah, apa yang tidak dapat kita lakukan, dapat ditangani oleh orang lain.
ZAKAT
Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (Q.S. Ar Ruum: 38)
Zakat mengajarkan kita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Allah yang telah menyerahkan kepada kita harta untuk kita atur pendistribusiannya, maka sudah sepantasnya kita melaksanakan amanah dari Allah itu. Allah juga melarang kita menjadi orang yang merugikan. Kita tidak boleh berbuat bathil dan zhalim.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya orang-orang miskin dari golongan muhajirin telah datang menemui Rasulullah s.a.w dan berkata: “Orang-orang kaya mendapat kedudukan yang tinggi dan nikmat-nikmat yang kekal. Rasulullah bertanya: “Apa itu?†Mereka menjawab: “Mereka bersembahyang sebagaimana kami sembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak dapat bersedekah, mereka memerdekakan hamba sementara kami tidak mampu memerdekakannya.†Rasulullah s.a.w bersabda: “Mahukah kamu sekiranya aku ajarkan kepada kamu satu amalan yang akan dapat menyamai orang-orang yang sebelum kamu dan dapat mengatasi orang-orang yang sebelum kamu? Tiada seorang pun yang lebih baik daripada kamu melainkan mereka yang melakukan amalan sebagaimana yang kamu lakukan itu.†Mereka menjawab: “Tentu saja, wahai Rasulullah!†Rasulullah s.a.w bersabda: “Kamu bertasbih bertakbir dan bertahmid setiap kali setelah selesai dari sembahyang sebanyak tiga puluh tiga kali.†Setelah itu orang-orang miskin dari golongan muhajirin itu pun kembali menemui Rasulullah SAW kata mereka, “Orang-orang kaya itu telah mendengar apa yang kami lakukan hingga mereka pun melakukannya pula.†Ujar Nabi SAW, “Itu adalah karunia Allah yang diberikanNya kepada siapa yang Dia kehendaki.†(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi)
Mahasuci Allah Yang mengangkat sebagian manusia dengan memberinya percikan sifat Al-Ghoniy, Al-Halim, dan Al-Wahhab. Sewaktu kecil, Anda sering mendapat uang untuk jajan. Tetapi adakalanya Anda diberikan uang Rp. 500,- oleh orangtua Anda sebelum sama-sama pergi ke masjid. Tujuan orangtua Anda tentu agar Anda memasukkan uang itu ke kotak amal. Atau Anda pernah mendapat tugas untuk membagikan sejumlah uang beliau kepada adik-adik Anda. Orangtua Anda telah mempercayakan Anda untuk mendistribusikan uangnya kepada yang beliau maksud. Anda sedang dididik untuk menjadi orang yang amanah. Anda sedang dididik bahwa apa yang Allah berikan kepada Anda tidak selalu untuk Anda ‘makan’; tetapi ada kalanya Allah berikan untuk dibagi-bagikan. Adapun rizqi yang memang untuk dibagi-bagikan, maka itu adalah bukan milik Anda. Tetapi Anda dipercaya untuk mendistribusikannya.
PUASA
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Yusuf: 53)
Puasa mengajarkan kita untuk dapat menahan nafsu. Nafsu adalah api dari segala macam ma’siat. Ia selalu menyuruh kita kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat Allah. Dalam beramal sholih hendaknya kita tidak mengikuti nafsu kita, tetapi hendaklah disebabkan dorongan Kasih-Sayang Allah. Jika kita mengikuti hawa nafsu kita, maka akal kita akan menjadi mati. Akibatnya kita tidak lagi dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Jangan sampai hawa nafsu membutakan mata hati kita. Barangsiapa yang di dunia ini buta, maka di akhirat pun akan buta. Dengan puasa kita telah mengurangi diri kita dari ‘memakan’ dunia. Terlalu sering memakan dunia, kita akan akrab dengan dunia. Terlalu akrab dengan dunia, kita akan cinta kepadanya. Terlalu cinta dengan dunia kita akan takut kehilangannya dan jauh dari Allah. Orang yang jauh dari Allah berarti ia tersesat.
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (Q.S. Al-Isra`: 72)
Puasa merupakan training bagi kita yang ingin sukses. Orang yang ingin sukses, maka pertama ia harus dapat menang atas dirinya sendiri. Puasa melatih kita untuk mengolah perasaan dan nafsu kita. Dengan kemampuan mengolah nafsu dan perasaan, maka kita akan dapat mengendalikan diri kita. Sehingga kita tidak dipengaruhi oleh orang lain, tidak dipengaruhi oleh syaithan, tidak dipengaruhi oleh pihak luar. Kitalah yang mempengaruhi dan mengendalikan diri kita sendiri. Kita menjadi apa yang sebenarnya kita inginkan. Bukan menjadi apa yang diinginkan pihak lain. Kita ingin sukses, kita ingin tenang, kita ingin bahagia, kita ingin gembira; kita yang menentukan. Orang lain tidak dapat membuat kita sedih, marah, jengkel, tegang; jika kita dapat mengendalikan diri kita untuk selalu tersenyum dan tenang. Cobalah lebarkan bibir Anda untuk tersenyum, tahan senyuman Anda. Dalam keadaan seperti itu cobalah untuk merasa sedih. Anda akan sulit untuk merasa sedih dalam keadaan seperti itu. Memang keadaan lahir dapat mempengaruhi keadaan bathin, walau tidak selamanya. Dengan kemenangan pribadi kita dapat mempengaruhi dan mengendalikan diri sendiri. Masalah sesungguhnya bukan berada di luar sana, tetapi di dalam diri kita sendiri. Mulailah untuk memperbaiki diri kita sendiri dan kendalikanlah diri sendiri. Andalah yang menentukan, ingin jadi apa Anda nantinya. Puasa juga mengajari kita untuk memahami keadaan orang lain (empatik). Dengan memahami keadaan orang lain, kita akan dapat memberikan solusi yang benar baginya. Solusi yang memberi keuntungan bagi Anda dan dia, setidaknya tidak ada yang kalah atau rugi. Dan berjama’ah dalam menyelesaikan sesuatu akan menambah kekuatan bagi semua orang dalam jama’ah. Dengan berjama’ah, kita akan dapat menyelesaikan banyak hal. Berjama’ah dan kebersamaan adalah cara untuk menyatukan potensi dan menutupi kekurangan. Dengan potensi di berbagai bidang, kita akan dapat menyelesaikan berbagai hal. Wallahu a’lam.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. Ash-Shaff: 4)
HAJJI
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S. Ali Imran: 97)
Hajji mengajarkan kita untuk melakukan amal sholih secara total dengan segenap potensi dan kemampuan yang kita miliki. Selalu berusaha dengan optimal, walau amal itu berat sekalipun.
DZIKIR
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku. (QS. Al-Baqoroh: 152)
Dzikir (ingat) kepada Allah merupakan jalan terdekat untuk menuju Allah. Dengan dzikir, kita akan selalu berhati-hati dalam berbuat. Kita akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Kita akan merasa malu untuk berbuat keburukan. Orang yang berdzikir akan bimbang untuk melakukan ma’siat. Bisa dikatakan dzikir itu adalah rem untuk mengurangi kualitas kejahatan. Jika setelah berdzikir atau di dalam dzikir kita tetap melakukan ma’siat, janganlah kita berhenti dari dzikir. Sebab ma’siat yang dilakukan tanpa adanya dzikir sedikit pun kepada Allah adalah sangat berbahaya sekali.
Syaikh Ibnu ‘Athoi`llah pernah berkata, “Janganlah kau tinggalkan dzikir disebabkan hatimu tidak hadir bersama-sama Allah di dalam dzikir. Sesungguhnya kelalaianmu kepada Allah tanpa adanya dzikir lebih berbahaya dari pada kelalaianmu di dalam adanya dzikir kepada-Nya. Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelalaian menuju pada dzikir yang disertai dengan kesadaran(1). Dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran hati. Dan dari dzikir yang disertai hadirnya hati menuju pada dzikir yang disertai adanya keghoiban dari selain yang didzikir (Allah). Dan yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah.â€
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, niscaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu dalam suatu kaum, niscaya Aku juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, niscaya Aku akan datang kepadanya dalam keadaan berlari-lari kecil. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sebaik-baik gubahan sesebuah syair iaitu puisi yang dibawa oleh orang-orang Arab ialah syair atau puisi Labid yang artinya: Tidakkah mengingati sesuatu selain dari Allah adalah batil. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (Q.S. An-Nisa`:43)
Mabuk tidak hanya disebabkan oleh khamr, dunia juga bisa menyebabkan manusia menjadi mabuk. Dan kenyataannya, banyak manusia sholat, tetapi tidak sadar apa yang ia katakan. Sebab pada saat ia sholat, ia sedang mabuk oleh dunia.