Saulus dari Tarsus merupakan anggota sekte Farisi yang sering menyiksa para pengikut Yesus. Setelah Yesus diangkat ke langit, tiba-tiba Saulus atau Paulus mengaku bahwa ia telah bertemu dengan Yesus dalam penampakan (mirip Ahmad Mushadeq yang mengaku menjadi nabi setelah berlaku penampakan kepadanya). Maka mulailah ia menyebarkan ajaran tentang Kristus. Dan diantara para pengikutnya ada yang menyusun injil-injil yang dinisbatkan kepada Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Namun diragukan bahwa penulis injil-injil itu adalah benar-benar Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.
Dari keempat injil, Injil menurut Markus dianggap Injil paling tua, ditulis pada 70 Masehi. Sedangkan Kristen baru dikenal pada 49 Masehi di Anthiokia. Tidak ada injil yang berasal dari masa Yesus yang bisa dijadikan rujukan. Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa telah lenyap. Tidak ada salinan atas Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Injil yang beredar sekarang hanyalah injil-injil yang telah dipengaruhi ajaran Paulus.
Kenyataan yang terlihat adalah bahwa ajaran-ajaran Paulus dan 4 injil adalah produk Gnostik. Mengenai faham Gnostik dibalik ajaran-ajaran Paulus, baiklah kita melihat uraian tokoh berbobot Graham Stanton. Stanton bukanlah tokoh asing dalam studi Perjanjian Baru, sebab ia adalah Profesor Studi Perjanjian Baru dari King’s College, University of London sejak tahun 1977. Dan pada periode tahun 1995-1996 ia dipilih sebagai Presiden Masyarakat Internasional Ahli Perjanjian Baru ‘Studiorum Novi Testamenti Societas.’ Ia mengemukakan bahwa pandangan Gnostik mempercayai:
“Dunia adalah tempat yang jahat, diciptakan oleh Tuhan yang jahat, dan yang berbeda dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.”
Nafas gnostikisme dari surat-surat Paulus dan 4 injil dapat kita lihat dalam ayat-ayat yang kemudian dijadikan pemikiran Gereja Trinitarian. Misalnya mengenai Yesus, yang mereka anggap Kristus, yang memberitakan pengetahuan rahasia (gnosis) pada para pengikutnya. Hal ini bisa kita lihat dalam ayat-ayat seperti pada Mat. 13:11, Mrk. 4:11, Luk. 8:10, Ef. 3:4, Kol. 1:26-27, 2:2-3, 4:3, dsb.
Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.” [Mat. 13:11]
Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,” [Mrk. 4:11]
Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” [Luk. 8:10]
Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, [Ef. 3:4]
yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! [Kol. 1:26-27]
supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. [Kol. 2:2-3]
Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. [Kol. 4:3]
Ucapan mengenai ‘Yesus yang hidup’, bagi pengikut gnostikisme adalah lambang isoteris mengenai kata-kata Yesus yang lebih bermakna bagi pengikut gnostik sebagai kunci keselamatan daripada ajaran kematian dan kebangkitan Yesus. Ucapan seperti ini dapat Anda jumpai seperti pada Mat. 16:16 dan Luk. 24:5-6.
Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” [Mat. 16:16]
Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, [Luk. 24:5-6]
Pemikiran gnostik telah dianut oleh bangsa Mesir kuno yang mempercayai bahwa Horus adalah Kristus. Peristiwa-peristiwa terpenting dalam gnostikisme semacam ini adalah peristiwa kelahiran Kristus (Christmass), masa dewasa Kristus, penyaliban Kristus, petarungan dengan maut dan kebangkitan Kristus yang berhasil mengalahkan maut. Peristiwa-peristiwa tersebut membuat bangsa Mesir kuno menjadi percaya bahwa Horus adalah Kristus. Pemikiran semacam ini dapat Anda temukan pada 1Kor. 15:3-4.
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; [1Kor. 15:3-4]
Padahal kalimat seperti ini tiada tertulis dalam Perjanjian Lama. Lalu Kitab Suci yang mana yang Paulus maksudkan? Tentu saja kitab kaum gnostik. Kitab pengetahuan rahasia yang selalu didengung-dengungkan Paulus.
Baca juga:
Paulus dan Injil Gnostik
Tinggalkan Balasan