Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. [QS. An-Nahl (16): 68]
Wahyu dalam ayat di atas bermakna ilham/inspirasi. Allah mengilhamkan kepada segenap makhluq-Nya akan apa yang mesti mereka perbuat. Allah juga yang telah memberi ilham/inspirasi kepada para pelukis, penulis, filsuf, dan semua manusia. Namun, kepada manusia, Allah berikan dua jalan, dua macam ilham yang bisa mereka pilih.
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. [QS. Al-Balad (90): 10]
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. [QS. Asy-Syams (91): 8]
Allah mengilhamkan kefasikan kepada manusia melalui syaithan dan mengilhamkan ketaqwaan kepada manusia melalui malaikat-Nya. Hal ini juga mestinya diakui oleh orang-orang Kristen ketika mereka membaca dua ayat berikut:
Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” (II Samuel 24: 1)
Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. (I Tawarikh 21:1)
Siapakah yang telah mengilhamkan kepada Daud agar melawan orang Israel dan menyuruh Yoab untuk menghitung jumlah mereka? Tuhan atau Iblis? Tentu mereka akan menjawab bahwa dua ayat itu dapat dikompromikan. Tuhan memang menginspirasikan kepada Daud melalui setan.
Maka jelaslah bahwa inspirasi yang datang kepada manusia itu bisa melaui malaikat, bisa pula melalui setan. Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan utama kita kali ini? Apa hubungannya dengan “Firman Tuhankah Alkitab”?
Orang-orang Kristen mengakui bahwa “Alkitab itu diberikan melalui ilham Allah sebagaimana Rohkudus bekerja di dalam orang-orang yang dipilih, menyatakan kepada mereka pikiran Allah dan memampukan mereka untuk menggunakan kata-kata yang tepat untuk mengkomunikasikan kebenaran Allah tanpa kesalahan. Ilham (inspirasi) berasal dari kata latin yang artinya “bernafas dalam” atau “ke dalam” (in dan spiro) dan dari kata Yunani yang artinya “nafas Allah” (Theopneustos) (lihat kembali definisi wahyu). Allah menaruh Rohkudus ke dalam para penulis Alkitab dan melalui Dia, membimbing mereka di dalam menuliskan Alkitab, maka “inspirasi” dapat didefinisikan sebagai proses melalui mana Allah menghembuskan Roh-Nya ke dalam manusia untuk memampukan mereka untuk menerima dan mengkomunikasikan kebenaran Ilahi tanpa kesalahan. Alkitab adalah Allah berbicara!”
Melihat pengakuan mereka tentang Alkitab, kita tidak bisa mengatakan bahwa Alkitab adalah Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa dan Alkitab adalah dua hal yang berbeda. Maka kita harus beriman kepada Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa tetapi kita tidak boleh beriman kepada Alkitab.
Kemudian kita dapat menyimpulkan dari definisi mereka bahwa Alkitab bukanlah Firman Allah kepada Nabi Isa melalui malaikat Jibril. Alkitab hanyalah karangan manusia yang mereka akui mendapat inspirasi. Saya tekankan di sini, bahwa para pengarang itu hanya mendapat inspirasi, bukan Firman Tuhan. Inspirasi ini bisa melaui malaikat, bisa pula melalui setan. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Tidak ada satu orang Kristen pun yang dapat mengatakan secara gamblang bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan yang Allah sampaikan kepada Nabi Isa. Mereka hanya berani berputar-putar dan berkata bahwa Alkitab itu adalah tulisan orang-orang terdahulu yang mendapat inspirasi. Anda tentu tahu bahwa buku-buku novel juga merupakan tulisan orang-orang yang mendapat inspirasi. Alkitab, dalam definisi ini, hanya bisa disejajarkan dengan buku-buku novel seperti Harry Potter, Sherlock Holmes, DaVinci’s Code, dsb. Mungkin ada fakta-fakta di dalam Alkitab, tetapi juga ada berjuta kebohongan di dalamnya.
Dengan definisi seperti di atas, tidak ada seorang pun yang boleh memastikan bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan yang kita maksud di sini tentunya adalah wahyu dari Allah yang disampaikan kepada para Nabi untuk membimbing manusia. Sedangkan Alkitab bukanlah dalam definisi tersebut, karena para pengarang Alkitab bukanlah para Nabi.
Lalu mungkin ada yang berkata, “Katakanlah bahwa para pengarang Perjanjian Baru bukanlah para Nabi. Tetapi bukankah para pengarang Perjanjian Lama adalah para Nabi?” Tidak ada yang dapat memastikan bahwa Pentateuch adalah Firman Tuhan kepada Musa, bahwa kitab Yesaya adalah Firman Tuhan kepada Yesaya. Pada faktanya, Perjanjian Lama yang tercantum dalam Alkitab saat ini baru ditulis ulang setelah ratusan tahun kitab-kitab asli para nabi tersebut menghilang. Perjanjian Lama ditulis oleh generasi yang kesekian berdasarkan ingatan semata. Berbeda dengan Al-Qur`an yang ditulis oleh generasi yang pernah bertemu dengan Rasulullah SAW berdasarkan hafalan dan catatan yang shahih disaksikan oleh para shahabat yang terpercaya. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tidak bisa memenuhi syarat-syarat ini. Tidak ada satu kitab pun dari Perjanjian Baru yang ditulis oleh murid langsung dari Nabi Isa.
Roh Kudus
Menjadi pertanyaan di benak kita, jika Roh Kudus itu Tuhan, bagaimana ia bisa diletakkan pada manusia biasa? Tuhan meletakkan Diri-Nya sendiri pada sesuatu? Pernyataan mereka tentang hal ini justeru membatalkan ketuhanan Roh Kudus itu sendiri.
Kemudian, tidak ada yang bisa menjamin bahwa para pengarang Alkitab itu dibimbing oleh Roh Kudus dan tak pernah salah. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa para penerjemah Alkitab itu tidak akan melakukan kesalahan dalam menerjemahkan Alkitab dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Terjemah Alkitab di Indonesia saja sudah mengalami 3 kali penerjemahan untuk Perjanjian Baru, yaitu Terjemahan Lama, Terjemahan Baru dan Terjemahan Baru Kedua. Mengapa? Karena ada kata-kata yang dirasa kurang cocok dengan teks yang mereka anggap asli, atau ada sumber teks yang dianggap lebih asli dari sumber teks sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak membimbing mereka. Jika Roh Kudus memang membimbing mereka, tentu Roh Kudus akan membimbing mereka kepada teks asli sejak awalnya dan membimbing mereka untuk menterjemahkan ayat-ayat itu secara tepat sehingga tidak ada ummat yang membaca Alkitab palsu selama 30 tahun. Intinya, Anda tidak bisa mengatakan bahwa Alkitab dalam bahasa Indonesia itu suci dari kesalahan. Alkitab dalam bahasa Indonesia itu bukanlah kitab suci. Begitu juga KJV, dan Alkitab-Alkitab dalam terjemahan lain. Lalu bagaimana dengan Alkitab dalam bahasa Yunani?
Kami ingatkan, seasli apa pun Alkitab, Alkitab tetaplah bukan Firman Tuhan. Karena dia bukanlah wahyu yang Allah sampaikan kepada para nabi-Nya, melainkan karya tulis manusia biasa dengan gaya bahasa manusia biasa. Dan dalam menulis suatu karya tulis, baik fiksi mau pun non-fiksi, setiap penulis memerlukan inspirasi. Menyebut para pengarang Alkitab sebagai orang-orang yang mendapat inspirasi, tidak membuatnya menjadi suci. Ditambah lagi, tidak ada terjemahan yang benar-benar tepat. Jika Anda benar-benar membaca sejarah Alkitab, tentu Anda akan mengerti bahwa Alkitab jelas bukan Firman Tuhan.
Lihat juga:
Wahyu
Tinggalkan Balasan