Penulis: adminSN

  • Sorban Rasulullah SAW

    Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir dikemukakan:
    “Nabi saw memasuki kota Makkah pada waktu Fathu Makkah beliau mengenakan sorban (‘imamah) hitam.” (HR. At-Tarmidzi. Hadits ini diriwayatan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadits ini pun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir ra.)

    ‘Amr bin Huraits berkata:
    “Aku melihat sorban hitam di atas kepala Rasulullah saw.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Musawir al-Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits, yang bersumber dari bapaknya.)

    Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Umar ra. dikemukakan :
    “Apabila Nabi memakai sorban, maka dilepaskannya ujung sorbannya di antara kedua bahunya.”
    Kemudian Nafi’ berkata: “Ibnu ‘Umar juga berbuat begitu.”
    ‘Ubaidullah berkata: “Kulihat al-Qasim bin Muhammad dan Salim, keduanya juga berbuat demikian.”
    (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Hamdzani, dari Yahya bin Muhammad al-Madini, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.)

    Ibnu ‘Abbas ra. mengemukakan:
    “Sesungguhnya Nabi Muhammad berpidato di hadapan ummat. Waktu itu beliau mengenakan sorban, dan sorbannya terkena minyak rambut.”
    (HR. At-Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Abu Sulaiman, yaitu ‘Abdurrahman bin Ghasail, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

  • Perbaikan Link Qoshidah

    Alhamdulillah, untuk qoshidah pada MP3 Qoshidah Majelis Rasulullah sudah bisa didownload kembali. Jika link rusak lagi, mohon beritahu kami kembali. Terimakasih

  • Adh-Dhiyaul Lami’ Mobile (Edisi Latin)

    Alhamdulillah, selesai juga e-Book Adh-Dhiyaul Lami’ untuk Handphone. Namun kali ini saya buat dalam versi latin. Untuk versi Arabnya masih pending. Seadanya dulu ya…

    Seperti biasa, untuk halaman selanjutnya bisa menekan tombol # dan untuk halaman sebelumnya, tekan tombol *. Silahkan di download!

    Download Adh-Dhiyaul Lami’ untuk Handphone (jar)
    Download Adh-Dhiyaul Lami’ untuk Handphone (jad)
    Download Adh-Dhiyaul Lami’ untuk Handphone (zip)

  • Akulah Kebenaran

    Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

    Ada sebagian Kristiani menjadikan ayat di atas, yang hanya ada pada injil Yohanes, sebagai bukti bahwa Yesus adalah Tuhan. Ada juga yang mengaitkan perkataan Yesus “Akulah Kebenaran” dengan perkataan Al-Hallaj dengan harapan agar Muslimin percaya kepada Trinitas karena mereka mengklaim bahwa Al-Hallaj telah memahami Trinitas. (lebih…)

  • Akulah Kebenaran

    Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

    Ada sebagian Kristiani menjadikan ayat di atas, yang hanya ada pada injil Yohanes, sebagai bukti bahwa Yesus adalah Tuhan. Ada juga yang mengaitkan perkataan Yesus “Akulah Kebenaran” dengan perkataan Al-Hallaj dengan harapan agar Muslimin percaya kepada Trinitas karena mereka mengklaim bahwa Al-Hallaj telah memahami Trinitas.

    Benarkah Al-Hallaj mengakui Trinitas? Atau justeru sebaliknya, Al-Hallaj malah mengukuhkan Tauhid?

    Keluaran 3:14 Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

    Siapa yang mengutus Nabi Musa? “Aku”. Mengapa Allah disebut sebagai “Aku”? Kenapa bukan “Dia”? Karena faktanya, yang ada hanyalah Allah. Selain Allah hanyalah bayang-bayang semu yang tak pernah wujud. Hanya ada satu wujud, yaitu Allah.

    Jika ada 2 wujud, yaitu Nabi Musa dan Allah, maka Nabi Musa bisa berkata “Engkau” ketika menunjuk Allah. Jika ada 3 wujud, maka akan ada yang disebut sebagai “Dia”. Namun hanya ada satu wujud. Maka hanya ada “Aku”, yaitu Allah. Tentu hal ini hanya digunakan oleh mereka yang tengah merasakan kefanaan dirinya dan menyaksikan hanya ada satu wujud. Dan kita menyebutnya Wihdatusy Syuhud. Inilah kesaksian haqiqi, “Innanii analloohu laa ilaaha illaa ana,” sesungguhnya Aku ini, Akulah Alloh, tidak ada ilah kecuali Aku.

    Wihdatusy Syuhud bukanlah pengakuan atas Trinitas, tetapi pengakuan akan Tauhid. Jika Wihdatusy Syuhud dimaknai sebagai pengakuan atas Trinitas, maka oknum Trinitas bukan cuma Bapak, Yesus, dan Roh Kudus. Tetapi Bapak, Musa, dan Roh Kudus juga bisa menjadi ilah Tritunggal. Alloh, Al-Hallaj dan Jibril juga bisa menjadi ilah Trinitas. Alloh, Nabi Muhammad dan Jibril juga bisa menjadi ilah Trinitas. Karena pada saat Nabi Muhammad Mi’roj, tentunya beliau merasakan fana, fanaul fana dan akhirnya baqo sehingga beliau menyaksikan bahwa yang wujud hanyalah Alloh.

    Mengatakan “Anal Haq” atau “Laa ilaaha illaa Ana” ternyata tidak menjadi bukti bahwa yang mengatakannya adalah Tuhan. Jika saya berkata kepada Anda bahwa Akulah kebenaran, apakah Anda akan berkata bahwa saya ini Tuhan? Atau Anda akan berkata bahwa saya adalah orang yang menganggap dirinya sebagai Tuhan, yang artinya saya ini hanyalah tuhan palsu? Atau Anda akan berkata bahwa saya adalah orang yang tengah mengakui keesaan Alloh?

    Anda tidak mungkin menganggap saya sebagai Tuhan. Tetapi jika Anda menganggap saya sebagai tuhan palsu, bagaimana dengan Yesus? Jika Anda menganggap saya sedang mengakui Tauhid, maka itulah yang dilakukan Nabi Isa. Dengan sendirinya tertolaklah Trinitas. Sebab Tauhid itu menolak Trinitas. Dengan mengakui Tauhid, berarti Nabi Isa menolak Trinitas.

    Itu jika beliau memang sedang mengalami fanaul fana dan baqo seperti Al-Hallaj. Tetapi kalau pun beliau berkata seperti itu dalam kondisi normal, itu tidak membuktikan bahwa beliau adalah Tuhan. Faktanya, semua Nabi itu membawa kebenaran dan juga jalan lurus bagi ummatnya. Para Nabi dan pengikutnya itu berada pada pihak kebenaran. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Nabi Isa tengah mengaku bahwa dirinya Tuhan.

    Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka. [Al-Baqarah: 119]

    Lihatlah dalam ayat di atas! Bukankah Nabi Muhammad itu diutus dengan kebenaran dan sebagai pembawa berita gembira. Jadi, ternyata bukan cuma Nabi Isa yang membawa kebenaran dan berita gembira. Semua Nabi membawa kebenaran, berita gembira dan juga pemberi peringatan. Dan para Nabi tidak akan dimintai pertanggung jawaban mengenai orang-orang yang ingkar yang merupakan penghuni-penghuni neraka. Karena para Nabi telah menjalankan tugas mereka, maka lepaslah tanggung jawab mereka. Bukan urusan mereka jika ummatnya mau percaya atau tidak. Tugas mereka hanyalah menyampaikan. Dan bukan tanggung jawab saya juga jika orang-orang itu masih ingkar setelah saya menyampaikan hal ini.

    Al-Hallaj telah berkata, “Akulah kebenaran,” seperti Yesus telah berkata demikian. Tetapi mengapa orang Kristen tak menganggap itu sebagai bukti ketuhanan Al-Hallaj sebagaimana mereka mengatakan bahwa itu adalah bukti ketuhanan Yesus?

    Ummat Islam tahu bahwa Al-Hallaj telah berkata demikian. Namun tak ada ummat Islam yang begitu dungu hingga menyembah Al-Hallaj. Ummat Islam, seperti halnya Nabi Ibrahim, telah mengenal yang mana yang pantas disembah dan mana yang tak layak disembah. Maka mereka beriqrar, “Laa ilaaha illallooh,” tak ada yang pantas disembah kecuali Alloh.

    Banyak orang telah gagal mengenali Ilah yang esa. Sehingga mereka terjerembab kepada penyembahan ilah-ilah palsu. Padahal mengenali Ilah yang esa adalah esensi jalan lurus.

    Yoh. 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

    Yoh. 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

    Mat. 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

    Bagaimana Anda dapat mengasihi sesuatu jika Anda belum mengenal sesuatu itu? Maka kenalilah terlebih dahulu! Benarkah dia itu Tuhan? Benarkah dia itu Ilah yang benar? Jika Anda telah kenal, barulah Anda cintai sebagai Ilah. Gunakan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap akal budimu untuk mengenali dan mencintai Ilah yang benar yang telah mengutus Nabi Isa.

    Nabi Isa itu datang dari Allah. Nabi Isa itu utusan Allah. Sedangkan para pemuka trinitas itu datang dari Setan. Mereka adalah para utusan Setan. Mereka adalah anak-anak Iblis. Iblis adalah bapa mereka. Maka berhati-hatilah terhadap dusta yang mereka sebarkan. Karena Tuhanmu itu esa. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ada yang setara dengan Dia.

  • Aku Pamit Wahai Guru

    Siang hari sabtu 13 Juni 2009, detik detik pamitan Habib Munzir pada Guru Mulya, beliau bersimpuh dihadapan Guru Mulya, samudera ilmu nan luas.., Guru yg sangat lembut dan berwibawa, seakan akan langit dan bumi sirna ketika memandang kelembutan dan kedamaian diwajahnya, berkata Anas bin Malik ra : Belum pernah kami melihat pemandangan yg lebih menakjubkan dari wajah sang Nabi saw (Shahih Bukhari)

    Itu adalah dimasa Anas bin Malik ra, namun dimasa kita, kita menemukan cahaya keindahan itu, sebagaimana sabda Nabi kita saw : “Maukah kalian kuberitahu siapakah yg mulia diantara kalian?, mereka adalah yg jika dipandang wajahnya membuatmu ingat pada Allah” (HR Bukhari pada Adabul Mufrad).

    Kota Tarim, Hadramaut, Yaman adalah kota kedamaian, cuaca panas terik yg bisa mencapai 45 derajat celcius, namun terik matahari itu sirna dan sejuk dengan keberadaan para ulama shalihin berwajah sejuk dan damai, (Selengkapnya tentang dialog antara Habib Munzir dan Habib Umar ini, silahkan klik di sini.)

  • Aku Pamit Wahai Guru

    Siang hari sabtu 13 Juni 2009, detik detik pamitan Habib Munzir pada Guru Mulya, beliau bersimpuh dihadapan Guru Mulya, samudera ilmu nan luas.., Guru yg sangat lembut dan berwibawa, seakan akan langit dan bumi sirna ketika memandang kelembutan dan kedamaian diwajahnya, berkata Anas bin Malik ra : Belum pernah kami melihat pemandangan yg lebih menakjubkan dari wajah sang Nabi saw (Shahih Bukhari)

    Itu adalah dimasa Anas bin Malik ra, namun dimasa kita, kita menemukan cahaya keindahan itu, sebagaimana sabda Nabi kita saw : “Maukah kalian kuberitahu siapakah yg mulia diantara kalian?, mereka adalah yg jika dipandang wajahnya membuatmu ingat pada Allah” (HR Bukhari pada Adabul Mufrad).

    Kota Tarim, Hadramaut, Yaman adalah kota kedamaian, cuaca panas terik yg bisa mencapai 45 derajat celcius, namun terik matahari itu sirna dan sejuk dengan keberadaan para ulama shalihin berwajah sejuk dan damai, (Selengkapnya tentang dialog antara Habib Munzir dan Habib Umar ini, silahkan klik di sini.)

  • Kelemahan Alkitab

    Alkitab terdiri dari 2 bagian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama merupakan Kitab-Kitab yang ditulis sebelum kedatangan Nabi Isa, sedangkan Perjanjian Baru adalah tulisan-tulisan yang dianggap suci setelah Nabi Isa diangkat ke langit. (lebih…)

  • Para Nabi Tak Mengarang Kitab

    Di antara kekeliruan iman Kristen adalah adanya anggapan bahwa para Nabi itu mengarang kitab. Dan terkadang Nabi yang satu menjiplak kitab Nabi sebelumnya. Seakan mereka beranggapan, secara tidak langsung, bahwa agama itu ciptaan manusia. (lebih…)

  • Al-Qur`an Menambah Kekafiran

    Rafi’ bin Haritsah dan Sallam bin Miskham dan Malik bin saif dan Rafi’ bin Huraymila mendatangi Rasulullah dan berkata, “Apakah kamu mengatakan bahwa kamu mengikuti agama Ibrahim dan percaya kepada Taurat yang telah kami punyai dan yaqini bahwa itu merupakan kebenaran dari Allah?” Beliau SAW menjawab, “Tentu, tetapi kalian telah berdosa dan melanggar perjanjian yang terkandung di dalamnya dan menyembunyikan apa yang diperintahkan kepadamu untuk memberi penjelasan kepada manusia, dan aku tidak ikut campur dalam dosa-dosamu.” (lebih…)