Para Nabi Tak Mengarang Kitab

Di antara kekeliruan iman Kristen adalah adanya anggapan bahwa para Nabi itu mengarang kitab. Dan terkadang Nabi yang satu menjiplak kitab Nabi sebelumnya. Seakan mereka beranggapan, secara tidak langsung, bahwa agama itu ciptaan manusia.

Mereka beranggapan bahwa Taurat itu karangan Nabi Musa, Mazmur dan Kidung Agung itu karangan Nabi Daud, dan beberapa kitab lainnya yang dianggap karangan para nabi.

Sedangkan dalam Islam, agama itu dari Allah. Kitab Taurat bukanlah karangan Nabi Musa, melainkan Kitab Suci yang diberikan kepada Nabi Musa. Mengapa dikatakan Kitab Suci? Karena bukan lahir dari alam fikiran manusia, melainkan berupa firman dari Allah langsung yang berisi pemberitaan, pengajaran, hukum, dasar-dasar keimanan, pengenalan akan Allah, dsb yang disampaikan kepada Nabi Allah. Allah Mahasuci, sehingga kitab darinya pun suci dari segala macam kelemahan, kesalahan, dan dari segala macam cacat.

Dengan demikian, ummat Islam tidak menganggap karangan manusia itu sebagai kitab suci, walau karangan tersebut sesuai dengan ajaran Allah. Maka dari itu ummat Islam tidak menganggap kitab hadits itu sebagai kitab suci. Sebab, kitab hadits itu berisi perkataan yang lahir dari alam fikiran Nabi yang didasari wahyu Allah kepada beliau.

Maka, kitab Injil yang empat, surat-surat Paulus, dan yang tercantum dalam Perjanjian Baru itu bukanlah kitab suci. Sebab semua kitab tersebut hanyalah karangan manusia belaka tanpa dasar wahyu. Wahyu itu diberikan kepada para nabi saja. Sedangkan ilham yang diberikan kepada manusia lainnya tidaklah termasuk wahyu yang dapat dianggap suci. Karena ilham itu ada yang melalui malaikat, dan ini ilham yang baik, ada pula yang melalui setan, dan ini ilham yang buruk.

Injil Diturunkan kepada Nabi Isa

Ummat Islam mengakui bahwa Allah menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa sebagaimana Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa. Namun orang-orang Kristen tak pernah mengakui akan adanya kitab yang turun dari langit. Bukan hanya menyangkal bahwa Allah telah menurunkan kitab Injil kepada Nabi Isa. Bahkan mereka berkata bahwa Nabi Isa tak pernah mengarang kitab. Jadi, mereka tak pernah mengenal kitab Injil yang asli yang jika menggunakan pemahaman mereka akan disebut sebagai Injil Isa. Mereka tak mengenal Injil Isa. Mereka hanya mengenal Injil karangan 4 manusia yang mereka anggap suci.

Intinya, mereka tak mengakui adanya Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Padahal yang diimani oleh ummat Islam akan adanya adalah Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Maka, mereka tak berhaq memaksa ummat Islam untuk beriman kepada Injil-Injil mereka. Karena Injil-Injil mereka bukanlah Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa yang wajib kita imani adanya.

Maka jelaslah sekarang bahwa mereka memang benar-benar telah menelantarkan Injil yang asli dan menggantinya dengan Injil karangan manusia. Bahkan Taurat yang ada pada mereka bukanlah Taurat yang isinya sama dengan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa. Sebagaimana Injil yang empat hanyalah karangan manusia yang menceritakan kehidupan Nabi Isa menurut versi mereka, Taurat yang mereka pegang juga hanyalah karangan manusia yang dinisbatkan kepada Nabi Musa dan mereka anggap memuat Taurat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa. Padahal Perjanjian Lama itu disusun pada saat pengasingan di Babilon berdasarkan hafalan semata yang berjarak berabad-abad dari masa Nabi Musa. Tanpa naskah asli yang berasal dari Nabi Musa dan pengikutnya yang jujur, penyusunan Perjanjian Lama dapat disusupi dusta para imam Yahudi yang terkenal licik.

Sungguh jauh berbeda dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an, selain dijaga melalui tradisi lisan, juga dijaga melalui tulisan pada kulit, batu, dan media lainnya. Penyusunannya dilakukan pada masa para shahabat. Jika ada kecurangan dalam penyusunan tersebut, tentu akan diketahui oleh para shahabat yang jujur, yang kejujuran mereka diakui oleh kaum Muslimin dan non-Muslim saat itu hingga sekarang. Penyusunan Al-Qur’an dilakukan pada masa yang dapat dipertanggung-jawabkan oleh orang-orang yang bertanggung-jawab.

Sedangkan Perjanjian Lama telah jelas kelemahannya, karena disusun pada masa yang tak dapat dipertanggung-jawabkan, oleh orang-orang yang diragukan keamanahannya.

Perjanjian Baru juga tak dapat dikatakan sebagai Kitab Suci karena memang hanya merupakan karangan manusia yang tak pernah bertemu dengan Nabi Isa. Bahkan Paulus, sebagai otak utama Perjanjian Baru mempunyai sejarah yang buruk dan diceritakan dalam dua kisah yang kontradiktif. Sehingga Perjanjian Baru menjadi patut diragukan.

Saran saya kepada mereka yang menyembah Nabi Isa, sebaiknya Anda kenali dahulu bagaimana kitab Anda sesungguhnya. Sebaiknya Anda kritik dahulu kitab Anda sebelum mengkritik Al-Qur’an dengan tuduhan yang penuh fitnah.

Dalam Islam tidak dikenal istilah menjiplak dalam hal kitab suci. Baik Taurat, Injil, maupun Al-Qur’an, semua itu dari Allah, dan bukan karangan para nabi. Berbeda dengan iman Kristen yang tidak mengakui kitab dari Allah. Dalam iman Kristen itu ada istilah menjiplak, karena kitab-kitab itu bukan berasal dari satu sumber, tetapi dari beberapa manusia. Pengarang terkemudian dapat dianggap menjiplak pengarang sebelumnya jika karangannya mempunyai kemiripan.

Sekarang pahamlah kita bahwa iman Kristen bukan didasarkan kepada kitab Allah, tetapi didasarkan kepada kitab karangan manusia. Manusia biasa yang penuh kelemahan. Kelemahan para pengarang ini dapat kita telusuri dari hasil karangan mereka.

Komentar

2 tanggapan untuk “Para Nabi Tak Mengarang Kitab”

  1. Avatar BOY
    BOY

    Assalamualaikum wr wb.
    Para Nabi tidak mengarang kitab tetapi langsung dari Allah SWT sehingga jelas keabsahannya dan tidak ada tipu daya di dalamnya. :-bd

  2. Avatar Superman
    Superman

    Semoga posting ini dibaca oleh orang yang telah menfitnah Nabi Besar Muhammad, melalui blog yang tidak bertanggung jawab dan mulai menyadari kekeliruannya.Saya sangat berterima kasih dengan posting ini yang bsa membuka wawasan keislam saya.Saya doakan semoga pemilik blog ini menjadi salah satu penghuni surga nantinya, Amin!!!!!!.

    Lanaa wa lakum, Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *