Kategori: Iblis & Dajjal

  • YAHUDI DAN IBLIS

    Iblis selalu berusaha menyesatkan manusia, dan Yahudi adalah ras yang paling mudah disesatkan karena sikap superioritas mereka atas segala ras. Di sepanjang Perjanjian Lama, Tuhan menjelaskan bahwa Dia telah mengirim begitu banyak utusan. Tapi dasar Yahudi, mereka memang orang-orang yang cenderung kepada dunia. Mereka selalu menyembah ilah-ilah palsu. Bahkan di zaman Musa, mereka membuat patung untuk menandingi Ilah yang benar.

    Yahudi begitu tertarik dengan ajaran-ajaran Tripartite. Mereka begitu tertarik dengan apa yang Iblis ajarkan kepada bangsa-bangsa lain seperti Sumeria, Mesir, dan yang lainnya. Jangan fikir bahwa Yahudi hanya menyembah Yahweh. Yahudi telah menyekutukan Tuhan yang esa dengan meyakini ketuhanan Horus, Osiris, dan Isis. Mereka juga tertarik dengan kebudayaan Yunani-Roma yang juga menyembah Tuhan Tripartite. Mereka selalu tertarik dengan ajaran-ajaran Tripartite. Tetapi belum ada informasi yang akurat, apakah mereka yang menciptakan ajaran Tripartite berdasarkan bimbingan Iblis, atau mereka hanya meniru ajaran-ajaran Tripartite yang sudah ada di sekeliling mereka, yang tentunya juga merupakan hasil kerja Iblis. Kemana Yahudi singgah, di situ selalu ada ajaran Tripartite. Bisa jadi, orang Yahudi juga yang menyelewengkan ajaran orang-orang India menjadi ajaran Tripartite. Lagi tentang Yahudi, mereka begitu benci kepada Tuhan, entah kenapa, mungkin karena mereka merasa bahwa mereka orang-orang yang cerdas yang bisa mengalahkan Tuhan?

    Tetapi walau pun mereka benci kepada Tuhan, mereka meyakini akan keberadaan Tuhan yang esa, sebagaimana Iblis yang suka berbuat durhaka namun dia tahu bahwa Allah yang esa itu ada. Ketika mereka mendapatkan berita dari langit melalui para nabi utusan Tuhan, mereka akan menjaga yang asli supaya dapat mengetahui masa depan dunia, namun demikian, mereka terus berusaha mengubah ayat-ayat Tuhan.

    AMERIKA DAN YAHUDI

    Yahudi tahu bahwa Tuhan tidak menjanjikan bahwa Messiah itu dari keturunan Ishak, itulah yang membuat mereka kesal. Dan sebagaimana Iblis yang marah, mereka juga berusaha untuk menyesatkan seluruh umat manusia dan mengajak mereka agar menyembah tuhan yang mereka buat-buat. Tujuan akhirnya, mereka ingin menguasai dunia dan membentuk Tatanan Dunia Baru (New World Order / Novus Ordo Seclorum). Ya, kata-kata ini ada pada uang satu dollar Amerika. Amerika adalah negara yang dibangun oleh Yahudi. Yahudi itu bagaikan serigala yang berbulu domba. Mereka mengaku sebagai Kristian atau pun pemeluk agama lain, tujuannya untuk menyesatkan manusia dari dalam kelompok. Bukti lain bahwa Amerika ini dibangun oleh Yahudi adalah pada lambang negara Amerika ada 13 bintang yang membentuk hexagram bintang David kebanggaan kaum Yahudi.

    Bush senior itu anggota Free Mason tingkat 33, Bush junior juga merupakan anggota Free Mason. Bahkan George Washington adalah seorang Free Mason. Para anggota Boedi Oetomo pun adalah para Free Mason. Dan banyak petinggi Gereja di di seluruh dunia adalah Free Mason.

    Baca juga:
    Dinasti Bush adalah Yahudi

  • Paham Aliran Sesat Berkembang di Jateng

    Semarang (ANTARA News) – Perkembangan paham aliran yang dianggap menyimpang atau sesat di Jawa Tengah (Jateng) belakangan ini meningkat pesat, sehingga masyarakat perlu mewaspadai aliran tersebut.

    “Hampir semua wilayah di Jateng bermunculan pandangan mengenai aliran yang dinyatakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyimpang (sesat),” kata Gubernur Jateng, Ali Mufiz, seusai acara Silaturahmi Gubernur dan Muspida Plus dengan Ulama se-Jateng di, di Semarang, Minggu.

    Menurut dia, bentuknya belum sampai pada gerakan. Namun masih sebatas lontaran pemikiran maupun wacana. Tetapi jika tidak dilakukan antisipasi bisa berpotensi pada perpecahan.

    Daerah yang memiliki potensi perkembangan pemikiran aliran sesat, antara lain Kabupaten Banyumas, Sukoharjo, Karanganyar, Pekalongan, dan Pati, katanya pada pertemuan yang dihadiri Ketua MUI Pusat K.H. Sahal Mahfudh, Kapolda Jateng Irjen Dody Sumantyawan, Ketua DPRD Murdoko, dan sejumlah ulama.

    Ia mengungkapkan, jika gejala berkembangnya pandangan baru tentang keyakinan tidak dilakukan penyikapan-penyikapan, maka bisa menjadi potensi kegelisahan di tengah masyarakat sehingga jika dibiarkan bisa mengancam iklim kondusif di Jateng.

    Menyinggung adanya kekerasan yang mengatasnamakan agama berupa aksi perusakan oleh massa terhadap komunitas Ahmadiyah di Kuningan Jawa Barat yang bersamaan dengan Iduladha 1428 H, Gubernur Jateng menyatakan, hal itu merupakan fenomena yang terkait dengan konflik keyakinan dan soal kekerasan keberagamaan.

    “Kekerasan keberagaman di Jateng tidak ada, tetapi ada tanda-tandanya berupa lontaran pemikiran. Saya berharap munculnya pandangan baru tidak boleh dipandang sebagai kejahatan karena masih dalam sebatas wacana,” katanya.

    Sementara itu, Ketua MUI Jateng, Ahmad Darodji, menyatakan bahwa dengan adanya pertemuan ini menunjukkan ada langkah yang seirama antara MUI dengan Muspida Jateng.

    “MUI berharap penyikapan terhadap adanya wacana aliran sesat dilakukan dengan cara persuasif,” katanya.

    Terkait rencana akan diadakannya acara istighasah pada tanggal 25 Desember 2007 di Kabupaten Sragen, baik Gubernur Jateng maupun MUI Jateng menghimbau, agar kegiatan itu dipertimbangkan ulang.

    Ali Mufiz mengatakan, istighasah merupakan upaya berdoa kepada Tuhan untuk meminta keselamatan, namun jika dilaksanakan berbarengan dengan perayaan Natal umat Nasrani, maka dikhawatirkan bisa menimbulkan salah tafsir.

    Pertemuan itu merekomendasikan sejumlah poin, di antaranya ulama berperan sebagai perekat, pelayan, dan panutan umat.

    “Termasuk meningkatkan amal Islami dan citra diri yang baik. Sementara bagi pemerintah, agar melakukan langkah konkrit dengan pendekatan dialogis, persuasif, dan penegakan hukum secara tegas serta adil,” katanya menambahkan. (*)

    Copyright © 2007 ANTARA
    (antara.co.id)

  • Buku ‘Ancaman Global Freemasonry’

    Selama berabad-abad, Freemasonry telah memancing banyak diskusi. Sebagian orang menuduhkan aneka kejahatan dan hal buruk yang fantastis kepada Masonry. Alih-alih mencoba memahami “Persaudaraan” tersebut dan mengkritisinya secara objektif, mereka bersikap sangat bermusuhan terhadapnya. Sebaliknya, para Mason kian bersikukuh dengan tradisi tutup mulut terhadap semua tuduhan ini, dan lebih memilih untuk tampil sebagai klub sosial biasa yang bukanlah bentuk sejati mereka.

    Buku ini berisi paparan yang pas tentang Masonry sebagai suatu aliran pemikiran. Pengaruh terpenting yang menyatukan para Mason adalah filsafat mereka yang paling tepat dideskripsikan sebagai “materialisme” dan “humanisme sekuler”. Namun, Masonry adalah suatu filsafat keliru yang berlandaskan pada berbagai anggapan yang salah dan teori yang cacat. Inilah hal mendasar yang mesti menjadi titik tolak untuk mengkritisi Masonry.

    Pentingnya kritisisme semacam itu perlu diungkapkan sejak awal, tidak hanya untuk menjelaskan subjek ini kepada non-Mason, tetapi juga untuk mengajak para Mason sendiri memahami kebenaran. Tentu saja, sebagaimana orang lain, para Mason bebas memilih sendiri, dan dapat mengambil cara pandang apa pun yang mereka inginkan tentang dunia dan hidup sesuai dengannya. Ini adalah hak asasi mereka. Tetapi, orang lain pun punya hak untuk memaparkan dan mengkritisi kekeliruan-kekeliruan mereka, dan itulah yang coba dilakukan buku ini.

    Kami pun menggunakan pendekatan yang serupa dalam kritisisme kami terhadap komunitas lainnya. Terhadap orang Yahudi misalnya. Sebagian buku ini juga bertalian dengan sejarah Yahudi dan mengajukan berbagai kritisisme tertentu yang penting. Harus dikemukakan bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan anti-Semitisme atau teori konspirasi “Yahudi-Masonik”. Memang, anti-Semitisme adalah sesuatu yang tak layak bagi seorang Muslim sejati. Orang Yahudi pada suatu masa telah menjadi bangsa yang dipilih oleh Allah, dan kepada mereka dikirimkan-Nya banyak Nabi. Sepanjang sejarah mereka telah ditimpa banyak kekejaman, bahkan menjadi korban pemusnahan massal, tetapi mereka tidak pernah menanggalkan identitas mereka. Di dalam Al Quran, Allah menyebut mereka, bersamaan dengan orang Nasrani, sebagai ahli kitab, dan memerintahkan orang Islam memperlakukan mereka dengan baik dan adil. Tetapi, bagian penting dari sikap adil ini adalah mengkritisi berbagai keyakinan dan praktik yang salah dari sebagian mereka, menunjukkan kepada mereka jalan menuju kebenaran sejati. Tetapi tentu saja, hak mereka untuk hidup sesuai dengan apa yang mereka percayai dan kehendaki tak perlu dipertanyakan lagi.

    Buku Ancaman Global Freemasonry ini berangkat dari premis tersebut, dan secara kritis menelusuri akar Masonry, juga sasaran dan aktivitasnya. Dalam buku ini, pembaca juga akan menemukan ikhtisar sejarah pertarungan para Mason melawan agama-agama ketuhanan. Freemason memainkan peranan penting dalam alienasi Eropa dari agama, dan seterusnya, membangun ordo baru yang berlandaskan kepada filsafat materialisme dan humanisme sekuler. Kita juga akan memahami bagaimana pengaruh Masonry dalam penekanan dogma-dogma ini kepada peradaban non-Barat. Akhirnya, kita akan membahas metode-metode yang digunakan Masonry untuk membantu pengembangan dan pelestarian tatanan sosial yang berdasarkan dogma-dogma ini. Filsafat mereka dan metode yang mereka gunakan untuk mengembangkan filsafat ini akan didedah dan dikritisi.

    Diharapkan bahwa fakta-fakta penting yang diuraikan di dalam buku ini akan menjadi sarana bagi banyak orang, termasuk para Mason sendiri, agar mampu melihat dunia dengan kesadaran yang lebih baik.

    Setelah membaca buku ini, pembaca akan mampu mempertimbangkan banyak hal, dari aliran filsafat hingga kepala berita surat kabar, dari lagu rock hingga berbagai ideologi politik, dengan pemahaman yang lebih dalam, serta melihat dengan lebih baik arti dan tujuan di belakang berbagai peristiwa dan faktor.

    (Harun Yahya)

    Download Ancaman GF

  • Dibalik Sebuah Penantian

    Pekan lalu, Indonesia dihebohkan dengan Sebuah Penantian. Ada apa dengan Sebuah Penantian? Apakah Sebuah Penantian dapat membuat seseorang menjadi Protestan? Ataukah ia hanya film biasa seperti film-film lainnya?

    Menurut sebagian sumber, Sebuah Penantian merupakan film yang diprakarsai oleh Billy Graham yang merupakan penasihat spiritual Bush. Diduga, Billy merupaka seorang Zionis-Kristen. Apa itu Zionis-Kristen?

    Menurut Ridwan Saidi, banyak orang-orang Freemasonry dan orang-orang Yahudi Zionis lainnya yang menggunakan Kristen sebagai kedok untuk mempengaruhi dunia dan mengeliminasi paham-paham diluar Zionisme. Verenigde Oost Compagnie atau VOC merupakan organisasi Freemasonry yang juga berhasil menjajah Indonesia dan mengkristenkan sebagian penduduk Indonesia dengan iming-iming materi dan kedudukan. Kristen di sini tentunya adalah Yudeo-Kristen, sehingga terkenallah istilah Ziokindo (Zionis-Kristen Indonesia).

    Sebenarnya, tanpa ditambahi ‘Zionisme’, Kristen itu sendiri lahir dari seorang bapak yang merupakan agen Zionis purba, yaitu Saulus alias Paulus. Ajaran yang dibawa Paulus mempunyai akar hingga ke Mesir Kuno. Lambang dan konsep ketuhanan Kristen benar-benar diadopsi dari Mesir Kuno. Bahkan konsep kelahiran, masa muda, pertarungan melawan kegelapan, kematian dan kebangkitan Tuhan adalah ajaran yang berasal dari agama Mesir Kuno yang menyembah Horus anak Osiris.

    Sebuah Penantian adalah awal dari program missionaris Amerika yang tergabung dalam Gerakan My Hope. Sebagaimana VOC, mereka menginginkan terbentuknya negara Zionis-Kristen, yang akhirnya menjadi negara Zionis. Harapan-harapan seperti ini dapat Anda baca dalam Protocol of Zion.

    Program My Hope seperti ular yang sedang membentuk lingkaran. Program ini akan bergerak dari satu negara ke negara lain. Setelah kembali ke Amerika, program ini akan kembali berputar. Wallahu a’lam.

    Ular Simbolik1 Ular Simbolik2

    Baca juga:
    Ordo Rosicrucian (AMORC)
    Saul to Paul
    Paulus Nabi Palsu

  • Standar Ganda

    Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS. Al-Muthaffifin: 1-3)

    Pemerintah Amerika adalah contoh yang baik untuk muthaffifin. Mereka sering bertindak curang dan menerapkan standar ganda. Mereka seperti pedagang curang yang memiliki 2 takaran berbeda. Jika mereka menakar untuk diri mereka sendiri, mereka ingin agar takarannya menguntungkan mereka. Tetapi jika mereka menakar untuk orang lain, mereka menakar dengan takaran yang merugikan orang lain.

    Ketika gedung World Trade Center diserang, mereka menuduh Muslim sebagai pelakunya. Lalu mereka melabelkan serangan itu sebagai terror. Belum lagi mereka membuktikan tuduhan mereka, mereka telah menuduh Islam sebagai terrorisme dan Muslim sebagai terroris, secara tidak langsung.

    Teror adalah suatu kondisi takut yang nyata, perasaan luar biasa akan bahaya yang mungkin terjadi. Keadaan ini sering ditandai dengan kebingungan atas tindakan yang harus dilakukan selanjutnya. Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Jika Anda menelpon pekerja di suatu gedung dan berkata, “Di gedung tempat Anda bekerja telah diletakkan sebuah bom yang akan meledak dalam waktu satu jam.” Anda bisa disebut terroris, baik bom itu ada atau tidak.

    Dengan demikian, jelas pelaku terror sesungguhnya adalah pemerintah Amerika itu sendiri. Mereka berkata, “Jangan pergi ke negeri itu! Di sana ada terroris!” Padahal terroris, mungkin, juga ada di Amerika. Lalu kenapa mereka menakut-nakuti warganya seperti itu? Mereka menebar terror dengan berkata bahwa terroris sedang berkeliaran mengincar orang Amerika. Berapa banyak orang yang terbunuh oleh terroris dalam setahun? Apakah sebanding dengan orang yang mati karena kecelakaan lalu-lintas? Lalu mengapa dana untuk anti-terroris lebih besar dari dana untuk mencegah kecelakaan lalu-lintas atau penanggulanganan wabah penyakit?

    Tidak lain karena mereka ingin membesar-besarkan masalah terrorisme ini. Mereka ingin agar warganya terterror, merasa ketakutan. Sekelompok orang yang menebarkan terror bisa kita sebut sebagai gerombolan terroris. Gerombolan terroris sesungguhnya adalah Dinasti Bush.

    Namun maukah mereka disebut terroris? Tentu tidak mau. Mereka adalah muthaffifin. Mereka mencap orang yang menebar ketakutan sebagai terroris. Tetapi jika mereka yang menebar ketakutan atau jika mereka membombardir beberapa negara dengan bom yang lebih banyak dari bom yang digunakan terroris, mereka tidak mau disebut terroris.

    Berhati-hatilah Anda terhadap aksi terror yang dilancarkan oleh gerombolan Bush. Mereka telah mengorbankan banyak jiwa dari para pemuda Amerika untuk melakukan aksi terror global. Mereka telah membunuh orang lebih banyak dibanding terroris yang mereka hujat.

    Bush akan terus melakukan aksi terrornya dan pemerintah Amerika akan terus melakukan kecurangan dengan menerapkan standar ganda.

    Bush tiada bedanya dengan ibu-ibu tukang rumpi yang membicarakan borok orang lain, padahal borok yang lebih besar dan lebih bau tampak begitu jelas pada dirinya.

  • Sinetron dan Seks Remaja

    CIREBON, (Pikiran Rakyat).- Perilaku seks bebas yang diperlihatkan remaja Jawa Barat (Jabar) berusia 19-24 tahun, sangat memprihatinkan. Survei yang dilakukan BKKBN didapatkan hasil 40% remaja berusia 15-24 tahun telah mempraktikkan seks pranikah. Hasil survei tersebut dikutip Ketua Divisi Pemuda Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA) Arif Srisardjono pada diskusi panel “Pengembangan Kesadaran Pemuda Terhadap Faktor Destruktif Melalui Gerakan Anti Pornografi dan Pornoaksi” di Islamic Center, Selasa (10/7).

    “Hasil survei yang fantastis tersebut dilakukan pada tahun 2002 terhadap 2.880 remaja. Dan bisa dipastikan tahun 2007 sekarang ini, hasilnya jauh lebih fantastis lagi,” katanya.

    Prediksi tersebut, menurut dia, didasarkan kepada survei Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005 di Jabodetabek didapatkan hasil lebih dari 80% anak-anak usia 9-12 tahun telah mengakses materi pornografi. Ditambah lagi, saat ini paling tidak ada 4,2 juta situs porno di dunia maya.

    “Apalagi sekarang tayangan acara televisi banyak yang sedemikian vulgar memperlihatkan pornografi dan pornoaksi dalam berbagai bentuknya. Padahal anak dan remaja sangat rawan terhadap pengaruh tayangan dan tontonan kekerasan dan pornografi,” kata Arif.

    Diskusi yang digelar oleh Kemenegpora bekerja sama dengan Kesbangpol Kota Cirebon menghadirkan tiga narasumber. Selain sosiolog dari STAIN Cirebon Prof. Dr. Ali Abdullah, M.A. diskusi juga menghadirkan Arif Srisardjono, S.Sos. dan Shakina Mirfa Nasution, S.E.,M.App.Fin. dari ASA.

    Diskusi panel beberapa kali menayangkan rekaman sinetron yang disiarkan sejumlah stasiun televisi swasta, dalam jam-jam prime time maupun siang hari, soal perilaku remaja sekarang yang cenderung mempraktikkan seks bebas.

    Menurut ketiga narasumber, perilaku seks bebas di kalangan remaja belakangan ini semakin menggejala. Hal itu semakin diperparah oleh tayangan pornografi dan porno-aksi di hampir seluruh stasiun televisi swasta.

    “Semua pihak seharusnya menyadari akan bahaya pornografi dan pornoaksi dalam kehidupan sosial dan perkembangan jiwa anak-anak. Jangan ada lagi upaya melegal-kan pornografi dan pornoaksi dengan dalih budaya. Porno-grafi tetaplah pornografi,” kata Abdullah Ali.

    Melebihi Kokain

    Menurut Shakina, kerusakan otak yang diakibatkan oleh pornografi yang dilihat, didengar, dan dirasakan, melebihi kokain. “Enam jenis hormon diaktifkan pada hubungan pasangan yang sudah menikah. Kini hormon tersebut diaktifkan pada anak dan tanpa pasangan,” katanya.

    Selain itu, ujarnya, dampak psiko-sosialnya juga sangat memprihatinkan dari mulai adiksi (ketagihan), eskalasi perilaku seksual menyimpang (lesbian, incest, pedophilia dll.), desensitisasi (mengu-rangi sensitivitas) yang berujung kepada tindakan (acting out), serta runtuhnya nilai-nilai agama, moral, tatanan ke-luarga, budaya, dan Pancasila.

    “Dan masih banyak lagi dampak buruk dari pornogra-fi. Menurut psikolog Elly Risman, materi pornografi dapat membangun mental model yang pornografis,” katanya.

    Sementara itu, di sisi lain regulasi dan penegakan hukum kasus-kasus porno-grafi sangat lemah, terutama menyangkut anak-anak. “UU Perlindungan Anak sendiri, tidak mengatur pornografi pada anak ataupun membatasi akses anak pada pornografi. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh UU Pers dan UU Penyiaran yang juga tidak secara langsung mengatur pornografi,” ujarnya.

    Terkait dengan hal itu, ASA menuntut segera diundangkannya UU Pornografi yang memberikan perlindungan kepada anak dan remaja. UU tersebut juga harus mengakomodasi klausul khusus tentang perlindungan anak dari pemanfaatan dalam produksi pornografi. (A-92)***

    Baca juga:
    Islam Agama Fitrah
    Revolusi Seks dan AIDS
    Pendidikan Anak

  • Revolusi Seks dan AIDS

    MENYEDIHKAN! Kata itulah yang bisa diterapkan pada sebagian remaja kita. Remaja kita tengah berada di persimpangan jalan. Mereka gamang. Di satu sisi remaja harus menjalani proses berat yang membutuhkan banyak penyesuaian dan kecemasan-kecemasan atas perkembangan yang terjadi pada tubuh mereka, khususnya menyangkut pematangan organ-organ reproduksi yang seolah-olah asing baginya. Sementara di sisi lain, mereka juga tengah terseret oleh satu arus besar berupa pergeseran nilai-nilai global menyangkut paradigma atau cara pandang terhadap seksualitas. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan multimedia merupakan salah satu kendaraan yang mampu menyeret remaja kita pada pusaran revolusi nilai-nilai dan moralitas seksual tersebut.

    Pada tahap remaja, bisa dikatakan perasaan seksual demikian menguat. Gejala tersebut tak bisa tidak harus dialami oleh setiap remaja meskipun kadarnya berbeda antara satu remaja dan remaja lain. Demikian pula kadar kemampuan mengendalikan gejolak perasaan seksual juga berbeda. Sayangnya, ketika mereka harus berjuang mengenali sisi-sisi diri yang mengalami perubahan fisik-psikis-sosial akibat pubertas, masyarakat justru berusaha keras menyembunyikan segala hal tentang seks. Atau dengan kalimat yang lebih halus, masyarakat tidak mampu menjadi mentor yang membimbing remaja ke arah yang benar berkaitan dengan seks.

    Akibatnya, remaja merasa ditinggalkan begitu saja dengan sejuta tanda tanya di kepala mereka. Pandangan bahwa seks adalah sesuatu yang tabu, telah sekian lama tertanam dan bersemanyam dalam moralitas ketimuran, membuat remaja enggan bersikap terbuka. Misalnya berdiskusi tentang segala aspek menyangkut seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja (KRR), baik dengan orang lain atau malah dengan saudara dan orang tua mereka. Mereka merasa tidak nyaman bila membahas persoalan seks.

    Celakanya, di tengah tidak tersedianya sumber informasi yang akurat dan benar tentang seks dan KRR, untuk memuaskan keingintahuan mereka, para remaja justru bergerilya mencari akses dan eksplorasi diri lewat berbagai cara dan media. Ada yang lewat buku, majalah, film, obrolan dengan teman, atau lewat internet. Sayangnya, sumber informasi yang mereka dapat memberikan substansi yang salah dan menyesatkan. Buku, majalah, film, dan internet yang mereka akses cenderung bermuatan pornografi, bukan pendidikan seks. Remaja pun kemudian berubah, dari semula seorang yang mencari tahu apa itu seks, menjadi penikmat seks di media yang diaksesnya.

    Karena seks hampir sama dengan candu, para remaja yang kebetulan berada pada usia penuh gejolak pun terus dilanda kecanduan seks. Mereka terjebak dan ketagihan oleh materi di buku, majalah, atau film porno yang memaparkan kenikmatan hubungan seks tanpa diimbangi suatu sikap tanggung jawab yang harus disandang dan risiko yang bakal mereka hadapi. Situs-situs porno di internet pun seolah menjadi “lokasi hiburan” para remaja dalam memuaskan hasrat seksualitasnya. Meski saat ini aktivitas situs porno baru mencapai 2-3% saja dari total pengguna internet, kecenderungan remaja untuk membuka internet karena ingin mengakses ke situs porno tetap harus menjadi hal yang perlu diwaspadai.

    Kalau saja berbagai tindakan keliru dalam mencari sumber referensi mengenai seks itu tidak diikuti oleh perbuatan — dalam pengertian melakukan aktivitas dan praktik seksualitas — kekhawatiran kita tidak terlalu besar. Persoalannya, bersamaan dengan maraknya perbuatan mencari sumber informasi itulah, praktik-praktik seksualitas di luar “jalur legal” kian memprihatinkan. Berdasarkan data UNICEF, remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu, kini sudah mulai berani melakukan hubungan seks di usia dini, yakni 13-15 tahun. Memang hasil penelitian di beberapa daerah menunjukkan bahwa seks pranikah belum terlampau banyak dilakukan. Misalnya di beberapa daerah seperti Jateng, Jatim, Jabar, dan Lampung angkanya baru berkisar 0,4% – 5%. Di daerah perkotaan Jawa Barat angkanya mencapai 1,3% dan pedesaan 1,4%, sedangkan Bali angkanya 4,4% di perkotaan dan 0% di pedesaan.

    Namun demikian, beberapa penelitian lain menemukan jumlah remaja yang melakukan seks pranikah jauh lebih fantastis. Misalnya saja hasil survei dasar KRR yang dilakukan BKKBN Jabar terhadap 288 responden usia 15-24 tahun di enam kabupaten di Jabar pada Mei 2002 diperoleh data sekira 39,65% remaja Jabar pernah melakukan hubungan seksual pranikah, sedangkan hasil survei BKKBN-LDFE UI memperlihatkan di Indonesia terjadi 2,4 juta kasus aborsi per tahun dan sekitar 21%-nya dilakukan oleh remaja, angka penyakit menular seksual (PMS) pada remaja mencapai 4,18%, 50% dari jumlah penderita HIV/AIDS di Jabar berusia sekisar 15-29 tahun dan pengguna narkoba mencapai 2.736 orang.

    Data yang membuat para orang tua ”merinding” ini bisa jadi menunjukkan angka lebih besar, karena memang yang muncul ke permukaan hanyalah segelintir. Bayangkan jika para remaja kita yang terkena HIV/AIDS itu kelak berhubungan seks dengan orang yang sehat, berapa banyak mereka yang akan tertular penyakit yang menyerang daya imunitas seseorang itu.

    Menurut sejumlah pakar, angka-angka hasil penelitian berbagai lembaga tersebut cenderung memperlihatkan fenomena “gunung es” dengan kaki gunungnya terbenam di bawah samudera. “Angka hubungan seksual sebelum nikah, kehamilan tak diharapkan, penggunaan narkoba, pengidap AIDS/HIV, dan kasus-kasus aborsi di kalangan remaja menunjukkan gejala yang cukup mengkhawatirkan,” kata Kepala Bidang Pengendalian Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Jabar Drs. Suryadi Danuwisastra.

    **

    KELALAIAN untuk menanggapi kebutuhan remaja akan informasi tentang KRR dan seks yang bertanggung jawab ternyata berbuah pahit. Begitu populernya perilaku berisiko, begitu banyak korban berjatuhan, begitu tinggi biaya sosial yang harus kita bayar. Masa depan remaja yang terampas tentu saja tidak mungkin bisa dikembalikan oleh uang, betapa pun besarnya uang itu. Mengenai besarnya biaya atau beban sosial yang harus dibayar, bisa dilihat dari beberapa fakta di bawah ini.

    Percaya atau tidak, angka statistik pernikahan dini — dengan pengantin wanita berusia di bawah 16 tahun — secara keseluruhan mencapai lebih dari seperempat dari total pernikahan. Bahkan di beberapa tempat, angkanya jauh lebih besar, misalnya Jatim 39,43%, Kalimantan Selatan 35,48%, Jambi 30,63%, Jawa Tengah 27,84%, dan Jawa Barat 36%. Di banyak daerah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama. Padahal, pernikahan dini berarti mendorong remaja untuk menerabas alur tugas perkembangannya, menjalani peran sebagai dewasa tanpa memikirkan kesiapan fisik, mental dan sosial mereka.

    Lantas, perjalanan apa yang bisa kita petik dari fenomena di atas? Tak lain, kekukuhan kita untuk terus mengingkari kenyataan bahwa remaja butuh pengetahun dan informasi yang benar tentang seks serta KRR telah menjerumuskan remaja ke dalam kondisi yang menjadikan mereka tidak berkualitas. Mereka menapaki jenjang kehidupan berikut berupa keluarga dengan bekal informasi yang salah. Akibatnya, lembaga keluarga yang mereka bangun pun tidak berkualitas, ayah dan ibu masih muda dan tidak siap menjadi orang tua. Mereka kemudian melahirkan anak-anak yang juga tidak berkualitas. Begitu seterusnya.

    Sudah saatnya kita memperbaiki fungsi keluarga, yang barangkali untuk beberapa hal menunjukkan berbagai distorsi. Keluarga adalah segalanya, dengan ayah dan ibu yang bisa menjadi sumber pertama yang mampu memberi informasi mengenai seks kepada remaja secara benar dan tepercaya. Tentu saja, keluarga saja belum cukup. Peran sejumlah lembaga yang berkaitan dengan masalah pendidikan seks, konseling seks, dan KRR, tetap perlu dilibatkan. Yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana orang tua menanamkan nilai-nilai agama sejak usia dini sambil terus memberikan pengertian dan penyadaran mengenai seksualitas dan KRR.

    Remaja adalah mata rantai dalam pembentukan masa depan dan sejarah perjalanan bangsa. Remaja rusak berarti juga menyiapkan bangsa ini jadi rusak. Oleh karena itu, mereka harus diselamatkan sebab jika remaja kita berkualitas rendah, hal itu akan berakibat pada kehancuran bangsa. Untuk itulah kita para orang tua, juga para remaja hendaknya bersama-sama mencegah keadaan tersebut menjadi lebih gawat.

    Memang tidak mudah, tapi juga tidak ada lagi alasan bagi orang tua untuk berleha-leha menghadapi anak-anak mereka yang sudah memasuki usia remaja. (Muhtar/”Pikiran Rakyat”)

    Baca juga:
    Islam Agama Fitrah
    Sinetron dan Seks Remaja
    Pendidikan Anak

  • Pola-Pola Pemurtadan Kaum Domba

    Selama puluhan tahun kaum musiimin Indonesia boleh berbangga hati dengan julukan “komunitas muslim terbesar di dunia” yang disandangnya. Berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang diiakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat bahwa dari 200 juta jiwa, prosentase umat Islam mencapai 87,3 persen (dibulatkan menjadi 90 persen). Sementara umat Kristen Protestan hanya 6 persen, umat Katolik 3,6 persen, Hindu 1,8 persen, Budha 1 persen dan agama lain 0,3 persen.

    Selama puluhan tahun kaum musiimin Indonesia boleh berbangga hati dengan julukan “komunitas muslim terbesar di dunia” yang disandangnya. Berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang diiakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat bahwa dari 200 juta jiwa, prosentase umat Islam mencapai 87,3 persen (dibulatkan menjadi 90 persen). Sementara umat Kristen Protestan hanya 6 persen, umat Katolik 3,6 persen, Hindu 1,8 persen, Budha 1 persen dan agama lain 0,3 persen.

    Sebagai dai, kita tidak boleh silau mata dengan besarnya angka-angka mayoritas di atas. Apalagi, data-data terkini, mencatat bahwa jumlah umat Islam anjlok drastis dari 90 persen menjadi 75 persen (tabloid SIAR edisi No. 43, 18-24 Nopember 1999 hal. 14).

    Terlepas dari validitas dan akurasi data di atas, perlu dicermati pula hasil temuan Litbang Departemen Agama, bahwa panyebab penurunan populasi umat Islam nusantara itu ada dua hal:

    Pertama, Keberhasilan program KB yang dilakukan dengan gencar kepada kaum muslimin, sementara kepada umat non Islam, program KB tidak pernah didengungkan, nyaris tak terdengar. Dengan demikian, program KB mengakibatkan pertumbuhan populasi umat Kristen jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan populasi umat Islam.

    Kedua, Keberhasilan program Kristenisasi yang dilakukan dangan gencar, semakin hari semakin canggih dan tidak mengindahkan kode efik penyiaran agama.

    Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa penyimpangan-penyimpangan penyiaran agama sering kali dipakai para missionaris untuk menyebarkan Injil dan kekristenan di nusantara, antara lain:

    Pembangunan Gereja di lingkungan masyarakat mayoritas muslim.

    Di tengah-tengah warga mayoritas muslim, pihak Salib melanggar SKB menteri dengan membangun gereja yang megah. Untuk mengisi dan meramaikan gereja pada saat kebaktian, didatangkanlah jemaat Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Dengan demikian, syiar mereka berlahan-lahan menarik simpati warga yang lemah iman.

    Kasus yang terbaru adalah terusiknya ketenangan warga Depok dengan kehadiran GPIB Shalom, akhirnya membuahkan penanganan ilegal. Sebagai kado pada ulang tahunnya yang ke-31, CPIB Depok yang agresif itu dibakar warga.

    Sejak awalnya, pendirian gereja itu selalu ditentang warga sekita dengan alasan karena lokasi itu mayoritas Islam. Sedangkan keluarga Kristen hanya beberapa gelintir orang saja. Dengan sikap nekadnya, maka pihak Kristen mendirikan GPIB Shalom, tepatnya di Jl. Kembang Lio Boji, Depok, Bogor, Jawa Barat. Cara pendiriannya pun ditempuh melalui lobi-lobi licik.

    Setelah gareja itu berdiri megah, maka untuk mengisinya didatangkan orang-orang Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Setiap Minggu, kegiatan gereja tidak pernah sepi oleh orang-orang Kristen impor. Dengan syiar Kristen ini, maka beberapa keluarga muslim yang amblas iman Islamnya, murtad menjadi Kristen, mempertuhankan Yesus.

    Namun, umat Kristen yang cuma segelintir itu semakin berani. Dengan semboyan maju tak gentar, ultimatum serius itu dianggapnya sebagai gertak sambal yang tidak menakutkan. Akhirnya, ultimatum warga menjadi kenyataan.

    Setelah sekian lama memberikan toleransi sambil menahan emosi, maka pada hari Selasa, 2 Nopember 1999 dini hari, GPIB Shalom Depok diamuk masa, dirusak dan dibakar habis. Kesabaran manusia ada batasnya.

    Kristenisasi kepada pasien muslim.

    Di beberapa rumah sakit, misalnya di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, kepada pasien muslim dibagi-bagikan leaflet (brosur) tentang penghiburan dan penyembuhan Yesus Kristus kepada orang-orang sakit. Di rumah sakit Advent Bandung, pasien muslim diajak berdoa berdama oleh rohaniawan rumah sakit dengan tata cara peribadatan Kristen.

    Kristenisasi melalui jalur pemerkosaan gadis-gadis muslimah.

    Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, setelah diculik dan dijebak oleh aktivis Kristen, diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tidak berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan.

    Kasus serupa menimpa Linda, siswi SPK Aisyah Padang. Setelah diculik dan disekap oleh komplotan aktivis Kristen, dia diperlakukan secara tidak manusiawi dengan teror kejiwaan supaya murtad ke Kristen dan menyembah Yesus Kristus.

    Di Bekasi, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda Kristen berpura-pura masuk Islam lalu menikahi seorang gadis muslimah yang salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami isteri.

    Adegan ranjang yang telah direncanakan itu difoto oleh kawan pemuda Kristen tersebut. Setelah foto dicetak, kepada muslimah tersebut disodorkan dua pilihan: “Tetap Islam atau Pindah ke Kristen?”. Kalau tidak pindah ke Kristen, maka foto-foto talanjang muslimah tersebut akan disebarluaskan. Karena tidak kuat mental, maka dengan hati berontak muslimah tersebut dibaptis dongan sangat-sangat terpaksa sekali, untuk menghindari aib.

    Di Cipayung Jakarta Tirnur, seorang gadis muslimah yang taat dan shalehahterpaksa kabur dari rumahnya. Masuk Kristen mengikuti pemuda gereja yang berhasil menjebaknya dengan tindakan pemerkosaan dan obat-obat terlarang.

    Kristenisasi melalui penyebaran Narkoba.

    Di desa Langensari, Lembang, Bandung, Yayasan Sekolah Tinggi Theologi (STT) Doulos meyebarkan Kristen dengan cara merusak moral terlebih dahulu. Di sana, para pemuda usia 15 tahunan dicekoki minuman keras dan obat-obat terlarang sampai kecanduan berat. Setelah kecanduan, para pemuda harapan bangsa itu dimasukkan ke panti rehabilitasi Doulos untuk disembuhkan sambil dicekoki Injil supaya murtad dari Islam. (Republik, 10 dan 12
    April 1999).

    Kristenisasi melalui kesaksian-kesaksian Palsu via mantan muslim (murtadin)

    Tahun 1974, GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus pelecehan agama oleh Pendeta Kernas Abubakar Masyhur Yusuf Roni. Dalam ceramahnya, sang pendeta itu mengaku ngaku sebagai mantan kiyai, alumnus Universitas Islarn Badung dan pernah menjadi juri MTQ Internasional. Dia tafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara sangat ngawur. Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada umat Islam.

    Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong belaka Yusuf Roni teryata tidak bisa baca Al-Qur’an. Dengan kebohongannya itu, Pendeta Pembohong Yusuf Roni diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok, Surabaya.

    Ketika orang sudah banyak melupakan kasus pelecehan Yusuf Roni, di Jakarta muncul pelecehan plus seribu dusta yang baru. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Hagai Ahmad Maulana mengaku sebagai putra kandung kesayangan KH. Kosim Nurzeha. Ceramahnya di gereja pun beredar luas di kalangan masyarakat. Setelah diselidiki, terkuaklah kebohongan besar pendeta Hagai Ahmad Maulana. Sebab belum pernah istri KH. Kosim Nurzeha melahirkan Ahmad Maulana.

    Di Padang, trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya menjadi naik daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mangaku adik kandung ulama besar pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.

    Orang awam banyak yang percaya tanpa cek dan ricek. Langsung yakin begitu saja dengan pengakuan bahwa adik kandung Buya Hamka itu sudah murtad ke Kristen.

    Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat besar. Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya, dia tidak pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim Amarullah.

    Di Cirebon, murtadin Danu Kholil Dinata Ev. Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alis Amin Al Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Setelah dilacak, ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian adalah PALSU.

    Para murtadin pembohong lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias Drs. H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli dikampung Sutini alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M. Mathius, Pdt. Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F. Intan Duana Paken Nata Sastranagara (Ev. Ivone Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan 60 kiyai Banten, dll.

    Kristenisasi berkedok sosial di desa-desa terpencil.

    Kristenisasi dilancarkan kepada orang-orang miskin sambil menawarkan makanan (berisi, mie, gula, dll.) secara gratis, obat-obatan, pakaian bekas, alat-alat pertanian (bibit, pupuk, obat pembunuh serangga), dll.

    Setelah orang desa merasakan manfaatnya, maka barulah para misi menyatakan maksud yang sebenarnya, bahwa mereka itu sebagai pelayan dari Yesus Kristus. Dan bantuan yang mereka nikmati itu adalah dari Yesus. Maka, mana yang lebih baik, Islam atau Kristen?

    Selanjutnya, masyarakat desa dibaptis. Bagi yang tidak mau masuk Kristen maka dimulailah misi untuk menggoda iman untuk melemahkan ajaran Islam.

    Kristenisasi berkedok Islam, yaitu memurtadkan akidah umat dengan strategi ‘Srigala Berbulu Domba’.

    Dengan memakai idiom-idiom keislaman dalam tata cara peribadatan serta menerbitkan buku-buku dan brosur (leaflet) berwajah Islam, tapi isinya memutarbalikan ayat-ayat Al Our’an dan Hadits, untuk mendangkalkan akidah. Dipermainkannya ayat-ayat ilahi untuk meleceh Islam demi untuk menjunjung tinggi kekristenan. Tujuan akhirnya, agar kaum muslimin meragukan ajaran Islam lalu pindah ke Kristen

    Dengan Gerakan pemurtadan kristiani yang dikemas dalam wajah Islam, persoalan dakwah Islamiyah semakin berat. Agresivitas misi Kristen sudah memasuki tingkat berbahaya. Kaum awam sulit membedakan keislaman dan kekristenan, sehingga mudah dikaburkan akidahnya.

    Bentuk-bentut Kristenisasi yang dikemas dalam wajah Islam, antara lain:

    1. Dengan meniru kebiasaan umat Islam dalam bangunan dan tata cara ritual.

    2. GPIB Padang memakai lambang-lambang Minang dalam bangunan Gereja untuk
    merayu orang Minang agar tertarik kepada Kristen.

    3. Di beberapa desa di Yogyakarta, misi Kristen meniru adat kebiasaan umat Islam, seperti tahlilan, pakai kopiah yang biasa dipakai oleh umat Islam, mengucapkan salam `Assalamu’alaikum’, dll.

    4. Shalat 7 waktu dengan pakai peci, sajadah, tiwalul Injil dan qasidah versi Kristen yang dilakukan oleh Kristen sekte Ortodox Syria. Buku-buku yang diterbitkan antara lain. Kitabus Sholawat as Sab’u, Almasih Juru Selamatku, Muslim Sahabatku, La ilaha illallahu, Tauhid dalam perspektif Gereja Ortodox Syiria, dll.

    5. Melalui berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam.

    Ada dua target yang ingin dicapai oleh missi dengan penerbitan buku-buku berwajah Islam.

    Pertama, target ke dalam, untuk memantapkan ajaran Kristen. Seoiah-olah ajaran Kristenlah yang paling benar.

    Kedua, target ke luar, untuk mengelabuhi umat Islam yang masih dangkal pemahamannya, agar mau membaca lalu meyakini doktrin agama Kristan. Ini sangat ditekankan mereka, sebab mereka melihat bahwa umat Islam awam tidak sudi membaca buku-buku yang berwajah Kristen.

    Daftar berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam yang ketahuan, antara lain:

    Buku karya Drs. A. Poernarna Winangun: Upacara lbadah Haji, Ayat-ayat Al Qur’an Yang Menyelamatkan, Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam, dan Riwayat Singkat Pustaka Peninggalan Nabi Muhammad saw.

    Buku Kristus dan Kristen di Dalam Al-Qur’an (Al Masih Wal Masihiyun Fil Quur’an) karya Drs. Amin Al Barokah alias Danu Kholil Dinata.

    Buku Karya mendiang Hamran Ambrie: Allah Sudah Pilihkan Saya Kasih Buat Hidup Baru Dalam Yesus Kristus, Keilahian Yesus Kristus dan Allah tritunggal Yang Esa, Dengan Kasih Kita Jawab, Jawaban Atas Buku Bible Qur’an dan Science, Dialog Tertulis Islam-Kristen, Surat bari Mesir, Siap Sedia Menjawab Tantangan Benteng Islam, Sebuah Memori Yang Tak Terlupakan, dll.

    Terbitan Yayasan Jalan Al Rachrnat: Sejarah Naskah Al Qur’an dan Alkitab, oleh John Gilchrist; Sulitkah Menjadi Orang Kristen, oleh Abdul Masih; Siapakah Kristus Selayaknya Menurut Anda, oleh Abdul Masih; Sudah Kutemukan, oleh Iskandar Jadeed; Benarkah Alkitab Dipalsukan, oleh
    Iskandar Jadeed; Injil Barnabas Suatu Kesaksian Palsu, oleh Iskandar Jadeed; Kesempurnaan Taurat dan Injil, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Supaya Dosa Diampuni, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Kita Berdoa, oleh Iskandar Jadeed; Kristus Menurut Islam dan Kristen, oleh John Gilchrist, Benarkah Nabi Isa Disalib, oleh John Gilchrist; Allah Itu Esa di Dalam Tritungga! Yang Kudus, oleh Zachariah Butrus; Selidikilah, Anda Pasti Selamat, oleh Sultan
    Muhammad Paul.

    Terbitan Yayasan Christian Centre Nehemia: Kerudung Yang Dikoyak, oleh Gulshan Ester; Seorang Gadis Kristen Mempertanggungjawabkan Imannya, oleh Nita; Apakah Al Qur’an Benar-benar Wahyu Allah, oleh Ev. J. Litik; Kebenaran Firman Allah, oleh Pdt. M. Matheus; Lima Alasan Pokok Tentang Isi Al Qur’an Yang Menyebabkan Saya Beralih Dari Islam ke Kristen, oleh
    Ev. J. Litik; dll.

    Karya Pdt. R. Muhammad Nurdin: Ayat-Ayat Penting Di Dalam Al-Qur’an, Keselamatan Di Dalam Islam, Selamat Natal Menurut Al Qur’an, Kebenaran Yang Benar (As Shodiqul Mashduuq), Rahasia Allah Yang Paling Besar (As Sirrullahil Akbar), Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya Allah Ya Ruhul Qudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat, Wahyu Tentang Neraka, Wahyu Keselamatan Allah, dan lain-lain.

    Kaligrafi dan kalender tulisan Arab yang berisikan ayat-ayat Injil tentang ketuhanan Yesus.

    Brosur-brosur: Brosur Dakwah Ukhuwah, Brosur Shirathal Mustaqim, Brosur Jalan Al Rachmat, dll.

    Kaset: Kaset tilawatul Injil, Dzat dan Sirat Allah (ceramah Pendeta Kemas Abubakar Mashur Yusuf Roni), Kesaksian murtadin Muhammad Imran, Kesaksian murtadin Ikhwan Luqman, Kesaksian murtadin Pdt. Akmaal Sani, Kesaksian murtadin Lies Saodah, Kesaksian murtadin Hagai Ahmad Maulana yang mengaku-ngaku putera KH. Kosim Nurzeha, dan lain-lain.

    Oleh: FORUM ANTISIPASI KEGIATAN PEMURTADAN (FAKTA)

  • Dinasti Bush adalah Yahudi

    Masih ingat dengan tulisan “George W Bush Sudah Lahir di Tahun 1796″? Yang dimuat di rubrik ini pada 1 Juni 2007? Kala itu tertulis bahwa di tahun 1796 atau 20 tahun setelah The Founding Fathers Amerika Serikat menandatangani Deklarasi Kemerdekaan AS, moyang dari Presiden AS George Walker Bush dilahirkan. Dia bernama George Washington Bush. Sama-sama George W Bush.

    Michael Collins Piper, seorang kolumnis independen Amerika dan termasuk salah satu pengecam gerakan Zionisme, di dalam karyanya “Jerusalem Baru: Kuasa Zionis di Amerika” (edisi Malaysia diterbitkan Saba Islamic Media), mengutip penemuan Shalom Goldman, seorang Profesor Madya dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah University Emory, yang mengatakan bahwa George Washington Bush merupakan moyang dari George Walker Bush.

    “George Washington Bush yang dilahirkan pada 12 Juni 1796 dan meninggal dunia ada 19 September 1859 merupakan seorang profesor dan penulis buku ‘The Life of Muhammad’, sebuah pertama terbitan Amerika yang menyerang Islam, ” demikian Goldman.

    Goldman yang juga berdarah Yahudi ini juga menegaskan bahwa Profesor Bush merupakan pelopor atau perintis lahirnya kelompok Zionis-Kristen Amerika yang sekarang menguasai Gedung Putih dan Pentagon. “Profesor Bush sangat akif mendukung Zionisme di Amerika dan berperan penting di dalam mengirimkan orang-orang Yahudi Diaspora ke Tanah Palestina, ” lanjutnya.

    Wikipedia menulis, “Selain sebagai akademisi dan penulis, Profesor Bush juga seorang sarjana Alkitab, penginjil, dan seorang kontroversial. Dia lulus dari Dartmouth College di tahun 1818 dan masuk Princeton Theological Seminary. Bush ditahbiskan di Salem Presbytery, Indiana, tahun 1825 dan menjadi pendeta di sebuah gereja Indianapolis, sebah gereja yang dipandang sangat liberal pada masanya. ” Dari tahun 1831 hingga 1847, Bush menjadi Professor dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah di New York University.

    Di tahun 1845 Bush memperlihatkan dukungannya secara terang-terangan terhadap lobi Zionis di Amerika dengan berpindah gereja dan masuk ke dalam General Church of the New Jerusalem. Bush dengan cepat meraih popularitas dan dijadikan juru bicara gereja tersebut, termasuk di dalam majalah yang diterbitkan oleh gereja (New Church Review) dan The Hierophant, sebuah majalah yang sangat dokriner. Inilah sosok salah satu moyang dari Presiden Amerika George Walker Bush. Jadi, tidaklah mengherankan jika sikap dan kelakuan Presiden AS ini sangat pro-Zionisme dan sangat anti-Islam, karena moyangnya pun nsudah demikian.

    Itulah sekilas tentang moyang Dinasti Bush. Namun ternyata ada penemuan lain sekitar asal-muasal Dinasti Bush yang tak kalah penting untuk diketahui.

    Texe Marrs
    Texe Marrs, seorang peneliti masalah-masalah Illuminati dan Zionis berkewarganegaraan Amerika Serikat, dengan susah payah berusaha menelusuri jejak sejarah Dinasti Bush selama bertahun-tahun. Dalam penelusurannya, Marrz menemui banyak sekali data yang mengagetkan terkait salah satu dinasti berpengaruh di Amerika ini. Salah satunya seperti yang dituangkan dalam satu artikel berjudul “George W. Bush, Zionis Double Agent, American Traitor” (George W. Bush, Agen Ganda Zionis, Pengkhianat Amerika).

    Dalam artikel yang halamannya ditulisi sebagai “Exclusive Intelligence Examiner Report”, di awal artikelnya, Marrz mencantumkan dua kutipan: satu dari Hillaire Belloc dalam bukunya Cultural Warrs (Sept 2000) yang menyatakan, “Seseorang sudah bisa dicap anti-Semit jika mengatakan bahwa orang Yahudi itu adalah Yahudi” dan satunya lagi dari Injil Yohannes 20:19 yang berbunyi, “Then… When the doors were shut where the disciples were assembled for fear of the Jews, came Jesus and stood in the midst, and saith unto them, Peace be unto you. ”

    Dalam artikelnya, Marrs yang beragama Kristen ini menulis bahwa mantan Presiden AS George Herbert Bush dan juga puteranya, George Walker Bush, demikian pula Jebb Bush, adik kandung George Bush Junior yang menjadi Gubernur Florida, merupakan para pelayan dan pembantu kepentingan Zionisme. Marrs awalnya ingin mengetahui akar kekristenan Dinasti Bush, namun yang didapat sungguh mengejutkannya.

    Marrs mendapatkan sebuah dokumen yang dikeluarkan National Jewish Welfare Board, saat berlangsungnya perang revolusi Amerika Serikat melawan kolonialis Inggris, mencatat bahwa seluruh anggota Dinasti Bush ternyata berdarah Yahudi dan sengan sendirinya memeluk agama Yahudi. Mereka tercatat sebagai tentara dan juga pelaut Yahudi-Amerika. Ada yang bernama Mayor George Bush, Mayor Louis Bush, dan Mayor Solomon Bush. Nama-nama itu muncul di dokumen tersebut secara jelas. Dengan temuan ini, Marrs sangat yakin bahwa Dinasti Bush adalah sebuah dinasti Yahudi yang berpura-pura komit dengan kekristenannya guna mengelabui warga Amerika dan dunia pada umumnya.

    Hubungan antara Dinasti Bush dengan pusaran elit Zionis Amerika juga sangat dekat, sehingga Marrs tanpa ragu menyatakan bahwa Dinasti Bush merupakan sebuah kelompok elit dalam lingkaran pusat kelompok Illuminati Amerika. “Berkedok sebagai penganut Kristen fundamentalis, Bush sebenarnya bekerja sepenuhnya untuk kepentingan Zionis-Yahudi, ” tegas Marrs yang telah melakukan penelitian soal keluarga Bush selama enam tahun.

    Buku ‘Rahasia di Balik Penggalian Al-Aqsha’ (Abu Aiman, 2007) yang juga mengutip artikel dari Texe Marrs menulis, “Sewaktu terpilih sebagai Presiden AS, George W Bush langsung melantik staf pertamanya untuk Gedung Putih, Ari Fleischer. Dia adalah seorang Rabbi dari sekte radikal Yahudi Lubavitch. Kemudian Bush juga mempertahankan posisi Allan Grenspan, seorang bankir Yahudi, sebagai Komisaris Federal Reserve, dan juga mengangkat seorang Rabbi Yahudi, Dov Zackheim, sebagai pengawas keuangan Pentagon!”

    Lalu, Bush juga mengangkat Michael Chertoff sebagai ketua Dalam Negeri (Homeland Security). Padahal ia adalah ideolog Yahudi dan sangat benci kepada Kristen. Ayah Chertoff adalah seorang Rabbi dan tokoh radikal Yahudi di AS. Marrs bahkan menyamakan Chertoff sebagai Himmler-nya Amerika (Himmler merupakan ajudan Hitler yang sangat kejam).

    “Saya tegaskan, saya telah meneliti latar belakang Dinasti Bush, termasuk dari faksi Rothschild, tanpa keraguan sedikit pun saya tegaskan kepada Anda bahwa Dinasti Bush dan George Walker Bush memang benar adalah Yahudi tulen. Seorang Yahudi berdasarkan keturunan, seorang Yahudi berdasarkan keyakinan. Hanya saja, mereka menyembunyikan itu dari publik dan memakai kedok sebagai keluarga Kristen yang taat. ” (Rizki Ridyasmara/eramuslim)

  • BENIH-BENIH MATERIALISME

    Dari Ubadah bin As-Somit ra katanya: Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada Ilah yang haqiqi kecuali Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba Allah dan utusan Allah dan bersaksi bahwa Nabi Isa adalah hamba Allah, anak hambanya dan kalimah Allah, yaitu Nabi Isa as dijadikan oleh Allah tidak berbapa hanya dengan kalimah KUN yang berarti jadilah engkau maka jadilah dia, yang disampaikan kepada Maryam dan juga tiupan roh daripada-Nya, serta bersaksi bahawa balasan Syurga adalah pasti begitu juga balasan Neraka adalah pasti di mana Allah akan memasukkan mereka yang dikehendaki ke dalam Syurga melalui salah satu dari delapan pintu Syurga sebagaimana yang dikehendakinya. [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad bin Hanbal]

    Pada saat ini banyak orang-orang yang telah terjangkit penyakit materialisme. Yaitu suatu paham yang meyakini bahwa dunia materi ini adalah alam nyata. Padahal dunia materi hanyalah alam fana, alam khayalan, alam maya, alam yang tidak real.

    Coba kita ingat-ingat perkataan kita di masa lalu! Mungkin ada di antara kita yang berkata, “Kita tahu bahwa kita akan menuju kampung akhirat, tapi realistis dong, kita juga ‘kan butuh makan!” Dalam kata-kata seperti ini mengandung makna tersembunyi kira-kira seperti ini: “Kita tahu bahwa para ulama itu berkata bahwa kita akan menuju kampung akhirat. Tapi kampung akhirat itu ‘kan nggak real. Jadi yang real aja deh! Kita hidup di dunia materi dan butuh makan.” Makna tersembunyi ini memang sangat tersembunyi hingga kita sendiri tidak menyadarinya. Kata-kata seperti ini disebarkan oleh para materialist yang kemudian beo-beo dari kalangan muslim ikut mengucapkannya tanpa menyadari makna tersembunyi dalam kata-kata berbahaya ini.

    Maka dari itu ketahuilah oleh kalian wahai saudaraku, bahwa alam akhirat itu lebih realistis dibandingkan alam dunia. Jika kalian begitu semangatnya dalam hal duniawi, maka sudah semestinya kalian lebih semangat lagi dalam hal-hal ukhrowi.

    Kita harus giat dalam mencari kehidupan akhirat. Walau pun demikian kita tidak boleh melupakan kehidupan di dunia. Tetapi ingat, kehidupan akhirat harus didahulukan, adapun kehidupan dunia kita cari dalam aturan yang sudah ditentukan oleh Allah. Jangan sampai gara-gara dunia, kita mengorbankan aqidah kita atau pun mengorbankan saudara kita sesama muslim.

    Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. [QS. Al-Qashash (28): 77]

    Ayat di atas adalah bagi orang-orang yang telah begitu semangat untuk mencari kehidupan akhirat hingga mereka hampir-hampir melupakan kehidupan dunia. Kalau pun mereka mencari harta, mereka mencarinya bukan untuk bermegah-megah. Akan tetapi untuk mendukung da’wah Muhammad Rasulullah saaw. Lihatlah Abu Bakar ra yang telah memberikan seluruh hartanya guna mendukung da’wah Rasul saaw. Lihatlah bagaimana Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan para shahabat lainnya yang mereka mencari harta guna mendukung da’wah Rasul.

    Bukan seperti kita yang begitu semangat untuk mencari kehidupan dunia hingga hampir-hampir melupakan kehidupan akhirat. Kita mencari harta untuk bermegah-megah tanpa mau peduli dengan da’wah Rasulullah saaw. Kehidupan akhirat hanya kita cari dengan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan zakat fithrah. Sungguh menyedihkan keadaan kita ini.

    Apakah yang akan kita katakan di hadapan Rasul kelak ketika kita meminta syafaat beliau saaw? Apa yang kita bawa untuk menyenangkan hati beliau saaw?

    Aku hanya ingin mengingatkan diriku dan dirimu bahwa akhirat itu sangat-sangat realistis. Jika kita begitu semangat mengejar mimpi, mengapa kita kurang semangat mengejar kenyataan?