Kategori: Mari Raih Kesuksesan

  • Dzul Qornain dan Air Kehidupan

    Konon, sebuah kisah mengenai Iskandar Dzul Qornain, seorang Raja Diraja berhasrat mencari Maa’ul-Hayah (air kehidupan). Kabar bin kabar menyebutkan bahwa siapa yang dapat meni’mati air kehidupan itu, dia akan dikaruniai Allah masa hidup yang panjang sampai Hari Kiamat. (lebih…)

  • Dzul Qornain dan Air Kehidupan

    Konon, sebuah kisah mengenai Dzul Qornain, seorang Raja Diraja berhasrat mencari Maa’ul-Hayah (air kehidupan). Kabar bin kabar menyebutkan bahwa siapa yang dapat meni’mati air kehidupan itu, dia akan dikaruniai Allah masa hidup yang panjang sampai Hari Kiamat.

    Beliau bermufakat dengan Perdana Menterinya, Balya ibnu Mulkan (Nabi Khaydir sebelum diangkat menjadi Nabi) agar bersama-sama melakukan perjalanan untuk menemukan sumur air kehidupan itu. Segala sesuatu dipersiapkan, perjalanan dilakukan berdua-duaan tanpa diikuti oleh siapa pun. Balya ibnu Mulkan menjadi penunjuk jalan. Sebelum perjalanan itu dilakukan, Perdana Menteri berpesan kepada Rajanya, “Tuanku, apa pun yang kita temui dalam perjalanan ini janganlah dihiraukan karena hal itu akan menghambat perjalanan kita menuju apa yang kita cari.” Perjalanan ternyata cukup panjang dan memakan waktu cukup lama. Bermacam halangan dan rintangan yang dilewati, tidaklah mereka hiraukan. Dari kejauhan, tampaklah jalan lurus gemerlapan, penuh cahaya yang amat indah. Serasa hilang segala penat dan letih setelah menyaksikan keindahan jalanan itu, namun tujuan belum juga kelihatan.

    Ternyata jalanan itu dihiasi permata-permata indah sejauh mata memandang. Dzulqornain serta merta mengambil permata-permata itu dengan penuh nafsu. Beliau masukkan ke dalam karung yang beliau panggul sendiri. Balya ibnu Mulkan berkata, “Tuanku, perjalanan kita masih jauh. Lebih baik tinggalkan saja semua itu.” Dzulqornain menjawab, “Tak apalah, permata-permata ini tidak seberapa beratnya.”

    Perjalanan diteruskan, terlihat Raja Dzul Qornain sudah agak letih. Tambah jauh perjalanan, tambah pula rasa beratnya bawaan. Sering sudah perjalanan terhenti untuk menghilangkan penat. Sedikit demi sedikit, bawaan berupa permata itu terpaksa dilemparkan. Namun apa yang terjadi, belum juga sampai ke tujuan, beliau sudah tidak mampu lagi meneruskan perjalanan itu. Raja Dzul Qornain terpaksa kembali ke kerajaan, sedang Balya ibnu Mulkan meneruskan perjalanan beliau untuk menemukan maa’ul hayah. Beberapa lama kemudian setelah peristiwa itu, Raja Dzul Qornain meninggal dunia. Sebelum wafatnya, beliau pernah berpesan, “Bila sampai akhir hayatku, tolong keluarkan kedua tanganku dari peti mati. Agar rakyatku mengetahui bahwa si Dzul Qornain yang mempunyai kerajaan di Timur dan di Barat, yang memiliki kekayaan berlimpah ruah, ternyata bila sampai ajalnya, hanya dengan tangan kosong melompong, tak ada satu pun yang dapat aku bawa.”

    Demikianlah sekelumit kisah yang mungkin sekedar tamtsil dan ibarat bahwa perjalanan menuju Hidhratul Qudsiyah agar dapat meni’mati air cinta kasih Allah, haruslah memiliki tekad dan cita-cita yang teguh (istiqomah). Jangan sampai terganggu oleh keadaan yang dilalui.

    Kesimpulan yang dapat ditarik dari kisah ini adalah, permata-permata dunia yang berupa hiburan dan senda gurau adalah halangan yang paling nyata dalam menuju Tuhan, bila penggunaan dan pemanfaatannya melebihi batas dari ketentuan-ketentuan Allah SWT. Selain itu, semua hiasan dan permata dunia itu, pada waktu yang ditentukan akan ditinggalkan semuanya. Wallahu a’lam

  • Pengingat Jiwa

    Dalam kitab Tanwirul Qulub dijelaskan bahwa jiwa manusia pada asalnya adalah ‘lathifah Rabbaniyah’ dan dekat sekali hubungannya dengan Allah. Selalu memuja dan memuji serta bertasbih, yang diketahuinya hanyalah Allah semata-mata. Akan tetapi setelah jiwa itu berhubungan dengan jasad, barulah jiwa itu mengerti bahwa ada yang lain (aghyar) lagi selain Allah. Di sinilah titik awal dari apa yang disebut ‘lupa’. Lupa terhadap keaslian dirinya sebagai lathifah Rabbaniyah. Lupa terhadap tugas yang harus diembannya. Hal ini disebabkan ka’inat/aghyar (segala sesuatu yang selain Allah) yang baru diketahuinya itu telah mampu menguasai jiwanya, melekat pada lensa mata hatinya. Di sinilah perlunya peringatan yang dibawa oleh para Rasul. (lebih…)

  • Tajrid dan Kasab

    Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul Kasyaf di lingkungan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, amat mengkhawatirkan adanya orang yang baru selangkah memasuki arena Tasauf sudah berani mengukir kata dan ucapan seperti perkataan Al-Hallaj. Kadang menjadikannya bahan obrolan di kedai kopi. (lebih…)

  • Pengingat Jiwa

    Dalam kitab Tanwirul Qulub dijelaskan bahwa jiwa manusia pada asalnya adalah ‘lathifah Rabbaniyah’ dan dekat sekali hubungannya dengan Allah. Selalu memuja dan memuji serta bertasbih, yang diketahuinya hanyalah Allah semata-mata. Akan tetapi setelah jiwa itu berhubungan dengan jasad, barulah jiwa itu mengerti bahwa ada yang lain (aghyar) lagi selain Allah. Di sinilah titik awal dari apa yang disebut ‘lupa’. Lupa terhadap keaslian dirinya sebagai lathifah Rabbaniyah. Lupa terhadap tugas yang harus diembannya. Hal ini disebabkan ka’inat/aghyar (segala sesuatu yang selain Allah) yang baru diketahuinya itu telah mampu menguasai jiwanya, melekat pada lensa mata hatinya. Di sinilah perlunya peringatan yang dibawa oleh para Rasul.

    Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Adz-Dzariyat: 55)

    Melaksanakan apa yang diingatkan oleh Rasulullah, berupa larangan dan perintah, merupakan pembersih hati, jiwa dan perasaan yang paling tepat dan paling berguna. Jiwa akan kembali menjadi bersih dan suci dan dapat menyaksikan Al-Haqq seperti dahulu. Dapat pula menyaksikan ‘Arasy, Kursiy dan lainnya yang berada dalam alam malakut.

    Syaikh Ahmad ibnu ‘Atho-illah berkata dalam Al-Hikam, “Bagaimana hati akan cemerlang, sedang gambaran dari semua keadaan terlalu lekat pada lensa mata hatinya, atau bagaimana mungkin akan bisa menuju Allah sedang dia sendiri menjadi tunggangan nafsu syahwatnya?”

    Islam mengajarkan kita untuk beribadah yang juga berfungsi mendidik jiwa agar tidak ditunggangi hawa nafsu. Islam juga mengajarkan kita akhlaq yang dapat menepis awan kebendaan yang menghalangi hamba dari memandang Allah dan alam malakut. Ajaran Islam membimbing manusia untuk memurnikan ruh hingga menjadi ruh murni yang mengenal haqiqat dirinya dan menyaksikan Wujud Allah Al-Haqq.

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)

    Shalat mengajarkan kita untuk khusyu, fokus kepada Allah dan melupakan yang lain. Membersihkan ruh dari yang selain Allah. Orang-orang yang khusyu akan dapat menemui Tuhannya. Namun kebanyakan kita sholat dalam keadaan tidak khusyu. Ini menunjukkan bahwa ruh kita masih terlalu asyik dengan yang selain Allah. Kita masih harus lebih banyak lagi menyebut Namanya agar hanya Dia yang ada dalam diri kita. Sehingga ruh kita menjadi murni dari yang selain Allah.

    Ketika ruh telah menjadi murni, maka sirnalah tubuhnya yang fana dari pandangannya bersamaan dengan sirnanya alam dunia. Tersadarlah ia seperti tersadarnya seseorang dari mimpinya. Maka ia melihat alam yang lebih nyata, alam malakut. Ketika ruhnya bertambah murni, ia akan melihat Allah ‘Azza wa Jalla.

    Baca juga:
    Keni’matan Menyebut Asma Allah

  • Tajrid dan Kasab

    Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul Kasyaf di lingkungan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, amat mengkhawatirkan adanya orang yang baru selangkah memasuki arena Tasauf sudah berani mengukir kata dan ucapan seperti perkataan Al-Hallaj. Kadang menjadikannya bahan obrolan di kedai kopi.

    Jika meneliti Kitab Insan Kamil karya Syaikh Abdul Karim Al-Jilli, ada kecenderungan kepada faham yang senada dengan Al-Hallaj, tetapi ada penekanan agar tidak semudah itu meniru-niru perkataan Al-Hallaj tanpa pemahaman dan pengalaman yang benar. Al-Jilli menegaskan, “Hamba adalah hamba, Tuhan adalah Tuhan. Tidaklah bisa hamba menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi hamba.”

    Hal lain yang dikhawatirkan adalah para pemula yang menuntut ilmu tashawwuf yang kemudian meninggalkan karya dan usaha. Padahal dirinya dan keluarganya sendiri amat membutuhkan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.

    Syaikh Ibnu ‘Atho-illah berkata dalam Matnul Hikam, “Hasratmu untuk tajrid, padahal Allah masih menempatkanmu pada jalur kasab, maka hasrat yang demikian merupakan nafsu yang tersembunyi.”

    Tajrid bisa saja terjadi dengan kehendak Allah, bukan dengan kehendak kita. Maka suatu kekeliruan bila ada orang yang menuntut ilmu tasauf, memaksakan dirinya untuk tajrid dan tidak berusaha untuk mencari nafkah bagi kepentingan dirinya dan keluarganya. Seorang milyarder yang memenuhi kebutuhannya dan keluarganya tanpa bekerja lagi, silahkan saja dia bertajrid secara lahir dan bathin. Bahkan jika ia tidak bertajrid untuk memfokuskan diri dalam ibadah, maka meninggalkan tajrid itu merupakan penurunan derajat. Namun orang yang Allah letakkan pada jalur kasab, jangan memaksakan diri untuk bertajrid.

    Syaikh Al-Junaid berkata bahwa orang yang meninggalkan kasab dengan unsur kesengajaan adalah lebih berat dosanya dari berzinah dan mencuri. Lalu mengapa para guru sufi mengajarkan konsep tajrid jika meninggalkan kasab secara sengaja merupakan suatu dosa?

    Tajrid itu ada tajrid lahir dan tajrid bathin. Tajrid secara lahir, berarti seseorang meninggalkan kasab demi mengabdi kepada Allah. Adapun tajrid secara bathin, yaitu Anda meyaqini bahwa kasab itu tidak mendatangkan hasil apa-apa. Jadi, tajrid secara bathin adalah seseorang meninggalkan kasab sebagai sebab datangnya rizqi dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sebab datangnya rizqi. Secara lahir, orang itu tetap berikhtiar, karena memilih yang halal itu diperintahkan oleh Allah, maka itu adalah ibadah. Namun secara bathin, dia tidak menempatkan ikhtiar sebagai pendatang rizqi. Bathinnya telah meninggalkan kasab. Inilah tajrid bathin.

    Dalam bahasa yang ekstrim, orang yang tidak bertajrid secara bathin, berarti dia telah menjadikan usahanya sendiri sebagai tuhan yang mendatangkan rizqi. Orang yang bertajrid, dia meninggalkan kasab. Orang yang bertajrid secara bathin bukan berarti meningalkan kasab secara lahir. Namun dia tidak menjadikan usahanya sendiri sebagai tuhan yang mendatangkan hasil.

    Lebih jauh lagi, orang yang bertajrid secara bathin itu tetap makan, namun dia meyaqini bahwa yang memberi kekuatan dan kesehatan adalah Allah. Makanan hanyalah makhluq yang padanya Allah letakkan keberkahan yang menyehatkan dan menguatkan.

    Memang ada orang-orang tertentu yang Allah berikan keistimewaan hingga tidak lagi memerlukan makanan secara lahir. Dia bisa tetap kuat dan sehat dengan keberkahan dari Allah langsung tanpa mengambilnya dari makanan. Namun hal ini tidak bisa dipaksakan. Artinya tidak datang dari usaha dan kehendak kita, tetapi datang dengan kehendak dan kuasa dari Allah.

    Begitu juga ada orang-orang yang telah Allah berikan kecukupan materi tanpa berusaha lagi. Maka silahkan ia berhenti dari kasab dan masuk kepada tajrid.

    Pada akhirnya, tajrid secara bathin merupakan hal yang harusnya ada pada diri kita.

  • Nafsu yang Tidak Pernah Kenyang

    Sebagian orang berkata bahwa orang yang perutnya lapar bisa berbuat nekad. Padahal kita tahu bahwa orang yang perutnya lapar itu tidak mempunyai energi dan dorongan untuk berbuat jahat atau pun nekad. Apakah menurut Anda perampokan dan korupsi itu dilakukan oleh orang-orang yang perutnya lapar? Justeru kejahatan itu dilakukan oleh orang-orang yang perutnya kenyang, hanya saja mereka takut lapar. (lebih…)

  • Mensucikan Hati

    Hendaklah Anda menumpukan perhatian kepada hati dan bathin Anda. Rasulullah SAW telah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan amalanmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan niatmu.”

    Karena itu, hendaklah Anda menyatukan ucapan dengan amalan, membenarkan amalan dengan niat dan keikhlashan, membenarkan niat dan keikhlashan dengan membersihkan bathin dan meluruskan hati, karena hal itu adalah asal dan sumber segala perkara. (lebih…)

  • Tayangan Pornografi Pancing Tindakan Seksual

    Para orangtua perlu ekstra hati-hati karena tayangan pornografi di televisi ternyata memancing hasrat melakukan tindakan seksual. Penelitian di Kota Palembang, Sumatera Selatan, 77 persen responden menyatakan terpancing hasratnya melakukan tindakan seksual setelah menyaksikan adegan pornografi. Di Semarang, Jawa Tengah, sebanyak 63 persen responden.
    Peneliti Senior dalam Bidang Komunikasi dan Opini Publik Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof Rusdi Muchtar MA, mengemukakan hal itu, Sabtu (2/2) di Jakarta. (lebih…)

  • Nilai Sang Waktu

    Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-‘Ashr)

    Betapa banyak atlit sprint yang gagal meraih medali emas, karena tertinggal 1 detik saja dari lawannya. Bahkan ada yang hanya setengah detik saja. Begitu berharganya satu detik bagi seorang sprinter. (lebih…)