Kategori: Mari Raih Kesuksesan

  • Doa: Syukur atau Kufur

    Doa merupakan inti ibadah. Doa merupakan awal terjadinya kesyukuran. Syaikh Ibnu Athoillah pernah berkata bahwa beliau terkadang malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah SWT karena merasa bahwa beliau belum mensyukuri segala ni’mat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu beliau juga takut merasa seakan-akan Allah SWT tidak memberi sebelum diminta. Namun kemudian beliau tetap berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Sedangkan menjalankan perintah Allah SWT adalah ibadah.

    Jadi maksudnya adalah orang yang berdoa itu hendaklah ingat bahwa Allah adalah Yang Memberi sebelum diminta. Hendaknya orang yang berdoa itu ingat akan segala anugerah yang telah Allah beri tanpa kita minta, padahal kita bukanlah orang yang banyak bersyukur. Sehingga muncul keyakinan bahwa Allah SWT memanglah Mahapengasih lagi Mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Kepada mereka yang tidak berdoa saja Allah telah begitu pengasih. Bagaimana lagi kepada mereka yang berdoa kepada-Nya.

    Sebagian manusia beribadah kepada patung atau kepada manusia seperti Firaun. Mereka meminta kepada berhala-berhala itu apa-apa yang mereka inginkan. Mereka berfikir bahwa berhala-berhala itu dapat memberi manfaat. Sedangkan hamba-hamba Allah yang sejati hanya kepada Allah mereka menyembah dan meminta. Mereka yakin bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat.

    Setiap ibadah tentu ada hikmahnya. Ada orang yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang memiliki penghasilan di atas 10 juta rupiah per hari.” Lalu dia berfikir, doa merupakan kunci ataupun password untuk membuka pintu dari perbendaharaan yang telah Allah sediakan bagi kita. Jika Dia tidak memberikan apa yang kita minta hari ini, maka Ia mengakumulasi pemberian-Nya yang Dia tahan untuk diberikan di kemudian hari. Atau mungkin Dia mengkonversinya dengan yang lebih baik dan lebih berharga dari uang 10 juta rupiah pada hari itu. Lalu orang itu teringat bahwa Allah masih memberinya kehidupan pada hari itu. Sementara di tempat lain terdengar suara tangis mengiringi anggota keluarganya yang meninggal dunia.

    Orang itu juga teringat bahwa Allah telah menggerakkan dia untuk ikut shalat shubuh berjama’ah. Sementara sebagian tetangganya masih terlelap dibuai mimpi. Hamba itu juga teringat akan kesehatan yang dia rasakan. Sementara sebagian manusia sedang merasakan kesakitan akibat parahnya penyakit yang dia derita, dan diperlukan uang puluhan juta rupiah untuk mengobatinya.

    Lalu dia teringat akan mata pencahariannya yang mana sebagian manusia harus mencari nafkah dengan jalan yang lebih berat namun lebih sedikit hasilnya. Teringat pula ia akan segala makanan yang dia ni’mati. Sementara di tempat lain, orang-orang menderita kelaparan yang hebat.

    Mengingat semua itu, bersyukurlah si hamba karena Allah telah memberinya lebih dari yang ia pinta. Dia berharap bahwa segala kebaikan itu tidak hanya dia rasakan di dunia ini, namun juga di akhirat kelak. Lalu dia memohon perlindungan Allah dari siksa neraka yang Allah siapkan bagi mereka yang mengingkari Allah Sang Pemberi ni’mat.

  • Laa Takhof wa Laa Tahzan

    Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. [QS. Al-Baqarah: 38]

    Allah telah mengirim Nabi Adam ke bumi untuk menjadi khalifah-Nya. Namun Allah berjanji akan memberi petunjuk melalui malikat-Nya agar Adam dan keturunannya dapat menjalankan tugas mereka sebagai hamba dan khalifah Allah dengan sukses dan meraih kemenangan. (lebih…)

  • Laa Takhof wa Laa Tahzan

    Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. [QS. Al-Baqarah: 38]

    Allah telah mengirim Nabi Adam ke bumi untuk menjadi khalifah-Nya. Namun Allah berjanji akan memberi petunjuk melalui malikat-Nya agar Adam dan keturunannya dapat menjalankan tugas mereka sebagai hamba dan khalifah Allah dengan sukses dan meraih kemenangan.

    Kebahagiaan

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-Baqarah: 277]

    Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Ali Imran: 170]

    Mario Teguh, seorang motivator terkenal, merumuskan kebahagiaan sebagai tidak adanya ketidak-bahagiaan. Apa yang beliau maksud dengan ketidak-bahagiaan? Ketidak-bahagiaan yang beliau maksud adalah keadaan di mana hadir rasa khawatir dan atau rasa takut.

    Al-Khauf, ketakutan dan kekhawatiran, merupakan penghalang bagi seseorang dari mengambil tindakan. Ketakutan yang berlebihan akan mengalahkan keyaqinan seseorang untuk sukses. Bahkan al-khauf yang tidak pada tempatnya dapat membuat seseorang lupa kepada janji-janji Allah. Bahkan boleh dikatakan meragukan janji-janji Allah.

    Misalnya seseorang enggan berbagi dengan sesama karena takut menjadi miskin. Maka Allah berfirman dalam hal ini:

    Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 268]

    Setan sering membisikkan ke dalam hati orang-orang yang ingin bersedekah dengan berkata, “Janganlah kau sedekahkan hartamu, nanti kau akan menjadi miskin!” Tetapi Allah menguatkan kita dan berfirman, “Sedekahkanlah, maka Aku mengampunimu dan memberimu karunia yang luas.”

    Begitulah sikap orang-orang beriman. Mereka selalu melihat segala hal dari sisi positif. Mereka menjadikan bantahan terhadap mereka sebagai penguat pendirian mereka. Semakin mereka dibantah, semakin kuat pendirian mereka.

    (Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Al-Wakil.” [QS. Ali Imran: 173]

    Orang beriman yang penuh keyaqinan kepada Allah tidak akan takut atau pun gentar menghadapi perang-kejiwaan yang dilontarkan kepada mereka. Justeru mereka bertambah yaqin kepada Allah dan semakin menyerahkan diri mereka untuk diatur oleh Allah, Rasul-Nya dan pemimpin mereka yang sah.

    Menggapai Kebahagiaan

    Setiap hari kita mendengarkan adzan setidaknya sebanyak lima kali. Dalam adzan ada lafazh “Hayya ‘alal falah”. Al-Falah dapat berarti kemenangan, kesuksesan, kebahagiaan, kejayaan, keberhasilan, dsb. Bagaimana menggapainya?

    Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS. Al-‘Ashr]

    Merugilah manusia yang telah diberikan waktu dan kehidupan, namun tidak memanfaatkannya di jalan kebaikan dan kebenaran. Hanya orang-orang yang mengisi kehidupannya dalam optimisme, beramal shalih, bekerja dan berusaha dengan baik dan benar, kemudian saling menguatkan, saling memotivasi kepada jalan kebenaran serta memotivasi untuk tetap sabar dan setia pada kebaikan, itulah yang menggapai kebahagiaan haqiqi. Kebahagiaan yang lebih besar dari sekedar materi dunia dan seisinya. Karena orang yang tetap sabar dalam kebaikan akan memperoleh tidak hanya materi atau pun dunia dan segala isinya, tetapi juga nilai-nilai, hal-hal immateril, segala apa yang terkandung dalam jiwa yang luhur, serta menjadi dekat dengan Allah. Orang yang setia kepada kebaikan haqiqi akan menjadi kekasih Allah SubhanaHu wa Ta’ala. Inilah kebahagian seajti yang abadi.

    Tauladan

    (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [QS. Al-Fatihah: 7]

    Di dunia ini begitu banyak manusia dengan segala macam sifat dan keadaannya. Di antara mereka ada yang sukses dan disukai banyak orang, namun juga ada yang rusak, menjadi sampah masyarakat, dan dibenci banyak orang. Lihatlah kedua type itu!

    Jika Anda bertemu dengan orang sukses, katakanlah, “Dia orang sukses, dan saya akan menjadi seperti dia jika saya mengikuti langkah-langkah yang ditempuhnya.”

    Jika Anda bertemu dengan orang gagal, katakanlah pada diri Anda, “Dia orang yang gagal, dan saya akan menjadi seperti dia jika saya mengikuti langkah-langkah yang ditempuhnya.”

    Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Yunus: 62]

    Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS. An-Nisa`: 69]

    Petunjuk Itu

    Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [QS. Al-Baqarah: 1-5]

    Al-Qur’an adalah kitab yang lebih hebat dari Science of Getting Rich, Seven Habits, dan buku-buku yang sejenis. Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan kesuksesan dunia, tetapi kesuksesan dunia dan akhirat. Tinggal Anda mau mengikutinya atau tidak.

    Ikuti Petunjuk Itu!

    Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-An’am: 48]

    Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-A’raf: 35]

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali Imran: 31]

    Semakin kita mengikuti langkah-langkah mereka, semakin kebiasaan mereka juga menjadi kebiasaan kita, maka semakin kita menjadi dekat dengan Allah. Juga semakin keputusan dan perbuatan kita menjadi tepat sesuai yang disukai serta diridhoi Allah. Pada saat itu, apa yang kita fikirkan, kita ucapkan, dan kita perbuat akan semakin memancarkan citra Ilahi.

    Dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah SAW telah bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman : “Barangsiapa yang memusuhi wali-wali-Ku, sesungguhnya Aku menyatakan perang ke atasnya. Dan tidaklah seorang hamba itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku cintai melainkan dengan apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Berterusanlah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan mengerjakan (amalan-amalan) nawafil (sunnah) hinggalah Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku adalah penglihatannya yang dengannya ia melihat dan tangannya yang dengannya ia memegang dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, Aku akan mengurniakannya dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya.” (HQR. Imam Al-Bukhari)

    Wakilkan Kepada Allah

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. [QS. Al-Baqarah: 286]

    (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-Baqarah: 112]

    Jika Anda khawatir tidak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepada Anda, atau Anda khawatir akan gagal dalam suatu hal, maka hilangkan kekhawatiran itu. Kerjakan saja apa yang mampu Anda kerjakan, lalu serahkan apa yang tidak mampu Anda kerjakan kepada Allah. Berusaha itu urusan kita, sedangkan hasil itu urusan Allah. Kerjakan urusan kita, dan biarkan Allah mengurus urusan-Nya. Jika kita berusaha dan menyerahkan diri kepada Allah, maka tidak ada kekhawatiran dalam diri kita dan tidak pula kesedihan. Karena kita yaqin bahwa kita telah berusaha sebaik mungkin yang kita mampu. Dan kita akan siap menerima segala ketentuan dari Allah Yang Mahakuasa. Dan Allah akan memberi kita balasan atas usaha baik kita, apakah di dunia ini maupun di akhirat kelak.

    Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. [QS. Al-Mu`min: 44]

    Istiqomah

    Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. [QS. Al-Ahqaf: 3]

    Sesungguhnya Al-Qur`an itu mengajarkan banyak kebaikan dan memastikan pengikutnya yang istiqomah untuk sukses dunia dan akhirat. Mario Teguh sering menggunakan istilah ‘setia kepada kebaikan’ sebagai ganti istilah ‘istiqomah’. Karena istiqomah dalam Islam tentu saja bukan teguh di dalam kesesatan, tetapi teguh dalam mengikuti kebaikan-kebaikan yang diajarkan Al-Qur`an. Teguh dalam mengikuti langkah-langkah para Nabi, para wali, para shiddiqiin (orang-orang benar), shalihin (orang-orang shalih), dan syuhada (orang-orang yang mati dalam membela dan mempertahankan ajaran kebaikan, yaitu Islam).

    Mari Pelajari dan Amalkan!

    Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, [QS. Fathir: 29]

    Marilah kita mengkaji Al-Qur`an dan Al-Hadits! Yaqinlah bahwa Al-Islam adalah ajaran yang sempurna! Selamatlah manusia yang mengamalkannya dengan keimanan kepada Allah; selamat di dunia, juga di akhirat. Tidak ada alasan yang masuk aqal untuk meninggalkan ajaran ini.

    Marilah kita berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasul! Sungguh, Rasulullah telah menyuruh kita untuk memegang Al-Qur`an dengan erat melalui perkataannya, “Gigitlah Al-Qur`an dengan gigi gerahammu.” Dan bersabarlah dalam berjalan menuju Allah. Barangsiapa bersungguh-sungguh dalam menuju Allah, maka Allah tunjukkan jalan-Nya yang lurus. Maka janganlah kita berputus asa.

    (Ya’qub berkata: ) “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. [QS. Yusuf: 87]

    ><><><><><><><
    Saksikan Mario Teguh di O Channel
    Setiap Kamis pukul 21:00, Sabtu pukul 20:00, dan Ahad pukul 13:00
    Lalu perhatikan betapa sesuainya ajaran Islam dengan apa yang diajarkan oleh para motivator di abad ini.
    Allah telah menyuruh kita untuk memperhatikan dan menggunakan aqal-fikiran kita. Maka perhatikanlah, dan temukanlah bukti-bukti kebenaran Islam.

  • Ni’mati Surga Dalam Sujudmu

    Rasulullah saw sangat mencintai sujud. Beliau saw ini adalah orang yang sangat menyukai sujud. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bertanya para sahabah kepada Sayyidatuna Aisyah, “Bagaimana sujudnya Rasul?” Beliau menjawab, “Rasul saw ketika bersujud, lamanya sepanjang 50 ayat.” Jika bacaan orang yang lancar bacaan Alqurannya 100 ayat itu kira-kira setengah jam, maka 50 ayat ini kira-kira 15 menit dalam 1 kali sujud.

    (lebih…)

  • Ni’mati Surga Dalam Sujudmu

    Rasulullah saw sangat mencintai sujud. Beliau saw ini adalah orang yang sangat menyukai sujud. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bertanya para sahabah kepada Sayyidatuna Aisyah, “Bagaimana sujudnya Rasul?” Beliau menjawab, “Rasul saw ketika bersujud, lamanya sepanjang 50 ayat.” Jika bacaan orang yang lancar bacaan Alqurannya 100 ayat itu kira-kira setengah jam, maka 50 ayat ini kira-kira 15 menit dalam 1 kali sujud.

    Demikianlah jiwa yang turut bersujud. Barangkali berbeda dengan kita. Jiwa kita ingin bersujud tapi tubuh kita menolak. Hati kita ingin sujud kalau perlu walau hanya 5-6 menit, tetapi tubuh kita menolak untuk lama-lama bersujud. Kenapa?? Karena tubuh kita ini kurang dipenuhi cahaya sujud. Jika tubuh kita dipenuhi cahaya sujud, dia tidak akan merasa lelah dalam bersujud. Ketika kita terlepas dari keni’matan sujud, maka ingin rasanya sujud dan segera selesai. Sedangkan Rasul saw telah bersabda, demikian diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, “Derajat hamba yang paling dekat kepada Allah adalah saat dia sedang bersujud, inilah yang sedekat-dekatnya hamba kepada Allah dan inilah yang paling sulit bisa dini’mati.”

    Ketika Sayyidina Tsauban ra ditanya oleh para sahabat “Apa amal yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau tidak menjawab. Ditanyakan kedua kali, beliau tidak menjawab. Ditanyakan ketiga kali, baru dia menjawab, “Aku telah bertanya pertanyaan ini kepada Rasul dan beliau menjawab, ‘Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah banyak bersujud kepada Allah.’ Itulah perbuataan yang dicintai Allah.”

    Sayyidina Rabi’iah bin Ka’ab ra, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika diriwayatkan oleh Imam bin Hajar dalam kitabnya Fathul Baari bi syarah shahih bukhari, ketika Rabi’ah bin Ka’ab ini meminta kepada Rasul “Kuminta padamu yaa Rasulullah, agar aku bisa bersamamu wahai Rasul!” Maka Rasul saw menjawab “Bila kau ingin dekat denganku di surga dan menemaniku di surga maka perbanyaklah sujud.”

    Kita telah mendengar nama-nama mulia semacam Imam Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang digelari Assajjad karena dia sujud 1000 kali setiap malamnya, melakukan shalat 500 rakaat di dalam tahajjudnya.

    Berkata Al Hafizh Al Imam ibnu Hajar Atsqalani menukil ucapan Imam Nawawi di dalam syarah Nawawi Shahih Muslim, bahwa ketika ditimbang antara lamanya berdiri atau banyaknya sujud maka banyaknya sujud lebih mulia dari lamanya berdiri di saat shalat. Demikianlah yang diperbuat oleh para sahabat. Mereka memperbanyak sujudnya.

    Guruku, Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa telah mengajak kita untuk memuliakan hari-hari kita dan malam-malam kita dengan memperbanyak sujud dan pula jangan lupakan diri dan jiwa kita. Ketika diri kita bersujud, ingat jiwa kita agar bersujud pula kepada Allah. Ketika jiwa telah bersujud pada Allah, maka ia akan meni’mati kehidupan ini bagaikan surga. Ia seakan sudah sampai ke dalam keni’matan surga sebelum ia wafat karena telah meni’mati indahnya kedekatan kehadirat Rabb.

    Ketika seseorang telah memahami dan merasakan indahnya dzikrullah, indahnya mengingat nama Allah, indahnya mensucikan nama Allah, ia akan merasakan keni’matan yang lebih dari seluruh keni’matan yang ada di muka bumi. Dia akan lupa dengan surga dan segala isinya. Dia akan lupa dengan neraka dan segala ancamannya. Karena ia telah meni’mati keni’matan yang terluhur dan tertinggi, yaitu kemuliaan khusyuk di dalam kemuliaan cahaya sujud. Bukankah telah bersabda Nabi kita Muhammad saw “Sungguh Allah telah mengharamkan api neraka dari membakar anggota sujud.” Menunjukan ibadah sujud ini ibadah yang sangat mulia dan dia dirangkai didalam shalat.

    Rasul telah bersabda “Wahai Allah, jadikan hal yang paling kucintai adalah shalat.” Ketahuilah, ketika meledak dari kerinduan kepada Allah, beliau melampiaskannya dengan memperbanyak shalat, dengan melakukan sujud dan rukuk.

    Warisilah kemuliaan sujud ini. Jadikan hari-hari kita dalam kemulian sujud. Ingatlah saat-saat di mana kita kita semua kelak akan sendiri di alam barzakh. Ribuan tahun menanti keputusan Allah, menanti sidang akbar.

    Beruntunglah mereka yang wafat di dalam barzakhnya sebagai orang yang merindukan Allah dan anggota sujudnya menyaksikan bahwa ia banyak bersujud.

    Yaa Rahman Yaa Rahim… kami mengadukan keadaan kami yang demikian jauh dari kemuliaan sujud. Rabbiy kepada siapa kami meminta kalau bukan kepada yang Maha memiliki kelezatan sujud? Tumpahkan atas kami kemuliaan ini. Curahkan atas kami kebahagiaan di dalam kemuliaan sujud. Rabbiy, yaa Rahman yaa Rahim… kami berdoa kehadiratMu agar Kau limpahkan atas kami keberkahaan dalam kehidupan dan di dalam sakaratul maut dan di alam barzakh dan di Yaumil Qiyamah. Limpahi atas kami kebahagiaan dunia wal akhirah. Amin

  • Sabar Sesaat

    Pandanglah segala sesuatu dengan tenang. Jangan dengan emosi atau pun terburu-buru (isti’jal). Sabarlah barang sejenak. Agar dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Jika Anda terburu-buru dalam memandang sesuatu, Anda bisa salah tangkap. Ingatlah, isti’jal itu dari syaithon. Sikap tergesa-gesa dapat berakhir penyesalan.

    Anda boleh saja bersegera dalam kebaikan. Tetapi bukan terburu-buru. Bersegera itu berbeda dengan terburu-buru. Misalnya Anda membaca suatu artikel yang ‘memprovokasi’ Anda untuk mengomentarinya. Sebaiknya Anda jangan terburu-buru mengomentarinya. Anda harus pahami dulu isi artikel itu dengan baik. Kemudian fikirkan, apakah Anda memang perlu untuk mengomentarinya? Jika ya, fikirkan tentang apa yang harus Anda komentari. Lalu fikirkan, bagaimana bunyi komentar yang tepat? Jika Anda telah yakin, bersegeralah. Jika niat Anda baik, insya Allah, semua akan baik-baik saja. Tetapi jika Anda emosi dan isti’jal. Siap-siaplah menghadapi segala kemungkinan buruk yang sering menimpa mereka yang ceroboh.

    Begitu juga dalam kehidupan ini. Sering kita tergesa-gesa dalam bertindak. Akhirnya kita menyesal atas ketergesa-gesaan itu. Sayangnya, walau sering menyesal, kita jarang belajar dan berlatih untuk memperbaiki diri.

    Kita jarang mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya agar membimbing kita. Sungguh beruntung mereka yang dibimbing Allah di jalan yang lurus. Maka mohonlah pertolongan-Nya dengan sholat.

    Sering dalam shalat, kita tidak khusyu ketika membaca Al-Fatihah. Kita jarang bisa bersabar untuk tidak memikirkan yang lain dalam shalat yang hanya beberapa menit. Di luar shalat, kita juga jarang mengingat-Nya. Lalu bagaimana hati kita bisa peka menerima ‘sinyal sms’ dari Allah yang dikirimkan setiap saat? Hati kita perlu diservis supaya recivernya kembali normal.

    Hati yang banyak berdzikir akan peka terhadap bimbingan Allah. Dia akan dapat bersabar dalam segala hal. Tidak reaktif terhadap segala permasalahan, tetapi proaktif dalam menghadapi segala hal.

    Shalat akan menjadi pelatihan yang efektif jika kita berusaha untuk benar-benar mendirikannya, dan bukan sekedar mengerjakannya. Shalat akan berdampak pada jiwa dan raga kita. Semakin bagus sholat kita, semakin besar perbaikan yang terjadi. Memang mendirikan sholat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Semoga kita dapat terus memperbaiki kualitas sholat kita. Sehingga jadilah kita sebagai pribadi-pribadi sukses. Sukses di dunia, sukses di akhirat. Hayya ‘alash-sholah, hayya ‘alal-falah.

    hotarticle.org

  • Ujian Keluarga Ibrahim

    Telah sampai riwayat -di dalam Al-Qur’anul-Karim- pada kita ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya itu mulai tumbuh,” berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun, pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang disembelih adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as. Tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari. Pendapat yang kedua di dalam tafsir Imam Ibn Abbas dan ulama lainnya.

    (lebih…)

  • Allah Mengundangmu

    Limpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa, untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..” Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah keadaan. Jalla wa’alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.

    (lebih…)

  • Ujian Keluarga Ibrahim

    Telah sampai riwayat -di dalam Al-Qur’anul-Karim- pada kita ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya itu mulai tumbuh,” berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun, pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang disembelih adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as. Tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari. Pendapat yang kedua di dalam tafsir Imam Ibn Abbas dan ulama lainnya.

    Pendapat ulama berikhtilaf tentang putra Nabi Ibrahim as yang disembelih akan tetapi menjadi pendapat jumhur bahwa mereka putra Nabi Ibrahim as yang diperintah untuk disembelih. “Wahai putraku aku bermimpi melihat menyembelihmu maka bagaimana pendapatmu?,” putranya masih 7 tahun.

    Mimpi dari para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah. Berbeda dengan mimpi kita, bukan wahyu dan bukan perintah Allah. Mimpi para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah, bila ia bermimpi menyembelih putranya maka berarti bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya. Akan tetapi Nabi Ibrahim as bertanya pada putranya. Kenapa harus bertanya kalau sudah perintah Allah? Demi mencoba iman putranya, karena seorang Nabi sudah cerdas dari kecilnya. Kalau dia memang betul Nabi, apalagi Rasul, sudah cerdas menerima perintah Allah sejak kecil.

    Maka berkata putranya ini, “Wahai ayahku, perbuatlah apa yang diperintah Allah. Kau akan temukan aku sebagai orang yang bersabar. Maka Nabi Ibrahim as membawa putranya ke atas bukit. Di saat itu syaithan menghalangi perbuatan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim tidak mau menurut dengan godaan syaithan yang menghalanginya seraya mengambil 7 buah batu dan melempari syaithan dan kejadian itupun hingga saat ini diabadikan dengan cara jumrah.

    Allah SWT menjadikan ummat ini mendapatkan kemuliaan-kemuliaan dari ummat yang terdahulu, perbuatan Nabi Ibrahim yang melihat syaithan yang menghalanginya menjalankan perintah Allah dilempari oleh Nabi Ibrahim as. Kita ummat Nabi Muhammad saw tidak mampu melihat syaithan tidak pula mampu untuk melempari syaithan, akan tetapi Allah menjadikan mereka yang berangkat hajji melempar batu jumrah yaitu di Mina untuk apa? Untuk mendapatkan keberkahan dari perbuatan Nabi Ibrahim as.

    Maha Suci Allah yang telah memperindah ummat ini dengan mengikat perbuatan mulia dari para Nabi dan Rasul diikat kepada ummat Nabi Muhammad saw.

    Nabi Ibrahim membawa putranya ke bukit. Syaithan, yang gagal menghalangi Nabi Ibrahim as, datang kepada istri Nabi Ibrahim. Lalu syaithan berkata, “Itu suamimu, anakmu dibawa keatas bukit mau disembelih.” Kagetlah isteri Nabi Ibrahim as dan berkata, “Apakah betul suamiku membawa membawa putraku untuk disembelih?” Maka berkatalah syaitan “Buktikan saja, memang begitu”.

    Kita lihat iman seorang wanita shalihah, maka berkatalah istrinya, “Aku takut suamiku ragu-ragu menerima perintah Allah..!”Malah ingin diyakinkan oleh beliau. Kalau seandainya Nabi Ibrahim as ada didepannya, mungkin beliau akan berkata kepada Nabi Ibrahim as, “Jangan ragu-ragu kalau sudah perintah Allah.” Demikian hebatnya iman beliau. Maka putranya dibawa keatas bukit dan seraya berkata, “Wahai ayahku, tajamkan pisaumu.” Demikian diriwayatkan di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari “Tajamkan pisaumu wahai ayah dan jadikanlah pakaianku ini sebagai kafanku karena kita tidak mempunyai kain kafan. Kalau nanti kena darah yang mengalir dari tubuhku tidak bisa dijadikan kafan maka jadikan saja pakaian ini kafan.” Maka pakaiannya pun dibuka. Bocah kecil ini pun berkata “Wahai ayah, ikatlah aku agar aku tidak berontak sehingga kau ragu-ragu menyembelihku nanti.” Sehingga kepalanya ditaruhkan diatas batu dan Nabi Ibrahim mengangkat pedangnya, maka malaikat Jibril membalikkan tangannya pada seekor kambing.

    Siapa yang mampu berbuat seperti ini dari kita? Sungguh berat mendapat perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Akan tetapi Allah mengikat perbuatan ini dengan ummat Nabi Muhammad saw. Sehingga seluruh ummat Nabi Muhammad saw disunnahkan menyembelih qurban sehingga mendapatkan pahala kemuliaan Nabi Ibrahim as. Demikian Allah mengikat ummat ini dengan banyaknya hal-hal yang mulia di masa yang lalu.

  • Allah Mengundangmu

    Limpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa, untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..” Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah keadaan. Jalla wa’alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.

    Maha Suci Allah yang undangannya memanggil nafas-nafas para pendosa untuk bertaubat, mengundang mereka untuk kembali kepada Rahmat ilahi, sehingga tiadalah seseorang dari hamba ini wafat terkecuali menyesali ternyata betapa indah dan lemah lembutnya Allah, ternyata betapa baiknya Allah, ternyata betapa indahnya kasih sayang Allah. Merugilah mereka yang telah meninggalkan Allah didalam hidupnya, didalam hari-harinya. Ia meninggalkan hal-hal yang dicintai Allah, sebagaimana Allah SWT memanggil hamba hambaNya kelak di Yaumil Qiyamah “yaa ayyuhal insan.., Maa gharraka birabbikal kariim…….?” Wahai manusia apa yang telah membuatmu meninggalkan-Ku, Tuhanmu yang Maha Pemurah? Tuhan yang telah menciptakanmu dan menjadikanmu ada dari ketiadaan.

    Bukankah kita wajib berbakti kepada ayah dan ibu? Sedangkan Allah lebih dari pada jasa ayah dan bunda kita “maa gharraka birabbikal kariim……….” apa yang membuat engkau meninggalkan Tuhanmu yang Maha Pemurah? Dia yang menawarkan pengampunan-Nya atas setiap dosa. Dia yang menginginkanmu selalu dekat kepada kasih-sayang-Nya, sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketika orang-orang menyesal di Yaumil Qiyamah, akan tetapi sebagian hamba-hamba Allah yang dimasa hidupnya selalu ingin bersama Allah, mereka berada dalam kebahagiaan yang kekal, mereka di dalam istana-istana termegah yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, sebagaimana dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhori Allah berfirman “A’dadatu li’ibaadiy……….” telah Aku siapkan bagi hamba hamba Ku yang shalih -yang berbicara ini adalah yang Maha Menciptakan jagat raya dengan segala kemegahannya- Kuciptakan dan Kusiapkan bagi hamba–hambaKu yang shalih apa–apa yang belum pernah terlihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah terlintas dalam lintasan pemikiran mereka.

    Firman Allah ini bagi mereka yang berfikir dan mendalami dan merenunginya merupakan undangan Allah kepada setiap jiwa kita. Telah Kusiapkan hidangan–hidangan dan istana agung untukmu wahai hambaKu. Sayanglah dan merugilah jika engkau menolak tawaranKu. Inilah makhluq yang paling merugi ketika ia menolak tawaran Rabbul ‘alamin untuk hidup bersama-Nya dalam kebahagiaan yang kekal.

    Sungguh Allah SWT adalah yang tiada henti–hentinya Maha bersabar kepada mereka yang berbuat salah dari hambaNya dan betapa indahnya umat Nabi Muhammad saw yang mendapat undangan untuk selalu menghadap lima kali dalam setiap harinya. Adakah lagi hamba yang lebih suci dan bercahaya dari umat Sayyidina Muhammad? Mereka lima kali setiap hari dipanggil Allah. Bukankah mereka benar–benar dimanjakan oleh Allah? Adakah seorang raja memanggil seorang rakyatnya lima kali sehari terkecuali ia seorang yang sangat dicintai? Demikian keadaanku dan kalian yang selalu mendapat undangan agung lima kali setiap hari. Betapa suci dan terang benderangnya ummat Nabi Muhammad saw, dan betapa rugi dan gelapnya mereka yang menolak Allah. Ketika ia dipanggil oleh Allah, ia menolak. Ketika ia dipanggil oleh Allah untuk menghadap, ia pun mungkar dan berpaling. Adakah yang lebih rugi dari orang yang menolak undangan seorang raja? Kalau ini rugi maka bagaimana dengan undangan Maha Raja langit dan bumi.

    Sambutlah undangan Rabbul ‘allamin, dengan semangat gembira kehadirat Allah atas anugerah-Nya. Jadikan siang dan malam kita selalu di dalam cahaya Rabbani, di dalam cahaya kehidupan yang kekal. Inilah hakikat kehidupan yang mulia.

    (majelisrasulullah.org)