Kategori: Mari Raih Kesuksesan

  • Rasa Kesyukuran

    Rasa syukur akan timbul ketika kita mengingat ni’mat-ni’mat Allah. Mata yang dapat kita gunakan untuk melihat, udara yang kita hirup, lidah yang dapat mengecap rasa, merupakan ni’mat Allah yang sangat besar. Sementara sebagian orang tidak mendapat ni’mat penglihatan. Sebagian orang tergolek lemas di tempat tidur karena lumpuh. Sebagian orang ada yang menjadi bahan ejekan orang karena hilang aqal atau gila.

    Diantara ni’mat Allah yang terbesar adalah ni’mat iman dan Islam. Seorang wanita bercerita tentang saudaranya yang ahli ibadah lagi zuhud bernama Basyar al-Hafi, “Suatu malam, saudaraku datang. Ketika ia salah satu kakinya baru masuk ke dalam rumah, dia berhenti dan membiarkan kakinya yang lain tetap di luar. Dia tetap dalam keadaan tersebut hingga shubuh. Setelah ditanya tentang apa yang difikirkannya semalam, ia menjawab, ‘Aku terfikir si Basyar yang beragama Yahudi, si Basyar yang beragama Nasrani, dan si Basyar yang beragama Majusi. Lalu aku terfikir diriku sendiri, karena namaku juga Basyar. Kemudian aku berkata dalam hati: Apa sebabnya dari sekian orang yang bernama Basyar, Allah memilihku termasuk ke dalam orang yang memeluk agama Islam? Maka kurenungkan karunia Allah untukku itu. Dan aku bersyukur dan memuji Allah Yang telah menunjukiku agama Islam, menjadikanku pilihan-Nya dan memakaikan kepadaku jubah kekasih-kekasih-Nya.’”

    Lihatlah betapa besar karunia Allah yang telah kita terima. Betapa banyak rizqi yang telah Allah beri semenjak kita lahir hingga kini. Tidak patutkah kita bersyukur pada-Nya?

  • Pro-Kontra Dakwah Lewat Situs Porno di Arab

    Situs-situs porno yang telah merajalela di dunia maya membuat sejumlah dai muda di Arab kewalahan menghadapinya sehingga mengambil jalan pintas `menyusup` ke situs-situs tersebut.

    Caranya mudah. Mulanya mereka menginventarisir situs-situs porno yang banyak digemari kawula muda. Setelah itu, mereka memasukkan pesan-pesan khusus dengan judul menarik yang seolah-olah masih terkait dengan hal-hal yang berbau porno.

    Tujuan memberikan judul `tersembunyi` itu adalah untuk menarik para pengakses situs porno tersebut untuk membuka dokumen yang dikirim sejumlah dai itu sehingga bisa membaca pesan dakwah yang ada didalamnya.

    Pesan-pesan dakwah itu antara lain berisi himbauan agar takut kepada muraqabah (pantauan) Allah Yang Maha Mengetahui serta dampak buruk yang dapat menimpa para pengaksesnya.

    Pada intinya mereka mengajak para pengakses situs-situs dimaksud agar bertaubat dan meninggalkan kebiasaan buruk tersebut karena situs itu berisi seruan kepada maksiat yang dapat menjurus kepada perbuatan zina.

    Cara itulah yang dianggap beberapa dai muda di Arab untuk membantu mencegah kawula muda berhenti mengakses situs-situs “esek-esek” tersebut. Namun tidak semua ulama sependapat dengan siasat dakwah para dai muda itu.

    Di antara ulama besar Arab yang menolak siasat dakwah seperti itu adalah Sheikh Jamal Al-Qutb yang menilai sisipan dakwah lewat situs semacam itu tidak dibenarkan dan melanggar ketentuan syariat.

    “Cara dakwah seperti ini tidak bisa diterima sama sekali karena bertentangan dengan ketentuan syariat. Cara ini sama saja dengan mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk,” katanya seperti dikutip laman Arabiya, Minggu (9/12).

    Menurut mantan Ketua Lembaga Fatwa Al-Azhar Mesir itu, seorang dai tidak dibenarkan pergi ke tempat-tempat “abu-abu”. “Bila polisi atau pejabat berwenang pergi merazia ke tempat prostitusi dibolehkan sedangkan dai sama dengan dokter harus melaksanakan misi di tempat yang tepat.” ujarnya.

    Sementara alasan sejumlah dai muda Arab membolehkan penyusupan ke situs dimaksud adalah analogi dengan dakwah Rasulullah yang mendatangi kaum musyrikin pada awal-awal Islam dahulu.

    Nabi Muhammad sebagai Rasul penutup, tidak segan-segan mendatangi `nadi-nadi` (tempat berkumpul) para pembesar kafir Quraish di Mekkah untuk menyampaikan ajaran Islam yang dibawanya.

    Tetapi analogi itu ditolak tegas Sheikh Jamal. “Analogi ini tidak tepat, sebab Rasulullah mendatangi kaum musyrikin untuk mengajak mereka meninggalkan kemusyrikan. Jadi syirik lain dan perzinaan lain,” katanya.

    Salah satu ulama besar Al-Azhar itu menilai bahwa tidak ada perbedaan antara situs-situs porno dengan tempat-tempat prostitusi. Meskipun bukan tempat berzina, tapi situs itu adalah ajakan dan pendahuluan dari zina.

    Sedangkan Dr. Abdullah Al-Ewadhi, guru besar ilmu jiwa dan ilmu sosial asal Kuwait mengingatkan bahwa dakwah lewat situs-situs porno tidak akan berpengaruh bagi para pengaksesnya.

    “Saya tidak mendukung cara dakwah seperti ini sebab sisi negatifnya lebih besar dari sisi positifnya. Karena tidak ada pengaruhnya sebab tayangan gambar jauh lebih melekat dalam benak pengakses dari imbauan lewat kata-kata,” katanya.

    Al-Ewadhi justru mengkhawatirkan cara tersebut akan mendatangkan sikap olok-olok dari para pengakses situs porno kepada para dai muda karena yang bersangkutan melakukan dakwah lewat situs maksiat itu.

    Cara Dakwah

    Cara penyusupan dakwah yang dilakukan kalangan dai muda itu tergolong menarik karena membuat siapa saja yang sedang mengakses situs-situs porno akan tertarik membuka pesan dakwah yang diberi judul mengiurkan.

    Sebagai contoh, sebagian dai sengaja menyusupkan pesannya dalam bentuk video dengan judul yang membuat para pengakses “deg-degan” seperti hafalaat jinsiah lifatayaan arabiyaat (pesta seks remaja Arab).

    Sebagian lagi memilih judul dari nama artis panas Arab seperti `laqathaat li Haiva Wahbi` (cuplikan dari gambar Haiva Wahbi). Begitu membuka video dimaksud maka yang keluar adalah pesan-pesan dakwah yang menyuruh para pengakses situs porno untuk bertaubat.

    Sang dai biasanya hanya mengeluarkan pesan lewat suaranya dengan muka yang disamarkan sehingga tidak dikenal oleh pengakses yang membuka video dakwah yang disusupkan itu.

    Respon para pengakses biasanya berbeda-beda. Ada yang menghujat cara dakwah seperti dan tidak sedikit pula dari mereka memang menyatakan terpengaruh dengan pesan itu sehingga berhenti mengakses situs porno.

    Terlepas dari pro kontra akan dakwah dengan cara itu, yang jelas improvisasi dakwah dewasa ini terus dituntut sejalan dengan makin hebatnya cara dan teknologi penyebaran pesan-pesan setan. (ANTARA)

  • Apakah Shirothol Mustaqim Itu Ada?

    (Isa berkata:)”Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (Ali Imran: 51)

    Jembatan di atas neraka itu memang ada. Dia akan dilalui oleh setiap jin dan manusia. Bagi mereka yang beriman dan beramal shalih, akan Allah selamatkan hingga berhasil menyebrangi neraka dan masuk ke dalam surga. Namun bagi mereka yang kafir atau pun durhaka, maka akan tersambar pengait dari api yang menarik mereka ke dalam api neraka. Allah berfirman dalam Al-Qur`an:

    Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS. Maryam: 71-72)

    Namun titian ‘Shirothol Mustaqim’ bukanlah jembatan sembarangan. Jembatan itu dibangun oleh masing-masing jin dan manusia. Benar! Kitalah yang membangun sendiri jembatan yang akan kita lalui. Keselamatan seseorang di akhirat kelak juga tergantung pada bagaimana ia membangun ‘Shirothol Mustaqim’ (tentunya tidak terlepas dari Kasih-Sayang Allah juga, tetapi saya tidak sedang membahas hal itu di sini). Jika ia membangunnya dengan kokoh dan lebar, maka ia akan sangat mudah melaluinya. Namun jika ia membangun titian yang sangat rapuh dan kecil, lalu bagaimana ia akan menyeberanginya dengan selamat?

    Dalam beberapa ayat Al-Qur`an dijelaskan bahwa ‘Shirothol Mustaqim’ yang kokoh itu dapat kita bangun dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya Ilah dan Rabb, kemudian kita menyembah-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Semakin murni pengakuan kita, dan semakin bagus penyembahan kita kepada Allah, maka akan semakin kokoh pula jembatan yang akan kita lalui kelak.

    Maka sesungguhnya, membangun dan berjalan di atas ‘Shirothol Mustaqim’ itu sedang kita lakukan saat ini. Siapa yang beriman dan beramal shalih, maka dia tengah berjalan di jembatan yang kokoh dan lebar. Namun, siapa yang kafir atau meninggalkan perintah Allah dan tidak bertaubat hingga akhir hayatnya, maka ia tengah membangun dan berjalan di jembatan yang rapuh dan kecil, bagaikan sehelai rambut yang dibelah tujuh.

    Marilah kita kembali kepada Allah. Marilah kita mengesakan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Sungguh tidak ada yang pantas disembah, kecuali Allah. Laa ilaaha illallaah.

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

  • Wahai Ahlu Badr..!

    Ratusan wajah suci pemilik jiwa khusyu menghadap dengan penuh Takdhim kepada manusia yg paling berhak dicintai, yg bakti kepadanya merupakan kesempurnaan Iman, Sayyidina Muhammad saw. Ramadhan tahun kedua Hijriyah adalah ramadhan yg berbeda dari segenap ramadhan sepanjang sejarah Bumi dihamparkan oleh Sang Pencipta swt, Sang Nabi saw berkata kepada mereka : “Beri aku pendapat wahai khalayak..?”, beliau saw mengucapkan itu dengan maksud pada kaum Anshar, maksudnya apakah mereka akan ikut bersama dalam Jihad atau tetap tinggal, sebab saat Bai’at Aqabah mereka bersumpah setia membela Rasul saw sebagaimana mereka mempertahankan keluarga dan anak anak mereka, namun itu jika Rasulullah saw telah masuk ke Madinah, jika diluar maka mereka berlepas diri,

    Maka berkatalah Sa’ad bin Mu’adz ra dari kamu Anshar : “Tampaknya kau mengarahkan pertanyaan pada kami (Anshar) wahai Rasulullah ?”, Rasul saw menjawab : “Benar”, maka berkatalah Sa’ad bin Mu’adz ra:
    “Kami telah beriman kepadamu Wahai Rasulullah..!, dan telah membenarkan tuntunanmu, dan kami telah bersaksi bahwa apa apa yg kau ajarkan adalah kebenaran, dan kami berikan itu sebagai janji dan sumpah penguat kami, untuk selalu taat dan berpanut, berangkatlah wahai Rasulullah kemanapun maumu dan kami bersamamu..!, Demi Allah Yang Telah Membangkitkanmu dengan Kebenaran, jika kau hadapkan kami ke lautan dan kau masuk kedalam lautan maka niscaya kami akan membenamkan diri pula kedalamnya bersamamu, dan tak akan ada yg tersisa dari kami seorangpun!, dan kami tak mengingkarimu jika kau hadapkan kami pada musuh kami esok, sungguh kami orang orang yg sabar menghadapi peperangan, sangat bersungguh sungguh dan mendambakan perjumpaan (dengan Allah swt), Barangkali Allah memperlihatkanmu dari kami apa apa yg membuatmu gembira!, maka berangkatlah bersama kami dalam keberkahan Allah..”.

    Masya Allah.. alangkah agungnya janji setia para sahabat pada Nabi saw, mereka rela mati bersama Rasul saw, rela membenamkan dirinya didasar lautan, rela berbuat segalanya, jika itu membuat gembira hati Rasulullah saw, dan mereka selalu ingin bersama Rasulullah saw kemanapun beliau saw pergi mereka selalu ingin bersama beliau saw dan tak rela berpisah, walaupun kebersamaan mereka harus terancam kematian..

    Pada hari senin malam ke sembilan Ramadhan tahun kedua hijriyah berangkatlah pasukan Ahlu Badr radhiyallahu’anhum, dan didepan Rasulullah saw dua bendera hitam, yg satu dipegang Ali bin Abi Thalib kw dan yg satu dipegang salah seorang Anshar, Mereka hanya memiliki 70 ekor unta, dan mereka berdua dan bertiga diatas satu onta, dan Rasulullah saw bersama Ali bin Abi Thalib kw diatas satu onta, Hamzah bin Abdulmuttalib ra bersama Zeyd bin Haritsah ra diatas satu onta, dan Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra dan Abdurramhan bin Auf diatas satu onta.

    Maka kejadian Badr adalah pada hari Jumat 17 ramadhan tahun 2 Hijriyah, dan Sang Nabi Mulia bermunajat, mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Yang Maha Mendengar segala doa hamba hamba Nya, sebagaimana doa para Nabi sebelum beliau saw, sebagaimana Doa Nabi Nuh as kepada Allah sebagaimana Allah swt menceritakannya pada Al Qur’an surat Nuh as : “Berkata Nuh : Wahai Tuhan Jangan Kau sisakan diatas Bumi rumah rumah orang kafir, Sungguh Jika Engkau biarkan mereka maka akan menyesatkan hamba hamba Mu, dan mereka tak berketurunan kecuali Fajir dan Kafir pula” (QS Nuh 26-27),

    Maka kini yg berdoa adalah pemimpin para Nabi dan Rasul, Sayyidina Muhammad saw, seraya bermunajat dg mengangkat kedua tangan hingga terjatuh rida (sorban yg dipundak) dari pundaknya, yg diantara doa beliau saw adalah : “Wahai Allah jika celaka dan hancur kelompok kecil ini, maka aku takut tak ada lagi yg menyembah Mu..”

    Demikian besarnya cinta dan bakti beliau saw kepada Allah, sehingga sangat takut dan tidak mau jika sampai terjadi dimuka Bumi tak ada lagi yg menyembah Allah swt, maka Abubakar shiddiq ra memeluknya dari belakang tubuhnya seraya berkata : “cukup.. cukup.. wahai Rasulullah.. sungguh Allah akan menjawab doamu..”, tak lama kemudian Rasul saw berpaling kepada Abubakar ra dengan gembira seraya bersabda : “Kabar gembira wahai Abubakar, telah dating pertolongan Allah, Ini Jibril yg telah siap bertempur”.

    Masya Allah…, saat beliau saw menghadapi cobaan dan rintangan beliau saw selalu menahan diri dari berdoa, namun ketika beliau berdoa, maka sungguh beliaulah saw yg paling berhak mendapat Ijabah dari semua pendoa dilangit dan Bumi, Dan rasul saw bersabda : “Jangan kalian menyerang mereka sebelum mereka menyerang kalian!”, Subhanallah.. betapa indahnya akhlak dan kelembutan beliau saw, bahkan saat kedua barisan sudah berhadapan sekalipun kelembutan dan akhlak beliau saw terhadap musuh masih tetap terlihat, Maka turunlah bantuan dari Allah swt menjawab doa sang Nabi saw :

    “Ketika kalian berdoa pada Tuhan kalian, maka Dia mengabulkan doa kalian, Sungguh Aku membantu kalian dengan seribu dari para Malaikat yg turun berdatangan” (QS Al Anfal 9).

    “Benar, Jika kalian bersabar dan bertakwa dan mereka menyerang kalian, maka Dia (Allah swt) Tuhan kalian membantu kalian dengan lima ribu malaikat yg siap dalam peperangan” (QS Al Imran 125).

    Alangkah Agungnya pertolongan Allah kepada Sang Nabi saw dan para pecinta Sang Nabi saw, sehingga diriwayatkan :

    Dari Abi Usaid Malik bin Rabii’ah ra, yg ikut dalam perang Badr seraya berkata setelah ia menjadi buta : “Kalau sekarang aku di Badr dan aku masih bisa melihat, maka akan kutunjukkan kalian belahan lembah yg keluar darinya para Malaikat, tiadalah aku ragu akan itu dan tidak pula syak”.

    Masya Allah…, Betapa dahysatnya Jumat 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, hari yg menyaksikan pembelaan Ahlu Badr pada Rasulullah saw, sungguh tak ada orang yg lebih memuliakan dan mencintai Rasulullah saw melebih Ahlu Badr, radhiyallahu ‘anhum ajma’iin, hingga diriwayatkan bahwa Rasul saw bersabda : “Allah swt berfirman kepada Ahlu Badr : “Beramallah semau kalian, sungguh aku telah mengampuni dosa kalian” (Shahih Bukhari).

    Disebut Perang Badr karena kejadian itu terjadi di wilayah yg dinamai “Badr”, Ahlu Badr berarti pejuang yg hadir di perang saat di Medan Badr, mereka adalah dari kelompok Muhajirin dan Anshar dan sebagian Qabilah lainnya, peperangan selesai dengan kemenangan muslimin.. Ternyata semangat perjuangan dan Bakti Ahlu Badr terhadap Rasul saw tidak selesai di Medan Badr, namun berkesinambungan hingga Rasul saw wafat.

    Ketika Rasul saw wafat maka banyak para pembangkang yg menentang Khilafah Abubakar shiddiq ra, maka diantaranya adalah penduduk Yaman, maka terdapat sebuah desa kecil yaitu kota Tarim di hadramaut Yaman yg penguasanya menulis surat kepada Khalifah Abubakar Shiddiq ra untuk meminta bala bantuan, untuk menundukkan mereka yg membangkang pada Khalifah Abubakar Shiddiq ra, maka Khalifah ra mengirimkan bala bantuan pasukan sahabat, diantara mereka ikut pula Ahlu Badr, mereka menuju kota Tarim dan tiba di kota tsb dari Jabal Khailah, (gunung Kuda), dinamai demikian karena dari gunung itulah kuda kuda para sahabat datang dari arah Madinah Al Munawwarah.

    Maka para sahabat itupun berjihad bersama penduduk Tarim dan sebagian diantara mereka wafat dan dimakamkan di Tarim, maka sampailah kabar kepada Khalifah Abubakar Asshiddiq ra bahwa kota Tarim adalah pendukung kebenaran, maka Abubakar shiddiq ra berdoa untuk kota Tarim dan diantara doa beliau yg masyhur : “Wahai Allah tumbuhkan para shalihin dikota itu bagaikan tumbuhnya rumput di musim hujan..!”

    Maka jadilah kota Tarim sebagai kota para wali Allah swt yg sebagian besar penduduknya adalah Ahlul Bait Rasul saw, di kota Tarim lah makam Al Hafidh Al Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad shohiburratib, juga Imam Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Al Imam Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi, dan ribuan para shalihin lainnya, mereka dimakamkan di pekuburan “Zanbal”, siapa yg pertaman kali dari Imam Ahlul Bait yg dikubur di Tarim?, yaitu Imam Ali bin Alwi Khali’ Qasam, beliau mewakafkan tanah pekuburan untuk pekuburannya dan keturunannya hingga kini, tepat berdampingan dengan Pemakaman Ahlu Badr yg wafat saat berjihad di kota itu,

    Demikian Sejarah para sahabat dan Ahlul Bait Rasul saw, mereka berdampingan dalam perjuangannya, dan bahkan ingin berdampingan pula dalam pekuburannya, hingga Imam Ali bin Alwi Khali Qasam mewakafkan tanah untuk kuburnya dan keturunannya berdampingan dengan makam makam Ahlu Badr..

    Dan hingga kini pekuburan Zanbal telah memendam ribuan jasad para wali dan shalihin berkat Doa Khalifah Abubakar Shiddiq ra, dan banyak diziarahi orang.

    Ternyata perpaduan antara Imam Imam Ahlul Bait Rasul saw dengan Ahlu Badr di Tarim tak putus sampai disitu, namun berkesinambungan dengan keluarnya para Da’I ahlul bait Rasul saw ke pelbagai Negara, hingga Gujarat, dan sampai ke pulau Jawa, 9 orang wali Allah yg dikenal dg nama wali songo, mereka dapat membawa semangat Ahlu Badr, mereka datang tak membawa senjata, tak membawa pasukan, tak membawa harta, mereka datang membawa Jiwa Ahlu Badr, dan mereka meratakan seluruh pulau Jawa dari Ujungkulon hingga Banyuwangi, rata dengan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah saw,

    Seluruh Kerajaan dan kesultanan, dukun, bangsawan, dan semua golongan masyarakat, tunduk pada mereka dibawah bendera Tauhid, yg diusung oleh para Da’I mulia yg berjiwa Ahlu Badr.. Mewarisi semangat Imam Ahlu Badr, yaitu Sayyidina Muhammad.. Pemimpin Ahlu Badr, Sayyidina Muhammad..

    Rabbiy.. telah berjanji Nabi Mu bahwa seseorang akan bersama dengan orang yg ia cintai, maka saksikanlah sumpah kami bahwa kami mencintai Ahlu Badr, kami beridolakan Ahlu Badr.., maka padukan kami di hari kebangkitan kelak dengan Ahlu Badr.., kami rindu melihat wajah wajah khusyu mereka, kami rindu melihat wajah wajah sopan dan lembut mereka, kami rindu memandang wajah bercahaya mereka..,

    Saat masing masing kelompok dipanggil untuk berdiri di hari kiamat, maka akan dipanggillah Ahlu Badr.., maka berdirilah 313 syuhada Badr dengan wajah yg bercahaya.. Sungguh tak ada wajah yg lebih terang benderang dari wajah mereka di ummat ini.. sungguh tak ada derajat melebih derajat mereka di ummat ini..,

    Sungguh telah sampai riwayat pada kami telah berkata Abu Dzarr ra kepada Rasul saw : “Wahai Rasulullah.. seseorang mencintai suatu kaum namun tak mampu beramal seperti amal mereka”, maka Rasul saw menjawab : “Engkau wahai Abu Dzarr akan bersama orang yg kau cintai”, maka Abu Dzar berkata : “Aku sungguh mencintai Allah dan rasul Nya..!”, maka Rasul saw menjawab : “engkau bersama yg kau cintai” (HR Shahih Ibn Hibban, Adabulmufrad Imam Bukhari, Musnad Ahmad dll)

    Maka kami bersumpah pada Mu wahai Allah bahwa kami mencintai Ahlu Badr..!, maka pastikan pula bahwa kami akan dipanggil di Padang Mahsyar bersama Ahlu Badr..,dan bersama Pemimpin Ahlu Badr, Sayyidina Muhammad saw..

    Dan Rabbiy Bangkitkanlah semangat Ahlu Badr pada jiwa pemuda pemudi kami, penuhi jiwa muslimin hingga beridolakan Ahlu Badr, beridolakan Imam Ahlu Badr, Sayyidina Muhammad saw..!, Rabbiy cabutlah segala cita cita maksiat pada jiwa kami dan jiwa muslimin..,

    Kami bermunajat kehadirat Mu, agar kau gantikan generasi Narkoba, generasi pezina, generasi pemabuk, generasi penjudi.. Rabbiy Gantikan dengan Generasi pemuda pemudi berjiwa Ahlu Badr.., curahkan atas kami dan mereka hujan hidayah..

    Para pezina.., para narkoba.., para pemabuk.., para penjudi.., para koruptor.., curahkan atas mereka hujan hidayah…, goncangkan jiwa mereka untuk bertobat.., untuk bersujud.., untuk memanggil nama Mu Yaa Allaaaah…, Kami bertawassul pada Ahlu Badr.., kami bertawassul pada Imam Ahlu Badr Sayyidina Muhammad.., agar kau kabulkan seluruh doa kami.. amiiin..

    (Semua hadits dan riwayat diatas yg tak disertakan sumber, maka diambil dari Buku Sirah Imam Ibn Hisyam Bab Ghazwat Badr Alkubra)

    Limpahan Shalawat Allah, Limpahan Salam Sejahtera dari Allah Kepada Thaha (Muhammad SAW) Rasulillah utusan ALLAH SWT, Limpahan Shalawat Allah,dan Limpahan Salam sejahtera dari Allah Kepada Yasin (Muhammad SAW) Rasulillah kekasih ALLAH SWT.

    Kami bertawasul dengan Bismillah dan dengan sang Penyampai Hidayah, Rasulillah (SAW), dan demi semua para mujahid di jalan Allah, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Wahai Tuhanku selamatkanlah umat, dari kejahatan dan kemurkaanMu, Dan dari kegundahan serta kesusahan, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Wahai Tuhan Ku selamatkanlah kami, dan tolonglah kami dari segala gangguan, dan singkirkanlah siasat-siasat musuh, dan berlemah lembutlah kepada kami, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Wahai Allah singkirkanlah bencana-bencana dari para pendosa, dan kebinasaaan, Dan segala musibah dan wabah penyakit, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Betapa banyaknya rahmat yang telah tercurah, dan betapa banyaknya kesulitan yang telah tersingkir, Dan betapa banyaknya kenikmatan yang sampai, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Betapa banyaknya engkau cukupkan usia-usia (dengan hidayah), dan betapa banyaknya engkau santuni orang-orang faqir (dengan kemuliaan dan pengampunan), Dan betapa banyaknya engkau sembuhkan orang yang sakit (dengan tawassul dan keberkahan), Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Sungguh telah tersempitkan hati sanubari para penduduk bumi, maka selamatkanlah musibah dan kesulitan, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Kami datang mengemis kasih sayang, dan munculkanlah kebaikan dan kebahagiaan, Maka Luaskanlah Anugerah dikedua tangan kami, Demi Ahlul Badr Wahai Allah

    Maka janganlah engkau tolak (wahai Allah SWT) hingga membawa kekecewaan, dan jadikanlah kami selalu dalam kebaikan, Dan dilimpahi kehormatan dan kewibawaan, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Jika engkau menolak kami (wahai ALLAH SWT) maka pada siapa kami meminta, untuk mendapatkan semua hajat-hajat kami, dan tersingkir segala kesedihan, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Wahai Tuhan Ku ampunilah dan muliakanlah kami, dengan mendapatkan apa-apa yang kami minta, dan terhindarnya keburukan dari kami, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Wahai Tuhan Ku engkau Pemilik Kasih sayang, Pemilik segala Anugerah dan Pemilik segala Kelembutan, Dan betapa banyaknya kesusahan yang sirna, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    Dan limpahan shalawat semoga tercurah pada Nabi Yang Mulia tiada terhitung dan tiada terbatas beserta keluarga Beliau para pembesar yang bercahaya, Demi Ahlul Badr Wahai Allah,

    (Tuan Guru Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa)

  • Prasangka Buruk

    Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka! Karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. (Al-Hujurat: 12)

    Sebagian manusia menilai orang lain dari luarnya saja dan dari ‘kejauhan’. Pria berambut gondrong sering disangka jahat. Padahal banyak pria berambut pendek dan rapi yang perbuatannya justeru sangat jahat dan menyengsarakan banyak orang. Wanita berdada rata disangka lesbian, atau laki-laki berwajah agak mirip wanita dianggap homo. Padahal mereka tidak melakukan operasi, mereka seperti itu sudah kehendak Allah. Sedangkan tingkah laku dan sifat mereka adalah normal, yang wanita berhasrat kepada pria, yang pria berhasrat kepada wanita.

    Maka benarlah segala firman Allah. Sungguh kebanyakan prasangka itu merupakan perbuatan dosa. Karena prasangka, kita menuduh yang tidak-tidak kepada seseorang. Bahkan mungkin kita menyakiti hati orang tersebut dengan perkataan yang jahat yang didasari prasangka kita yang salah. Sebagian manusia lebih suka menuduh daripada mengenal lebih dekat dan berusaha memahami perihal sesungguhnya.

    Lupakah kita, bahwa ada hari pembalasan disana? Jika Anda adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka bicaralah yang baik atau diam. Banyak manusia yang masuk ke dalam neraka karena kurang pintar menjaga lisan.

    Kata ‘diam’ dalam bahasa Arab memiliki akar yang sama dengan kata ‘puasa’. Dalam kebiasaan bani Israel juga dikenal puasa dimana seseorang bukan menahan diri dari makan, minum dan hubungan seks. Tetapi puasa dimana seseorang menahan diri dari berkata-kata. Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Zakariya as. dan Sayidah Maryam. Ketika dituduh berzina oleh masyarakat di sekitarnya, Sayidah Maryam memberi isyarat bahwa ia sedang berpuasa dari bicara dan menunjuk kepada Nabi Isa yang sedang ditimangnya supaya mereka bertanya saja kepada bayinya itu agar menjelaskan perihal sesungguhnya.

    Mengklarifikasi dengan cara yang kurang bijaksana terkadang membuat seseorang merasa dipojokkan dan diadili. Tetapi klarifikasi lebih baik daripada Anda berprasangka buruk. Sayangnya, sebagian kita bertanya bukan untuk meminta penjelasan melainkan untuk mengejek atau memaksa orang tersebut untuk membenarkan prasangka kita. Wallahu a’lam.

    Baca juga:
    Su`uzhzhon

  • Mati di Dalam Islam

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imron: 102)

    Ayat diatas merupakan perintah Allah kepada hambanya agar mati di dalam agama Islam. Sebab, Islam adalah agama yang diakui Allah sebagai agama yang benar di dalam Kitab-Nya, Al-Qur’an, dan bahwa Dia tidak akan menerima agama selainnya yang datang dari manusia. Dan karena Islam adalah satu-satunya agama yang telah Dia ridhokan bagi Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya dari kaum Mu’minin.

    Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 19)

    Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Ali Imron: 85)

    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu. (Al-Maidah: 3)

    Manusia memang tidak berkuasa untuk mematikan dirinya di dalam agama Islam, tetapi Allah telah melapangkan jalan untuk mati dalam Islam bagi manusia. Jika seseorang menghendaki untuk mati dalam Islam, maka hendaklah ia menjalankan segala perintah Allah yang diwajibkan atasnya, dan senantiasa mengikuti segala petunjuk-Nya. Demikianlah cara memilih mati di dalam Islam, dengan mencintai mati di dalam Islam, berharap dan ber’azam (bertekad bulat) untuk mencapainya. Di samping itu, hendaklah dia membenci mati di dalam kepercayaan selain Islam, dan senantiasa berdoa, memohon, dan meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia berkenan mewafatkannya sebagai seorang Muslim.

    Dengan itulah Allah menyifatkan para Nabi-Nya dan orang-orang shalihin dari hamba-hamba-Nya. Allah berfirman menceritakan tentang Nabi Yusuf putera Nabi Ya’qub dalam mengharapkan wafat di dalam Islam:

    Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih. (Yusuf: 101)

    Begitu pula Allah telah menceritakan tentang ahli sihir Fir’aun yang bertaubat dan beriman pada Allah, lalu Fir’aun mengancam mereka dengan siksaan.

    Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami sebagai Muslim (berserah diri kepada Allah). (Al-A’raf: 126)

    Kemudian Allah menceritakan pula tentang Nabi Ibrahim as dan Nabi Ya’qub as, yang keduanya
    telah berwasiat kepada anak-cucunya agar mati dalam keadaan Islam.

    Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah: 132)

    (Habib Abdullah Al-Haddad, An-Nashaihud Diniyah wa Washayal Imaniyah)

  • Allah Merindukanmu

    Anda mungkin berfkir bahwa rasanya tidak mungkin Allah merindukan Anda. Anda merasa bahwa Anda terlalu kotor untuk dirindukan. Maka ketahuilah, justeru Allah sangat merindukan hamba-hamba-Nya dan memanggil mereka untuk kembali kepada-Nya. Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang melampaui batas agar kembali kepada Kasih-Sayang-Nya. Jika Anda berfikir bahwa Anda tidak akan diampuni, maka Anda keliru. Memangnya ampunan Allah itu untuk para malaikat yang tidak pernah berdosa? Atau untuk mereka yang Anda anggap sholih? Justeru ampunan Allah itu untuk kita, hamba-hamba-Nya yang telah melampau batas dalam kedurhakaan. Maka ambillah ampunan Allah itu dengan bertaubat dan beristighfar, karena ampunan Allah memang untuk kita. Dia selalu merindukan Anda.

    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” [QS. Az-Zumar: 53-55]

    Lihatlah betapa Allah merindukanmu dan menghiburmu dengan rahmat dan ampunan-Nya. Jika Dia merindukan Anda, lalu bagaimana Anda tidak merindukannya? Bukankah sebenarnya Anda juga rindu untuk merasakan ni’matnya ibadah, ni’matnya munajat, ni’matnya berdialog dengan Allah? Maka rasakanlah kelezatan ini. Rasakanlah manisnya lisan yang menyebut Asma-Nya. Ni’matilah keindahan mata yang dibasahi air mata kerinduan pada-Nya. Rasakanlah dahsyatnya goncangan hati yang bergetar dalam khusyu.

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, [QS. Al-Anfal: 2]

  • BUTA HATI (KISAH NABI IBRAHIM)

    Sebagian dari kita mungkin bertanya, “Mengapa ada orang yang telah melihat dalil-dalil yang jelas, akan tetapi dia tetap saja ingkar kepada Tuhan yang haq?” Mereka ingkar bukan disebabkan buta mata kepala, tetapi mata hatinya itu yang buta.
    Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.  [QS. Al-Hajj: 46]
    Orangtua atau pun guru kita mungkin pernah bercerita tentang Nabi Ibrahim dan bapaknya yang pembuat patung. Kisah itu memang terkenal dalam Al-Qur`an dan juga Injil Barnabas. Dikisahkan dalam Injil Barnabas demikian:
    Yesus berkata, “Abraham berumur tujuh tahun ketika dia mulai mencari Allah. Demikianlah pada suatu hari dia berkata kepada ayahnya, ‘Bapak, apakah yang menjadikan manusia?’”
    Bapak yang dungu itu menjawab, “Manusia, karena aku telah menjadikan kamu. Dan ayahku telah menjadikan aku.”
    Abraham berkata, “Bapak, tidak demikian, karena aku telah mendengar seseorang tua sambil menangis dan seraya berkata, ‘Oh Allahku karena apa Engkau tiada memberiku anak-anak?’” (Ini berarti bahwa ternyata seorang manusia tidak sanggup menjadikan anak sesuai kehendaknya sendiri.)
    Ayahnya membalas, “Itu betul anakku, bahwa Allah menolong manusia untuk membuat manusia, akan tetapi Dia bukan menaruhkan tangan-tangan-Nya ke sana, hanya cukup manusia itu berdoa kepada Tuhannya lalu memberikan kepada Dia anak lembu dan domba, lantas Tuhannya akan menolongnya.”
    Abraham berkata, “Berapa banyak adanya tuhan-tuhan itu, bapak?” Orang tua itu membalas, “Mereka ada tak terbatas jumlahnya anakku.” Lalu kata Abraham, “O bapak, apa yang akan aku lakukan, jika aku akan menyembah satu Tuhan, sedangkan yang lain akan menganggap aku berdosa, karena aku tiada mengabdi kepadanya. Bagaimana juga akan timbul perselisihan sesama mereka dan dengan begitu peperangan akan berkobar di antara tuhan-tuhan itu. Selain itu jika barangkali Tuhan yang menginginkan aku berdosa, akan membunuh Tuhanku sendiri, apa yang akan aku perbuat? Tentu saja dia akan membunuh aku pula.”
    Orang tua itu sembari tertawa menjawab, “O anak, jangan takut karena tidak ada tuhan berbuat perang dengan Tuhan lain. Apalagi dalam kuil besar ada seribu tuhan dengan yang besarnya tuhan Baal. Sedangkan aku sekarang mendekati umur 70 tahun, dan hingga kini tak pernah tahu, bahwa seorang tuhan telah mengalahkan tuhan lain. Dan sudah tentu semua manusia tidak menyembah satu tuhan, tetapi satu manusia satu tuhannya dan begitu juga yang lain.”
    Abraham menjawab, “Begitu, lalu mereka damai di antara mereka sendiri?”
    Kata ayahnya, “Begitulah mereka.”
    Kemudian berkata Abraham, “O ayah, seperti apakah tuhan-tuhan itu?”
    Orang tua itu menjawab, “Bodoh, tiap hari aku telah membuat satu tuhan yang aku jual kepada orang lain untuk membeli roti. Masa kamu tidak mengenal seperti apa tuhan-tuhan itu!” Ketika itu dia sedang membuat sebuah berhala. “Ini,” katanya, “adalah dari kayu pohon palem, yang satu itu dari batang Zaitun, yang kecil itu dari gading, lihat betapa bagusnya! Bukankah kelihatannya seakan-akan ia hidup? Pasti kekurangannya hanya nafas.”
    Abraham menjawab, “Begitulah bapak, tuhan-tuhan itu adalah tanpa nafas. Lalu bagaimana mereka memberi nafas? Sedangkan adanya tanpa kehidupan, bagaimana mereka memberi kehidupan? Tentu ayah bahwa semua ini bukanlah Allah.”
    Orang tua itu marah pada kata-kata ini, berkata, “Seandainya sekarang kamu telah dewasa untuk mengerti, aku pecahkan kepalamu dengan kampak ini; tetapi kamu aman karena kamu belum mempunyai pengertian!”
    Abraham berkata, “Bapak, jika tuhan-tuhan itu menolong menjadikan manusia, bagaimana bisa jadi, bahwa manusia menjadikan tuhan-tuhan itu? Dan jika tuhan-tuhan itu terbuat dari kayu, suatu dosa besar membakar kayu. Tetapi terangkan padaku, bapak, bagaimana itu. Apalagi engkau telah membuat begitu banyak tuhan-tuhan. Tuhan-tuhan itu tidak menolongmu untuk menjadikan demikian banyak anak-anak lainnya, sehingga engkau akan menjadi manusia yang paling kuasa di dunia.”
    Bapak itu di luar dugaannya sendiri, mendengar anaknya berbicara demikian; anak itu meneruskan, “Bapak, adakah dunia ini untuk beberapa waktu tanpa para manusia?”
    “Ya”, jawab orang tua itu, “lalu kenapa?”
    “Karena”, kata Abraham, “Aku akan senang mengetahui siapa membuat Tuhan pertama itu.”
    “Sekarang keluarlah dari rumahku!”, kata orang tua itu, “Dan tinggalkan aku untuk membuat tuhan ini dengan cepat, dan jangan berkata-kata kepadaku; karena bila kamu lapar, kamu menginginkan roti dan bukan kata-kata.”
    Berkata Abraham, “Sungguh suatu tuhan yang baik bahwa engkau potong dia sebagaimana engkau mau, dan dia tidak mempertahankan dirinya sendiri!”
    Lalu orang tua itu marah, dan berkata, “Seluruh dunia mengatakan bahwa itu tuhan dan kamu orang lelaki kegila-gilaan, mengatakan bahwa itu bukan. Demi tuhan-tuhanku, jika kamu seorang manusia dewasa, aku dapat membunuhmu!” Dan setelah mengatakan ini, ia memberi pukulan dan tendangan kepada Abraham, dan menghalaunya dari rumah.”
    Yesus berkata lagi, “Pada suatu hari, Abraham mencapai umur 12 tahun, bapaknya berkata kepadanya, ‘Besok adalah perayaan pesta dari seluruh tuhan-tuhan. Karena itu kita akan pergi ke kuil besar dan membawa suatu sesembahan kepada tuhanku, Baal yang besar. Dan engkau akan pilih sebuah tuhan untuk dirimu sendiri, karena kamu telah berumur untuk memilih satu tuhan.’”
    Abraham menjawab dengan tipu daya, “Dengan sudi, o bapakku.” Dengan demikian terjadilah waktu itu di kepagian mereka pergi sebelum tiap-tiap orang lain ke kuil itu. Tetapi Abraham menyediakan di bawah baju seragamnya sebuah kampak tersembunyi. Dalam pada itu setelah memasuki kuil itu, sementara kerumunan orang bertambah, Abraham menyembunyikan diri di belakang sebuah patung dewa di bagian kuil yang gelap. Bapaknya, ketika telah berangkat pulang menyangka bahwa Abraham telah pergi pulang mendahuluinya. Oleh sebab itu ia tidak tinggal mencarinya.
    Ketika setiap orang telah berangkat dari kuil itu, para pejabat agama menutup kuil itu lalu pergi. Kemudian Abraham mengambil kampak itu dan memotong kaki-kaki semua arca itu kecuali Baal. Pada kakinya dia meletakkan kampak itu, di tengah-tengah reruntuhan bahan-bahan arca, karena tersusun dari potongan-potongan, yang dibuat dalam masa lalu, telah jatuh berantakkan berkeping-keping. Dalam pada itu, Abraham keluar dari kuil itu, dilihat oleh orang-orang tertentu, yang mencurigainya habis mencuri sesuatu dari kuil itu. Jadi mereka mengadakan penahanan terhadapnya, dan setelah sampai di kuil itu, ketika mereka melihat tuhan-tuhannya begitu pecah berantakan, mereka berteriak-teriak dibarengi ratap tangis, “Datanglah dengan cepat, o manusia, dan mari kita bunuh orang yang membunuh tuhan-tuhan kita!” Di sana telah berkumpul cepat kira-kira 10 ribu orang dengan pejabat-pejabat agama, lalu menanyai Abraham tentang sebab mengapa ia telah menghancurkan tuhan-tuhan mereka.
    Abraham menjawab, “Kamu semua adalah bodoh! Akan adakah seorang manusia membunuh tuhan? Adalah tuhan yang besar itu yang telah membunuh mereka. Tidakkah engkau lihat bahwa kampak besar itu yang dia miliki berada dekat kakinya? Tentunya bahwa ia tak ingin kawan-kawan.”
    Kemudian telah sampailah ke sana bapak dari Abraham, yang masih ingat betul terhadap banyak percakapan Abraham menentang tuhan-tuhan mereka dan mengenal kampak yang digunakan Abraham untuk menghancurkan patung-patung itu, berteriak, “Hal itu adalah anakku pengkhianat ini yang telah membunuh tuhan-tuhan kita!”
    Maka orang-orang itu mengumpulkan setumpuk besar kayu dan setelah mengikat tangan dan kaki Abraham, diletakkannya di atas kayu itu, lalu menyalakan api di bawahnya. Ingatlah! Allah dengan perantaraan malaikat-Nya memerintahkan kepada api itu agar tidak membakar Abraham hamba-Nya. Api itu meluap dengan kemarahan yang besar, lalu membakar lebih kurang 2 ribu orang yang telah menghukum Abraham untuk mati. Sungguh Abraham tersingkir dari kematian. (Lihat Alquran 21:57-69; 37:91-97; Injil Barnabas psl. 27-28.)
    Demikianlah, mereka telah buta. Bukan buta mata kepala, akan tetapi hati merekalah yang buta. Mereka telah mendengar argumentasi Ibrahim yang sangat masuk akal, namun mereka tetap tidak beriman kepada Tuhan yang haq, Allah Yang Mahaesa. Namun demikian, Nabi Ibrahim tidak putus asa dalam mengantarkan ummatnya untuk beriman kepada Allah. Berilah peringatan, karena peringatn itu bermanfaat. Memberi peringatan itu bukanlah tindakan sia-sia. Jika kemudian ada orang yang begitu dungu dan buta hatinya sehingga ia tidak mau beriman kepada Allah Yang Esa, maka bersabarlah atas kebodohan mereka. Bersabarlah atas orang-orang yang berkata bahwa manusia telah menyalib Tuhan hingga mati.

  • TAWAKKAL

    Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min bertawakkal. (Q.S. Ali Imran: 160)

    Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan ni`mat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mu’min itu harus bertawakkal. (Q.S. Al-Maa`idah: 11)

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S. Al-Anfal: 2)

    Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. Al-Mulk: 29)

    Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Q.S. Ath Thalaq: 3)

    Syaikh Ibnu ‘Atho`illah pernah berkata(1), “Allah telah mengerti sesungguhnya hamba-hambaNya sangat bergairah memperoleh rahasia pemberian Allah. Maka Dia berfirman, “Allah menentukan dengan rahmat-Nya siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi).”(2) Dan Allah juga mengerti andai kata Dia membiarkan mereka, dan yang demikian itu pasti membuat mereka meninggalkan amal disebabkan berpegang kepada ketentuan azali, maka terhadap hal ini Dia pun berfirman, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”(3) Inilah tawakkal yang benar. Tajrid bukanlah meninggalkan usaha secara lahiriah, tetapi meninggalkan usaha sebagai tuhan.

    Jika kita ingin belajar tentang tawakkal, lihatlah burung. Ia pergi di pagi hari dari sarangnya, dan ia kembali di sore hari dengan perut kenyang. Untuk menjemput rizqinya, burung tidak diam saja di sarang. Tetapi ia juga tidak menjadikan usahanya sebagai andalan. Ia berserah diri kepada Allah Yang memberi rizqi kepada setiap makhluq-Nya.

     

    (1) Syaikh Ibnu ‘Atho`illah, Matnul Hikam point 163

    (2) QS. Al-Baqarah: 105

    (3) Q.S. Al-A’raf: 56

     

  • QONA’AH

    Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An-Nisaa`: 32)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seorang lelaki di antara kamu telah melihat orang yang Allah berikan kepadanya harta yang banyak dan anak-anak, maka dia hendaklah melihat kepada mereka yang lebih rendah (tidak mendapat kurniaan harta yang banyak atau anak-anak) daripadanya. (HR. Bukhari, Muslim)

    Qona’ah adalah merasa puas akan apa yang Allah berikan kepada kita. Qona’ah berbeda dengan merasa cukup (ghoniy), merasa cukup adalah sikap yang timbul dari kesombongan, yaitu seseorang merasa cukup dengan dirinya sendiri dan tidak membutuhkan Allah dan yang lainnya. Hanya Allah yang pantas merasa cukup, karena Allah memang tidak membutuhkan yang selain diri-Nya. Justeru yang selain diri-Nya itulah yang membutuhkan Allah.

    Qona’ah akan memunculkan rasa syukur kepada Allah. Rasa syukur akan menimbulkan amal shalih sebagai wujud kesyukuran. Qana’ah akan mudah muncul jika kita melihat ‘ke bawah’. Lihatlah mereka yang hidup di jalanan. Lihatlah anak-anak kecil berumur 3-4 tahun yang ikut mengamen bersama kakak-kakak mereka yang baru berumur 10-11 tahun di bis-bis. Bukankah mereka sebaya dengan anak, cucu, atau keponakan Anda? Lihatlah mereka yang hidup dari mengais sampah dan tinggal di daerah kumuh. Kemudian lihatlah kepada anugerah yang telah Allah berikan kepada Anda. Bukankah Anda lebih beruntung dari mereka? Belumkah hati Anda tergerak untuk bersyukur kepada-Nya? Dialah Yang Mahalembut lagi Mahapemberi.