Kategori: Sejarah

  • DA’WAH RASUL SECARA TERANG-TERANGAN

    Kemudian secara berturut-turut manusia, wanita dan laki-laki, memeluk Islam, sehingga berita tentang Islam tersiar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan orang. Lalu Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan Islam dan mengajak orang kepadanya secara terang-terangan, setelah selama tiga tahun Rasulullah saaw melakukan da’wah secara tersembunyi. Allah berfirman kepada Muhammad sang Rasul:

    Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. 15:94)
    Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”. (QS. 15:89)

    Kemudian Rasulullah saaw pergi ke atas bukit Shafa lalu berseru, “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘adi,” sehingga mereka semua berkumpul dan orang yang tidak bisa hadir mengirimkan orang untuk melihat apa yang terjadi. Maka Rasulullah saaw berkata, “Bagaimanakah pendapatmu jika aku kabarkan bahwa di belakang gunung ini ada sepasukan kuda musuh yang datang akan menyerangmu, apakah kamu mempercayaiku? Jawab mereka, “Ya, kami belum pernah melihat kamu berdusta.” Kata Nabi, “Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dari siksa yang pedih.” Kemudian Abu Lahab memprotes, “Sungguh celaka kamu sepanjang hari, hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami?”
    Lalu turunlah Surat Al-Lahab:
    “Binasalah kedua belah tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa.”
    Kemudian Rasulullah saaw turun dan melaksanakan wahyu yang berbunyi, “Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (lihat QS. 26:214). Maka beliau mengumpulkan semua keluarga dan kerabatnya lalu berkata, “Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Murrah bin Ka’ab, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdusy Syams, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdul Muthalib, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak akan dapat membela kalian dihadapan Allah, selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan aku sambung dengan hubungannya.” (HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah)

    Da’wah Rasul saaw secara terang-terangan ini ditentang dan ditolak bangsa Quraisy, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka. Pada saat itulah Rasulullah mengingatkan mereka dari belenggu taqlid. Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah saaw bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah itu tidak dapat memberi faidah atau bahaya sama sekali. Dan bahwa turun-temurunnya nenek moyang mereka dalam menyembah tuhan-tuhan itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengikuti mereka secara taqlid buta. Firman Allah menggambarkan mereka:
    Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. 2:170)

    Ketika Rasul saaw mencela tuhan-tuhan mereka, membodohkan mimpi mereka, dan mengecam tindakan taqlid buta mereka terhadap nenek moyang dalam menyembah berhala, mereka menentang dan sepakat untuk memusuhinya, kecuali pamannya, Abu Thalib, yang membelanya.

  • PENYIKSAAN TERHADAP PENGIKUT RASUL

    Permusuhan kaum Quraisy kepada Rasulullah saaw dan para shahabatnya semakin keras dan gencar. Rasulullah saaw sendiri mengalami berbagai macam penganiayaan.Berkata Abdullah bin Umar bin Khaththab: ketika nabi saaw sedang sujud di sekitar beberapa orang Quraisy, tiba-tiba ‘Uqbah bin Abi Mu’ith datang dan membawa kotoran binatang, lalu melemparkannya ke atas punggung Nabi saaw. Beliau tidak mengangkat kepalanya sehingga datang Fathimah ra membersihkannya dan melaknati orang yang melakukan perbuatan keji itu.

    Selain itu, Nabi saaw juga menghadapi berbagai penghinaan, ejekan dan cemoohan setiap kali beliau lewat di hadapan mereka. Ath-Thabari dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa sebagian kaum Quraisy pernah menaburkan tanah di atas kepala Rasulullah saaw ketika beliau sedang berjalan di sebuah lorong Makkah, sehingga beliau pulang ke rumah dengan kepala kotor. Kemudian salah seorang anak perempuan Rasul saaw membersihkannya sambil menangis. Tetapi Rasulullah saaw mengatakan kepadanya, “Wahai anakku, janganlah engkau menangis! Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu.”

    Demikian pula halnya para shahabat. Masing-masing dari mereka telah merasakan berbagai macam penyiksaan. Bahkan di antara mereka ada yang meninggal dan buta karena dahsyatnya penyiksaan. Tetapi semua itu tidak melemahkan semangat keimanan mereka. Penyiksaan-penyiksaan yang dialami oleh para shahabat ini terlalu banyak untuk disebutkan di sini.

    Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Khabbab bin al-Arit, ia berkata: Aku datang menemui Rasulullah saaw ketika beliau sedang berteduh di Ka’bah. Kepada beliau aku berkata, “Wahai Rasulullah (saaw), apakah Anda tidak memohonkan pertolongan kepada Allah bagi kami? Apakah Anda tidak berdoa bagi kami?” Beliau menjawab, “Di antara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya menjadi dua, dan ada pula yang disisir rambutnya dengan sisir dari besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Tetapi siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan agama. Demi Allah, Allah pasti akan mengakhiri semua persoalan itu, sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapa pun juga selain Allah, dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Tetapi kalian tampak terburu-buru.”

  • RASUL BUKAN MENCARI HARTA, TAHTA, ATAU PUN WANITA

    Di dalam riwayat Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishaq disebutkan bahwa ‘Utbah b. Rabi’ah berkata di majlis pertemuan Quraisy, “Wahai kaum Quraisy, izinkanlah aku bertemu dan berdialog dengan Muhammad, dan menawarkan beberapa tawaran kepadanya, barangkali dia bersedia menerima salah satunya. Kita berikan kepadanya apa yang disukai, dan dia berhenti menyusahkan kita.” Kaum Quraisy menjawab, “Kami setuju, wahai Abul Walid. Pergi dan berdialoglah kepada Muhammad.” Kemudian ‘Utbah datang kepada Rasulullah saaw, lalu duduk di hadapan Rasul saaw dan berkata, “Wahai putera saudaraku, engkau adalah seorang dari lingkungan kami, dan engkau pun telah mengetahui kedudukan silsilah kita. Namun ternyata engkau telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada kaum kerabatmu dan engkau telah memecah belah kerukunan dan persatuan meeka. Sekarang dengarlah baik-baik, saya hendak menawarkan kepadamu beberapa hal yang mungkin dapat engkau terima salah satunya.” Rasul menjawab, “Katakanlah hai Abul Walid, apa yang hendak kamu tawarkan.” ‘Utbah bin rabi’ah berkata, “Wahai putera saudaraku, jika dengan da’wah yang engkau lakukan itu engkau ingin mendapatkan harta kekayaan, maka akan kami kumpulkan harta kekayaan yang ada pada kami untukmu, sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di kalangan kami. Jika engkau menginginkan kehormatan dan kemuliaan, engkau akan kami angkat sebagai pemimpin, dan kami tidak memutuskan persoalan apa pun tanpa persetujuanmu. Jika engkau ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan engkau sebagai raja kami. Jika engkau tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam dirimu, kami bersedia mencari tabib yang sanggup menyembuhkanmu, dan untuk itu kami tidak akan menghitung-hitung biaya yang diperlukan sampai engkau sembuh.”

    Rasulullah saaw bertanya kepada ‘Utbah, “Sudah selesaikah wahai Abul Walid?” Jawab ‘Utbah, “Sudah.” Rasul saaw bersabda, “Sekarang dengarkanlah dariku.” Kemudian Rasulullah saaw membaca Surat Fushilat:
    Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud”.

    Ketika sampai pada ayat yang menerangkan tentang azab ini, ‘Utbah menutup mulut Nabi dengan tangannya supaya berhenti membaca karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut.
    Kemudian ‘Utbah kembali kepada kaumnya yang sudah menantinya. Mereka bertanya, “Bagaimana hasilnya wahai Abul Walid?” ‘Utbah menjawab, “Aku mendengar suatu perkataan yang belum pernah aku dengar sama sekali. Demi Allah, perkataan itu bukan syair, bukan sihir dan bukan pula mantera dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku, dan biarkanlah Muhammad dengan urusannya. Biarkanlah dia! Demi Allah, sungguh perkataan yang aku dengar darinya itu akan menjadi berita yang menggemparkan. Jika apa yang dikemukakan Muhammad terjadi pada bangsa Arab, maka hanya dia yang bisa membebaskan kamu. Dan jika Muhammad berkuasa atas bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaanmu, kemulyaannya adalah kemulyaanmu juga. (Maka biarkanlah dia!)”

    Kaum Quraisy menjawab, “Demi Allah, Muhammad telah menyihirmu, wahai Abul Walid, dengan perkataannya.” ‘Utbah berkata, “Demikianlah pendapatku tentang Muhammad. Kamu bebas untuk berbuat sesukamu.”

    Thabari dan Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa beberapa orang kaum musyrik, termasuk al-Walid bin Mughirah dan al-‘Ash bin wail, datang menemui Rasulullah saaw menawarkan harta kekayaan dan gadis tercantik kepadanya, dengan syarat beliau bersedia meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka. Ketika Rasul saaw menolak tawaran tersebut, mereka menawarkan, “Bagaimana jiak Anda menyembah tuhan-tuhan kami sehari, dan kami menyembah tuhanmu sehari secara bergantian?” Tetapi tawaran ini juga ditolak oleh Nabi saaw. Dan berkenaan dengan hal ini Allah menurunkan wahyu:
    Katakanlah (kepada mereka wahai Muhammad): “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun)

    Para pembesar Quraisy belum berputus asa membujuk Nabi saaw. Secara beramai-ramai mereka mendatangi Rasulullah saaw menawarkan kembali apa yang pernah ditawarkan oleh ‘Utbah kepada Nabi saaw. Mereka menawarkan kekuasaan, harta kekayaan, dan pengobatan.

    Kepada mereka Rasulullah saaw mengatakan, “Aku tidak memerlukan semua yang kamu tawarkan. Aku tidak berda’wah karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabbku dan aku sampaikan nasihat kepadamu. Jika kamu menerima da’wahku, maka kebahagiaanlah bagimu di dunia dan di akhirat. Jika kamu menolak ajakanku, maka aku bersabar mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kalian.”

    Selanjutnya mereka berkata kepada Nabi saaw, “Jika Anda tidak bersedia menerima tawaran kami, maka sesungguhnya Andatelah mengetahui bahwa tidak ada orang yang lebih kecil negerinya, lebih gersang tanahnya dan lebih keras kehidupannya selain daripada kami. Karena itu, mintakanlah untuk kami kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menjauhkan gunung-gunung yang menghimpit ini dari negeri kami, mengalirkan sungai-sungai untuk kami sebagaimana sungai-sungai Syam dan Iraq, dan membangkitkan bapak-bapak kami yang telah mati, terutama Qushayy bin Kilab, karena dia tokoh yang terkenal jujur, sehingga kami dapat bertanya kepadanya tentang apa yang Anda katakan. Mintalah untuk Anda kebun-kebun, istana, tambang emas dan perak yang dapat memenuhi apa yang selama ini Anda buru. Jika Anda telah melakukan apa yang kami minta, maka kami baru akan membenarkan Anda. Kami akan tahu kedudukan anda di sisi Allah, dan akan mempercayai bahwa Dia mengutusmu sebagai Rasul sebagaimana Anda katakan.” Jawab Rasulullah saaw, “Aku tidak akan melakukannya, aku tidak meminta hal itu kepada Allah.”

  • HIJRAHNYA SEBAGIAN SHAHABAT KE HABASYAH

    Siksaan terhadap ummat Islam semakin berat. Bahkan diantara mereka ada yang dibunuh. Maka para tokoh shahabat menemui Nabi dan meminta izin untuk hijrah dari Makkah. Maka Rasulullah saaw pun menginzinkan mereka untuk hijrah ke Habasyah. Habasyah adalah negeri yang dipimpin oleh Raja Najasy (Negus). Dia adalah seorang Nashrani.
    Sebagian shahabat pun berhijrah ke Habasyah. Di antara mereka adalah Abdur rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Mus’ab bin ‘Umair, Suhail bin Baidha, Hathib bin ‘Amr, dan Abdullah bin Mas’ud.
    Mengetahui hal ini, maka kaum kafir Quraisy melakukan pengejaran. Akan tetapi mereka gagal mencegah kaum muslimin. Maka mereka bersepakat untuk mengirim Amr bin ‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah ke Habasyah untuk berunding dan mempengaruhi Raja Najasy agar memulangkan kaum Muslimin.
    Kedua utusan itu membawakan hadiah bagi Raja Najasy sebagai tanda persahabatan. Raja Najasy menerima mereka dengan baik. Lalu Raja Najasy menanyakan kedua utusan itu, “Apa maksud kedatangan kalian ke sini?” Lalu tusan itu berkata, “Ada beberapa orang dari negeri kami membenci agama kami dan sekarang mereka berada di negeri tuan.” Raja Najasy berkata, “Apakah yang kalian maksud adalah orang-orang Arab yang datang dan meminta perlindunganku?” Mereka menjawab, “Benar tuan.” Raja Najasy bertanya lagi, “Apa yang kalian kehendaki dari mereka?” Utusan itu menjawab, “Serahkan mereka kepada kami.” Raja Najasy berkata, “Tidak bisa sebelum aku mendengar argumen mereka.” Lalu Raja Najasy menyuruh prajuritnya untuk memanggil kaum muslimin itu.
    Setelah kaum muslimin itu datang, Raja Najasy bertanya kepada mereka, “Wahai kaum muslimin, kenapa kalian begitu benci dengan agama nenek moyangmu sendiri?”
    Kaum muslimin menjawab, “Mereka adalah penyembah berhala. Sesungguhnya Tuhan telah mengutus kepada kami seorang Rasul, kami beriman dan mempercayainya.”
    Raja Najasy bertanya kepada Amr bin ‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, “Wahai utusan dari makkah, apakah mereka budak kalian?” Mereka berdua menjawab, “Bukan yang mulya.” Raja Najasy berkata, “Kalau begitu tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.”
    Lalu keduanya kembali ke kamar yang disediakan raja bagi para tamu. Mereka mencari cara untuk menjebak kaum Muslimin.
    Keesokan harinya Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah kembali menemui Raja Najasy seraya bersujud memberi hormat sebagaimana kemarin. Lalu mereka menyatakan maksudnya, “Kami masih ingin mempersoalkan para kaum muslimin itu. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati kami.” Maka raja memanggil kau muslimin. Kaum muslimin datang menghadap raja tanpa bersujud. Lalu Amr bin Ash berkata, “Lihatlah, mereka tidak bersujud wahai paduka raja.” Lalu Raja Najasy bertanya kepada kaum muslimin, “Mengapa kalian tidak bersujud?”
    Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah Yang Mahamulya dan Mahaagung.” Raja Najasy bertanya lagi, “Apa maksudmu?” Ja’far bin Abi Thalib menjawab, ”Sesungguhnya Tuhan mengutus seorang Rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami dan nenek-moyang kami menyembahnya. Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami melakukan segala kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta, memakan harta anak piatu atau mencemarkan wanita-wanita yang bersih. Ia minta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNya. Selanjutnya disuruhnya kami melakukan salat, zakat dan puasa. Kami turut segala yang diperintahkan Allah. Lalu yang kami sembah hanya Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun juga. Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Karena itulah, masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa kami dan menghasut supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala; supaya kami membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, mereka menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kamipun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan.”
    Amr bin Ash berkata, “Sesungguhnya mereka berbeda dengan tuan mengenai Isa bin Maryam.” Raja Najasy bertanya, “Apa pendapat Nabimu tentang Isa putera Maryam?”
    Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, ruh-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Perawan Maryam.”
    Lalu Raja Najasy mengambil sebatang ranting kecil dari lantai dan berkata,”Wahai para pemimpin agama, sesungguhnya perbedaan antara kita dengan mereka mengenai Isa bin Maryam tidak lebih besar dan tidak lebih berat dari ranting ini. Salam aku ucapkan kepada kalian wahai kaum muslimin dan juga bagi nabi kalian. Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?”
    Lalu Ja’far bin Abu Thalib membacakan surat Maryam, “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
    Raja Najasy berkata, “Sesungguhnya kata-kata ini keluar dari sumber yang sama dengan apa yang dibawa Musa.”
    Akhirnya Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah pulang ke Makkah dengan kegagalan.

  • ISLAMNYA UMAR

    Waktu itu ‘Umar bin Khaththab adalah pemuda yang gagah perkasa, berusia antara tiga puluh dan tiga puluh lima tahun. Tubuhnya kuat dan tegap, penuh emosi dan cepat naik darah. Kesenangannya foya-foya dan minum-minuman keras. Tetapi terhadap keluarga ia bijaksana dan lemah-lembut. Dari kalangan Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin.
    Rasulullah sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya, Ali bin Abi Talib sepupunya, Abu Bakr bin Abi Quhafah dan Muslimin yang lain. Pertemuan mereka ini diketahui ‘Umar. Ia pun pergi ke tempat mereka, ia mau membunuh Rasulullah saaw. Di tengah jalan ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah. Setelah mengetahui maksudnya, Nu’aim berkata:
    “Umar, engkau menipu diri sendiri. Kaukira keluarga ‘Abdu Manaf. akan membiarkan kau merajalela begini sesudah engkau membunuh Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja ke rumah dan perbaiki keluargamu sendiri?”
    Umar berkata, “Apa maksudmu dengan memperbaiki keluargaku? Keluargaku yang mana?” Nu’aim berkata, “Saudaramu, Fathimah dan suaminya, Sa’id bin Zaid. Keduanya telah mengikuti agama Muhammad.” Maka Umar langsung menemui mereka berdua.
    Di rumah Fathimah binti Khaththab sedang ada Khabab bin Al-Arit. Khabab sedang mengajarkan Al-Qur`an kepada Sa’id dan Fathimah. Mengetahui ada seseorang yang sedang mendekati rumahnya, Sa’id dan Fathimah segera menyembunyikan lembaran Al-Qur`an miliknya dan menyuruh Khabab agar bersembunyi.
    Umar langsung masuk ke dalam rumah itu dan berkata, “Suara apa yang aku dengar dari luar tadi?”. Karena mereka tidak mau berterus-terang, Umar membentak lagi dengan suara lantang, “Aku sudah mengetahui bahwa kalian menjadi pengikut Muhammad dan menganut agamanya!” katanya sambil menghantam Sa’id keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras.
    “Ya, kami sudah masuk Islam! Dan telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya! Sekarang berbuatlah sekehendakmu!,” kata Fathimah.
    Tetapi Umar jadi tertegun sendiri setelah melihat darah di muka saudaranya itu. Ketika itu juga lalu timbul rasa iba dalam hatinya. Ia menyesal. Dimintanya kepada saudarinya supaya lembaran yang mereka baca itu diberikan kepadanya.
    Fathimah berkata, “Tidak! Tak akan aku berikan kepdamu. Kau akan shahifah ini.” Umar berkata, “Jngan khawatir, aku bersumpah atas nama tuhanku, aku tidak akan merusak lembaran-lembaran itu. Aku hanya ingin membacanya. Jika telah selesai akan aku kembalikan kepadamu.”
    Fathimah berkata, “Wahai saudaraku, engkau tidak boleh menyentuhnya kecuali jika engkau telah bersuci.”
    Maka ‘Umar pun mensucikan dirinya dengan air. Setelah bersuci ia menemui Fathimah dan berkata, “Aku telah bersuci. Sekarang berikan lembaran itu, aku hanya ingin mengetahui isinya.”
    Fathimah pun menyerahkan shahifah itu kepada Umar. Maka Umar pun membaca lembaran itu:
    Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaulhusna (nama-nama yang baik)….
    Setelah dibacanya, wajahnya tiba-tiba berubah. Ia merasa menyesal sekali atas perbuatannya itu. Menggetar rasanya ia setelah membaca isi kitab itu. Ada sesuatu yang luarbiasa dan agung dirasakan, ada suatu seruan yang begitu luhur. Umar berkata, “Alangkah indah, agung dan mulyanya kalimat-kalimat ini.”
    Khabab yang sedari tadi bersembunyi, segera keluar dan berkata, “Demi Allah wahai Umar, sungguh aku berharap Allah telah memilih engkau. Kemarin aku mendengar Rasulullah saaw berdoa: ‘Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Abil Hakim bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan Umar bin Khaththab.’”
    Umar berkata, “Wahai Khabab, antarkan aku untuk menemui Muhammad. Aku hendak masuk Islam dihadapannya.”
    Dengan Islamnya Umar ini kedudukan Quraisy jadi melemah. Sekali lagi mereka mengadakan pertemuan guna menentukan langkah lebih lanjut.

  • PEMBOIKOTAN TERHADAP RASUL

    Abu Thalib dan Hamzah yang mengetahui rencana kafir Quraisy terhadap Rasulullah dan kaum muslimin segera menemui Rasulullah saaw. Abu Thalib menyuruh Rasulullah agar segera bersiap-siap untuk menyelamatkan diri. Beliau juga telah memberitahu kaum muslimin agar segera menyelamatkan diri mereka. Sebagian sahabat berhijrah ke Habasyah, sebagian lagi berlindung bersama Rasulullah di syi’ib (perkampungan kecil yang dijepit oleh bukit-bukit) Bani Abdul Muthalib, di sana ada benteng yang bisa digunakan untuk berlindung.
    Mengetahui sikap Bani Abdul Muthalib yang membela Nabi saaw dan para pengikutnya, kaum musyrikin Quraisy semakin marah. Maka para pemimpin dari beberapa suku Quraisy bersepakat untuk mengucilkan orang-orang yang ada di syi’ib tersebut. Kesepakatan ini mereka tuangkan dalam sebuah piagam dan digantung di Ka’bah. Poin-poin dalam piagam itu antara lain:
    1. Tidak mengadakan hubungan dengan para pembela Muhammad.
    2. Tidak mengadakan jual beli dengan mereka.
    3. Tidak melakukan pernikahan dengan para pengikut Muhammad.
    Setelah kesepakatan itu dibuat, kaum kafir Quraisy memperketat pengepungan terhadap kaum muslimin. Bantuan makanan yang dikirim dari luar syi’ib mereka sita. Mereka melarang siapa saja yang ingin memberi bantuan kepada kaum muslimin. Maka habislah persediaan makanan kaum muslimin sehingga menimbulkan kelaparan untuk waktu yang cukup panjang. Bantuan makanan yang berhasil sampai ke syi’ib hanya dalam jumlah kecil. Mereka tidak dapat keluar dari syi’ib kecuali pada musim-musim hajji dan umrah. Namun harga bahan makanan akan dinaikkan harganya bagi kaum muslimin yang ingin membeli bahan makanan. Sehingga mereka tidak bisa membeli banyak.
    Suatu hari, ketika masa pemboikotan memasuki tahun ketiga, Hakim bin Hizam bin Khuwailid membawa bahan makanan ke tempat pengucilan. Akan tetapi dia dicegah oleh Abu Jahl. Abu Jahl bertanya kepada Hakim, “Apa isi dalam karung itu hai Hakim, dan hendak kau bawa ke mana?” Hakim menjawab, “Aku membawa sekarung terigu untuk aku berikan kepada bibiku, Khadijah, yang sedang sakit.” Abu jahl berkata, “Hai Hakim, apa kau tidak tahu aturan yang berlaku saat ini? Lebih baik kau bawa pulang kembali tepung terigu itu atau akan kami sita!” Hakim menolak dan berkata, “Tidak bisa! Bila tidak aku berikan, penyakit bibi Khadijah akan semakin parah.”
    Alhamdulillah Abul Bakhtari bin Hisyam lewat di tempat itu. Mengetahui kejadian itu, Abul Bakhtari berkata, “Hai Abu Jahl, apa urusanmu? Dia mempunyai makanan yang ia berikan kepada bibinya. Biarkan dia!” Abu Jahl tidak mau mengikuti perkataan Abul Bakhtari. Maka Abul Bakhtari mencabut pedangnya dan memukul Abu Jahl hingga berdarah. Lalu Abul Bakhtari menyuruh Hakim agar segera memberikan bahan makanan kepada Khadijah.
    Setelah kejadian itu, Abul Bakhtari menemui tokoh-tokoh Bani Qushayy, yaitu Hisyam bin Amr bin al-Harits, Zuhair bin Umayyah, Muth’im bin ‘Adiy dan Zam’ah bin al-Aswad. Abul Bakhtari berkata, Aku sudah tidak tahan membiarkan mereka dalam kondisi menderita dan sengsara. Apa salah mereka?” Para tokoh Bani Qushayy itu sependapat dengan Abul Bakhtari, mereka berkata, “Ya, kami juga merasa demikian. Kami pun sudah membicarakan hal ini. Selama ini kita telah menyengsarakan orang-orang yang tidak bersalah. Kita harus membatalkan perjanjian ini.”
    Maka para tokoh Bani Qushayy itu pun menemui orang-orang yang sedang mengepung syi’ib Bani Abdul Muthalib. Zuhair bin Umayyah berkata, “Orang-orang Makkah, patutkah kalau kita makan kenyang, berpakaian bagus, serta bersenang-senang, sedangkan orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib binasa karena menderita kesengsaraan dan kelaparan? Demi Allah aku tidak akan tinggal diam selama piagam itu belum hancur!”
    Abu Jahl angkat bicara, “Hai Zuhair, kau bicara ngawur, piagam itu tidak akan hancur!”
    Zam’ah bin al-Aswad berkata, “Demi Allah, kaulah yang suka ngawur. Sejak piagam itu ditulis, aku merasa tidak rela!”
    Abul Bakhtari pun berkata, “Zam’ah benar. Kami memang tidak rela dan tidak menyetujui apa yang tertulis dalam piagam itu!”
    Abu Jahal terdesak. Dalam keadaan itu, keluarlah Abu Thalib dari syi’ib menemui orang-orang Quraisy dan berkata, “Hai penduduk Makkah, kemenakanku memberitahukan kepadaku bahwa atas kehendak Allah, piagam kalian telah hancur dimakan rayap. Tak ada yang tersisa kecuali tulisan yang menyebut Asma Allah! Silahkan kalian lihat. Jika apa yang dikatakannya benar, kalian harus sadar bahwa kalian telah berbuat zhalim terhadap kami. Dan telah memutuskan hubungan kekerabatan dengan kami. Kalau apa yang dikatakannya itu bohong, kami tahu bahwa kalianlah yang berada di atas kebenaran dan kami di atas kebathilan. Aku yakin bahwa apa yang dikatakan Muhammad itu benar. Dan jika yang dikatakannya itu bohong, saya bersedia menyerahkan Muhammad kepada kalian.”
    Mereka kemudian segera ke Ka’bah untuk melihat piagam itu. Setibanya disana, terkejutlah mereka. Seperti yang dikatakan Rasulullah saaw, piagam itu telah dimakan rayap, kecuali tulisan Asma Allah. Maka kaum kafir Quraisy pun menghentikan pemboikotan itu.

  • WAFATNYA KHADIJAH DAN ABU THALIB

    Pemboikotan telah membuat kondisi fisik Khadijah melemah dan jatuh sakit. Rasulullah saaw selalu berada di samping Khadijah selama beliau sakit. Setelah beberapa hari sejak hancurnya piagam pemboikotan, wafatlah Khadijah ra di hadapan Rasulullah saaw.

    Tak lama setelah wafatnya Khadijah, kini pamannya, Abu Thalib jatuh sakit. Mengetahui akan hal ini, para tokoh Quraisy mengadakan pertemuan. Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba menemui Abu Thalib dan membujuknya. Mereka berfikir bahwa dengan kondisinya sekarang pendirian Abu Thalib akan berubah dan mau menyerahkan Muhammad Rasulullah saaw kepada mereka. Lalu mereka menemui Abu Thalib dan berkata, “Wahai Abu Thalib, engkau telah memahami kondisi antara kami dengan keponakanmu. Panggillah dia. Ambillah dari kami untuk dia, dan ambillah dari dia untuk kami. Dia tidak menyerang kami, dan kami tidak menyerang dia. Dia membiarkan kami engan agama kami. Dan kami membiarkan dia dengan agamanya.”

    Kemudian Abu Thalib memanggil Rasulullah saaw dan berkata, “Wahai Muhammad, mereka menawarkan untuk memberimu sesuatu yang kau kehendaki dan meminta darimu sesuatu yang mereka kehendaki.”

    Muhammad sang Rasul pun bersabda, “Wahai paman, satu kalimat saja engkau berikan, dan bila mereka menerimanya, maka kalian akan menguasai seluruh bangsa Arab dan dan bangsa ‘ajam.”

    Abu Jahl berkata, “Baiklah, demi ayahmu, kalau perlu sepuluh kalimat.”

    Rasulullah saaw berkata, “Ucapkanlah Laa ilaaha illallaah. Tiada tuhan yang haq kecuali Allah. Dan kalian tinggalkan apa yang kalian sembah selain Allah.”

    Para tokoh Quraisy itu menolaknya dan pergi meninggalkan Rasulullah dan Abu Thalib.

    Abu Thalib berkata kepada Rasulullah, “Demi Allah, wahai anak saudaraku, aku tak melihat bahwa engkau meminta kepada mereka sesuatu yang berlebih-lebihan!”
    Rasulullah saaw bersabda, “Kalau begitu, ucapkanlah wahai paman!”

    Abu Thalib menjawab, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku ingin sekali mengucapkan itu. Akan tetapi aku khawatir, orang-orang Quraisy akan menuduh aku bahwa aku mengucapkan itu hanya karena takut mati.”

    Suatu hari, ketika Rasulullah sedang ada suatu keperluan, Ali bin Abi Thalib datang menemui beliau saaw. Ali mengabarkan bahwa Abu Thalib telah wafat. Tak kuasa menahan kesedihannya, Rasulullah menangis terisak-isak.

    Abu Thalib adalah orang yang telah mengasuh Rasulullah sejak kecil. Abu Thalib mengasihi beliau seperti anaknya sendiri. Abu Thalib juga yang telah membela dan melindungi Rasulullah dan da’wah beliau. Bahkan Abu Thalib berseru kepada semua Bani Hasyim agar mengikuti dan membela Rasulullah saaw.

    Dengan dalil bahwa Abu Thalib telah meninggalkan sesembahan-sesembahan kaum musyrik, mengakui kebenaran apa yang di bawa Muhammad Rasulullah, mengakui kebenaran wahyu yang turun kepadanya, mengakui kebenaran tauhid, dan juga atas segala sikap Abu Thalib terhadap Rasulullah saaw; maka sebagian orang berpendapat bahwa Abu Thalib itu sebenarnya seorang muslim. Hanya saja Abu Thalib menyembunyikan keislamannya dari siapa pun, bahkan terhadap Rasulullah, agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy. Dengan demikian kaum Quraisy tetap memandang Abu Thalib sebagai pemimpin mereka dan mematuhi kata-katanya, sehingga kelangsungan da’wah Rasulullah dapat mencapai tahap kemapanan. Pada saat itu, peran Abu Thalib pun selesai. Maka kehadiran Khadijah dan Abu Thalib dalam kehidupan Rasulullah adalah suatu hikmah dari Allah Al-Hakim, dan kepergian mereka adalah tahap pendidikan baru bagi Rasulullah saaw.

    Tidak ada kesepakatan jumhur ulama yang mengatakan bahwa Khadijah dan Abu Thalib itu mati dalam kesyirikan. Maka tahanlah lidah-lidah yang menuduh mereka berdua sebagai musyrik. Bahkan dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika Rasul mengajarkan kalimat tauhid di telinga Abu Thalib, kemudian Rasul mendekatkan telinganya ke mulut Abu Thalib, Rasul tidak mendengar Abu Thalib berkata-kata, hanya saja Umar bin Khaththab melihat bibir Abu Thalib bergerak-gerak. Lalu Umar berkata, “Aku melihat bibirnya bergerak wahai Rasulullah.” Tetapi Rasul berkata, “Aku tidak dengar.” Setelah mengajarkan kalimat tauhid itu, Abu Thalib tidak lagi berbicara. Ketika Rasulullah sedang di luar rumah Abu Thalib, Abu Thalib pun wafat. Wallahu a’lam

  • KEAGUNGAN MUHAMMAD RASULULLAH SAAW DI THA’IF

    Sepeninggal Abu Thalib, gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah saaw semakin bertambah ganas. Ketika beliau merasakan gangguan kaum musyrikin Quraisy bertambah hebat dan tetap menolak serta menjauhi agama Islam, beliau berpikir untuk meninggalkan Makkah dan pergi ke Thai’if. Beliau berharap akan memperoleh dukungan penduduk setempat dan akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk agama Islam. Dengan harapan itu, Muhammad saaw sang Rasul bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau saaw, pergi ke Tha’if.
    Banyak tokoh Quraisy membangun tempat peristirahatan di sana. Kabilah terbesar di Thai’f adalah Bani Tsaqif, kabilah yang berkuasa serta mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi yang cukup memadai. Mengetahui akan hal ini, Rasulullah saaw menemui pemimpin Bani Tsaqif yang terdiri dari tiga bersaudara.
    Rasulullah saaw menyampaikan maksud kedatangan beliau dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah selain Allah SWT. Namun jawaban dari mereka sungguh di luar harapan Nabi Muhammad saaw.
    Salah satu dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau?”
    Yang lainnya berkata, “Kami hidup turun-temurun di sini. Tiada kesusahan atau pun penderitaan. Hidup kami makmur, serba berkecukupan, dan kami merasa senang dan bahagia. Oleh sebab itu, kami tak perlu agamamu. Juga tidak perlu dengan segala ajaranmu. Kami pun punya Tuhan yang bernama Al-Latta, yang memiliki kekuatan melebihi berhala Hubal di Ka’bah. Buktiny dia telah memberikan kesenangan di sini dengan segala kemewahan dan kekayaan yang kami miliki.”
    Yang lainnya lagi berkata, “Jauh berbeda dengan ajaran yang kalian tawarkan. Penuh siksaan dan daerah yang selalu penuh dengan derita. Jels kami menolak ajaran kalian. Bila tidak, akan menimbulkan malapetaka bagi penduduk kami di sini.”
    Mendengar jawaban mereka, berkata Muhammad Rasulullah saaw, “Bila memang demikian, kami pun tidak memaksa. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Kami mohon diri.”
    Berkata mereka, “Pergilah kalian cepat-cepat dari sini! Sebelum kau sebarkan bencana besar bagi penduduk di sini. Oh ya, kedatangan kalian ke sini tak bisa kami diamkan begitu saja. Mau tak mau kami harus melaporkan hal ini kepada pemimpin Bani Quraisy di Makkah sebagai mitra kami. Kami tidak ingin berkhianat kepada mereka.”
    Maka Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah keluar dari rumah para pemimpin Bani Tsaqif itu. Akan tetapi, para pemimpin Bani Tsaqif tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja. Di luar rumah para pemimpin Bani Tsaqif, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dihadang oleh sekelompok penduduk kota Tha’if yang tampaknya tidak ramah. Bahkan di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil. Dengan satu aba-aba dari seseorang, sekelompok penduduk itu pun melempari Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dengan batu. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah saaw sambil pergi dari tempat itu. Mereka berdua terluka akibat lemparan-lemparan itu.
    Setelah agak jauh dari kota Tha’if, Rasulullah berteduh dekat sebuah pohon sambil membersihkan luka-luka mereka.
    Sesudah agak tenang, Rasulullah mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat mengharukan:
    “Allahumma ya Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Mahapengasih Mahapenyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Kauserahkan daku? Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat. Janganlah Engkau timpakan kemurkaanMu kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya kecuali dengan Engkau.”
    Allah mengutus Jibril untuk menghampiri beliau saaw. Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi di antara kamu dan penduduk kota Tha’if. Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa. Atau engkau sebutkan saja suatu hukuman bagi penduduk kota itu.”
    Rasulullah saaw terkejut dengan hal ini, lalu bersabda, “Walau pun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, aku harap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.” Demikianlah kelembutan hati Rasulullah saaw. Dia manusia, tapi tak seperti manusia. Begitu mulya pengorbanan beliau. Walaupun halangan menimpa, namun hatinya tetap tabah dan penuh kelembutan dan kasih-sayang. Maka betapa kejinya orang-orang yang menghina manusia mulya ini. Betapa jahatnya orang-orang yang menyakiti beliau. Akan tetapi manusia di zaman ini begitu mudah menyakiti perasaan beliau dengan meninggalkan ajaran beliau saaw. Tidak tahukah mereka, bahwa setiap hari amal-amal mereka dihadapkan kepada Rasulullah? Jika amal itu baik, maka beliau pun bergembira dan bersyukur. Jika amal itu buruk, maka beliau dengan kelembutannya memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang itu. Adakah pemimpin yang selalu memikirkan ummatnya dari sejak di dunia hingga di kehidupan berikutnya selain beliau saaw?
    Tak jauh dari tempat istirahat Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah, terdapat sebuah kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah. Kebetulan dua orang anak ‘Utbah berada di situ. Melihat keadaan Rasulullah saaw dan Zaid, mereka menyuruh budak mereka, ‘Addas, yang beragama Nashrani untuk membawakan buah anggur dari kebun itu.
    Pelayan itu segera menghampiri Rasulullah saaw dan berkata, “Makanlah anggur ini wahai tuan-tuan. Semoga dapat melepaskan dahaga kalian.” Kemudian Rasulullah saaw mengambil anggur itu sambil mengucapkan, “Bismillah.”
    ‘Addas demi mendengar ucapan Rasulullah saaw merasa kagum dan berkata, “Sungguh, kata-kata itu tidak pernah diucapkan penduduk daerah ini.”
    Rasulullah saaw bertanya, “Dari negara mana engkau dan apa agamamu?” ‘Addas menjawab, “Aku seorang penganut Nashrani, aku berasal dari Niniwe.”
    Rasulullah saaw berkata, “Oh, dusun tempat seorang hamba Allah yang shalih, Yunus bin Matta.”
    ‘Addas bertanya penuh kekaguman, “Dari manakah Anda mengenal Yunus bin Matta?” Rasulullah saaw menjawab, “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku pun seorang nabi.”
    Dengan perasaan gembira bercampur haru, ‘Addas memeluk Rasulullah dan menciumi kening, tangan dan kaki Rasulullah saaw.
    Setelah merasa cukup beristirahat, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah beranjak pulang ke Makkah.
    Yunus bin Matta adalah seorang Nabi dari Niniwe, terkadang disebut juga sebagai Dzun Nun. Penduduk Niniwe begitu ingkar dan menolak ajaran yang dibawa beliau as. Lalu beliau pergi dari negeri itu dengan menggunakan perahu. Akan tetapi di tengah laut beliau terpaksa di buang ke laut dan kemudian di makan ikan. Beliau tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Kemudian beliau dimuntahkan ikan itu ke tepi pantai dekat Niniwe. Penduduk Niniwe menyambut kedatangan beliau yang ternyata penduduk Niniwe telah bertobat dan menerima ajaran yang beliau bawa. Kisah ini dapat dilihat dalam Al-Qur`an surat Al-Anbiya` ayat 87-88 dan Ash-Shaffat ayat 139-148, dan dalam Alkitab injil Matius 12:38-41.

  • KEAGUNGAN MUHAMMAD RASULULLAH SAAW DI THA’IF

    Sepeninggal Abu Thalib, gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah saaw semakin bertambah ganas. Ketika beliau merasakan gangguan kaum musyrikin Quraisy bertambah hebat dan tetap menolak serta menjauhi agama Islam, beliau berpikir untuk meninggalkan Makkah dan pergi ke Tha’if. Beliau berharap akan memperoleh dukungan penduduk setempat dan akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk agama Islam. Dengan harapan itu, Muhammad saaw sang Rasul bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau saaw, pergi ke Tha’if.

    Banyak tokoh Quraisy membangun tempat peristirahatan di sana. Kabilah terbesar di Tha’if adalah Bani Tsaqif, kabilah yang berkuasa serta mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi yang cukup memadai. Mengetahui akan hal ini, Rasulullah saaw menemui pemimpin Bani Tsaqif yang terdiri dari tiga bersaudara.

    Rasulullah saaw menyampaikan maksud kedatangan beliau dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah selain Allah SWT. Namun jawaban dari mereka sungguh di luar harapan Nabi Muhammad saaw.

    Salah satu dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau?”

    Yang lainnya berkata, “Kami hidup turun-temurun di sini. Tiada kesusahan atau pun penderitaan. Hidup kami makmur, serba berkecukupan, dan kami merasa senang dan bahagia. Oleh sebab itu, kami tak perlu agamamu. Juga tidak perlu dengan segala ajaranmu. Kami pun punya Tuhan yang bernama Al-Latta, yang memiliki kekuatan melebihi berhala Hubal di Ka’bah. Buktiny dia telah memberikan kesenangan di sini dengan segala kemewahan dan kekayaan yang kami miliki.”

    Yang lainnya lagi berkata, “Jauh berbeda dengan ajaran yang kalian tawarkan. Penuh siksaan dan daerah yang selalu penuh dengan derita. Jels kami menolak ajaran kalian. Bila tidak, akan menimbulkan malapetaka bagi penduduk kami di sini.”

    Mendengar jawaban mereka, berkata Muhammad Rasulullah saaw, “Bila memang demikian, kami pun tidak memaksa. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Kami mohon diri.”
    Berkata mereka, “Pergilah kalian cepat-cepat dari sini! Sebelum kau sebarkan bencana besar bagi penduduk di sini. Oh ya, kedatangan kalian ke sini tak bisa kami diamkan begitu saja. Mau tak mau kami harus melaporkan hal ini kepada pemimpin Bani Quraisy di Makkah sebagai mitra kami. Kami tidak ingin berkhianat kepada mereka.”

    Maka Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah keluar dari rumah para pemimpin Bani Tsaqif itu. Akan tetapi, para pemimpin Bani Tsaqif tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja. Di luar rumah para pemimpin Bani Tsaqif, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dihadang oleh sekelompok penduduk kota Tha’if yang tampaknya tidak ramah. Bahkan di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil. Dengan satu aba-aba dari seseorang, sekelompok penduduk itu pun melempari Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dengan batu. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah saaw sambil pergi dari tempat itu. Mereka berdua terluka akibat lemparan-lemparan itu.

    Setelah agak jauh dari kota Tha’if, Rasulullah berteduh dekat sebuah pohon sambil membersihkan luka-luka mereka.

    Sesudah agak tenang, Rasulullah mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat mengharukan:
    “Allahumma ya Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Mahapengasih Mahapenyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Kauserahkan daku? Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat. Janganlah Engkau timpakan kemurkaanMu kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya kecuali dengan Engkau.”

    Allah mengutus Jibril untuk menghampiri beliau saaw. Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi di antara kamu dan penduduk kota Tha’if. Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa. Atau engkau sebutkan saja suatu hukuman bagi penduduk kota itu.”

    Rasulullah saaw terkejut dengan hal ini, lalu bersabda, “Walau pun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, aku harap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.” Demikianlah kelembutan hati Rasulullah saaw. Dia manusia, tapi tak seperti manusia. Begitu mulya pengorbanan beliau. Walaupun halangan menimpa, namun hatinya tetap tabah dan penuh kelembutan dan kasih-sayang. Maka betapa kejinya orang-orang yang menghina manusia mulya ini. Betapa jahatnya orang-orang yang menyakiti beliau. Akan tetapi manusia di zaman ini begitu mudah menyakiti perasaan beliau dengan meninggalkan ajaran beliau saaw. Tidak tahukah mereka, bahwa setiap hari amal-amal mereka dihadapkan kepada Rasulullah? Jika amal itu baik, maka beliau pun bergembira dan bersyukur. Jika amal itu buruk, maka beliau dengan kelembutannya memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang itu. Adakah pemimpin yang selalu memikirkan ummatnya dari sejak di dunia hingga di kehidupan berikutnya selain beliau saaw?

    Tak jauh dari tempat istirahat Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah, terdapat sebuah kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah. Kebetulan dua orang anak ‘Utbah berada di situ. Melihat keadaan Rasulullah saaw dan Zaid, mereka menyuruh budak mereka, ‘Addas, yang beragama Nashrani untuk membawakan buah anggur dari kebun itu.

    Pelayan itu segera menghampiri Rasulullah saaw dan berkata, “Makanlah anggur ini wahai tuan-tuan. Semoga dapat melepaskan dahaga kalian.” Kemudian Rasulullah saaw mengambil anggur itu sambil mengucapkan, “Bismillah.”

    Addas, demi mendengar ucapan Rasulullah saaw, merasa kagum dan berkata, “Sungguh, kata-kata itu tidak pernah diucapkan penduduk daerah ini.”

    Rasulullah saaw bertanya, “Dari negara mana engkau dan apa agamamu?” ‘Addas menjawab, “Aku seorang penganut Nashrani, aku berasal dari Niniwe.”

    Rasulullah saaw berkata, “Oh, dusun tempat seorang hamba Allah yang shalih, Yunus bin Matta.”

    Addas bertanya penuh kekaguman, “Dari manakah Anda mengenal Yunus bin Matta?” Rasulullah saaw menjawab, “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku pun seorang nabi.”

    Dengan perasaan gembira bercampur haru, Addas memeluk Rasulullah dan menciumi kening, tangan dan kaki Rasulullah saaw.

    Setelah merasa cukup beristirahat, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah beranjak pulang ke Makkah.

    Yunus bin Matta adalah seorang Nabi dari Niniwe, terkadang disebut juga sebagai Dzun Nun. Penduduk Niniwe begitu ingkar dan menolak ajaran yang dibawa beliau as. Lalu beliau pergi dari negeri itu dengan menggunakan perahu. Akan tetapi di tengah laut beliau terpaksa di buang ke laut dan kemudian di makan ikan. Beliau tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Kemudian beliau dimuntahkan ikan itu ke tepi pantai dekat Niniwe. Penduduk Niniwe menyambut kedatangan beliau yang ternyata penduduk Niniwe telah bertobat dan menerima ajaran yang beliau bawa. Kisah ini dapat dilihat dalam Al-Qur`an surat Al-Anbiya` ayat 87-88 dan Ash-Shaffat ayat 139-148, dan dalam Alkitab injil Matius 12:38-41.

  • ISRA` WA MI’RAJ

    Kedukaan demi kedukaan telah menimpa beliau dengan begitu mendalam selama setahun. Maka Allah menghibur beliau saaw dengan suatu tamasya luar biasa. Tamasya luar biasa itu biasa kita kenal dengan sebutan Isra` wa Mi’raj.
    Sebelum melakukan perjalanan itu, ketika Rasulullah saaw berada di tepi Baitullah dalam keadaan separuh tidur, tiba-tiba Rasulullah saaw mendengar percakapan salah seorang dari tiga laki-laki, yaitu yang berada di tengah-tengah. Lalu mereka menghampiri beliau dan membawa beliau ke suatu tempat. Kemudian mereka membawa sebuah wadah dari emas yang berisi air Zamzam. Setelah itu dada beliau dibedah. Hati beliau dikeluarkan dan dibersihkan dengan air Zamzam, kemudian mereka meletakkannya kembali di tampat asal. Setelah itu diisi pula dengan iman dan hikmah.
    Mengenai Isra` dan Mi’raj Rasulullah saaw ada diceritakan dalam sebuah hadits yang cukup panjang. Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda:
    Aku telah didatangi Buraq, yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari baghal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut menyentuh bumi.
    Tanpa membuang waktu, aku langsung menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis. Aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai, aku keluar, secara tiba-tiba aku didatangi dengan semangkuk arak dan semangkuk susu oleh Jibril as. Aku memilih susu. Lalu Jibril as berkata, “Engkau telah memilih fitrah”. Lalu Jibril as membawaku naik ke langit. Ketika Jibril as meminta agar dibukakan pintu, kedengaran suara bertanya, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Lalu dibukakan pintu kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Adam as, beliau menyambutku serta mendoakan aku dengan kebaikan.
    Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
    Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Yusuf as ternyata dia telah dikurniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
    Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutuskan.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Idris as dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Berfirman Allah swt yang berarti, “Dan kami telah menganggkat ke tempat yang tinggi darjatnya.”
    Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Harun as dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
    Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Musa as dia menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
    Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari memuatkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar mereka tidak kembali lagi kepadanya.
    Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar umpama telinga gajah manakala buahnya pula sebesar tempayan. Aku dapati kesemuanya aneh-aneh. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu aku berjumpa dengan Allah. Lalu Allah swt memberikan wahyu kepadaku dengan mewajibkan shalat lima puluh waktu sehari semalam. Tatakala aku turun dan bertemu Nabi Musa as, dia bertanya, “Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu?” Aku berkata, ”Shalat lima puluh waktu.” Nabi Musa as berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena ummatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan memberitahu mereka.” Aku kemudian kembali kepada Tuhan dan berkata, “Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada ummatku.” Lalu Allah swt mengurangi lima waktu shalat menjadi 45 waktu. Aku kembali kepada Nabi Musa as dan berkata, “Allah telah mengurangi lima waktu shalat dariku.” Nabi Musa as berkata, “Umatmu masih tidak mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Aku tak henti-henti berulang-alik antara Tuhan dan Nabi Musa as, sehingga Allah swt berfirman yang berarti: “Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan hanyalah lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardhu diganjarkan dengan sepuluh ganjaran. Oleh sebab itu, berarti lima waktu shalat fardhu sama dengan lima puluh shalat fardhu. Begitu juga siapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya siapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak jadi melakukannya, niscaya dicatat baginya satu kebaikan. Seandainya dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya.” Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih lagi berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan.” Baginda menyahut, “Aku terlalu banyak berulang alik kepada Tuhan, sehingga menyebabkan aku malu kepadaNya.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ahmad]
    Mungkin sebagian orang mempertanyakan, apakah Isra` Mi’raj itu dengan ruh atau dengan jasad dan ruh? Maka kami akan jelaskan sedikit mengenai itu, insya Allah. Dalam surat Al-Isra` ayat 1 Allah berfirman yang berarti:
    Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [QS. 17:1]
    Dalam ayat itu dikatakan ‘hamba-Nya’. ‘Hamba’ menunjukkan kesatuan jasad dan ruh. Coba perhatikan ayat berikut:
    Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. [QS. 18:1]
    Allah menurunkan Al-Qur`an kepada ‘hamba-Nya’. Tentu saja yang dimaksud dengan ‘hamba-Nya’ di sini adalah Muhammad Rasulullah saaw di mana bersatu jasad dan ruhnya, bukan hanya ruhnya saja. Lihat juga QS. 25:1; 39:36; 53:10; 57:9; 2:23; 8:41; 38:17,41; 54:9.
    Selain itu, juga dikisahkan bahwa ketika menuju Baitul Maqdis, beliau dan rombongannya telah mengejutkan unta sebuah kafilah hingga unta itu melarikan diri. Lalu Rasulullah berhenti sebentar untuk memberi tahu mereka kemana unta itu lari. Lalu Rasulullah meneruskan perjalanannya. Maka ketika kafilah itu ditemukan di suatu tempat yang disebutkan Rasulullah, orang-orang pun bertanya kepada kafilah itu tentang apa yang mereka alami semalam. Lalu anggota kafilah itu berkata, “Benar, semalam kami melihat cahaya yang sangat menyilaukan berputar-putar mengelilingi kami, lalu memberi petunjuk ke arah larinya unta kami. Setelah kami menemukan unta kami yang lari karena terkejut oleh cahaya itu, benda bercahaya itu melesat lebih dari kecepatan anak panah yang lepas dari busurnya. Dan dalam sekejap mata, benda itu sudah berada di batas cakrawala.” Ini menunjukkan bahwa ruh Rasulullah tidak berpisah dengan jasadnya, bukan mimpi, bukan khayal.
    Peristiwa Isra` Mi’raj ini memang menggemparkan. Bahkan ada sebagian orang pada saat Rasulullah menceritakan hal ini, mereka tidak percaya kepada Rasulullah. Yang tadinya beriman kembali menjadi kafir. Yang tadinya kafir, bertambah kekafiran mereka. Akan tetapi ada juga yang hanya terguncang imannya, tidak sampai kembali kafir. Dan ada juga yang bertambah keimanannya dan langsung membenarkan apa yang beliau saaw alami, diantaranya adalah Abu Bakar. Maka sejak saat itu beliau disebut Ash-Shiddiq, yaitu yang membenarkan, sebab dialah yang selalu membenarkan segala perkataan Rasulullah saaw dengan mengatakan, “Shaddaqta ya Rasulallah! Benarlah engkau, wahai Rasulullah!”