Kategori: Sejarah

  • MUHAMMAD YANG PEMAAF

    Propagandis Kristen menyombongkan diri bahwa dalam sejarah umat manusia tidak ada yang paling baik hati dan pemaaf dibandingkan Yesus, yang sewaktu disalib berkata, “Yesus berkata, ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka Iakukan’, ” (Lukas 23: 34).

    Kedengarannya luar biasa, dari empat penulis resmi Kitab Injil, hanya Lukas yang diilhami oleh Roh Kudus untuk menuliskan kata-kata di atas. Ketiga penulis yang lain, Matius, Markus dan Yohanes tidak pernah mendengar kata-kata tersebut atau mereka merasa bahwa kata-kata itu tidak terlalu penting untuk dicatat. Lukas bukanlah salah satu dari dua belas murid terpilih Yesus. Berdasarkan Injil revisi dari ‘Revised Standard Version’ (RVS: versi revisi standar), kata-kata tersebut tidak ada dalam catatan asli yang berarti bahwa kata-kata tersebut merupakan tambahan yang tidak resmi.

    Dalam versi King James baru (diterbit ulang oleh Thomas Nelson Publisher tahun 1984), dikatakan bahwa kata-kata itu ‘bukanlah original teks’ dari catatan Lukas. Dengan kata lain bahwa kata-kata tersebut dibuat oleh beberapa orang yang fanatik. Meskipun pernyataan itu tidak otentik, kita mengetahui bahwa itu menunjukkan keimanan seseorang dan sifat pemaaf dari pemimpinnya.

    Karena sifat pemaaf merupakan sesuatu yang berharga, orang yang memaafkan harus berada dalam posisi orang yang memberi maaf. Jika korban dari ketidakadilan masih berada dalam genggaman musuhnya dan dalam posisi tersebut dia berteriak, “Saya maafkan kamu!” Itu tidak akan berarti apa-apa. Akan tetapi apabila korban ketidakadilan itu sudah terlepas dari genggaman musuh dan menang melawan musuh tersebut, dan dalam posisi tersebut ia berkata, “Ya, saya maafkan kamu”, barulah itu berarti sangat besar.

    Sifat Pemaaf Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

    Berlawanan sekali pernyataan maaf dari “Salib” dengan sejarah pertumpahan darah penaklukan kota Makkah oleh Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dihadapan sahabat-sahabatnya.

    “Kota yang telah memperlakukannya dengan sangat kejam, menindas, mengutuk dirinya dan pengikutnya, berada di bawah kakinya kini. Orang-orang yang dulu menindas dan menganiaya dirinya dengan tanpa belas kasihan sekarang berada di bawah belas kasihan beliau. Tetapi di saat kemenangannya, segala kesalahan mereka dimaafkan dan mereka dibebaskan untuk tetap tinggal di Makkah.” (Sayyid Amir Ali dalam Spirit of Islam)

    Sebelum beliau membebaskan mereka untuk tetap tinggal di kota tersebut, Beliau bertanya kepada mereka “Apa yang kamu harapkan dari tanganku hari ini?” Orang-orang yang telah mengenal Beliau bahkan sejak masa kanak-kanak itu berkata, “Kemurahan hati, wahai saudara dan keponakanku!” Air mata keluar dari kedua mata Rasulullah dan Beliau berkata, “Saya akan berbuat seperti apa yang diperbuat Yusuf pada saudara-saudaranya. Kalian boleh bebas pergi!”

    Dan, sekarang peristiwa seperti ini tidak ada persamaannya yang lain dalam sejarah dunia. Sekelompok demi sekelompok manusia datang dan masuk Islam. Firman Allah yang menggambarkan sifat agung Rasulullah:

    “Sesungguhnya telah ada pada (din) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”

    Seperti yang Lamartine katakan, “Berdasarkan semua standar kebesaran dan kejayaan yang bisa diukur, kita bisa bertanya, apakah ada orang lain yang lebih besar dari beliau?”

    Saya ulangi, kita juga bisa mengatakan sekali lagi, “Tidak! Tidak ada manusia yang lebih agung dari Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling agung yang pernah hidup!”

  • Temuan Arkeologis dari Kaum Tsamud

    Dari berbagai kaum yang disebutkan dalam Al Quran, Tsamud ada-lah kaum yang saat ini telah banyak diketahui keberadaannya. Sumber-sumber sejarah mengungkapkan bahwa sekelompok orang yang disebut dengan kaum Tsamud benar-benar pernah ada.
    Penduduk Al Hijr yang disebutkan dalam Al Quran diperkirakan adalah orang-orang yang sama dengan kaum Tsamud. Nama lain dari Tsamud adalah Ashab Al Hijr (Penduduk Al Hijr). Jadi kata “Tsamud” merupakan nama kaum, sementara kota Al Hijr adalah salah satu dari beberapa kota yang dibangun oleh kaum tersebut.

    Ahli geografi Yunani, Pliny sepakat dengan ini. Pliny menulis bahwa Domatha dan Hegra adalah lokasi tempat kaum Tsamud berada, dan kota Al Hegra inilah yang menjadi kota Al Hijr saat ini.

    Sumber tertua yang diketahui berkaitan dengan kaum Tsamud adalah tarikh kemenangan Raja Babilonia Sargon II (abad ke-8 SM) yang mengalahkan kaum ini dalam sebuah pertempuran di Arabia Selatan. Bangsa Yunani juga menyebut kaum ini sebagai “Tamudaei”, yakni, “Tsamud”, dalam tulisan Aristoteles, Ptolemeus, dan Pliny (hidup sebelum zaman Nabi Muhammad SAW, sekitar tahun 400-600 M), mereka benar-benar punah.

    Dalam Al Quran, kaum ‘Ad dan Tsamud selalu disebutkan bersama-an. Lebih jauh lagi, ayat-ayat tersebut menasihati kaum Tsamud untuk mengambil pelajaran dari penghancuran kaum ‘Ad. Ini menunjukkan bahwa kaum Tsamud memiliki informasi detail tentang kaum ‘Ad.

    “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata; ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu peng-ganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Al A’raf : 73-74)

    Sebagaimana dapat dipahami dari ayat ini, terdapat hubungan antara kaum ‘Ad dan kaum Tsamud, bahkan mungkin kaum ‘Ad pernah menjadi bagian dari sejarah dan budaya kaum Tsamud. Nabi Shalih memerintahkan untuk mengingat kejadian kaum ‘Ad dan mengambil peringatan dari me-reka.

    Kaum ‘Ad ditunjukkan kepada contoh dari kaum Nabi Nuh yang per-nah hidup sebelum mereka. Sebagaimana kaum ‘Ad mempunyai kaitan penting untuk sejarah kaum Tsamud, kaum Nabi Nuh juga mempunyai kaitan penting untuk sejarah kaum ‘Ad. Kaum-kaum ini saling mengenal dan kemungkinan berasal dari garis keturunan yang sama.

    Al Quran menceritakan tentang adanya hubungan antara kaum ‘Ad dan Tsamud. Kaum Tsamud diingatkan untuk mengingat kejadian kaum ‘Ad serta mengambil pelajaran dari penghancuran mereka. Meskipun secara geografis kaum ‘Ad dan Tsamud sangat berjauhan dan sepertinya tidak berhubungan, namun dalam ayat yang ditujukan kepada kaum Tsamud dikatakan untuk mengingat kaum ‘Ad.

    Jawabannya muncul setelah penyelidikan singkat dari berbagai sum-ber, bahwa memang terdapat hubungan yang sangat kuat antara kaum Tsamud dan kaum ‘Ad. Kaum Tsamud mengenal kaum ‘Ad karena kedua kaum ini sepertinya berasal dari asal usul yang sama. Britannica Micropaedia menuliskan tentang orang-orang ini dalam sebuah tulisan berjudul “Tsamud”:

    Di Arabia Kuno, suku atau kelompok suku tampaknya telah memiliki keunggulan sejak sekitar abad 4 SM sampai pertengahan awal abad 7 M. Meskipun kaum Tsamud mungkin berasal dari Arabia Selatan, sekelompok besar tampaknya pindah ke utara pada masa-masa awal, secara tradisional berdiam di lereng gunung (jabal) Athlab. Penelitian arkeologi terakhir mengungkapkan sejumlah besar tulisan dan gambar-gambar batu tentang kaum Tsamud, tidak hanya di Jabal Athlab, tetapi juga di seluruh Arabia Tengah.

    Tulisan yang secara grafis mirip dengan abjad Smaitis (yang disebut Tsamudis) telah diketemukan mulai dari Arabia Selatan hingga ke Hijaz. Tulisan itu, yang pertama ditemukan di daerah Utara Yaman Tengah yang dikenal sebagai Tsamud, dibawa ke Utara dekat Rub’al Khali, ke selatan dekat Hadhramaut serta ke Barat dekat Shabwah.

    Kaum ‘Ad adalah sekelompok orang yang hidup di Arabia Selatan. Ada kenyataan penting bahwa banyak peninggalan kaum Tsamud ditemukan di daerah tempat kaum ‘Ad pernah hidup, khususnya sekitar bangsa Hadhram (Yaman Selatan), anak cucu ‘Ad, mendirikan ibu kotanya. Keadaan ini menjelaskan hubungan kaum ‘Ad dan Tsamud yang disebutkan dalam Al Quran. Hubungan tersebut diterangkan dalam perkataan Nabi Shalih ketika mengatakan bahwa kaum Tsamud datang untuk menggantikan kaum ‘Ad :

    “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata; ”Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain-Nya…. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi.” (QS. Al A’raf: 73-74)

    Singkatnya, kaum Tsamud telah mendapat ganjaran atas pembang-kangan terhadap nabi mereka, dan dihancurkan. Bangunan-bangunan yang telah mereka bangun dan karya seni yang telah mereka buat tidak dapat melindungi mereka dari azab. Kaum Tsamud dihancurkan dengan azab yang mengerikan seperti halnya umat-umat lainnya yang meng-ingkari kebenaran, yang terdahulu maupun yang terkemudian.

    Dari Al Quran diketahui bahwa kaum Tsamud adalah anak cucu dari kaum ‘Ad. Bersesuaian dengan ini, temuan-temuan arkeologis memper-lihatkan bahwa akar dari kaum Tsamud yang hidup di utara Semenanjung Arabia, berasal dari selatan Arabia di mana kaum ‘Ad pernah hidup.

    Dua ribu tahun silam, kaum Tsamud telah mendirikan sebuah kerajaan bersama bangsa Arab yang lain, yaitu kaum Nabatea. Saat ini di Lembah Rum yang juga disebut dengan Lembah Petra di Yordania, dapat dilihat berbagai contoh terbaik karya pahat batu kaum ini. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, keunggulan kaum Tsamud adalah dalam pertukangan.

    Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu peng-ganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Al A’raf : 74)

    Sumber: hyahya.org

  • SILSILAH MUHAMMAD RASULULLAH

    Nasabnya ialah Muhammad putera Abdullah putera Abdul Muthalib putera Hisyam putera Abdi Manaf putera Qushayy putera Kilab putera Murrah putera Ka’ab putera Lu’ay putera Ghalib putera Fihr putera Malik putera Nadhar putera Kinanah putera Khuzaimah putera Mudrikah putera Ilyas putera Mudhar putera Nazar putera Mu’iddu putera Adnan.
    Itulah batas nasab Rasulullah yang telah disepakati. Selebihnya dari yang telah disebutkan masih diperselisihkan. Tetapi, hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi ialah bahwa Adnan termasuk keturunan Ismail putera Ibrahim as.

    Lalu Allah membuka mata Hagar sehingga ia melihat sebuah sumur*; ia pergi mengisi qirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. Maka tinggallah dia di padang gurun Paran**. (Kejadian 21:19-21)

    Nabi Muhammad saaw pernah bersabda, “Memanahlah wahai keturunan Ismail, sesungguhnya bapakmu (Ismail) adalah seorang pemanah.” (HR. Bukhori, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban)

    * Sumur Zamzam
    ** Hijaz

  • KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAAW

    Nabi Muhammad saaw dilahirkan pada tahun gajah, yakni tahun dimana Abrahah al-Asyram berusaha menyerang Makkah dan menghancurkan Ka’bah dengan pasukan gajahnya. Lalu Allah menggagalkannya dengan mu’jizat sebagaimana diceritakan dalam Surat Al-Fiil. Menurut pendapat yang paling kuat, beliau lahir pada hari Senin malam, 12 Rabi’ul Awwal.
    Beliau lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya (Abdullah bin Abdul Muthalib) meninggal ketika ibunya (Aminah binti Wahhab bin Abdu Manaf bin Zuhra) mengandung beliau saaw dua bulan. Lalu beliau di asuh Abdul Muthalib, dan disusukannya kepada Halimah binti Abu Dzu’aib, seorang wanita dari Banu Sa’ad.

    Pada waktu itu pedalaman Banu Sa’ad sedang mengalami musim kemarau yang menyebabkan keringnya ladang peternakan dan pertanian. Tidak lama setelah Muhammad saaw tinggal di sana, pedalaman Banu Sa’ad kembali menghijau, sehingga kambing-kambing pulang dengan perut kenyang dan penuh air susunya. Kehadiran Muhammad saaw telah membawa keberkahan di sekitarnya.

    Ketika masih kecil, Muhammad saaw didatangi dua malaikat yang membedah dadanya untuk membersihkan hatinya dengan air dari surga dan dengan air zamzam.
    Diriwayatkan daripada Anas bin Malik ra katanya: Rasulullah s.a.w telah didatangi oleh Jibril as ketika baginda sedang bermain dengan kanak-kanak. Lalu Jibril as memegang dan merebahkan baginda, kemudian Jibril as membelah dada serta mengeluarkan hati baginda. Dari hati tersebut dikeluarkan segumpal darah, lalu Jibril as berkata: Ini adalah bahagian syaitan yang terdapat dalam dirimu. Setelah itu Jibril membasuh hati tersebut dengan menggunakan air Zamzam di dalam sebuah wadah yang terbuat dari emas, kemudian meletakkanya kembali ke dalam dada baginda serta menjahitnya sebagaimana asal. Dua orang kanak-kanak segera menemui ibunya yaitu ibu susuan Rasulullah saaw dan mereka berkata: Muhammad telah dibunuh. Seterusnya mereka mengusung baginda, ketika itu rupa baginda telah berubah. Anas berkata: Aku benar-benar pernah melihat bekas jahitan tersebut di dada baginda. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal)

  • MUHAMMAD RASULULLAH KETIKA REMAJA

    Ketika berusia 12 tahun, Rasulullah saaw diajak pamannya, Abu Thalib, pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Pada waktu kafilah sampai di Bashrah, mereka melewati seorang pendeta nashrani bernama Bukhaira. Ia adalah seorang pendeta yang banyak mengetahui Injil. Kemudian Bukhaira melihat Muhammad Rasulullah saaw. Lalu ia mulai mengamati dan mengajak berbicara. Kemudian Bukhaira menoleh kepada Abu Thalib dan bertanya kepadanya, “Apa status anak ini di sisimu?” Abu Thalib menjawab, “Anakku.” Bukhaira menyanggahnya, “Dia bukan anakmu. Tidak semestinya ayah anak ini masih hidup.” Abu Thalib berkata, “Dia adalah anak saudaraku.” Bukhaira bertanya, “Apa yang telah terjadi pada ayahnya?” Abu Thalib menjawab, “Ayahnya meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya.” Bukhaira berkata, “Anda benar. Bawalah dia pulang ke negerinya, dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya, pasti akan dijahati. Sesungguhnya anak ini akan memegang urusan besar.” Kemudian Abu Thalib cepat-cepat membawanya kembali ke Makkah.

    Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. 2:146)

    Dalam Injil Barnabas ada terdapat demikian:
    Kemudian berkata Andreas, “Guru ceritakanlah kepada kami beberapa pertanda mengenai Pesuruh Allah itu, supaya kami boleh mengetahuinya.” Yesus menjawab, “Dia tidak akan datang dalam masa kamu, tetapi akan muncul beberapa tahun setelah kamu. Bilamana Injilku akan dihapuskan, akhirnya bahwa di sana akan terjadi hampir tidak ada 30 orang beriman. Pada waktu itulah Allah akan menghibahkan rahmat di atas dunia ini, dan jadilah Dia akan mengutus Pesuruh-Nya. Di atas kepalanya akan berkumpul segumpal awan putih, karena itu dia akan jadi dikenal oleh seorang pilihan Allah*, dan akan terjadi olehnya diperlihatkan kepada dunia. Dia akan datang dengan kekuatan besar menentang orang-orang kafir dan akan menghancurkan penyembahan berhala di persada bumi. Dan itu menggembirakan aku, karena melalui dia, Allah kita akan menjadi termashur serta dimuliakan, dan aku akan dikenal menjadi benar; dan Dia akan melakukan pembalasan menentang terhadap siapa saja yang akan menagatakan bahwa aku lebih dari pada seorang manusia. Sesungguhnya aku katakan kepadamu, bahwa bulan itu akan membantu tidur kepadanya dalam masa remajanya, dan bila dia akan menjadi tumbuh dewasa dia akan memetik bulan itu dengan tangan-tangannya*. Biar dunia ini hati-hati terhadap tanggapan kepadanya, karena dia akan membunuh para penyembah berhala, karena lebih banyak yang telah di bunuh oleh Musa, hamba Allah itu, dan Yoshua tidak menyayangkan kota-kota yang mereka bakar; karena pada suatu luka yang lama menggunakan api. Dia akan datang dengan kebenaran lebih jelas daripada seluruh nabi, dan akan mencela siapa saja yang mempergunakan dunia ini dengan tidak benar. Menara-menara kota bapak kita akan memberi salam menyambut satu sama lain karena gembira, dengan demikian ketika itu penyembahan berhala akan diperlihatkan jatuh ke tanah, lalu mengakui aku seorang manusia seperti manusia lainnya, sesungguhnya aku berkata kepadamu, Pesuruh itu pasti akan datang.” (Injil Barnabas pasal 72)

  • MUHAMMAD RASULULLAH MENIKAH DENGAN KHADIJAH

    Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushayy adalah seorang pedagang yang kaya dan berbudi luhur. Ketika mendengar kabar tentang kejujuran Nabi saaw dan kemulyaan akhlaqnya, Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saaw dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon dan Yordania). Khadijah menitipkan barang dagangan yang lebih baik dari apa yang dititipkan kepada orang lain. Dalam perjalanan dagang ini Nabi saaw ditemani Maysaroh meniagakan barang dagangan Khadijah. Dalam perjalanan dagang ini, Nabi membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah bertambah terhadapnya. Selama perjalanan tersebut Maysarah sangat mengagumi akhlaq dan kejujuran Nabi. Semua sifat dan perilaku beliau dilaporkan oleh Maysaroh kepada Khadijah. Khadijah tertarik kepada kejujurannya dan ia takjub dengan keberkahan yang diperolehnya dari perniagaan Nabi saaw. Kemudian Khadijah mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan Nabi saaw dengan perantaraan Nafish binti Muniyah. Nabi saaw menyetujuinya, kemudian Nabi menyampaikan hal itu kepada pamannya. Setelah itu, mereka meminang Khadijah untuk Nabi saaw dari paman Khadijah, Amr bin Asad. Ketika menikahinya, Nabi berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

    Sebelum menikah dengan Nabi saaw, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan ‘Atiq bin A’idz at-Tamimi, dan yang kedua dengan Abu Halah Hindun bin Zurarah at-Tamimi.

  • MUHAMMAD RASULULLAH IKUT MEMBANGUN KA’BAH

    Ka’bah adalah bait yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi ‘perang berhala’ dan menghancurkan tempat-tempat peribadatan yang didirikan di atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah:
    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS. 2:127)
    Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. 3:96)

    Di dalam Alkitab ada terdapat demikian:
    Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. (Mazmur 84:6-7)

    Setelah itu ka’bah mengalami beberapa kali peristiwa yang mengakibatkan kerapuhan bangunannya. Diantaranya adalah serangan banjir yang menenggelamkan Makkah beberapa tahun sebelum pengangkatan Muhammad sebagai Rasulullah, sehingga menambah kerapuhan bangunannya. Maka orang-orang Quraisy membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian bangunannya. Penghormatan dan pengagungan terhadap Ka’bah merupakan sisa peninggalan dari syari’at Ibrahim as yang masih terpelihara di kalangan orang Arab. Muhammad Rasulullah ikut serta mengusung batu di atas pundaknya. Pada waktu itu Muhammad Rasulullah berusia 35 tahun. Muhammad Rasulullah berperan besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan antar kabilah tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar Aswad ditempatnya. Semua pihak tunduk kepada usulan yang diajukan Muhammad saaw, karena mereka mengenalnya sebagai al-Amin dan mencintainya. Muhammad Rasulullah membentangkan kain dan meletakkan Hajarul Aswad di atas kain itu. Masing-masing pemimpin kabilah memegang ujung-ujung kain itu dan membawanya ke dekat tempat Hajar Aswad semestinya. Lalu mereka meletakkan kain itu ke tanah. Dan Muhammad Rasulullah saaw mengangkat Hajarul Aswad dari kain itu dan meletakkan batu itu di tempatnya.

  • PERMULAAN WAHYU KEPADA RASULULLAH SAAW

    Mendekati usia 40 tahun, mulailah tumbuh pada diri Muhammad saaw kecenderungan untuk melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri). Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtila’ (menyendiri) di gua Hira. Ia menyendiri dan beribadah di gua itu selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, kadang lebih dari itu. Kemudian beliau kembali ke rumah sejenak hanya untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan ikhtila’nya di gua Hira.
    Pada suatu saat ketika ber’uzlah di gua Hira, datanglah malaikat mengampiri Muhammad lalu berkata malaikat itu, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Malaikat itu lalu mendekati Muhammad dan memeluknya hingga beliau merasa lemah sekali, kemudian melepaskannya. Malaikat itu berkata lagi, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Malaikat itu mendekati Muhammad lagi dan memeluknya, sehingga beliau merasa tidak berdaya sma sekali, kemudian beliau dilepaskan lagi. Malaikat itu berkata lagi, “Bacalah!” Muhammad saaw menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Untuk ketiga kalinya Malaikat itu mendekati Muhammad dan mendekapnya hingga beliau saaw merasa lemas, kemudian dilepaskan kembali. Selanjutnya Malaikat itu berkata, “Bacalah dengan nama Rabb-mu Yang telah Menciptakan… Menciptakan manusia dari segumpal darah… “ dst (lihat QS. Al-‘Alaq:1-5).

    Di dalam Alkitab ada terdapat demikian:
    Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak membaca dengan mengatakan, “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.” (Yesaya 29:12)
    (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. (QS. 7:157)

    Muhammad Rasulullah saaw segera pulang dalam keadaan gemetar sekujur badannya menemui Khadijah, lalu berkata, “Selimutilah aku… selimutilah aku.” Kemudian beliau diselimuti hingga hilang rasa takutnya. Setelah itu beliau berkata kepada Khadijah, “Hai Khadijah, tahukah engkau mengapa aku tadi begitu?” Lalu beliau menceritakan apa yang baru dialaminya.

    Setelah menceritakan peristiwa itu, beliau saaw berkata, “Aku sesungguhnya khawatir terhadap diriku dari gangguan makhluk jin.”
    Siti Khadijah menjawab, “Tidak! Bergembiralah! Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat Anda kecewa. Anda seorang yang suka menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.”
    Beberapa saat kemudian Khadijah mengajak Rasulullah saaw menemui Waraqah bin Naufal, salah seorang sepupu Khadijah. Di masa jahiliyah ia memeluk agama Nasrani. Ia dapat menulis dalam huruf Ibrani, bahkan pernah menulis bagian-bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani. Ia seorang yang sudah lanjut usia dan telah kehilangan penglihatan. Kepadanya Khadijah berkata, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang hendak dikatakan oleh anak lelaki saudaramu.” Waraqah bertanya kepada Muhammad saaw, “Hai anak saudaraku, ada apa gerangan?” Rasulullah saaw kemudian menceritakan apa yang dialminya di gua Hira. Setelah mendengarkan keterangan Rasulullah saaw, Waraqah berkata, “Itu adalah malaikat yang telah diutus Allah kepada Musa (as). Alangkah bahagianya seandainya aku masih muda perkasa! Alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup dan dapat membelamu tatkala kamu diusir oleh kaummu!” Rasulullah saaw bertanya, “Apakah mereka akan mengusir aku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tak seorang pun yang datang membawa seperti apa yang kamu bawa kecuali akan diperangi. Seandainya kelak aku masih hidup dan mengalami hari yang kamu hadapi itu, pasti kamu kubantu sekuat tenagaku.” Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia, dan untuk beberapa waktu lamanya Rasulullah saaw tidak menerima wahyu. Menurut Baihaqi masa terhentinya wahyu itu selama 6 bulan.

    Tentang kedatangan Jibril yang kedua, Bukhari meriwayatkan sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saaw berbicara tentang terhentinya wahyu. Beliau berkata kepadaku: “Di saat aku sedang berjalan tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Ketika kepala kuangkat, ternyata malaikat yan datang kepadaku di gua Hira, kulihat sedang duduk du kursi antara langit dan bumi. Aku segera pulang menemui isteriku dan kukatakan kepadanya, ‘Selimutilah aku… selimutilah aku… selimutilah aku!’ Sehubungan dengan itu Allah kemudian berfirman, “Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan. Adapun Rabbmu, maka agungkanlah. Dan pakaianmu, maka sucikanlah. Dan perbuatan dosa, maka jauhilah.” (lihat QS. Al-Muddatstsir: 1-5)
    Sejak itu wahyu mulai diturunkan secara kontinyu.

  • TAHAPAN DA’WAH RASULULLAH SAAW

    Da’wah Islamiyah di masa hidup Nabi Muhammad saaw sejak bi’tsah (diangkat sebagai Rasul) hingga wafatnya menempuh empat tahapan:
    1. Da’wah secara rahasia, selama 3 tahun.
    2. Da’wah secara terang-terangan dengan menggunakan lisan saja tanpa perang, berlangsung sampai hijrah.
    3. Da’wah secara terang-terangan disertai dengan memerangi orang-orang yang menyerang ummat Islam. Tahapan ini berlangsung sampai perdamaian Hudaybiyah.
    4. Da’wah secara terang-terangan dengan memerangi setiap orang yang menghalangi jalannya da’wah atau yang menghalangi orang yang ingin masuk Islam.

  • DA’WAH RASUL SECARA RAHASIA

    Muhammad Rasulullah mulai menyambut perintah Allah dengan mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala. Tetapi da’wah Rasul ini dilakukan secara rahasia untuk menghindari tindakan buruk orang-orang Quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan dan paganisme. Rasulullah saaw tidak menampakkan da’wah di majlis-majlis umum orang-orang Quraisy, dan tidak melakukan da’wah kecuali kepada orang yang memiliki hubungan kerabat atau kenal baik sebelumnya. Orang-orang yang pertama kali masuk Islam ialah Khadijah binti Khuwailid ra, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah mantan budak dan anak angkat Rasulullah, Abu Bakar bin Abu Quhafah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam keponakan Khadijah, Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan lainnya. Mereka ini bertemu dengan Rasul secara rahasia. Apabila salah seorang dari mereka ingin melaksanakan salah satu ibadah, ia pergi ke lorong-lorong Makkah seraya bersembunyi dari pandangan orang-orang Quraisy.

    Ketika orang-orang yang menganut Islam lebih dari 30 laki-laki dan wanita, Rasulullah saaw memilih rumah salah seorang dari mereka, yaitu rumah Al-Arqam, sebagai tempat pertama untuk mengadakan pembinaan dan pengajaran. Da’wah pada tahap ini menghasilkan sekitar 40 lelaki dan wanita memeluk Islam. Kebanyakan mereka adalah orang-orang fakir, kaum budak dan orang-orang Quraisy yang tidak memiliki kedudukan.