Kategori: Sejarah

  • ISLAMNYA KABILAH KHAZRAJ

    Rasulullah saaw terus mendatangi kabilah-kabilah Arab. Beliau berkeliling dari pemukiman satu ke pemukiman lain dan berseru mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Akan tetapi bila Abu Lahab melihat Rasulullah sedang berda’wah, dia selalu mendustakan Nabi saaw di depan mereka. Namun demikian beliau saaw tidak berputus asa.
    Keuletan, ketabahan dan kebijaksanaan Rasulullah saaw membuahkan hasil. Dua kabilah Arab dari Yatsrib (Madinah) memeluk agama Islam. Ketika itu di Yatsrib terdapat dua kabilah besar, yaitu Aus dan Khazraj yang sebelumnya menyembah berhala-berhala. Sedangkan tetangga mereka adalah orang-orang Yahudi yang masih tauhid. Bila terjadi bentrokan yang menyudutkan orang-orang Yahudi dari tekanan orang-orang Arab itu, orang-orang Yahudi selalu mengancam orang-orang Arab akan ada utusan Allah yang akan membela mereka.* Berkat ucapan orang-orang Yahudi itulah, orang-orang Arab Yatsrib menjadi tahu bahwa Allah akan mengutus seorang Rasul untuk menuntun manusia.
    Pada suatu musim hajji, sebagai suatu hal rutin setiap tahunnya, sebagaimana biasa Rasulullah mendatangi kabilah-kbilah Arab untuk mengajak mereka beriman kepada Allah SWT semata dan memeluk agama Islam. Secara kebetulan beliau saaw bertemu beberapa orang Yatsrib di sebuah tempat bernama ‘Aqabah. Pada wajah mereka beliau melihat tanda-tanda kebaikan.
    Rasulullah bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami sekelompok dari kabilah Khazraj.” Rasul bertanya lagi, “Apakah kalian bertetangga dengan Yahudi?” Mereka menjawab, “Ya, benar.”
    Lalu Rasulullah mengajak mereka duduk dan memperkenalkan kepada mereka tentang dirinya dan misinya sebagai Nabi. Dan beliau memperkenalkan kepada mereka tentang ajaran Islam dan mengajak mereka untuk memeluknya.
    Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Saudara-saudara, ketahuilah bahwa dia benar-benar seorang Nabi sebagaimana yang kalian sering dengar beritanya dari orang-orang Yahudi. Karena itu janganlah kalian ketinggalan mengikutinya. Jangan sampai orang-orang Yahudi mendahului kita.” Setelah berunding, mereka pun menyatakan keislaman mereka di hadapan Rasulullah saaw. Mereka adalah As’ad bin Zararah dan Auf bin Al-Harits, keduanya dari bani An-Najjar; Zuraiq bin Amir bin Zuraiq dan Rafi’ bin Malik bin ‘Amr, keduanya dari bani Zuraiq; Sa’ad bin Ali bin Jasyim dari bani Salimah; dan Quthbah bin Amir bin Hudaidah dari bani Sawad. Mereka berjanji akan bertemu lagi pada tahun berikutnya. Setelah segala keperluan mereka di Makkah selesai, mereka pun kembali ke Yatsrib.
    Sesampainya di Yatsrib, mereka mengajak keluarga mereka untuk memeluk Islam. Dengan cepat hal tersebut tersiar di Yatsrib. Hingga tak satu pun rumah orang Arab di Yatsrib yang tidak membicarakan Rasulullah saaw.

    *Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [QS. 2:89]
    Begitulah watak orang-orang Yahudi. Mereka besar di mulut, mengharap kedatangan nabi akhir zaman, padahal hati mereka tertutup terhadap kebenaran.

  • BAI’ATUL ‘AQABAH PERTAMA

    Pada musim hajji berikutnya, sebagaimana yang telah dijanjikan, mereka bertemu lagi dengan Rasulullah saaw di ‘Aqabah. Di tempat itulah mereka menyatakan bai’at (janji setia) kepada beliau. Mereka yang berbai’at dari suku Khazraj ada 10 orang, yaitu As’ad bin Zararah, Auf bin Al-Harits, Mu’adz bin Al-Harits, Rafi’ bin Malik bin ‘Amr, Dzarwan bin Abdi Qais, Ubadah bin Ash-Shamit, Yazid bin Tsa’labah, Al-Abbas bin Ubadah, ‘Uqbah bin Amir dan Quthbah bin Amir. Sedangkan dari suku ‘Aus ada 2 orang, yaitu Abul Haitsam bin At-Tayyim dan Uwain bin Sa’idah. Mereka semua berbai’at dan mengucapkan, “Kami berjanji tidak akan menyekutukan Allah dengan apa pun juga. Tidak akan berbuat zina. Tidak akan membunh anak-anak kami. Tidak akan berbuat dusta. Dan tidak akan berbuat durhaka.” (Lihat QS. 60:12)

    Setelah mereka selesai beribadah hajji, mereka pulang ke Yatsrib. Rasulullah saaw mengutus Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushayy bersama mereka ke Yatsrib untuk mengajar Al-Qur`an di sana.

  • BAI’ATUL ‘AQABAH KEDUA

    Rasulullah tersenyum dan menjawab, “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.”

    Pada musim hajji berikutnya, serombongan kaum muslimin Yatsrib pergi ke Makkah. Di tengah perjalanan, ketika masuk waktu shalat, seorang diantara mereka, yaitu Al-Barra` bin Ma’rur, salah seorang pemimpin kabilah berpendapat bahwa tidaklah patut kalau dia shalat membelakangi Ka’bah, dan dia ingin shalat menghadap ke Ka’bah. Maka yang lain pun berpendapat bahwa Rasulullah saaw selalu shalat menghadap ke Baitul Maqdis di Syam, dan mereka tidak berani menyalahi apa yang dilakukan Rasulullah saaw itu. Akan tetapi Al-Barra tetap bersikeras dengan pendapatnya itu. Maka mereka shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis, sedangkan Al-Barra` shalat menghadap ke Ka’bah. Demikianlah yang terjadi sepanjang perjalanan ke Makkah.
    Setibanya di Makkah, Al-Barra` merasa gusar dengan perlakuannya tentang shalat akhir-akhir ini. Al-Barra` berkata kepada Ka’ab bin Malik, “Saudaraku, mari kita menemui Rasulullah saaw agar kita dapat menanyakan tentang apa yang kulalkukan selama perjalanan ini.” Lalu mereka berdua mencari Rasulullah. Mereka bertanya kepada seseorang yang kebetulan lewat di depannya, “Dimanakah kami bisa bertemu dengan Muhammad bin Abdullah?” Orang itu berkata, “Apakah kalian mengenal Al-Abbas bin Abdul Muthallib?” Mereka berkata, “Ya kami kenal dia. Dia sering datang ke negeri kami untuk berdagang.” Orang itu berkata lagi, “Jika kalian pergi ke Ka’bah dan melihat orang sedang bersama Al-Abbas, dia itulah Muhamad.”
    Kemudian mereka pergi ke Ka’bah dan menemui Rasulullah saaw. Ketika melihat Al-Abbas, paman Nabi saaw, mereka mengucapkan salam kepadanya, “Assalamu ‘alaykum.” ‘Abbas menjawab salam mereka, “Wa ‘alaykum salam.” Rasulullah bertanya kepada Abbas bin Abdul Muthallib, “Wahai abul Fadhl, apakah engkau mengenal mereka?” Abbas menjawab, “Ya, dia adalah Al-Barra` bin Ma’rur, seorang pemimpin kabilah, dan temannya itu Ka’ab bin Malik.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah dia seorang penyair?” Abbas menjawab, “Ya, benar.”
    Lalu Al-Barra` menceritakan apa yang terjadi selama perjalanan dari Yatsrib ke Makkah, dan meminta pendapat Rasulullah. Lalu Rasulullah saaw bersabda, “Hendaklah kau bersabar dan tetap shalat menghadap ke Baitul Maqdis.”
    Seusai hajji, tepatnya pada malam tanggal 12 Dzul Hijjah, seperti yang sudah direncanakan, rombongan muslimin pergi ke ‘Aqabah untuk bertemu dengan Rasulullah saaw. Rombongan dari Yatsrib itu berjumlah 75 orang, 2 diantaranya adalah wanita, yaitu Nusaibah binti Ka’ab dan Asma` binti Amr. Mereka ingin agar Rasulullah saaw tinggal di Yatsrib.
    Setelah mereka berkumpul, tak lama kemudian datanglah Rasulullah dengan pamannya, ‘Abbas bin Abdul Muthalib. Ketika itu Abbas belum masuk Islam. Al-‘Abbas berkata kepada mereka, “Saudara-saudara dari Khazraj! Posisi Muhammad di tengah-tengah kabilah kami sudah sama-sama tuan-tuan ketahui. Kabilah kami dan mereka yang sepaham dengan kami telah melindunginya dari gangguan masyarakat kami sendiri. Dia adalah orang yang terhormat di kalangan masyarakatnya dan mempunyai kekuatan di negerinya sendiri. Tetapi dia ingin bergabung dengan tuan-tuan juga di Yatsrib. Jadi kalau memang tuan-tuan merasa dapat menepati janji seperti yang tuan-tuan berikan kepadanya itu dan dapat melindunginya dari mereka yang menentangnya, maka silakanlah tuan-tuan laksanakan. Akan tetapi, kalau tuan-tuan akan menyerahkan dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada di tempat tuan-tuan, maka dari sekarang lebih baik tinggalkan sajalah.”
    Setelah mendengar keterangan ‘Abbas, pihak Yatsrib menjawab: “Sudah kami dengar apa yang tuan katakan. Sekarang silakan Rasulullah bicara. Kemukakanlah apa yang tuan senangi dan disenangi Tuhan.”
    Setelah membacakan ayat-ayat Qur’an dan memberi semangat Islam, Rasulullah saaw bersabda, “Saya minta ikrar tuan-tuan akan membela saya seperti membela isteri-isteri dan anak-anak tuan-tuan sendiri.”
    Al-Barra` bin Ma’rur menjabat tangan beliau dan berkata, “Demi Allah Yang Mengutus engkau sebagai Nabi pembawa kebenaran, engkau akan kami lindungi sebagaimana kami melindungi anak dan isteri kami sendiri! Ya Rasulullah terimalah pembai’atan kami! Demi Allah, kami orang-orang yang sudah terbiasa berperang dan mengetahui benar bagaimana menggunakan senjata. Itulah yang diwariskan kepada kami secara turun-temurun.”
    Belum selesai Al-Barra` bicara, Abul Haitsam memotong pembicaraan dan berkata, “Wahai Rasulullah, antara kami dan orang-orang Yahudi terdapat hubungan. Sekarang hubungan itu kami putus. Setelah hal itu kami lakukan, kemudian Allah berkenan memenangkan engkau, apakah engkau hendak meninggalkan kami dan kembali kepada kaummu di Makkah?”
    Rasulullah tersenyum dan menjawab, “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.”
    Lalu mereka berbai’at untuk membela Rasulullah saaw walau pun mereka harus kehabisan harta dan kehilangan jiwa-raga mereka. Mereka berkata, “Kami berikrar mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada, dan kami tidak takut kritik siapapun atas jalan Allah ini.”
    Setelah itu Rasulullah saaw meminta kepada mereka supaya memilih 12 orang Naqib. Lalu mereka menunjuk 9 orang Naqib dari Khazraj dan 3 Naqib dari Aus.
    Dari Khazraj adalah Abu Umamah As’ad bin Zararah, Sa’ad bin Ar-Rabi’ bin Amr, Abdullah bin Rawwahah. Rafi’ bin Malik bin Al-Ijlan, Al-Barra` bin Ma’rur, Abdullah bin Amr bin Haram, Ubadah bin Shamit, Sa’ad bin Ubadah, Al-Mudhar bin Amr.
    Sedangkan Naqib dari Aus adalah Usaid bin Hudhair dari bani Abdul Asyhal, Sa’ad bin Khaitsamah bin Al-Harits, Rifa’ah bin Abdul Mudzir bin Zubair.
    Lalu Rasulullah saaw bersabda kepada 12 Naqib, “Hendaklah kalian menjadi penanggung jawab kaumnya masing-masing sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut Isa bin Maryam.* Sedang aku sendiri menjadi penanggung jawab atas ummatku.”
    Setelah itu tiba-tiba mereka mendengar ada suara berteriak yang ditujukan kepada Quraisy: “Muhammad dan orang-orang yang pindah kepercayaan itu sudah berkumpul akan memerangi kamu!” Mendengar itu kaum muslimin yang ada di ‘Aqabah terkejut.
    Rasulullah bersabda, “Yang kalian dengar itu adalah Azb, setan bukit Aqabah. Hendaklah kalian kembali ke kemah masing-masing.”
    ‘Abbas bin ‘Ubada berkata kepada Rasulullah saaw, “Demi Allah Yang telah mengutus tuan atas dasar kebenaran, kalau sekiranya tuan sudi, penduduk Mina itu besok akan kami habiskan dengan pedang kami.”
    Rasulullah menjawab, “Kami tidak diperintahkan untuk itu. Kembalilah ke kemah tuan-tuan.” Merekapun kembali ke tempat mereka bermalam, lalu tidur.

    * Nabi Isa as mempunyai 12 murid utama yang bertanggung jawab atas 12 suku Israel. Mereka disebut Hawariyun/Apostle. Lihat janji setia mereka dalam QS. 61:14.

  • RASULULLAH HIJRAH KE YATSRIB (MADINATUN NABI)

    Rasulullah dan para shahabat di Makkah berencana untuk hijrah ke Yatsrib. Akan tetapi Rasulullah tidak berani untuk mengambil keputusan sebelum memperoleh perintah dari Allah. Maka turunlah ayat 97 dari surat An-Nisa` yang menjelaskan tentang bolehnya berhijrah.
    Maka para shahabat pun berhijrah ke Yatsrib. Mereka berhijrah secara diam-diam agar tidak diketahui kafir Quraisy.
    Mengetahui akan hal ini, kafir Quraisy membuat rencana untuk membunuh Rasulullah sebelum beliau saaw hijrah. Mereka takut bahwa Rasulullah membangun kekuatan di Yatsrib dan menyerang Makkah.
    Rencana keji kafir Quraisy diketajui oleh Rasulullah saaw dan beliau diperintahkan oleh Allah SWT agar segera hijrah ke Yatsrib.
    Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. [QS. 29:56]
    Lalu Rasulullah memberitahukan hal ini kepada Abu Bakar agar beliau mempersiapkan keberangkatan ke Yatsrib menemani Rasulullah saaw. Betapa gembira Abu Bakar dapat menemani manusia yang paling ia cintai.
    Pada malam hari ketika pemuda-pemuda Quraisy sedang mengepung rumah baginda Rasul dan siap membunuh beliau, Rasulullah saaw berkemas-kemas untuk meninggalkan rumah. Disuruhnya Ali bin Abi Thalib ra agar menempati tempat tidur beliau saaw, supaya orang-orang Quraisy mengira bahwa beliau saaw masih tidur. Kepada Ali diperintahkan juga agar mengembalikan barang yang dititipkan kepada beliau saaw ke pemiliknya masing-masing. Kemudian secara diam-diam beliau pergi keluar rumah. Beliau mengambil segenggam pasir dan melemparkan/menghamburkan pasir itu ke atas kepala pemuda-pemuda Quraisy yang mengepung beliau. Maka para pemuda itu pun tertidur.
    Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. [QS. 36: 8-9]
    Dengan sembunyi-sembunyi Rasulullah perg menuju rumah Abu Bakar ra. Kemudian mereka berdua keluar dari pintu kecil di belakang rumah, menuju gua di bukit Tsur, sebelah selatan kota Makkah, lalu mereka sembunyi di gua itu.
    Setelah para pemuda itu mengetahui bahwa Rasulullah saaw tidak ada di rumah dan terlepas dari kepungan mereka, maka mereka menjelajahi seluruh kota untuk mencari Nabi. Akhirnya kafir Quraisy sampai juga di gua Tsur. Tetapi dengan idzin Allah, di muka gua itu terdapat sarang laba-laba berlapis-lapis, seolah-olah terjadinya beberapa minggu sebelum Nabi dan Abu Bakar pergi dari Makkah. Melihat ada sarang laba-laba yang utuh, mereka tidak curiga bahwa ada orang di dalam gua itu. Maka gagallah pengejaran mereka. Abu Bakar berkata, “Seandainya mereka melihat kaki mereka, niscaya mereka akan melihat kita.” Lalu Raulullah saaw bersabda, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita.”
    Jikalau kamu tidak menolong Muhammad maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya dari Mekah sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. 9: 40]
    Maka Rasulullah saw dan Abu Bakar bersembunyi di gua itu beberapa hari, menunggu keadaan aman. Ketika Rasulullah merasa letih dan tertidur, Abu Bakar melihat ada lubang-lubang yang kemungkinan adalah sarang ular. Maka Abu Bakar merobek-robek bajunya untuk menyumpal lubang-lubang itu. Setelah bajunya habis, masih terdapat satu lubang yang belum tertutup. Maka Abu Bakar menutupnya dengan jempol kakinya. Akan tetapi ternyata, lubang yang dia tutup dengan jempol kakinya itulah yang terdapat ularnya. Ular itu pun menggigit jempol kaki Abu Bakar yang mulya itu. Maka keluarlah peluh dari tubuh Abu Bakar mengenai Rasulullah hingga beliau saaw terjaga. Mengetahui keadaan Abu Bakar, beliau saaw langsung menghisap bisa dari jempol kaki Abu Bakar dengan mulutnya yang mulya dan mengeluarkan bisa itu. Lalu Rasulullah kembali menenangkan Abu Bakar dan memberinya semangat.
    Setelah tiga hari bersembunyi di gua itu, dan keadaan sudah dirasakan aman, maka Rasulullah saaw dan Abu Bakar baru meneruskan perjalanan menyusuri pantai Laut Merah, dan Ali bin Abi Thalib menyusul kemudian.

  • RASULULLAH SAAW TIBA DI YATSRIB

    Nabi tiba di Yatsrib pada bulan Rabi’ul Awwal bersama Abu Bakar dan Ali. Di tengah perjalanan, Nabi tinggal di Kuba selama beberapa hari untuk menunggu Ali bin Abi Thalib.
    Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Ketika Rasulullah saw datang ke Yatsrib, baginda singgah di kawasan yang agak tinggi di kota itu, yaitu sebuah tempat yang bernama Bani Amru bin Auf. Baginda tinggal bersama mereka selama empat belas malam.
    Kemudian baginda menyuruh supaya memanggil pemimpin Bani Najjar. Lalu mereka pun datang membawa pedang masing-masing. Aku seolah-olah melihat Rasulullah saw di atas untanya, manakala Abu Bakar berada di belakang baginda, sementara pemimpin Bani Najjar mengelilingi baginda. Baginda membiarkan saja unta baginda itu membawanya hinggalah baginda tiba di halaman rumah milik Abu Ayyub. Rasulullah saw shalat walau di mana saja bila tiba waktu shalat, baginda shalat di dalam kawasan pemeliharaan kambing. Kemudian baginda memerintahkan supaya didirikan sebuah masjid.
    Lalu baginda menyuruh memanggil pemimpin Bani Najjar itu, mereka pun datang. Lalu baginda bersabda, “Wahai Bani Najjar! Nyatakan harga kebunmu ini kepadaku.” Lalu mereka menjawab, “Tidak! Demi Allah, kami tidak mau harganya kecuali kepada Allah.” (Maka Rasulullah membayar tempat itu sesuai harga tanah waktu itu.) Mengikut pengetahuanku, dalam kebun itu terdapat pokok kurma, kubur orang-orang Musyrikin dan runtuhan bangunan. Lantas Rasulullah saaw memerintahkan supaya memotong pokok kurma, membongkar kubur orang-orang Musyrikin dan meratakan runtuhan bangunan.
    Lalu mereka menjadikan pohon kurma tersebut sebagai arah kiblat dan sebuah batu besar sebagai bahu pintu gerbang
    Mereka melakukan pekerjaan berat itu sambil mengalunkan syair dan Rasulullah saaw ada bersama mereka. Mereka bersyair: “Ya Allah! Sesungguhnya tiada kebaikan yang terlebih baik melainkan kebaikan akhirat. Bantulah orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, An-Nasai, Abu Daud, Ahmad]
    Dari Abu Hurairah ra katanya: Nabi saaw pernah bersabda, “Shalat satu waktu di masjidku adalah lebih utama daripada mengerjakan shalat sebanyak seribu kali di masjid lain kecuali Masjidil Haram.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, An-Nasai]
    Dari Abu Hurairah ra katanya: Nabi saaw pernah bersabda, “Janganlah kamu bersusah payah musafir untuk shalat kecuali menuju ke tiga buah masjid yaitu masjidku ini yaitu masjid Nabawi, Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha. [HR. Bukhori, Muslim, An-Nasai]
    Demikianlah Nabi membangun negara-kota di Yatsrib yang kemudian disebut Madinatun Nabi (Kota Nabi), yang biasa kita sebut Madinah.
    Setelah itu Rasulullah meminta pendapat para shahabat, bagaimana cara memanggil kaum muslimin ketika datang waktu shalat. Sebahagian daripada mereka berkata, “Bunyikanlah loceng sebagaimana loceng orang Nasrani.” Sebahagian lagi berkata, “Bunyikanlah trompet seperti trompet orang Yahudi.” Maka Rasulullah menunda keputusannya. Beliau menyuruh mereka untuk berfikir lagi di rumah.
    Kemudian Umar dan Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah bermimpi bertemu seseorang yang mengajarkan mereka kalimat adzan. Lalu Abdullah bin Zaid menemui Rasulullah keesokan paginya dan menceritakan perihal mimpinya. Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk mengajarkan kalimat-kalimat itu kepada Bilal, sebab suaranya lebih nyaring dan lebih bagus. Kemudian ketika datang waktu shalat, Rasulullah menyuruh Bilal untuk adzan. Umar yang mendengar adzan itu menemui Rasulullah saaw dan berkata, “Wahai Rasulullah, inilah yang aku mimpikan semalam.”

  • PERALIHAN ARAH QIBLAT

    Pada tahun 2 Hijriyah setelah 16 bulan Nabi tiba di Madinah terjadilah peristiwa penting, yaitu arah qiblat yang tadinya ke Baitul Maqdis di Yerusalem, berubah ke Ka’bah di Makkah. (lebih…)

  • PERANG BADR AL-KUBRA

    Perang Badar terjadi pada tahun 2 Hijriah. Pasukan Makkah yang berkekuatan seribu orang dengan senjata lengkap, bergerak menuju Madinatun Nabi untuk menghancurkan masyarakat muslim Madinah. (lebih…)

  • PERANG UHUD

    Dari Anas bin Malik ra katanya: Rasulullah saaw pernah bersabda, “Sesungguhnya Bukit Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita juga memang mencintainya.” [HR. Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi] (lebih…)

  • PERANG KHANDAQ*

    Pasukan sekutu berjumlah 10 ribu orang yang terdiri dari berbagai suku mempersiapkan diri mereka untuk menyerang Madinah. (lebih…)

  • PERJANJIAN HUDAIBAIYAH

    Pada tahun 6 Hijriyah Nabi menandatangani perjanjian di Hudaibiyah. (lebih…)