MERAYAKAN MAULIDUR RASUL SAAW

Sebagian dari kaum penyebar syubhat telah menyebut perayaan Maulidur Rasul saaw sebagai perbuatan bid’ah dholalah. Banyak sudah argumen yang mereka kemukakan. Namun semua argumen itu tidaklah berdasar pada dalil-dalil yang dapat dibenarkan kecuali oleh orang-orang yang mudah ditipu. Pada tulisan kali ini, kami mencoba mengemukakan beberapa argumen untuk menunjukkan betapa perayaan Maulidur Rasul itu adalah suatu hal yang mulia.

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58)

Merayakan Maulid itu agak berbeda dengan merayakan Natal. Umat Kristiani merayakan Natal adalah dalam rangka menyembah dan mengkultuskan Yesus yang mereka yakini lahir pada tanggal 25 Desember. Dan mereka menjadikan tanggal 25 Desember itu sebagai hari khusus dalam merayakan kelahiran Yesus. Walau pun sebagian sarjana Alkitab telah menyatakan bahwa Yesus tidaklah lahir pada tanggal 25 Desember di musim dingin, melainkan pada bulan Ilul di musim semi atau musim kering. Bahkan mereka menjelaskan bahwa tanggal 25 Desember itu sebenarnya adalah perayaan orang Romawi untuk merayakan hari lahir dari dewa Sol Invictus.

Merayakan Maulid juga agak berbeda dengan merayakan Asyura dimana kita berpuasa sunnah pada tanggal 10 Muharram dalam rangka bersyukur dan taqarrub kepada Allah.

Merayakan Maulidur Rasul tidak hanya terpaku pada hari lahirnya Sang Cahaya (QS. Al-Maidah: 15). Maulidur Rasul dilakukan juga dalam rangka mengenang riwayat hidup Sang Juru Syafaat. Adalah benar bahwa Rasulullah saaw lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal di tahun Gajah. Namun tidak seperti perayaan lain yang terpaku pada satu hari tertentu, perayaan Maulidur Rasul saaw dapat dilakukan setiap hari. Tidak hanya pada tanggal 12 Rabiul Awwal, tidak hanya di bulan Rabiul Awwal, tidak hanya di hari Senin. Bahkan setiap hari di sepanjang tahun, kita dapat merayakan Maulidur Rasul. Karena sudah semestinyalah bagi kita ummat Islam untuk bergembira setiap saat atas karunia Allah berupa lahirnya sang pembawa Syari’atul Muthohharoh. Maka perayaan Maulidur Rasul ini tidak bisa disamakan dengan perayaan Natal atau pun Milad Partai yang terpaku pada satu hari tertentu.

KEISTIMEWAAN 12 RABIUL AWAL

Walau perayaan Maulid tidak terpaku pada tanggal 12 Rabiul Awwal, namun tanggal 12 Rabiul Awwal tetaplah hari yang istimewa bagi para pecinta Rasul saaw dan Shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Karena pada tanggal 12 Rabiul Awwal itulah Sang Kekasih lahir ke dunia ini. Itulah tonggak sejarah baru dalam kehidupan manusia menuju Al-Haqq. Pada hari itu telah tumbang segala simbol kemusyrikan. Pada hari itu, api biara Majusi telah dipadamkan, jatuhlah mahkota Kisra Persia, dan Makkah diterangi cahaya gemilang.

Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal juga merupakan hari tibanya Rasulullah di Madinah. Pada hari itu, datanglah Sang Bulan Purnama dari celah-celah bukit. Maka bersyukurlah kita atas hijrahnya Rasulullah saaw dan atas selamatnya beliau tiba di Madinah. Tibanya Rasulullah di Madinah adalah fase kebangkitan selanjutnya dari da’wah ilallah. Itulah sebabnya kaum Anshor menyambut kedatangan beliau sambil berdiri dan menabuh rebana. Mereka melantunkan syair yang begitu indah, “Thola’al badru ‘alayna min tsaniyatil wada’. Wajabasy syukru ‘alayna ma da’a lillahi da’.”

Pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal pula Rasulullah saaw wafat. Pada hari itu, ummat Islam mengalami kegoncangan yang dahsyat. Lalu muncullah Ad-Da’i ilallah, Sayyidina Abu Bakar, yang membangkitkan kembali semangat kaum Muslimin dengan pidatonya yang terkenal. Pada hari itulah peristiwa agung lainnya terjadi, yaitu kebangkitan semangat Muslimin setelah diterpa ujian besar.

Maka wajarlah jika tanggal 12 Rabiul Awwal dijadikan salah satu hari istimewa bagi kaum Muslimin. Namun untuk merayakan Maulidur Rasul sebagai rasa gembira kita atas karunia besar tersebut, kita tidak mesti hanya merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Bahkan sepatutnya kita bergembira dan merayakan Maulidur Rasul pada setiap hari di sepanjang tahun.

RASUL PUN MERAYAKAN MAULID

Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah berkata : Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw berakikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadits no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah berakikah untuknya kakeknya Abdulmuththalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman-teman dan saudara-saudara, menjamu dengan makanan-makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. Bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnul-Maqashid fii ‘Amalil-Maulid”.

Rasul pun pernah ditanya tentang puasa di hari Senin. Maka beliau menjawab bahwa pada hari itulah beliau saaw dilahirkan. Maka dengan alasan itu pula kita berpuasa di hari Senin. Dan dengan alasan itu pula dibolehkan bagi kita untuk beribadah kepada Allah dalam rangka bersyukur atas lahirnya Rasulullah saaw. Maka boleh bagi kita untuk membesarkan hari lahir beliau saaw dengan ibadah apa saja, tidak hanya dengan puasa, tetapi dengan ibadah yang lainnya pun boleh.

Baca juga:
Memuji Rasul
Memulyakan Nabi Muhammad SAAW
Shahabat Pun Bermaulid

Komentar

6 tanggapan untuk “MERAYAKAN MAULIDUR RASUL SAAW”

  1. Avatar ahmed
    ahmed

    ini sebuah kisah nyata, yaitu kisah miskinah,begini cerita singkatna dari ane, miskinah adlh seorang permpuan miskin, dia hanya mempunyai 2 pakaian,tp dia sosok sholehah, pakian satu dpakai sehari2, dan yg satunya utk acara2 agama, stiap bln maulid miskinah muter dari satu kampung k kampung yg laen utk ngikut maulid,miskinah memakai pakian yg pakian yg paling bagus yaitu pakian utk acara2 agama, miskinah meninggalkan pekerjaanya sbg tukang pemulung utk mengikuti maulid,udh maulid dia kembali berkerja. beberapa wkt kemudian miskinah meninggal dunia, ada tetangga yg memimpikan tentang keadaan miskinah d alam kubur, miskinah d mimpikan olh tetanggana emenjadi penghuni syurga bkn sekedar penguni surga dia menjadi putri kerajaan, tetangga bertanya wahai miskinah mengapa engkau menjadi putri kerajaan d surga,padahal engkau dulu didunia hanya org yg paling miskin, miskin udh tdk menjadi pakianku lagi, karena sekarang aq sdh menjadi putri kerajaan surga engkau mau gmn aq mndptkannya, aq mendapatkannya berkat kebaikan Rasullah, berkat hadir maulid nabi

  2. Avatar dicksone
    dicksone

    Sudah sewajarnya, sesiapa yang cinta pada junjungan kita Nabi SAW, untuk merayakan kehadirannya

  3. Avatar dicksone
    dicksone

    Sesiapa yang benci merayakan milad Beliau SAW, tentu diragukan kecintaannya. Bahkan dengan alasan tidak diajarkan oleh Beliau SAW. Bisa koq di check ke hati kita masing-masing…

  4. Avatar abu hashifah
    abu hashifah

    Oh ya..? siapa di antara umat Islam yang paling cinta kepada Rosulnya? (kita semua tahu jawabannya: para sahabat dan orang orang stelahnya yang mengikuti jejak mereka dengan baik) tapi kenapa tidak kita dapati mereka merayakan Maulid Nabi? Sekalipun Imam yang empat..
    Pikirkan lah…

    Nb/dari pada berbuat yang di perselisihkan antara HANYA boleh dan HARAM, jelas mending kita tinggalin, kerjakan aja yang jelas sunnah yang kebanyakan dari kita meninngalkanya seperti MEMELIHARA JENGGOT, BERPAKAIN DI ATAS MATA KAKI dll..

    Para shahabat tahu bahwa berpuasa pada hari Senin itu salah satunya adalah disebabkan Rasul lahir pada hari senin.
    Lihat lagi tulisan di atas, dan pahamilah bahwa merayakan hari lahir Nabi bukanlah hal yg harom seperti yg dituduhkan para syaikh wahhabi.
    Sesungguhnya, Anda sendiri setiap hari telah merayakan hari lahir Nabi. Karena merayakan hari lahir Nabi bukan hanya dengan puasa di hari Senin, bukan hanya dengan membaca sholawat, bukan hanya dengan membaca puji-pujian bagi “yang terpuji”. Ketika Anda telah selesai shalat, ingatkah Anda akan siapa yang mengajarkan shalat itu? Nabiyuna Muhammad SAW. Ajaran mulya ini lahir dengan lahirnya sang pembawa risalah. Sungguh, lahirnya sang pembawa risalah adalah kurnia terbesar dalam hidupku. Karena lahirnya beliau telah mengeluarkan diriku dari kegelapan kepada cahaya.

    Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 85)

    Maka hendaknya Anda bersyukur akan lahirnya sang pembawa risalah. Inilah makna merayakan maulid Nabi, bersyukur kepada Allah akan lahirnya sang pembawa rahmat. Allah telah mecintai Nabi, maka malaikat pun mencintai Nabi, dan segenap makhluq-Nya pun mencintai Nabi, kecuali yg ingkar. Allah telah memuji sang Nabi, maka malaikat pun memuji sang Nabi, maka jangan salahkan kami jika kami juga ikut memuji “yang terpuji”.

    1. Avatar Djoko Widodo
      Djoko Widodo

      Saya ingin menggaris bawawahi hal-hal berikut:
      1. Bahwa Nabi SAW tidak pernah merayakan atau memerintahkan merayakan ultahnya, adalah benar dan faktual. bahkan sampai level tabiit tabiin pun belum ada tradis ini.
      2. Tradisi lahir dari usaha Shalahudin untuk menyemangati pasukannya dalam perang salib hingga Yerusalem berhasil direbut.
      3. Pengarang buku berjanjen yang sering dibaca pada acara maulid adalah seorang mufti Madinah Syekh Ja’far Al Barzanjen.

      JADI menurut saya dua kubu di atas perlu mereposisi diri masing2 dalam kacamata kubu lain. Yang menganggap maulid adalah bid’ah dolalah silahkan resapi gundah Shalahudin, geliat cinta Syekh Al Barzanjen dalam syairnya, ketika itu, ketika moral pasukan muslim anjlok karena perang salib yang tak kunjung usai….
      Yang menyatakan bahwa memperingati maulid adalah salah satu bukti cinta Rasul SAW, silahkan diresapi syair2 Al Barzanjen mengenai ahlak Rasul yang demikian indah mengharukan sampai menitikkan air mata ketika membacanya….untuk kemudian dicoba dilaksanakan…

      Ayok…buat PR masing2 yah… Saya beri waktu seminggu untuk mengkaji.

      Yang mengatakan Nabi, shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in tdk memperingati hari lahir Nabi, harap pelajari kembali hadits2 Nabi dan juga atsar. Itu PR-nya.

  5. Avatar kahoda

    Shollu Ala Muhammad,,

Tinggalkan Balasan ke abu hashifah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *