Jika Anda membaca sejarah peradaban kaum Muslimin ketika mereka memimpin dunia dengan berlandaskan ajaran Islam, niscaya Anda akan menemukan sosok Umar bin Khoththob yang selalu membela keadilan dan persamaan haq.
Suatu saat, putera Amru bin Ash berlomba dengan seorang anak laki-laki Kristen Koptik. Namun ketika Koptik tersebut menang, putera Amru merasa marah. Lalu ia mengambil cambuk dan memukulnya sambil berkata, “Aku adalah putera pembesar.”
Koptik itu tahu bahwa kaum Muslimin adalah orang-orang yang berakhlaq mulia dan bukan orang yang dengki. Ia tahu bahwa mereka adalah orang-orang adil yang akan memberikan haqnya. Maka ia pun berangkat dari Mesir menuju Madinah untuk bertemu Umar bin Khoththob. Sesampainya di Madinah, ia menemui Umar dan menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dengan putera Amru. Mendengar hal itu, Umar segera mengirim utusan untuk memanggil Amru dan puteranya.
Umar memanggil laki-laki Koptik tersebut dan memberikan cambuk kepadanya sambil berkata, “Pukul putera pembesar ini!” Lalu ia memukul putera Amru.
Kemudian Umar berkata lagi, “Pukulkan cambuk itu ke kepala Amru!”
Koptik itu berkata, “Amru tidak pernah memukulku. Yang telah memukulku hanya anaknya.”
Umar menjawab, “Tapi anaknya telah memukulmu dengan cambuk dan kekuasaan ayahnya. Pukul kepala Amru!”
Kemudian Umar memandang Amr sambil berkata, “Sejak kapan kalian memperbudak manusia? Padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka.”
Pada masa Umar, pemerintahan Islam adalah pemerintahan adidaya. Tetapi Umar tidak bersemboyan ‘Right or Wrong it’s My Country’. Islam datang membawa keadilan dan kedamaian. Tanpa keadilan universal dan hukum yang ‘tidak berpihak’, bagaimana kedamaian dapat diwujudkan? Hanya dengan Islam, dimana hukum yang adil dijunjung tinggi, dunia akan menjadi damai.
(Amru Khalid, Silsilah Hidayah)
Tinggalkan Balasan ke nandy Batalkan balasan