Rasa cinta merupakan rasa suka yang sangat besar. Sedangkan mencintai merupakan suatu perbuatan aktif seseorang terhadap yang dicintainya yang timbul dari rasa cinta. Termasuk dalam ‘mencintai’ adalah merindukan, berkorban, patuh, melindungi, memberi, menerima perlakuan yang dicintai dengan rela, berusaha memahami keinginan yang dicintai dan berusaha menyenangkannya. Itu baru sebagian dari makna mencintai.
Manusia dapat mencintai beberapa hal dengan prioritas dan kadar yang berbeda-beda. Kadar cinta itu dapat mempengaruhi kadar merindukan, berkorban, patuh, melindungi, memberi, menerima perlakuan yang dicintai dengan rela, berusaha memahami keinginan yang dicintai dan berusaha menyenangkan kekasih.
Semakin tinggi kadar cinta seseorang terhadap sesuatu, maka semakin ia rela berkorban untuk sang kekasih, semakin ia merindukan sang kekasih, semakin ia mengingat sang kekasih. Pada tingkatan tertentu, ia merasa bahwa di hadapannya hanya ada sang kekasih, yang ada dalam fikirannya hanyalah sang kekasih. Segala yang dia lihat pasti dikaitkan dengan kekasihnya.
Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan perasaan cinta yang paling mulya. Namun tidak banyak orang yang mempunyai rasa cinta ini di hatinya dengan kadar tinggi. Sedangkan seorang mu’min sejati memiliki kadar cinta yang sangat tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya. Mu’min sejati lebih memilih bersedekah daripada membeli rokok. Saya tidak katakan bahwa perokok itu tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya, tetapi ketika uang rokok mereka lebih besar dari sedekah mereka, maka kadar cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya tampaknya masih lebih rendah dari kadar cinta mereka kepada rokok. Begitu pula para pecandu narkotika dan minuman keras. Bahkan Rasulullah katakan bahwa iman mereka lepas ketika mereka minum khamr ataupun narkotik.
Sayyidina Umar pernah berkata kepada Rasulullah bahwa beliau mencintai Rasulullah melebihi cintanya kepada manusia seluruhnya, kecuali dirinya. Maka Rasul bersabda, “Belum sempurna imanmu hingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Maka saat itu juga Sayyidina Umar berkata, “Aku mencintaimu melebihi cintaku kepada ibu-bapakku dan manusia seluruhnya, serta melebihi cintaku kepada diriku sendiri.”
Mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan kadar cinta yang melebihi kadar kecintaan kepada apa pun merupakan bagian dari iman. Jika kadar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya ini lebih rendah dari kadar cinta kepada yang lain, maka imannya pun belum bisa dikatakan sempurna. Tetapi bukan berarti ia tidak beriman.
Mencintai Allah dan Rasul-Nya juga membutuhkan pengorbanan. Para shahabat rela mengorbankan jiwanya demi melindungi Rasulullah dan kelangsungan da’wahnya. Para shahabat Muhajirin rela meninggalkan harta mereka di Makkah dan hijrah bersama Rasulullah SAW.
Diriwayatkan dan juga tercantum dalam Al-Qur’an bahwa ketika Rasulullah berada di gua Tsur bersama Abu Bakr, Rasul kelelahan dan tertidur. Lalu Abu Bakr melihat ada lubang-lubang ular di gua itu. Maka beliau menyumpal lubang-lubang tersebut dengan pakaiannya yang ia sobek-sobek. Namun masih ada satu lubang yang belum tertutup. Maka ia menutupnya dengan jempol kakinya. Padahal bisa saja dalam lubang itu terdapat ular berbisa. Benar saja, jempol kaki beliau yang mulia pun digigit oleh ular berbisa. Beliau menahan rasa sakit itu hingga keluar peluh yang mengenai pipi putih Rasulullah SAW yang tidur di pahanya. Rasul pun terbangun. Mengetahui shahabatnya tergigit ular berbisa, beliau menyedot keluar bisa itu dengan mulutnya yang mulya. Bisa itu keluar, dan jempol kaki Sayyidina Abu Bakr pun telah terlumuri ludah Rasulullah yang berkah. Lalu Rasul bersabda, “Laa takhof, innallaha ma’ana. Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Demikianlah kondisi seseorang yang begitu mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dia akan siap mengorbankan segalanya bagi Allah dan Rasul-Nya.
Tinggalkan Balasan