Muhammad Ar-Rasul adalah utusan Allah, Nabi Isa adalah utusan Allah, Nabi Musa adalah utusan Allah. Jika mereka menyampaikan hal yang sama, itu karena mereka menyampaikan segala sesuatu dari Allah. Nabi Muhammad bukan menjiplak Nabi Isa, Nabi Isa bukan menjiplak Nabi Musa. Semua Nabi hanya ‘menjiplak’ apa yang Allah sampaikan kepada mereka. Jika adanya kesamaan itu mengindikasikan menjiplak, maka jelaslah bahwa semua pengarang Injil itu saling jiplak, karena adanya kemiripan dalam Injil-Injil karangan mereka. Ketahuilah bahwa semua nabi itu hanyalah manusia biasa, tetapi kepada mereka diturunkan wahyu.
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. (QS. Al-Kahfi: 110)
Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. [Yohanes 17: 7,8]
Perhatikanlah ayat di atas! Itu menunjukkan bahwa Nabi Isa itu adalah utusan Allah. Jadi yang dimaksud “datang dari Allah” itu adalah bahwa Nabi Isa itu datang sebagai utusan dari Allah. Misalnya ada seorang Jenderal datang ke rumah Anda, lalu ia berkata kepada Anda, “Saya datang atas nama Presiden, bukan atas nama pribadi.” Tentu Anda berfikir bahwa orang ini bukanlah Presiden, tetapi utusan Presiden untuk menyampaikan pesan dari Presiden, tetapi orang ini bukanlah Presiden itu sendiri, tetapi mempunyai mandat (authority) dari presiden. Begitu pula setiap Nabi, mereka datang dari Allah, datang atas nama Allah, untuk menyampaikan pesan dari Allah, tetapi mereka bukanlah Allah itu sendiri, tetapi mereka mempunya mandat dari Allah.
Kawanmu (yaitu Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [QS. An-Najm: 2-4]
Jika ada perbedaan antara Al-Qur`an dan Alkitab yang Anda pegang, itu disebabkan Alkitab memang telah diubah. Jangankan Al-Qur`an dengan Alkitab, kitab-kitab dalam Alkitab pun terlihat ada perbedaan. Itu menunjukkan bahwa Alkitab memang bukanlah asli firman Allah, tetapi telah mengalami pengubahan.
Dr.G.C Van Niftrik dan Dr. B.J Bolland berkata: “Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Alkitab; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Alkitab juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia” (Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta,1967, hal 298).
Dikatakan bahwa dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi pada Alkitab yang Anda pegang sekarang terdapat kesalahan-kesalahan. Bukankah ini menunjukkan bahwa Alkitab Anda telah mengalami pengubahan? Dan pengubahan yang terparah adalah pengubahan fakta.
Pengarang yang satu mungkin menjiplak pengarang yang lain. Tetapi para utusan Allah hanya menyampaikan wahyu dari Allah kepada manusia. Para utusan Allah tidaklah mengarang, tetapi menyampaikan wahyu dari Allah.
Tinggalkan Balasan