Sebelum tahun 1960, Indonesia adalah negara yang mengagumkan dalam hal toleransi beragama. Pemeluk agama Islam, Hindu, Kristen, dan Buddha dapat hidup rukun tanpa gangguan, bahkan dari penduduk mayoritas.
Orang-orang Hindu dan Kristen merupakan minoritas. Tetapi Muslim tak pernah memaksa mereka untuk masuk Islam. Bahkan sampai sekarang, hari libur penduduk Indonesia adalah hari Ahad, bukan hari Jum’at. Huruf yang digunakan adalah huruf latin dan bukan huruf Arab. Perusahaan penerbangan nasional Indonesia dinamakan Garuda, bukan Buraq.
Sejarah mengakui bahwa masuknya Islam ke Indonesia bukanlah melalui penaklukan militer, tetapi melalui jalan damai. Seorang Muslim Indonesia bisa saja menggunakan nama pertama yang Araby dan nama sansekerta di belakangnya, misalnya Yusuf Wibisono, Rahma Krisnawati, atau bahkan Dewi Fitriani. Terkadang Muslimin memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad dengan menggelar pertunjukan wayang dengan tokoh Pandawa Lima.
Namun setelah tahun 1960, muncullah ambisi dari Kristiani untuk menghapus Islam dari Indonesia. Usaha-usaha mereka dalam mengkristenkan non-Kristen telah menyebabkan rusaknya keharmonisan antara Kristiani dan non-Kristen.
Usaha Kristenisasi seperti itu merupakan hama bagi persatuan dan kesatuan Indonesia. Kristen tak lagi layak dipertahankan di Indonesia. Penyimpangan mereka sudah sepantasnya dibeberkan agar bangsa ini waspada terhadap Kristen. Jangan sampai terkecoh dan beralih agama ke Kristen.
Akankah kita percaya kepada para penyebar ajaran aneh itu? Akankah kita percaya kepada kitab semacam Bible? Percayakah Anda bahwa Perjanjian Lama merupakan ajaran murni para Nabi? Sedangkan Yahudi telah memperlihatkan keburukan mereka dengan sangat jelas. Akankah tangan-tangan kotor itu menulis ajaran-ajaran suci para Nabi Allah? Di Babilonia, jauh setelah Musa, kaum Yahudi tidaklah menulis kecuali Pentateuch dan kitab para Nabi yang telah mereka kotori dengan nafsu bejat mereka. Akankah kita percaya kepada kitab semacam itu? Perjanjian Lama juga disusun oleh orang-orang biasa yang tak pernah berjumpa dengan Nabi Isa. Akankah kita percaya kepada kitab semacam itu? Dalam Alkitab saat ini telah ditemukan puluhan ribu kesalahan bahkan ratusan ribu. Akankah kita percaya kepada kitab semacam itu? Jika menyalin dari tulisan saja terjadi kesalahan yang banyak, apalagi menyalin dari hafalan yang jauh jaraknya dan tanpa bantuan tulisan sama sekali dari naskah awal.
Berbeda dengan Al-Qur’an yang telah dihafal dan ditulis pada masa Nabi. Lalu dibukukan oleh para shahabat Nabi yang memang menghafalnya ditambah lagi dengan adanya shuhuf-shuhuf (lembaran naskah) dari masa Nabi. Lalu diteliti oleh mereka yang hafal dan telah bertemu langsung dan menjadi murid langsung Nabi Muhammad SAW. Kitab Al-Qur’an tentu layak diimani.
Tinggalkan Balasan ke achmad najib Batalkan balasan