Mari Bermadzhab

Empat madzhab itu seperti Operating System. Windows, Macintosh, dan Linux mempunyai system yang berbeda. Walau pun berasal dari bahasa yang sama, yaitu bahasa mesin, dan dijalankan di perangkat yang sama, yaitu computer. Satu computer tidak bisa mrnjalankan dua OS yang berbeda secara bersamaan. Ketika menggunakan Windows, Anda tidak bisa menjalankan program-program yang hanya bisa dijalankan di Linux, begitu pula sebaliknya. Anda harus memboot dulu lalu mengganti OS Anda dengan Linux, jika ingin menjalankan program-program untuk Linux.

Anda tidak bisa mencampur dua madzhab dalam satu waktu yang sama. Anda harus pindah madzhab dulu sebelum Anda menggunakan pendapat dalam madzhab tersebut. Karena dalam madzhab itu tidak hanya terdapat fiqh, tetapi juga ushul fiqh yang mengatur tata cara ijtihad. Walau pun empat madzhab menggunakan sumber yang sama dan dijalankan dalam Din yang sama, namun mereka punya system yang berbeda dalam ushul fiqh dan fiqh.

Adapun madzhab Syafi’i itu seperti Windows, lebih banyak yang menggunakannya. Mayoritas Ahlussunnah wal Jama’ah dan Syi’ah menggunakan madzhab ini. Mereka memandang bahwa madzhab ini lebih luwes, lebih mudah, dan lebih kuat. Ketika dikatakan madzhab Syafi’i lebih kuat, berarti 3 madzhab lainnya juga kuat. Terbukti bahwa 3 madzhab lainnya masih bertahan hingga saat ini. Tidak seperti madzhab-madzhab di luar 4 madzhab yang saat ini bisa dibilang sudah tak ada yang menggunakannya lagi.

Sebagian orang di zaman ini berkata bahwa mereka bukannya tidak bermadzhab, tetapi hanya membanding-bandingkan di antara pendapat dari empat madzhab, mana yang lebih rojih, istilah kerennya mentarjih. Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun. Inikah bencana kejahilan akhir zaman, di mana orang-orang bodoh menganggap dirinya layak berfatwa, dan orang bodoh datang ke orang bodoh lainnya untuk meminta fatwa?

Saudara-saudariku seiman, wahai ahlul qiblah, untuk mencapai derajat mujtahid yang boleh mentarjih itu ada syarat-syaratnya. Tidak hanya hafal seluruh Al-Qur’an dan ratusan ribu hadits berikut sanadnya. Tetapi juga banyak syarat-syarat lainnya. Sedangkan kita, hafalan Qur’an baru beberapa ayat. Hafalan hadits baru beberapa matan, itu pun tanpa sanad. Dan kita mau mentarjih? Bahkan tak tanggung-tanggung, yang ditarjih bukan pendapat para imam dalam satu madzhab saja, melainkan pendapat dari dua madzhab. Sungguh, ini merupakan sunnah sayyi’ah, kebiasaan yang buruk.

Memang benar bahwa empat mujtahid muthlaq itu bisa salah, bisa pula benar. Sedangkan mereka itu hafal Al-Qur’an dengan tujuh qiro’ah berikut sanadnya, hafal lebih dari satu juta hadits berikut sanadnya. Mereka adalah dari generasi tabi’in dan tabi’it tabi’in. Jika mereka bisa salah, apa lagi orang yang hidup di abad 6H dan 17M, apalagi kita. Lalu kita menyombongkan diri dengan menganggap diri layak untuk mentarjih? Syarat apa yang sudah kita penuhi?

Insyaflah akhi wa ukhti. Jangan memperturutkan hawa nafsu dan ego kalian. Bersikaplah tawadhu seperti empat Imam tersebut. Walau ilmu mereka setinggi langit jika dibanding ilmu kita, tetapi mereka tawadhu dan mengaku bahwa mereka bisa benar dan bisa salah. Lalu mengapa kita mengaku bahwa kita lebih tahu mana yang benar dan mana yang salah? Dari mana kita tahu bahwa Imam Syafi’i benar dalam hal A dan salah dalam hal B? Dari mana kita tahu bahwa Imam Malik salah dalam hal A dan benar dalam hal B? Lalu kita menggunakn madzhab Syafi’i dalam hal A dan madzhab Maliki dalam hal B? Lalu kita mengaku bahwa inilah yang benar semata? Siapa Anda sehingga Anda selalu benar? Bagaimana kalau ternyata kedua pendapat yang Anda ambil itu dua-duanya salah? Siapa yang mau Anda salahkan, sedangkan Anda berijtihad sendiri tanpa ilmu? Sedangkan kami mengikut kepada salah satu madzhab saja. Jika ada yang salah, sesungguhnya kami hanya mengikut kepada ulama yang mujtahid. Ulama mujtahid itu, apabila benar mendapat dua pahala, jika salah mendapat satu pahala. Sedangkan yang berijtihad tanpa ilmu, jika benar tidak mendapat apa-apa, jika salah mendapat dosanya dan dosa orang yang mengikutinya.

Komentar

4 responses to “Mari Bermadzhab”

  1. Avatar Agus Saputra
    Agus Saputra

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    “…Mayoritas Ahlussunnah wal Jama’ah dan Syi’ah menggunakan madzhab ini…”
    Mengutip pengalan kalimat tersebut beberapa hal ingin saya tanyakan
    1. Bagaimana menurut pendapat Bapak bahwa saya lebih menghargai ulama/imam-imam kaum syiah masa kini dibandingkan ulama-ulama wahabi (Al bani, bin Baz, dll)yg banyak menyudutkan ulama-ulama syiah. Sepengetahuan saya, ulama-ulama syiah masa kini lebih arif dan bijak dalam menyikapi khulafaurrasyidin lainnya.

    ‘Alaykum salam wa rahmatullahi wa barakatuh
    Jika Anda bersikap seperti itu, itu urusan Anda. Bagi saya, baik syi’ah maupun wahhabi sama2 ahlul qiblah. Adapun mengenai sikap lebih arif dan bijak dalam menyikapi khulafaurrasyidin selain sayyidina Ali, tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Secara dalam syi’ah itu ada konsep taqiyyah, “bermuka dua” untuk menyembunyikan keyakinan. Dan masih banyak sekte syi’ah yg menuduh yg tidak2 terhadap ketiga khalifah. Adapun mengenai tanah Fadak, Sayyidina Ali tak mengambilnya utk diberikan kpd Hasan dan Husayn selaku ahli waris Sayyidah Fathimah. Tetapi Sayyidina Ali tak dituduh seperti yg dituduhkan kpd ketiga khalifah sebelumnya.

    2. Saya berkeinginan kita merangkaul kaum syiah dan membersihkan noda-noda kotor thd syiah yg banyak dilumuri oleh yang tidak bertanggung jawab. Sebagaimana halnya imam Syafi’i bersahabat dgn cucu Sayyidina Ali kw, yaitu Imam Zaid bahkan beliau tidak ragu untuk mengucapkan bahwa saya adalah Rafidhi jika karena mencintai ahlul bait. Sebagaimana pula halnya ahlul zuhud khalifah Umar bin Abdul Aziz membersihkan noda darah bani Umayah.

    Pernyataan beliau untuk menunjukkan bahwa mencintai ahlul bayt bukan monopoli kaum rofidhi. Ahlus Sunnah pun mencintai ahlul bayt, karena bagian dari iman. Jika dg mencintai ahlul bayt saya dituduh sebagai rofidhi oleh salafiyyun, biarlah saya dituduh rofidhi, namun saya tak akan meninggalkan kecintaan saya kepada ahlul bayt Rasulullah.

    3. Menurut hemat saya, faham imamah lebih mengarah kepada faham/aliran politik dibandingkan faham/aliran aqidah sehingga hal ini menjadikan kita lebih dekat kepada syiah terlebih lagi para imam syiah adalah keturunan ahlul bait.

    Mohon pencerahannya.

    Wassalamu ‘alaykum

    Awalnya memang aliran politik. Namun kemudian melahirkan aqidah tersendiri. Misalnya menganggap Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar serta beberapa shahabat utama telah murtad. Menganggap bahwa Imam Mahdi telah lahir berabad-abad lalu kemudian disembunyikan di suatu tempat dan akan muncul lagi di akhir zaman, dlsb.

    Khawarij pun awalnya adalah karena politik. Namun kemudian melahirkan ajaran tersendiri. Diantara yg ekstrim adalah yg mengatakan bahwa orang yg berdosa besar itu kafir.

    Mu’tazilah pun lahir dari masalah politik. Kemudian melahirkan ajaran bahwa mu`min yg berdosa besar berada di suatu tempat, tidak di neraka dan tidak di surga. Wallahu a’lam.

    Wa ‘alaykum salam.

  2. Avatar Wong Jogja
    Wong Jogja

    Gimana klo saya pake 4 Operating System ?
    Punya saya dah pake “Core 4 Papat ”
    Multiprosesor.

    he he he…..

    Alhamdulillah, saya ikut bahagia dan bersyukur…..
    Para Pemuda Aswaja dah pada muncul di internet….
    Jangan cumen di Pesantren aja.

    tetep aja ga bisa dipake berbarengan. Pas ngejalanin windows ya ga bisa sekalian jalanin linux kan?
    Yang namanya program .exe atau .com ga bisa dijalanin di linux, kecuali Anda menginstal emulatornya seperti wine. Itu pun tidak bisa semua program windows dijalankan di wine. Sebaliknya, program debian juga ga bisa dijalanin di windows.
    Artinya, harus ada ushul yang memungkinkan. Seperti telah dibahas, terkadang fatwanya sama, tetapi ushulnya beda. Artinya, tetap aja dia bermadzhab dalam hal ushul.

  3. Avatar anusia
    anusia

    Bisa bro,linux di pake di windows/sebaliknya, tapi sedikit lebih berat kompinya dan perlu nginstal drivernya 2 kali,semoga imam mahdi segera muncul, sehingga bisa bermahzab pada beliau

    2 operating system dlm waktu bersamaan? ok, katakanlah bisa. Tetapi harus membuat jendela, benar? Dan tetap saja, dlm jendela linux itu yg dijalankan adalah program linux. Bermadzhab seperti memesan paket hemat di restoran. Ketika anda mencampur menunya, anda tdk memesan paket hemat. Bermadzhab bukan kewajiban. Tetapi jika anda tdk bisa memahami syariat kecuali dg jln bermadzhab, maka bermadzhab menjadi wajib.

  4. Avatar zainuddin
    zainuddin

    Pertanyaan saya: siapa sih yang yang pertama kali mewajibkan untuk merbadzhab pada salah seorang mujtahid 4 itu?
    Pemikiran untuk mentarjih menurut saya ada benarnya juga, namun tidak hanya didasarkan pada tekstual nash belaka, namun juga perlu diperhatikan aspek lingkungan masa kini dan kebutuhan riel masyarakat terhadap produk hukum yang fleksibel namun bertanggung jawab, seperti masalah bank,pencangkokan organ trubuh manusia. karena kalau semua itu tidak diperbolehkan, maka saya kuatir fiqh aakan ditinggalkan orang, gmn ustadz? Syukron. jawab ke email jg ya, biar kita dapat berdiskusi lebih lanjut

    Mengenai hukum bermadzhab telah dibahas oleh Habib Munzir. Utk menjadi mujtahid murojjih diperlukan ilmu yg cukup. Dan saya yakin bahwa Anda blm layak utk mentarjih.
    Saya senang anda menyinggung soal hal2 yg blm ada pd masa rasul. Bagaimana menurut anda? Apa langsung kita hukumi bahwa itu semua bid’ah dholalah? Dalam hal2 baru diperlukan ijtihad dr mujtahid. Dg dsr ijtihad para mujtahid itulah kemudian kita bermadzhab, merayakan maulid, tahlilan, dsb. Saya sarankan anda mempelajari tentang ushul fiqh agar dpt memahami sistem bermadzhab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *