Bagaimana Kita Bermadzhab?

Madzhab bermakna tempat orang pergi bertanya. Dulu, jika orang menemui suatu perkara agama yang belum diketahui hukumnya, mereka pergi kepada ulama mujtahid seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal dan imam-imam lainnya yang telah mencapai derajat mujtahid muthlaq. Namun mereka saat ini telah meninggalkan dunia, lalu ke mana kita bertanya?

Akhi, bukankah Rasul juga tidak bisa lagi ditanyai? Kemana para tabi’in bertanya? Kepada ulama dari kalangan shahabat atau ulama tabi’in yang telah berguru kepada para shahabat. Di antara tabi’in dan tabi’it tabi’in terdapat ulama-ulama besar bahkan yang telah dibolehkan berfatwa oleh gurunya. Misalnya Imam Syafi’i yang dibolehkan berfatwa oleh Imam Malik. Saat itu usia Imam Syafi’i baru 16 tahunan, jika saya tak salah ingat. Namun ilmu beliau dan hafalan Qur’an dan haditsnya telah memadai untuk berfatwa.

Kemudian generasi berikutnya belajar dari mereka yang sanadnya bersambung ke salah satu imam. Terkadang ada juga yang mempelajari lebih dari satu madzhab kepada ulama masing-masing madzhab yang sanadnya bersambung kepada para imam tersebut. Dan para imam tentunya sanad mereka bersambung hingga ke Rasul SAW. Kemudian generasi berikutnya seperti itu juga. Mereka memahami Al-Qur’an dan hadits melalui para ulama yang bersambung sanadnya ke Rasul.

Maka dari itu, sanad guru menjadi penting agar kita tidak belajar secara otodidak, baca Qur’an dan hadits langsung berpendapat sendiri tanpa bertanya kepada ulama yang ilmu dan kepahaman mereka itu sanadnya bersambung hingga ke ahli hadits, hingga ke Rasul. Akhirnya pemahamannya keliru, lalu muncul sekte-sekte yang boleh dibilang liberal, karena dia membebaskan dirinya dari kaidah-kaidah yang berlaku.

Taqlid, tanpa buta, adalah cara mudah bagi mereka yang belum cukup ilmunya. Orang yang pergi bertanya kpd imam madzhab itu bukan berarti awam. Banyak di antara mereka yang telah hafal ratusan ribu hadits. Setelah mendapat jawaban sang imam, ia pun mengikutinya, taqlid, bermadzhab.

Pernah imam Muslim menghadapi suatu perkara. Sudah beberapa hari ia bermujahadah, namun belum juga menemukan solusi. Lalu pergilah ia kepada Al-Imam Al-Bukhori. Dengan mudahnya Al-Imam memberikan jawaban. Maka Imam Muslim pun mencium tangan sang imam sambil memuji keilmuan beliau. Padahal kalau Imam Muslim mau, beliau bisa saja berfatwa dengan keilmuan beliau yang mumpuni. Tetapi itu bukanlah adab ahli ilmu.

Apakah itu berarti bahwa Imam Bukhori itu membuat madzhab? Jika beliau menyusun ushul sendiri, lalu berijtihad dengan kaidahnya sendiri dan syarat-syarat lainnya telah beliau penuhi, maka beliau telah membangun madzhab sendiri. Tetapi kenyataannya tidak. Imam Bukhori berijtihad berdasarkan kaidah madzhab Syafi’i. Beliau mujtahid, namun bukan mujtahid muthlaq.

Bolehkah Mencampur Dua Madzhab?

Bermadzhab itu seperti menggunakan operating system untuk computer atau membeli perlengkapan perang dan pertahanan negara. Kita tak bisa membeli radar Amerika dan pesawat Rusia dalam waktu bersamaan. Jika kemarin kita membeli semuanya dari Amerika, lalu sekarang mau membeli pesawat Rusia, maka semua perangkat juga harus diganti dari Rusia.

Masing-masing madzhab mempunyai ushul dan kaidah yang berbeda dalam berijtihad. Punya alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan berbeda dalam memutuskan suatu perkara.

Bagaimana Cara Memilih Madzhab?

Memilih madzhab itu, sebaiknya madzhab yang dipakai oleh mayoritas Muslimin di negeri kita tinggal. Misalnya saya dari kecil tinggal di negeri yang menggunakan madzhab Syafi’i. Saya belajar madzhab Syafi’i sedari kecil dan mengamalkannya. Suatu saat saya pindah ke negeri yang menggunakan madzhab Maliki. Jika saya telah memahami juga madzhab Maliki, maka bolehlah saya berpindah menggunakan madzhab Maliki. Namun bila saya belum memahami madzhab Maliki, bolehlah saya menggunakan madzhab Syafi’i. Yang penting tidak mencampur madzhab. Sistem bermadzhab seperti ini telah dikenal sejak masa salafush shalih. Itulah makanya kita mengenal bahwa fulan adalah ulama dari madzhab Maliki, sedangkan anu adalah ulama dari madzhab Hanafi, dsb. Wallahu a’lam.

Komentar

12 tanggapan untuk “Bagaimana Kita Bermadzhab?”

  1. Avatar Hamzah_M
    Hamzah_M

    Izin copas. wassalam

  2. Avatar ekosulistio
    ekosulistio

    makasih infonya,…. sangat membantu,..

  3. Avatar hasan
    hasan

    misalnya begini kita menemukan sebuah hadist. lalu kita periksa bagaimana keadaan hadist tersebut,, apakah sahih atau dhaif dst, setelah kita tau, lalu kita periksa juga bagaimana penafsiran para ulama tentang hadist itu,, lalu kita pilih pendapat imam syaf’i, & pada hadist lain kita buat begitu juga,, tapi pada hadist itu kita merasa dalam hadist ini pendapat imam malik lebih bisa diterima maka kita memilih pendapat imam malik. apakah hal seperti ini masih disebut taqlid? dan apakah hal ini juga terlarang?

    Menurut syaikh antum, Muhammad al-Utsaimin, taqlid itu adalah
    أن يلتزم مذهباً معيناً يأخذ برخصه، وعزائمه في جميع أمور دينه
    seseorang beriltizam, berpegang pada suatu madzhab tertentu, yang ia mengambil rukhshoh-rukhshohnya (Apa-apa yang tetap dengan dalil syar’i yang khusus pada kondisi adanya udzur. Misalnya seperti sholat sambil duduk atau berbaring.) dan azimah-azimahnya (Apa-apa yang tetap/berlaku secara syar’i, bukan dalam kondisi adanya udzur. Misalnya sholat sambil berdiri.) dalam semua urusan agamanya.

    Sedangkan apa yg antum kemukakan itu adalah mulai masuk kepada usaha menggali hukum. Hanya saja methode seperti yg antum sebutkan itu tidak ada dalam methode 4 madzhab besar.

    Apakah terlarang?

    Menurut syaikh antum, ibnu Taymiyyah:
    من التزم مذهبا معينا ثم فعل خلافه من غير تقليد لعالم آخر أفتاه و لا استدلال بدليل يقتضي خلاف ذلك و لا عذر شرعي يقتضي حل ما فعله فهو متبع لهواه ، فاعل للمحرم بغير عذر شرعي ، و هذا منكر

    “Barangsiapa beriltizam (berkomitmen) dengan suatu madzhab tertentu, lalu ia melaksanakan yang menyelisihi madzhabnya tanpa taqlid kepada ‘ulama lain yang memberinya fatwa dan tanpa istidlal dengan dalil yang menyelisihinya, dan tanpa udzur syar’i yang menunjukkan halalnya perbuatan yang dilakukannya, maka ia adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, pelaku keharoman tanpa ada udzur syar’i, dan ini adalah mungkar.”

    Silahkan cek dlam kitab al-Utsaymin, Ushul min ‘ilmil Ushul

  4. Avatar hassan
    hassan

    lalu bagaimanakah metode 4 madzhab besar itu? harap dijelaskan ustadz
    ,,

    masing2 madzhab mempunyai ushul fiqh
    utk mempelajarinya tidak cukup 1 halaman
    ushul fiqh harus dipahami dg benar
    kemudian dia harus memenuhi syarat2 lainnya utk dapat berijtihad
    harus memahami setidaknya 15 cabang ilmu agama, hafal seluruh Quran, hafal ratusan ribu hadits beserta sanad dan hukumnya.

  5. Avatar Krongthip Mahalakorn
    Krongthip Mahalakorn

    Assalamualaikom wrwb.

    @saudara Hasan

    Disinilah keindahan bermazhab ASWAJA, ianya mempunyai disiplin tertentu untuk diikuti namun semua disiplin itu tidak bercanggah cuma berselisih methode. Contohnya seperti orang melontar Jamrah ketika haji. 4 Mazhab ikutan mempunyai masa sunat berbeda dalam melontar Jamrah tetapi melontar itu pasti. Cth: ada sunat melontar waktu dhuha, ada selepas dzuhur, ada selepas a’sar dan ada mazhab sunat pada waktu malam. Begitu juga dengan rukun-rukun lain. Dengan itu tidaklak menjadi too over crowded pada sesuatu tempat. Bagi golongan yang mengatakan tidak bermazhab saya nggak pasti.

    Di Malaysia dalam hal membayar zakat fitrah kita lakukan dengan dua cara iaitu :-
    i. Dibayar dengan wang kepada amil penguasa -dengan dinilai harga
    segantang beras gred lumrah dikonsium setempat/gred beras
    yang pembayar itu konsium. Kaedah ini bertaqlid dengan mazhab
    Maliki.
    2.Di bayar dengan beras kepada penerima selain amil. (ada juga
    dibayar dengan wang terus mengikut nilai beras bergantung
    penerima.)
    Dalam melaksanakan kaedah ini tudaklah semua orang
    membawa membawa beras tetapi yang akan menerima fitrah itu
    menyediakan beras. Kita beli beras itu dengan jumlah harga sama
    ditetapkan oleh penguasa kemudian kita berikan kepada penerima
    itu. Dalam Mazhab Syafie membayar fitrah ialah dengan meterial spt.
    beras, gandum dan sebagainya.

    Untuk menghuraikan sebab itu memerlukan ruang dan saya kira saudara Hasan boleh fikirin sendiri. Cuma jelas walau methodnya
    berlainan tetapi dari segi nilai harga dan objektifnya sama.

    Oleh itu saya cadangkan kepada saudara Hasan supaya beralihlah
    kepada pegangan bermazhab (ASWAJA -bukan Syiah dan lain2)

    Wallahu a’lam

    ‘alaykum salam wr wb
    Nah di Indonesia ini terkadang amilnya sendiri tidak tau bahwa membayar fitrah dg uang itu bukanlah benar2 dg uang, tetapi ia haruslah ditukar dg beras atau makanan pokok setempat, kemudian makanan pokok itulah yg disalurkan kpd mustahiq. Wallahu a’lam

  6. Avatar hassan
    hassan

    mengapa tak antum coba saja buat artikel tentang bagaimana metode penggalian hukum dalam madzhab syafi’i mungkin mang panjang dan rumit sekali tapi apabila bertahap mugkin bisa , , karena saya rasa hanya sedikit orang yang faham tentang itu, apabila ada yang tak faham kan bisa bertanya,, dengan begitu kn terasa sekali manfaaatnya,,

    memang sedikit sekali yg faham. Dan sayangnya, hamba bukan termasuk yg sedikit itu.

    Dan sekedar mengingatkan, imam syafi’i, sblm menjadi mujtahid muthlaq, beliau terlebih dahulu menghafal qur’an, menghafal muwaththo’, menghafal ratusan ribu hadits lainnya hingga lbh dr 1 jt hadits, mempelajari tafsir dan asbabun nuzul quran, asbabul wurud hadits, dan selama itu beliau beribadah berdasar madzhab maliki. Dikatakan bhw imam syafi’i memindahkan catatan2 yg memenuhi kamarnya (entah berapa ratus ribu halaman atau mungkin brp juta halaman) ke kepalanya.

    Sekarang Anda mengetahui betapa kuatnya para imam itu. Namun mereka pernah bermadzhab.

  7. Avatar hassan
    hassan

    apabila kita telah bermadzhab syafi’i berarti kita harus mengikuti ketetapan madzhab syafi’i dalam semua permasalahan dari mulai ibadah sampai mu’amalah dll. apabila dalam suatu masalah hadist yang dijadikan rujukan oleh madzhab syafi’i itu ternyata dilemahkan oleh ulama-ulama ahli hadist apakah kita masih harus berpegang pada madzhab syafi’i dalam masalah itu? atau boleh berpegang pada hadist sahih yang dijadikan rujukan oleh madzhab lain?

    Jika Anda mengikut pd madzhab syafi’i berarti Anda taqlid. Jika anda mengikut hadits berarti Anda ijtihad. Taqlid adalah mengikut perkataan yg bukan hujjah. Yg dimaksud hujjah ini adalah quran dan hadits, dan menurut sebagian pendapat, ijma’ shahabat juga termasuk hujjah. Demikian menurut syaikh antum, al-Utsaymin.

  8. Avatar hassan
    hassan

    jika antum berhadapan dengan persoalan yang saya kemukakan, apa yang akan antum lakukan? apkah akan tetap berpegang pada madhab antum yang antum sendiri mengetahui bahwa hadistnya itu dilemahkan oleh para ulama ahli hadist,, atau antum akan mengikuti madzhab lain yang berpgang pd hadist sahih?

    ane akan tetap mengikuti madzhab yg ane pegang. Karena para imam itu telah berijtihad dg benar, maka hasilnya adalah berpahala. Mungkinkah Allah akan menghukum kita karena mengikuti hasil ijtihad yg dilakukan dg benar? Imam itu akan bertanggung jawab atas perbuatan ma’mum yg mengikut padanya. Jika kau keluar dr jama’ah imammu, maka kau bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri.
    Padamu hadits yg shahih, tetapi engkau tak memahami hadits itu dg benar, tak tahu syarhnya, asbabul wurudnya, sikap shahabat terhadapnya, dsb. Maka engkau bicara tentang hadits tanpa ilmu, engkau berijtihad tanpa ilmu. Maka hasil ijtihadmu adalah berdosa dan tak layak diikuti. Bagaimana seseorang akan taqlid kpd muqollid?

    Bagaimana pula engkau akan berma’mum kepada 2 imam pada waktu bersamaan? Dapatkah engkau shalat di belakang 2 imam sekaligus?

    Sebagian madzhab berkata bhw bersentuhan kulit dg non-muhrim tdk membatalkan wudhu jika tanpa syahwat. Tetapi hadits itu didha’ifkan raja muhadditsin, imam al-bukhari. Namun mereka tetap pada pendapat madzhab mereka. Karena memang demikianlah cara bermadzhab.
    Juga mengenai menggerak2kan jari, haditsnya mengandung keganjilan. Tetapi mereka tetap pada madzhab mereka. Karena demikianlah seseorang bermadzhab.

    Lalu datanglah sekelompok kaum mengacaukan sistem ini. Mereka larang ummat taqlid kepada salah satu madzhab, lalu mereka suruh ummat agar taqlid kpd mereka saja. Semua pendapat mereka dianggap benar dan diikuti. Padahal mereka tak punya sanad, mereka berijtihad tanpa ilmu yg benar, tanpa syarat2 yg memadai, dan kelemahan2 lainnya. Maka ketahuilah olehmu bhw mereka adalah ulama2 lemah. Karena sanad mereka terputus, maka mereka adalah ulama2 palsu. Mereka tak bisa dijadikan imam. Jika engkau mengikut mereka, maka sesungguhnya engkau tak punya imam, kecuali hawa nafsumu.

  9. Avatar hassan
    hassan

    syukron mas atas penjelasannya,, ana mau nanya dizaman tabi’in dulu tentunya mereka belajar pada para sahabat,, apakah mereka hanya belajar pada satu sahabat atau bagaimana?

    mereka belajar dari banyak shahabat

  10. Avatar hassan
    hassan

    mas maaf ya pertanyaan ana kali ini keluar dari artikelnya,, ana baca di kitab-kitab fiqh tenang jal beli dan ana dapati ada jual beli yang terlarang tapi sah,, contohnya
    membeli barang yang sudah dibeli atau dalam proses tawaran orang ain. “janganlah seseorang menjual sesuatu yang telah dibeli orang lain (H.R.bukhari dan muslim)
    lalu ada juga jual beli yang terlarang dan tidak sah contohnya
    jual beli sperma binatang.’nabi saw telah melarang menjual air mani binatang jantan” (H.R muslim dan nasa’i)
    mengapa bisa terdapat perbedaan hukum sperti itu,, bagaimana proses/jalannya hingga ulama dapat minyimpulkan hukum spti diatas?

    wallahu a’lam. setau hamba yg bodoh ini, membeli barang yang kita tau sudah ditawar orang lain adalah haram, kecuali telah lewat masa khiyar. Misalnya hamba ingin menjual handphone kpd teman. Lalu teman berkata, “tolong tahan, besok insya Allah saya ambil”. Lalu sorenya datang teman yg lain ingin membelinya. Maka haram menjualnya kpd teman yg kedua hingga lusa. Teman kedua, karena telah saya beritau bahwa barang tersebut telah ditawar teman pertama, maka ia harus bersabar hingga lusa. Jika lusa handphone itu blm dibeli teman pertama, maka bolehlah dibeli oleh teman yg kedua.

    dalam kepemilikan harta benda ulama membagi 3 yaitu:
    1.kepemilikan penuh

    misalnya hamba mempunyai handphone sendiri (apakah ia hamba beli sendiri atau pemberian dari orang lain) yang hamba pegang sendiri. maka hamba berhaq menjualnya, menggunakannya, dsb.

    2.kepemilikan materi

    misalnya hamba mempunyai handphone sendiri, kemudian hamba pinjamkan kepada adik hamba. Hamba pemilik materinya, namun hamba tidak mengambil manfaat darinya. Atau hamba menyewakan notebook kepada seseorang. Maka selama masa penyewaan, hamba tidak dibenarkan menggunakannya tanpa seizin orang tersebut. hamba yg menguasai materinya, tetapi hamba tidak dapat menggunakannya selama masa penyewaan.

    3.kepemilikan manfaat
    harap diberikan contohnya masing-masing ya mas, biar saya faham

    misalnya hamba dipinjamkan rumah oleh ayah hamba untuk ditempati. hamba dapat menggunakannya, tetapi tak dapat menjualnya. atau hamba menyewa rumah dari seseorang untuk hamba tempati selama beberapa waktu yg ditentukan. Maka selama masa tersebut, hamba boleh menempatinya, tetapi hamba tidak menguasai rumah tersebut, sehingga hamba tidak boleh menjualnya atau merusaknya. wallahu a’lam

  11. Avatar Krongthip Mahalakorn
    Krongthip Mahalakorn

    Assalamualaikom wr.wb

    @ saudara Hassan

    Daripada penelitian saya rasanya saudara sekarang sedang mengalami konflik keyakinan pegangan/amalan berkaitan pegangan saudara sekarang.

    Nah Bersyukurlah! Perasaan kritis itu tandanya pintu hati mulai terbuka. Siapa yang bisa membuka pintu hati anda?
    Ana atau Mas Admin atau YM Sheikh Habib? Oh…Tidak mungkin!
    Yang bisa melakukan hanya Dia, Allah. Makanya ketahuilah saudaraku bahawa anda termasuk orang dikasihi Allah.
    Mengapa ana berkata begitu kerana ikutan Wahhabi yang ana jumpa begitu keras tuturkata, kasar bahasanya dan juga ego sikapnya. Ente berbeda.

    Tak Kenal maka tak cinta
    tapi kapan………
    mahu kenal dan kapan pula mahu jatuh cinta
    kalau hanya menari di tepian gelanggang.
    Ayuh dong ! Panjangkan langkahmu.
    Berlangkahlah dengan langkah Rabbani
    pinggirkan segala hasutan Syaithani,
    persiakan godaan hawa nafsumu.
    bertawakkalah itu kuncinya Iman
    namun usaha perlu menjana jiwa
    fikir perlu untuk mendidik qalbu
    Ilmu perlu membuka mata
    moga yang diluar dan di dalam menjadi satu
    supaya tampak jalan yang satu
    jalan Ilahi yang pasti dituju

    (ilham muncul secara tiba2-he…he…he)

    Sentiasalah berdoa kepada Allah

    Wallahu a’lam

  12. Avatar hassan
    hassan

    syukron ustad,, lalu menurut antum apa saja yang termasuk jual beli yang sah tapi terlarang dan bagimana jalannya sehingga ulama dapat menetapkan hukum jual beli yang sah tapi terlarang dan jual beli yang terlarang dan tidak sah ?

    @Krongthip Mahalakorn
    amiin,, beruntung sekali tentunya apabila saya ini termasuk hamba yang dicintai oleh sang Khalik,,,

    jika haram, maka terlarang dan tdk sah. Jika makruh, maka terlarang, namun mungkin saja sah. Jadi larangannya bersifat makruh. Ahsan ditinggalkan, walau sah. Spt jual beli di masjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *