Beberapa hari telah berlalu, Yesus telah mengerti keinginan dari para pejabat agama. Maka beliau mendaki Bukit Zaitun, tempat di mana ia biasa berdoa dan mengadu kepada Allah. Di kepagian itu Yesus berdoa, “Oh Allah, aku tahu bahwa para penulis purbakala (penatua, ahli Torat) itu benci padaku, dan para pejabat agama itu berkemauan untuk membunuh aku, hamba-Mu; karena itu, Allah Tuhan Mahakuasa dan Mahapengasih, dalam kasih dengarkanlah doa-doa dari hamba, dan selamatkanlah aku dari jerat-jerat mereka, demi Engkau adalah juru selamatku.â€
Setelah selesai berdoa, datanglah malaikat Gabriel, berkata, “Jangan gentar, oh Yesus, karena beribu-ribu yang berdiam di atas langit menjaga pakaian-pakaian engkau, dan engkau tiada akan wafat sampai segala sesuatu digenapi, sedangkan dunia ini akan hampir menjelang pengakhirannya.â€
Yesus menjatuhkan mukanya ke tanah seraya bersujud dan berkata, “Oh Mahabesar Allah, betapa besar Kasih-Mu kepadaku, dan apakah gerangan yang akan aku berikan pada-Mu, Allah, untuk imbalan semua yang telah Engkau Anugerahkan kepadaku?â€
Malaikat Gabriel menjawab, “Bangkitlah Yesus, dan ingatlah Abraham, yang sudi membuat korban kepada Allah dengan anak kandungnya Ismail, untuk menggenapi Firman Allah dan pisau tidaklah mempan memotong anaknya, percayalah dialihkan dengan seekor kibas untuk korban. Bahkan demikian justeru akan engkau laksanakan, oh Yesus, hamba Allah.â€
Yesus menjawab, “Mau, tetapi di mana akan aku jumpai anak domba itu, padahal aku tiada mempunyai uang, dan adalah tidak sesuai undang-undang untuk mencurinya.â€
Pada hal itu Malaikat Gabriel telah menyediakan kepadanya seekor domba, yang dipersembahkan Yesus dalam korban, seraya memuja dan memuliakan Allah Yang Mahaluhur selama-lamanya.(1)
Demikianlah Yesus juga melakukan korban selayaknya ajaran Ibrahim, begitu pula Nabi Muhammad dan ummatnya. Dan Jibril juga menunjukkan bahwa Yesus tidak akan wafat hingga menjelang akhir zaman. Setelah Yudas menggantikan posisinya di tiang salib, sebagaimana kibas yang menggantikan Ismail, Yesus diangkat ke langit. Dan menjelang akhir zaman, Yesus diturunkan kembali untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad, suatu hal yang sangat diinginkannya. Yesus begitu ingin menjadi pelayan Muhammad Rasulullah saaw hingga berkata, “Aku harap aku pantas untuk membuka tali kasutmu, wahai Muhammad Rasulullah!â€(2) Yesus begitu merendah di hadapan tuannya, Muhammad Rasulullah saaw, bahkan ia rela untuk membungkuk untuk membuka tali sepatu beliau saaw. Bagi Yesus, kaki Muhammad Rasulullah berada di atas kepalanya. Sebagaimana malaikat telah sujud menghormat Adam, begitu juga Yesus sangat ingin membungkuk dan melayani Muhammad Rasulullah saaw.
(1) Lihat Barnabas Psl. 13.
(2) Barnabas pasal 44.