Penulis: adminSN

  • Shalat adalah Anugerah

    Sebagian kita sering menganggap bahwa shalat kita merupakan persembahan ataupun hadiah dari kita untuk Allah. Anggapan itu bisa diterima. Namun, tidak salah juga jika kita menganggap bahwa shalat itu merupakan anugerah dari Allah bagi kita.

    Kita tidak mungkin bisa shalat kalau bukan dengan taufiq dari Allah. Maka sungguh beruntung orang-orang yang digerakkan Allah untuk mendirikan shalat. Allah telah mengangkat diri yang hina ini ke istana-Nya yang suci di dalam shalat.

    Kita sangat memerlukan shalat. Dengan shalat itu, kita dapat mi’raj dan mendekat kepada Allah. Tidak hanya Nabi Muhammad yang mulya saja yang dapat mi’raj kepada Allah. Allah telah memberi kita ‘tangga’ yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sepulangnya dari mi’raj kepada Allah.

    Allah memberi kita shalat sebagai ‘tangga’ karena Dia ingin supaya kita semua dapat bertemu dengan-Nya, mengungkapkan segala perkara kita kepada-Nya, mengobati kerinduan kita pada-Nya, dan bermanja-manja dalam dialog suci dengan-Nya. Ingatkah Anda bagaimana sikap Nabi Musa as ketika diajak berdialog oleh Allah di lembah Thuwa yang disucikan? Lembah itu merupakan masjid tempat Nabi Musa as bermanja-manja dihadapan Allah dengan memanjangkan dialognya.

    Ibnul Qayim menceritakan: Allah menyeru Adam dengan mengatakan, “Wahai Adam! Janganlah gelisah karena firman-Ku kepadamu: keluarlah dari surga! Surga itu Aku ciptakan untukmu. Tetapi turunlah dulu ke bumi, rendahkanlah dirimu di hadapan-Ku dan pasrahlah dalam mencintai-Ku. Apabila kerinduanmu kepada surga dan kepada-Ku bertambah, datanglah! Niscaya Aku akan memasukkanmu lagi ke dalam surga. Wahai Adam! Apakah engkau berharap bahwa Aku membuatmu kudus, suci dari dosa?”
    Kata Adam, “Benar, wahai Tuhanku!”
    Kemudian Allah berfirman, “Wahai Adam! Andai Aku membuatmu kudus, membuat anak cucumu suci dari dosa, lantas kepada siapakah Aku berikan kemurahan hati-Ku? Kepada siapakah Aku limpahkan kasih-Ku? Dan untuk siapakah ampunan-Ku? Wahai Adam! Sebuah dosa yang membuatmu menghinakan diri di hadapan Kami, lebih Kami cintai daripada sebuah ketaatan yang engkau bangga-banggakan di hadapan Kami.”

    Allah memanggil kita yang telah berlumur dosa ini untuk datang ke istana-Nya yang suci. Dengan sholat yang Allah anugerahkan kepada kita, kita dapat mi’raj dan datang menghadap-Nya untuk mendapat limpahan kasih-sayang dan ampunan dari-Nya. Setiap dosa yang telah kita perbuat itu semestinya cukup untuk memanggil kita agar pulang kepada-Nya. Dan kita akan mendapati-Nya sebagai Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.

    Jika Anda pergi ke luar negeri untuk beberapa tahun, dan Anda merasa rindu kepada orangtua Anda, tentu Anda akan mengobati kerinduan Anda dengan sering menelpon orangtua Anda. Jika kerinduan itu sudah semakin memuncak dan tidak bisa lagi diobati dengan komunikasi jarak jauh, mungkin Anda akan memutuskan untuk pulang. Demikianlah yang terjadi pada banyak ulama. Mereka mengobati kerinduan kepada Allah dengan mendirikan sholat. Namun ketika kerinduan itu tak bisa lagi diredam, tak lama kemudian, Anda akan melihat ulama shalih itu ‘pulang’ kepada Allah. Seorang murid yang peka, tentu akan gusar jika gurunya sudah mulai mengutarakan kerinduannya kepada Allah. Mereka khawatir tak lama lagi guru mereka akan ‘pulang’.

  • HANYA ENGKAU

    Suatu pagi ada pesan singkat masuk ke telpon genggam saya, bunyinya kira-kira, “Bang, saya ada perlu nih. Boleh ga saya pinjm uang 500rb? Ba’da Idul Fitri saya lunasi deh. Klo bkn ama Abang, ama siapa lg saya minta tlg.”

    Pesan itu mengingatkan saya akan doa para nabi dan shalihin yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penolong. Di antara doa mereka yang terekam dalam Al-Qur’an adalah:

    Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya`: 87)

    Ketika berada dalam perut ikan, nabi Yunus menyeru Allah dengan penuh kesadaran bahwa tidak ada yang dapat menolongnya kecuali Allah. Tidak ada yang bisa diharapkan kecuali Allah.

    Hanya Allah yang dapat mengeluarkan kita dari gelapnya dosa. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan segala penyakit dalam diri kita, baik penyakit zhahir mau pun penyakit bathin. Hanya Allah saja yang ada ketika kita dalam keadaan terjepit.

    Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS. Asy-Syu’ara: 75-82)

    Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya`: 83-84)

    Maka sudah semestinya jika kita hanya meminta dan bersyukur pada-Nya. Sudah semestinya jika kita menyembah dan memberi persembahan berupa amal baik kita hanya kepada Allah. Tidak sepantasnya kita meminta kepada yang selain Allah. Tidak sepantasnya kita bersyukur kepada selain Allah. Tetapi lihatlah sebagian manusia yang meminta kepada makhluq yang dianggap menguasai laut atau gunung. Lihatlah mereka yang memberikan persembahan berupa makanan yang dilarung di lautan atau dilemparkan ke dalam kawah. Apakah mereka menganggap bahwa ada penguasa lain selain Allah? Adakah yang memberi mereka rizqi selain Allah? Adakah yang dapat menyelamatkan mereka selain Allah?

    Mereka hanyalah mengikuti perkataan bapak-bapak mereka yang terdahulu, sedangkan bapak-bapak mereka bukanlah orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah. Apakah kita mesti mempertahankan adat dari orang-orang jahiliyah yang menyembah tuhan-tuhan palsu selain Allah?

    Islam turun di tanah Arab yang saat itu masih melakukan adat-adat pagan. Islam datang untuk menghapus paganisme. Maka sudah selayaknya bagi seorang Muslim untuk meninggalkan adat-adat buatan manusia yang bertentangan dengan ajaran Islam.

    Lihatlah orang-orang kristen yang telah memelihara adat dari Mesir Kuno yang menuhankan Horus! Mereka telah memaksa Nabi Isa as utk menjadi mirip dengan Horus.

  • MANUSIA YANG TIDAK BERDOSA SELAIN YESUS

    Di dalam ajaran Kristen, akidah ini sangat penting. Kepercayaan penebusan dosa mereka bentuk begitu rupa, seolah-olah semua manusia berdosa. Oleh karena semuanya berdosa dan seorang pun tidak ada yang bebas dari dosa, maka sangat diperlukan seorang penebus dosa dan juru selamat. Dia harus bersih dari dosa itu.

    Karena semua manusia secara turun menurun sudah bergelimang dalam dosa, maka di antara mereka tak ada seorang pun yang dapat menjadi penebus dosa. Namun, Yesus adalah Tuhan. Dia menjelma dalam bentuk jasad seorang manusia. Karenanya, dia tidak punya dosa. Selanjutnya hanya dialah yang dapat mengganti kerugian manusia dan menawarkan jadi penebus dosa.
    Sekarang, kalau kita dapat membuktikan bahwa manusia atau manusia-manusia telah menjalani hidup yang bersih dan bebas dari dosa, maka pandangan agama Kristen itu berarti gugur. Ajaran penebusan dosa akan menjadi berantakan.

    Orang-orang Kristen yang menganut akidah penebusan dosa, tak seorang pun yang percaya bahwa para nabi itu adalah orang-orang bersih dari perbuatan dosa. Dr. Philips sendiri bersikeras mengatakan bahwa tak ada kemungkinan ada manusia yang tidak berdosa.

    Dari Perjanjian Baru secara jelas dapat kita ketahui bahwa hamba-hamba Tuhan itu terbagi ke dalam dua macam yang jahat dan ada yang baik. Orang yang mengatakan semua manusia itu berdosa, berarti dia mendustakan keterangan-keterangan Perjanjian Baru yang jelas tersebut. Injil mengatakan:

    “Sebab aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Matius 13:17).

    “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45).

    “Seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabiNya yang kudus” (Lukas 1:70).

    “Sebab tidak pernah nubuwat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah” (Surat Petrus Yang Kedua 1:21).

    “Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar” (Lukas 13:28).

    “Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya” (Surat Yohanes Yang Pertama 5:18).

    “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga ………. Sebab demikian juga yang teraniaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).

    Pertama:
    Ayat-ayat di atas secara gamblang mengungkapkan bahwa para nabi itu suci, tak berdosa. Mereka telah diciptakan oleh Allah dan adalah penghuni KerajaanNya. Syaitan tidak pernah menyentuh mereka. Mereka dianiaya demi mempertahankan ketakwaan mereka. Adalah jelas, orang yang mencapai martabat rohani seperti itu tidak mungkin berbuat dosa. Syaitan juga tak pernah mampu mengungguli mereka. Bagaimanapun juga, orang yang suka bertengkar sekalipun, dengan adanya keterangan ayat-ayat ini, akan mengakui bahwa di kalangan Bani Adam (manusia keturunan Adam) terdapat orang-orang yang berdosa dan jahat dan ada pula orang-orang yang saleh. Tidak seluruhnya jahat dan berbuat dosa. Sekalinya kita menerima kebenaran ini, maka akidah Kristen menjadi batal dan bangunan anggun Penebusan Dosa menjadi berantakan.

    Kedua:
    Allah Swt. menjadikan dan mengutuskan para nabi sebagai teladan dan panutan yang terbaik. Mereka datang memberi pelajaran kepada manusia lewat imbauan. Dikatakan;….Namun bertahun-tahun lamanya Engkau melanjutkan sabarMu terhadap mereka. Dengan RohMu Engkau memperingatkan mereka” (Nehemia 9:30).
    Sekarang, sekiranya nabi sendiri terlibat dalam perbuatan jahat, bagaimana mungkin mereka dapat menjadi teladan dan contoh untuk orang-orang lain dan menjadi pengawas mereka? Jelas, apabila para nabi dikatakan berdosa, hal demikian berarti nubuwatan-nubuwatan mereka dusta; dan ini jelas tidak benar dan akidah bahwa semua nabi berdosa juga batal (gugur).

    Ketiga:
    Kitab Suci Bibel menjadi saksi bahwa banyak sekali orang saleh dan suci telah berlalu. Mereka sepanjang hidupnya tunduk kepada Allah dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Mereka tidak pernah membangkang. Saya akan menyebutkan beberapa di antara orang-orang suci itu:

    1. Yohanes (Yahya) Pembaptis dikatakan oleh Bibel sebagai orang suci dan berakhlak yang tak bernoda. Coba baca ayat-ayat berikut:
    “Sebelum ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya” (Lukas 1:15).
    “Tangan Tuhan menyertai dia” (Lukas 1:66).
    “Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel” (Lukas 1: 80).
    “Sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melingunginya” (Markus 6:20).
    “Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis’” (Markus1:4).
    “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripadanya’” ( Matius 11:11)
    “Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: ‘Ia kerasukan setan’. Kemudian anak mereka berkata: ‘Manusia datang. Ia makan dan minum, dan mereka berkata: ‘Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum. Sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya’” (Matius 11: 18).
    “Pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakaria, di padang gurun” (Lukas 3:2).
    Dari ayat-ayat ini terbukti bahwa Yohanes (Yahya) adalah seorang suci dan bersih dari dosa. Ia seorang yang menerima wahyu Tuhan. Tangan Tuhan di atas tangannya dan dia sejak di dalam rahim ibunya sudah dipenuhi oleh Roh Kudus. Lagi pula dia pembaptis orang-orang yang berdosa untuk bertobat dan untuk menyelamatkan manusia yang penuh dosa. Dia terbesar dari antara orang-orang yang dilahirkan dari rahim perempuan. Mungkinkah insan seperti ini orang berdosa? Saya berpendapat tak akan ada orang Kristen yang berakal akan menetapkan Yohanes atau Yahya orang berdosa, terutama setelah terbukti bahwa Isa Almasih dibaptis secara khusus oleh Yohanes sendiri. Saya menyampaikan tantangan kepada semua orang Kristen untuk membuktikan berdasarkan Bibel bahwa Yohanes itu berdosa.

    2. Habel anak Adam. Habel juga seorang suci dan benar dalam tiap perbuatannya. Tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Dalam Perjanjian Baru dikatakan:
    “Supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakaria anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah” (Matius 23:55).
    “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik itu dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibrani 11:4).
    “Bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya dia membunuh? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar” (Yohanes 3:12).

  • Prasangka Buruk

    Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka! Karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. (Al-Hujurat: 12)

    Sebagian manusia menilai orang lain dari luarnya saja dan dari ‘kejauhan’. Pria berambut gondrong sering disangka jahat. Padahal banyak pria berambut pendek dan rapi yang perbuatannya justeru sangat jahat dan menyengsarakan banyak orang. Wanita berdada rata disangka lesbian, atau laki-laki berwajah agak mirip wanita dianggap homo. Padahal mereka tidak melakukan operasi, mereka seperti itu sudah kehendak Allah. Sedangkan tingkah laku dan sifat mereka adalah normal, yang wanita berhasrat kepada pria, yang pria berhasrat kepada wanita.

    Maka benarlah segala firman Allah. Sungguh kebanyakan prasangka itu merupakan perbuatan dosa. Karena prasangka, kita menuduh yang tidak-tidak kepada seseorang. Bahkan mungkin kita menyakiti hati orang tersebut dengan perkataan yang jahat yang didasari prasangka kita yang salah. Sebagian manusia lebih suka menuduh daripada mengenal lebih dekat dan berusaha memahami perihal sesungguhnya.

    Lupakah kita, bahwa ada hari pembalasan disana? Jika Anda adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka bicaralah yang baik atau diam. Banyak manusia yang masuk ke dalam neraka karena kurang pintar menjaga lisan.

    Kata ‘diam’ dalam bahasa Arab memiliki akar yang sama dengan kata ‘puasa’. Dalam kebiasaan bani Israel juga dikenal puasa dimana seseorang bukan menahan diri dari makan, minum dan hubungan seks. Tetapi puasa dimana seseorang menahan diri dari berkata-kata. Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Zakariya as. dan Sayidah Maryam. Ketika dituduh berzina oleh masyarakat di sekitarnya, Sayidah Maryam memberi isyarat bahwa ia sedang berpuasa dari bicara dan menunjuk kepada Nabi Isa yang sedang ditimangnya supaya mereka bertanya saja kepada bayinya itu agar menjelaskan perihal sesungguhnya.

    Mengklarifikasi dengan cara yang kurang bijaksana terkadang membuat seseorang merasa dipojokkan dan diadili. Tetapi klarifikasi lebih baik daripada Anda berprasangka buruk. Sayangnya, sebagian kita bertanya bukan untuk meminta penjelasan melainkan untuk mengejek atau memaksa orang tersebut untuk membenarkan prasangka kita. Wallahu a’lam.

    Baca juga:
    Su`uzhzhon

  • Apakah Syiah Itu?

    Syiah adalah aliran sempalan dalam Islam dan Syiah merupakan salah satu dari sekian banyak aliran-aliran sempalan dalam Islam. Sedangkan yang dimaksud dengan aliran sempalan dalam Islam adalah aliran yang ajaran-ajarannya menyempal atau menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW, atau dalam bahasa agamanya disebut Ahli Bid’ah.
    Selanjutnya oleh karena aliran-aliran Syiah itu bermacam-macam, ada aliran Syiah Zaidiyah ada aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariah ada aliran Syiah Ismailiyah dll, maka saat ini apabila kita menyebut kata Syiah, maka yang dimaksud adalah aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariah yang sedang berkembang di negara kita dan berpusat di Iran atau yang sering disebut dengan Syiah Khumainiyah.
    Hal mana karena Syiah inilah yang sekarang menjadi penyebab adanya keresahan dan permusuhan serta perpecahan didalam masyarakat, sehingga mengganggu dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita.
    Tokoh-tokoh Syiah inilah yang sekarang sedang giat-giatnya menyesatkan umat Islam dari ajaran Islam yang sebenarnya.

    Syiah Menurut Bahasa

    Kata Syiah berasal dari bahasa Arab yang artinya pengikut, juga mengandung makna pendukung dan pecinta, juga dapat diartikan kelompok.
    Sebagai contoh : Syiah Muhammad artinya pengikut Muhammad atau pecinta Muhammad atau kelompok Muhammad.
    Oleh karena itu dalam arti bahasa, Muslimin bisa disebut sebagai Syiahnya Muhammad bin Abdillah SAW dan pengikut Isa bisa disebut sebagai Syiahnya Isa alaihis salam.
    Kemudian perlu diketahui bahwa di zaman Rasulullah SAW Syiah-syiah atau kelompok-kelompok yang ada sebelum Islam, semuanya dihilangkan oleh Rasulullah SAW, sehingga saat itu tidak ada lagi Syiah itu dan tidak ada Syiah ini.
    Hal mana karena Rasulullah SAW diutus untuk mempersatukan umat dan tidak diutus untuk membuat kelompok-kelompok atau syiah ini syiah itu.
    Allah berfirman :

    “ Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai (berkelompok-kelompok).”

    Tapi setelah Rasulullah SAW wafat, benih-benih perpecahan mulai ada, sehingga saat itu ada kelompok-kelompok atau syiah-syiah yang mendukung seseorang, tapi sifatnya politik.
    Misalnya sebelum Sayyidina Abu Bakar di baiat sebagai Khalifah, pada waktu itu ada satu kelompok dari orang-orang Ansor yang berusaha ingin mengangkat Saad bin Ubadah sebagai Khalifah. Tapi dengan disepakatinya Sayyidina Abu Bakar menjadi Khalifah, maka bubarlah kelompok tersebut.
    Begitu pula saat itu ada kelompok kecil yang berpendapat bahwa Sayyidina Ali lebih berhak menjadi Khalifah dengan alasan karena dekatnya hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah SAW. Tapi dengan baiatnya Sayyidina Ali kepada Khalifah Abu Bakar, maka selesailah masalah tersebut.
    Oleh karena dasarnya politik dan bukan aqidah, maka hal-hal yang demikian itu selalu terjadi, sebentar timbul dan sebentar hilang atau bubar.
    Begitu pula setelah Sayyidina Ali dibaiat sebagai Khalifah, dimana saat itu Muawiyah memberontak dari kepemimpinan Kholifah Ali, maka hal yang semacam itu timbul lagi, sehingga waktu itu ada kelompok Ali atau Syiah Ali dan ada kelompok Muawiyah atau syiah Muawiyah.
    Jadi istilah syiah pada saat itu tidak hanya dipakai untuk pengikut atau kelompok Imam Ali saja, tapi pengikut atau kelompok Muawiyah juga disebut Syiah.
    Argumentasi tersebut diperkuat dengan apa yang tertera dalam surat perjanjian atau Sohifah At-tahkim antara Imam Ali dengan Muawiyah, dimana dalam perjanjian tersebut disebutkan:

    “Ini adalah apa yang telah disepakati oleh Ali bin Abi Talib dan Muawiyah bin Abi Sufyan dan kedua Syiah mereka.” (Ushul Mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah)

    Dengan demikian penyebutan kata syiah pada saat itu memang sudah ada, tetapi hanya dalam arti bahasa dan dasarnya hanya bersifat politik dan bukan landasan aqidah atau mazhab.
    Adapun aqidah para sahabat saat itu, baik Imam Ali dan kelompoknya maupun Muawiyah dan kelompoknya, mereka sama-sama mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
    Hal ini dikuatkan oleh keterangan Imam Ali, dimana dalam suratnya kepada Ahli Amsor, beliau menceritakan mengenai apa yang terjadi antara beliau (Imam Ali) dengan Ahli Syam (Muawiyah) dalam perang Siffin sbb:

    “Adapun mas’alah kita, yaitu telah terjadi pertempuran antara kami dengan ahli syam (Muawiyah dan Syiahnya). Yang jelas Tuhan kita sama, Nabi kita juga sama dan da’wah kita dalam Islam juga sama. Begitu pula Iman kami pada Allah serta keyakinan kami kepada Rasulullah, tidak melebihi iman mereka, dan iman mereka juga tidak melebihi iman kami. Masalahnya hanya satu, yaitu perselisihan kita dalam peristiwa terbunuhnya (Kholifah) Usman, sedang kami dalam peristiwa tersebut, tidak terlibat.” (Nahjul Balaghoh – 448)

    Selanjutnya, oleh karena permasalahannya hanya dalam masalah politik yang dikarenakan terbunuhnya Khalifah usman RA dan bukan dalam masalah aqidah, maka ketika Imam Ali mendengar ada dari pengikutnya yang mencaci maki Muawiyah dan kelompoknya, beliau marah dan melarang, seraya berkata:

    “ Aku tidak suka kalian menjadi pengumpat (pencaci-maki), tapi andaikata kalian tunjukkan perbuatan mereka dan kalian sebutkan keadaan mereka, maka hal yang demikian itu akan lebih diterima sebagai alasan. Selanjutnya kalian ganti cacian kalian kepada mereka dengan :
    Yaa Allah selamatkanlah darah kami dan darah mereka, serta damaikanlah kami dengan mereka
    (Nahjul Balaghoh – 323)

    Demikian pengarahan Imam Ali kepada pengikutnya dan pecintanya. Jika mencaci maki Muawiyah dan pengikutnya saja dilarang oleh Imam Ali, lalu bagaimana dengan orang-orang Syiah sekarang yang mencaci maki bahkan mengkafirkan Muawiyah dan pengikut-pengikutnya, layakkah mereka disebut sebagai pengikut Imam Ali
    Kembali kepada pengertian Syiah dalam bahasa yang dalam bahasa Arabnya disebut Syiah Lughotan, sebagaimana yang kami terangkan diatas, maka sekarang ini ada orang-orang Sunni yang beranggapan bahwa dirinya otomatis Syiah. Hal mana tidak lain dikarenakan kurangnya pengetahuan mereka akan hal tersebut. Sehingga mereka tidak tahu bahwa yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah Madzhab Syiah atau aliran syiah atau lengkapnya adalah aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyyah).
    Oleh karena itu, istilah Syiah Lughotan tersebut tidak digunakan oleh orang-orang tua kita (Salafunassholeh), mereka takut masyarakat awam tidak dapat membedakan antara kata syiah dengan arti kelompok atau pengikut dengan aliran syiah atau Madzhab Syiah. Hal mana karena adanya aliran-aliran syiah yang bermacam-macam, yang kesemuanya telah ditolak dan dianggap sesat oleh Salafunassholeh.
    Selanjutnya salafunassholeh menggunakan istilah Muhibbin bagi pengikut dan pecinta Imam Ali dan keturunannya dan istilah tersebut digunakan sampai sekarang.
    Ada satu catatan yang perlu diperhatikan, oleh karena salafunassholeh tidak mau menggunakan kata Syiah dalam menyebut kata kelompok atau kata pengikut dikarenakan adanya aliran-aliran Syiah yang bermacam-macam, maka kata syiah akhirnya hanya digunakan dalam menyebut kelompok Rofidhah, yaitu orang-orang Syiah yang dikenal suka mencaci maki Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar.
    Sehingga sekarang kalau ada yang menyebut kata Syiah, maka
    yang dimaksud adalah aliran atau madzhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah.
    Memang dengan tidak adanya penerangan yang jelas mengenai Syiah Lughotan dan Syiah Madhhaban, maka mudah bagi orang-orang Syiah untuk mengaburkan masalah, sehingga merupakan kesempatan yang baik bagi mereka dalam usaha mereka mensyiahkan masyarakat Indonesia yang dikenal sejak dahulu sebagai pecinta keluarga Rasulullah SAW.

    Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah

    Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah salah satu aliran Syiah dari sekian banyak aliran-aliran Syiah yang satu sama lain berebut menamakan aliran Syiahnya sebagai madzhab Ahlul Bait. Dan penganutnya mengklaim hanya dirinya saja atau golongannya yang mengikuti dan mencintai Ahlul Bait. Aliran Syiah inilah yang dianut atau diikuti oleh mayoritas (65 %) rakyat IRAN. Begitu pula sebagai aliran Syiah yang diikuti oleh orang-orang di Indonesia yang gandrung kepada Khumaini dan Syiahnya.
    Apabila dibanding dengan aliran-aliran Syiah yang lain, maka aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ini merupakan aliran Syiah yang paling sesat (GHULAH) dan paling berbahaya bagi agama, bangsa dan negara pada saat ini.
    Dengan menggunakan strategi yang licik yang mereka namakan TAGIYAH (berdusta) yang berakibat dapat menghalalkan segala cara, aliran ini dikembangkan.
    Akibatnya banyak orang-orang yang beraqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tertipu dan termakan oleh propaganda mereka, sehingga keluar dari agama nenek moyangnya (Islam) dan masuk Syiah.
    Karena didasari oleh Ashobiyah atau kefanatikan yang mendalam, maka aliran ini cepat menjalar dan berkembang, terutama dikalangan awam Alawiyyin (keturunan nabi Muhammad) dan Muhibbin (pecinta mereka). Sehingga bagaikan penyakit kanker yang ganas sedang berkembang didalam tubuh yang sehat, yang ratusan tahun dikenal beraqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
    Sebenarnya bagi orang-orang yang berpendidikan agama, wabah ini tidak sampai menggoyahkan iman mereka, tapi bagi orang-orang yang kurang pengetahuan Islamnya, mudah sekali terjangkit penyakit ini.
    Dalam situasi yang memprihatinkan ini, bangkitlah orang-orang yang merasa terpanggil untuk melawan dan memerangi aliran tersebut. Berbagai cara telah mereka tempuh, ada yang dengan jalan berceramah, ada yang dengan menulis, bahkan ada yang dengan jalan berdiskusi dan Alhamdulillah mendapat sambutan yang positif dari masyarakat dan dari pemerintah.
    Berbeda dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang penuh dengan saling hormat menghormati dan penuh dengan cinta mencintai serta penuh dengan maaf memaafkan karena berdasarkan Al Ahlaqul Karimah dan Al Afwa Indal Magdiroh (pemberian maaf disaat ia dapat membalas) serta Husnudhdhon (baik sangka), maka ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ini penuh dengan caci maki dan penuh dengan fitnahan-fitnahan serta penuh dengan laknat-melaknat, karena dilandasi dengan Suudhdhon (buruk sangka) dan dendam kesumat serta kefanatikan yang tidak berdasar.
    Dapat kita lihat bagaimana mereka tanpa sopan berani dan terang-terangan mencaci maki para sahabat, memfitnah istri-istri Rasulullah SAW, khususnya Siti Aisyah, bahkan Rasulullah sendiri tidak luput dari tuduhan mereka.
    Ajaran-ajaran Syiah yang meresahkan dan membangkitkan amarah umat Islam ini, membuat para ulama di seluruh dunia sepakat untuk memberikan penerangan kepada masyarakat. Ratusan judul kitab diterbitkan, berjuta kitab dicetak dengan maksud agar masyarakat mengetahui kesesatan Syiah dan waspada terhadap gerakan Syiah. Dalam menulis kitab-kitab tersebut para ulama kita itu mengambil sumber dan sandaran dari kitab-kitab Syiah (kitab-kitab rujukan Syiah), sehingga sukar sekali bagi orang-orang Syiah untuk menyanggahnya.
    Selanjutnya dengan banyaknya beredar kitab-kitab yang memuat dan memaparkan kesesatan ajaran Syiah, maka banyak orang-orang yang dahulunya terpengaruh kepada Syiah, menjadi sadar dan kembali kepada aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Hal ini tentu tidak lepas hidayah dan inayah serta taufiq dari Allah SWT. Terkecuali orang-orang yang memang bernasib buruk, yaitu orang-orang yang sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai orang Syagi (celaka dan sengsara).
    Semoga kita dan keluarga kita digolongkan sebagai orang-orang yang Suada’ atau orang-orang yang beruntung yang diselamatkan oleh Allah dari aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah yang sesat dan menyesatkan.

    (Budhi Suci)

  • Parallels between Jesus & Horus, an Egyptian God

    HORUS

    Conception: By a virgin. There is some doubt about this matter

    Father: Only begotten son of the God Osiris.

    Mother: Meri.

    Foster father: Seb, (Jo-Seph).

    Foster father’s ancestry: Of royal descent.

    Birth location: In a cave.

    Annunciation: By an angel to Isis, his mother.

    Birth heralded by: The star Sirius, the morning star.

    Birth date: Ancient Egyptians paraded a manger and child representing Horus through the streets at the time of the winter solstice (typically DEC-21).

    Birth announcement: By angels.

    Birth witnesses: Shepherds.

    Later witnesses to birth: Three solar deities.

    Death threat during infancy: Herut tried to have Horus murdered.

    Handling the threat: The God That tells Horus’ mother “Come, thou goddess Isis, hide thyself with thy child.

    Rite of passage ritual: Horus came of age with a special ritual, when his eye was restored.

    Age at the ritual: 12.

    Break in life history: No data between ages of 12 & 30.

    Baptism location: In the river Eridanus.

    Age at baptism: 30.

    Baptized by: Anup the Baptiser.

    Subsequent fate of the baptiser: Beheaded.

    Temptation: Taken from the desert of Amenta up a high mountain by his arch-rival Sut. Sut (a.k.a. Set) was a precursor for the Hebrew Satan.

    Result of temptation: Horus resists temptation.

    Close followers: Twelve disciples. There is some doubt about this matter as well.

    Activities: Walked on water, cast out demons, healed the sick, restored sight to the blind. He “stilled the sea by his power.”

    Raising of the dead: Horus raised Osirus, his dead father, from the grave.

    Location where the resurrection miracle occurred: Anu, an Egyptian city where the rites of the death, burial and resurrection of Horus were enacted annually.

    Transfigured: On a mountain.

    Key address(es): Sermon on the Mount.

    Method of death: By crucifixion.

    Accompanied by: Two thieves.

    Burial: In a tomb.

    Fate after death: Descended into Hell; resurrected after three days.

    Resurrection announced by: Women.

    Future: Reign for 1,000 years in the Millennium.

    YESHUA OF NAZARETH, A.K.A. JESUS

    Conception: By a virgin.

    Father: Only begotten son of Yehovah (in the form of the Holy Spirit).

    Mother: Mary

    Foster father: Joseph.

    Foster father’s ancestry: Of royal descent.

    Birth location: In a cave or stable.

    Annunciation: By an angel to Mary, his mother.

    Birth heralded by: An unidentified “star in the East.”

    Birth date: Celebrated on DEC-25. The date was chosen to occur on the same date as the birth of Mithra, Dionysus and the Sol Invictus (unconquerable Sun), etc.

    Birth announcement: By angels.

    Birth witnesses: Shepherds.

    Later witnesses to birth: Three wise men.

    Death threat during infancy: Herod tried to have Jesus murdered.

    Handling the threat: An angel tells Jesus’ father to: “Arise and take the young child and his mother and flee into Egypt.”

    Rite of passage ritual: Taken by parents to the temple for what is today called a bar mitzvah ritual.

    Age at the ritual: 12.

    Break in life history: No data between ages of 12 & 30.

    Baptism location: In the river Jordan.

    Age at baptism: 30.

    Baptized by: John the Baptist.

    Subsequent fate of the baptiser: Beheaded.

    Temptation: Taken from the desert in Palestine up a high mountain by his arch-rival Satan.

    Result of temptation: Jesus resists temptation.

    Close followers: Twelve disciples.

    Activities: Walked on water, cast out demons, healed the sick, restored sight to the blind. He ordered the sea with a “Peace, be still” command.

    Raising of the dead: Jesus raised Lazarus from the grave.

    Origin of Lazarus’ name in the Gospel of John: Asar was an alternative name for Osirus, Horus’ father, who Horus raised from the dead. He was referred to as “the Asar,” as a sign of respect. Translated into Hebrew, this is “El-Asar.” The Romans added the prefix “us” to indicate a male name, producing “Elasarus.” Over time, the “E” was dropped and “s” became “z,” producing “Lazarus.”

    Location where the resurrection miracle occurred: Hebrews added their prefix for house (‘beth”) to “Anu” to produce “Beth-Anu” or the “House of Anu.” Since “u” and “y” were interchangeable in antiquity, “Bethanu” became “Bethany,” the location mentioned in John 11.

    Transfigured: On a high mountain.

    Key address(es): Sermon on the Mount; Sermon on the Plain.

    Method of death: By crucifixion.

    Accompanied by: Two thieves.

    Burial: In a tomb.

    Fate after death: Descended into Hell; resurrected after about 30 to 38 hours (Friday PM to presumably some time in Sunday AM) covering parts of three days.

    Resurrection announced by: Women.

    Future: Reign for 1,000 years in the Millennium.

  • Al-Wahn, Cinta Dunia dan Takut Mati

    Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

    Zaman terus bergulir menghampiri penghabisannya. Hadits-hadits nabi tentang datangnya akhir dari alam semesta semakin terpenuhi. Kita telah melihat bahwa ummat ini semakin mengikuti tingkah laku yahudi dan nashara.

    Bukan hanya di mal-mal, bahkan di pasar-pasar tradisional, kita dapat melihat betapa ummat ini telah melangkah meninggalkan millah Islam dan terus saja mengikuti jejak yahudi dan nashara, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga ke lubang biawak pun mereka ikuti.

    Ummat telah banyak yang melupakan Allah. Mereka terjebak dalam kenikmatan duniawi yang sementara. Mereka berbuat semaunya seolah surga dan neraka itu tak ada. Telah banyak diantara kita yang meninggalkan shalat fardhu sebagai tanda tak rindunya kita dengan Allah. Kalau pun kita shalat, kita shalat tanpa tahu ilmunya dengan baik dan benar. Kalau pun tahu ilmunya, hati dan fikirannya belum bisa benar dalam mendirikan sholat. Tetapi yang sangat perlu diperhatikan adalah mereka yang telah meninggalkan shalat fardhu. Apakah mereka tidak rindu untuk berjumpa dengan Allah?

    Dari meninggalkan shalat itulah, ummat menjadi insan-insan yang mudah terjatuh kepada perbuatan keji dan mungkar. Narkoba dan minuman keras yang dulunya hanya diminum oleh orang-orang kafir, sekarang juga telah diminum oleh muslimin dengan penuh kebanggaan. Pembukaan aurat yang dulunya hanya dilakukan wanita-wanita kafir, kini juga dilakukan oleh muslimah dari yang muda hingga yang tua. Bahkan perzinahan di kalangan remaja pun menjangkiti para remaja muslim. Jika tahun baru dan valentine day tiba, hampir-hampir di muka bumi ini tidak tersisa lagi dari golongan Muhammad Rasulullah, kecuali sebagian kecil remaja yang meramaikan Masjid-Masjid dengan lafazh ‘Ya Allahu ya Allah’ untuk meredam musibah yang mungkin timbul akibat perbuatan sebagian besar ummat manusia yang terlena dalam kenikmatan duniawi di malam-malam tersebut.

    Sebagian ummat Islam telah terjangkit dengan penyakit ‘hubbud dunya’, terlalu mencintai kehidupan duniawi. Mereka begitu bernafsu terhadap kehidupan dunia ini sehingga mereka lupa akan kematian, dan mereka tidak mau mengingat kematian, serta sangat takut terhadap mati. Mereka takut mati, selain karena amal mereka, juga lebih-lebih dikarenakan mereka tidak mau meninggalkan dunia yang sangat mereka cintai ini. Mereka mencintai dunia ini hingga malas beramal yang mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka mencintai dunia ini hingga melupakan Allah, tidak merindukan-Nya, tidak pula mengharapkan pertemuan dengan-Nya. Kasihan, walau mereka sangat mencintai dunia ini, tetapi tetap saja, mereka pasti menemui kematian.

    Jika mereka memang rindu untuk berjumpa dengan Allah, tentu mereka beramal shalih dengan penuh keikhlasan dengan mengharapkan keridhoan dari Allah. Tentu mereka berusaha untuk menyenangkan Allah dan melayani-Nya sebagaimana mestinya seorang hamba. Tetapi kebanyakan kita telah menjadi hamba dari nafsu kita sendiri dan terus melayani nafsu sebagai tuannya. Dan nafsunya begitu cinta terhadap kehidupan duniawi.

    Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)

    Inilah potret generasi kita, dimana ummat semakin terjangkit penyakit Al-Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.

    Baca juga:
    Tasyabbuh
    Tasyabbuh (2)

  • Mati di Dalam Islam

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imron: 102)

    Ayat diatas merupakan perintah Allah kepada hambanya agar mati di dalam agama Islam. Sebab, Islam adalah agama yang diakui Allah sebagai agama yang benar di dalam Kitab-Nya, Al-Qur’an, dan bahwa Dia tidak akan menerima agama selainnya yang datang dari manusia. Dan karena Islam adalah satu-satunya agama yang telah Dia ridhokan bagi Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya dari kaum Mu’minin.

    Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. (Ali Imran: 19)

    Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Ali Imron: 85)

    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu. (Al-Maidah: 3)

    Manusia memang tidak berkuasa untuk mematikan dirinya di dalam agama Islam, tetapi Allah telah melapangkan jalan untuk mati dalam Islam bagi manusia. Jika seseorang menghendaki untuk mati dalam Islam, maka hendaklah ia menjalankan segala perintah Allah yang diwajibkan atasnya, dan senantiasa mengikuti segala petunjuk-Nya. Demikianlah cara memilih mati di dalam Islam, dengan mencintai mati di dalam Islam, berharap dan ber’azam (bertekad bulat) untuk mencapainya. Di samping itu, hendaklah dia membenci mati di dalam kepercayaan selain Islam, dan senantiasa berdoa, memohon, dan meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia berkenan mewafatkannya sebagai seorang Muslim.

    Dengan itulah Allah menyifatkan para Nabi-Nya dan orang-orang shalihin dari hamba-hamba-Nya. Allah berfirman menceritakan tentang Nabi Yusuf putera Nabi Ya’qub dalam mengharapkan wafat di dalam Islam:

    Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih. (Yusuf: 101)

    Begitu pula Allah telah menceritakan tentang ahli sihir Fir’aun yang bertaubat dan beriman pada Allah, lalu Fir’aun mengancam mereka dengan siksaan.

    Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami sebagai Muslim (berserah diri kepada Allah). (Al-A’raf: 126)

    Kemudian Allah menceritakan pula tentang Nabi Ibrahim as dan Nabi Ya’qub as, yang keduanya
    telah berwasiat kepada anak-cucunya agar mati dalam keadaan Islam.

    Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah: 132)

    (Habib Abdullah Al-Haddad, An-Nashaihud Diniyah wa Washayal Imaniyah)

  • GHIBAH

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang dalamnya seperti antara timur dan barat (sangat dalam, seakan tak berujung). (HR. Bukhari dan Muslim)

    Lidah adalah organ yang sungguh menakjubkan. Organ ini adalah organ yang banyak berperan dalam mengeluarkan kata-kata. Namun bila kita tidak pandai menjaga lidah, maka lidah kita bisa mendapat penyakit yang lebih berbahaya daripada sariawan. Di antara penyakit-penyakit lidah itu adalah ghibah (bergunjing membuka aib orang lain), fitnah, mengejek, namimah (mengadu domba), dan dusta.

    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

    Ghibah adalah membicarakan aib yang memang ada pada seseorang, terutama dengan maksud merendahkan. Aib di sini adalah segala hal yang apabila dibuka, maka orang yang mempunyai hal tersebut, pada umumnya, akan merasa tidak senang, malu, atau marah. Aib bisa berupa cacat/kekurangan pada fisik, perbuatan buruk yang tidak mesti diungkapkan kecuali di depan hakim, kelemahan ekonomi, dsb.

    Ghibah ini sudah menyebar luas di masyarakat kita. Orang-orang sudah tidak lagi memiliki rem yang pakem untuk menghentikan kebiasaan bergunjing ini. Hal ini disebabkan kurangnya iman dalam dada mereka. Jika saja mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu mereka hanya akan berbicara yang baik-baik saja, dan ketika tidak ada hal baik yang bisa dibicarakan, mereka akan diam dan menahan lidah mereka. Namun keimanan yang lemah tidak sanggup membuat mereka melakukan hal tersebut.

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata-kata hanya perkara yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Begitu juga barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. (HR. Bukhori dan Muslim)

    Bahkan ada manusia yang tidak hanya membicarakan aib orang di luar keluarganya, tetapi juga membuka aib keluarganya, aib pasangannya, aib anak-anaknya, aib saudara-saudaranya, dsb. Memiliki satu anggota keluarga seperti ini di dalam rumah, sama halnya dengan tidak memiliki rumah. Karena fungsi rumah yang diantaranya adalah menutupi aib keluarga telah dirusak oleh manusia semacam ini.

    Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al-Baqarah: 187)

    Allah menggambarkan suami-isteri itu seperti pakaian yang saling menutupi satu sama lain. Namun apa jadinya bila isteri telah membuka aib suami, dan suami membuka aib isteri? Apa jadinya bila orangtua membuka aib anak, dan anak membuka aib orangtua? Bagaimana halnya jika kakak membuka aib adik, dan adik membuka aib kakak? Kegilaan macam apa ini?

    Maka penyakit ghibah ini haruslah ditinggalkan dan diganti dengan kalimat-kalimat yang baik dan menahan lisan. Kecuali jika Anda ingin menjadikan keluarga dan masyarakat Anda sebagai keluarga dan masyarakat yang saling gunjing dan bermusuhan.

    Penyakit ghibah ini juga didorong oleh penyakit-penyakit lain seperti iri, sombong, dan dengki. Sebagian kita sering menganggap diri sendiri sebagai manusia sempurna tanpa cacat, hingga merasa berhak untuk merendahkan orang lain dan menggunjingkan aib orang lain. Padahal aibnya sendiri –mungkin- lebih banyak dari orang yang digunjingi. Atau mungkin karena iri akan kesuksesan dan kebahagiaan orang lain, kita mungkin mencari-cari keburukan orang tersebut untuk disebar-luaskan.

    Maka bagi Anda yang ingin sembuh dari penyakit ini, tentu Anda harus berusaha untuk tawadhu, merasa diri tidak lebih tinggi dari orang lain, bahkan merasa bahwa diri kita adalah manusia paling buruk di dunia. Pandanglah diri Anda sebagai orang yang harusnya banyak beristighfar. Ingat-ingatlah dosa-dosa Anda, maka Anda akan segan untuk membicarakan keaiban orang lain. Dan tingkatkan rasa kasih-sayang di dalam hati Anda, hingga timbul rasa peduli yang benar terhadap orang lain, dan bukannya menusuk mereka dari belakang. Jantung yang tertusuk pisau memang sakit sekali, tetapi lebih sakit lagi hati yang ditusuk oleh kata-kata jahat para pengghibah. Orang yang digunjingi mungkin hanya bisa menahan rasa sakit yang terus menyiksanya. Tanpa pengobatan kejiwaan sebagaimana diajarkan agama untuk berdzikir mengingat Allah dan mengadukan segala halnya kepada Allah, mungkin orang yang digunjingi akan mengalami depresi berat. Atau kemungkinan kedua, dia akan balas menggunjing hingga kedua belah pihak tak lagi tertolong dari penyakit berbahaya ini.

  • Ada Apa Di Tahun 2020?

    (Pikiran Rakyat 30 Januari 2006)

    DALAM tataran wacana, ada perbedaan antara tahun baru Islam tahun lalu dengan masa sekarang. Sejumlah narasumber “PR” di kalangan umat Islam menyebutkan, detik-detik peringatan tahun baru Islam saat ini diwarnai dengan perbincangan tentang hasil intelijen asing yang menyimpulkan asumsi terjadinya kebangkitan Islam secara total pada tahun 2020. Ya, itu berarti tinggal 14 tahun lagi.

    Sementara itu, selama sepekan ini “PR” mencatat adanya “dialog hangat” seputar bagaimanakah upaya mengondisikan umat Islam agar selalu siap menyambut tibanya abad ke-15 Hijriah sebagai momentum sesungguhnya kebangkitan kaum Muslimin.

    Selain itu, yang juga tak kalah menariknya adalah wacana perihal apakah benar abad ke 15 Hijriah merupakan saat awal kebangkitan Islam? Jika bukan, maka kapankah waktu atau tahun berapakah terjadinya kebangkitan umat Islam di dunia?

    Tak hanya itu, berdasarkan penelusuran tim “PR” di sejumlah basis kaum tarekat, ternyata ditemui wacana tentang akan turunnya Imam Mahdi yang akan “membebaskan” dunia dari kejahiliahan. Konon Imam Mahdi–yang kini masih “disembunyikan” Allah SWT–akan memimpin umat manusia di dunia.

    Untuk itulah, sejumlah penganut tarekat kini berusaha mempersiapkan “fasilitas” sebelum diturunkan-Nya Imam Mahdi tersebut. Mereka membangun berbagai sarana seperti di bidang perekonomian dan pendidikan untuk memuluskan aktivitas Imam Mahdi kelak.

    Dalam konteks umat Islam pada umumnya, “persiapan” di bidang ekonomi dan pendidikan yang dilakukan kaum tarekat, ternyata disambut hangat dan menjadi fenomena tersendiri bernuansa kebangkitan kaum Muslimin. Pasalnya, ada tarekat yang bekerja keras membangun perekonomian dan pendidikan, mempersiapkan sistem hidup islami–termasuk membangun keluarga islami plus membudayakan poligami– serta mengoptimalkan nilai manfaat bagi umat Islam disekitarnya.

    Sebut saja umpamanya, penganut tarekat pimpinan Ustaz Haji Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi yang yang menggiatkan perekonomian dan pendidikannya. Dengan bernaung di bawah nama Rufaqa’ Corporation Sdn. Bhd., jemaah tarekat–yang dulu bernama Darul Arqam (DA)–ini, menghidupkan perniagaan di berbagai negara di Asia khususnya seperti di Malaysia, Indonesia, dan Thailand.

    Selain mereka, ada juga penganut tarekat yang “mempersiapkan” berbagai sarana untuk memuluskan era kejayaan Islam dan umatnya. Misalnya, jemaah tarekat Syadziliyah yang dipimpin Syekh Abdul Qadir As Sufi (di Indonesia dipimpin oleh Amir Achmad Iwan Ibrahim Adjie).

    Jemaah tarekat yang tumbuh subur di Eropa ini, memiliki banyak bisnis dan menyosialisasikan penggunaan mata uang Islam dinar serta dirham. Dengan sekuat tenaga, mereka mendakwahkan perlunya menghidupkan kembali amalan Madinah. Sejumlah pengikutnya terus bekerja keras demi kejayaan Islam dan umatnya (izzul Islam wal Muslimin).

    Di Tanjung Anom Nganjuk Jawa Timur, Bandung, dan Jakarta, ada juga Gerakan Jemaah Tarekat Lil Muqorrobien–pimpinan K.H. Muhammad Munawar Afandi–yang mempersiapkan situasi kondusif menyambut kebangkitan Islam dengan tampilnya Imam Mahdi selaku imam di dunia kelak.

    PREDIKSI tibanya momentum kebangkitan Islam ini, juga dilakukan oleh sejumlah agen intelijen di berbagai negara di dunia. Mereka menduga kuat akan tibanya kehidupan religius yang berdasarkan syariat Islam secara total pada tahun 2020.

    Hal tersebut dapat diketahui dari hasil analisis intelijen di 15 negara yang tergabung dalam National Intelligence Council (NIC) yang bermarkas di Kantor Central Intelligence Agency (CIA) di Langley Virginia Amerika Serikat (AS).

    Dalam laporannya berjudul “Mapping the Global Future”, Direktur NIC, Robert Hutchings mengungkapkan tentang masa depan dunia. Disebutkannya, pada tahun 2020 akan bangkit kembali Kekhalifahan Islam (Islamic Caliphate) baru yakni sebuah pemerintahan Islam yang mampu memberi tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai Barat (Harian USA Today, edisi 13 Februari 2005/HU Kompas, 16/2/2005).

    Ketika hasil analisis intelijen tersebut tersebar, ungkap nara sumber “PR”, sejumlah pimpinan ormas Islam dan aktivis dakwah merasa tidak terkejut. Alasannya, tanda-tanda bagi kebangkitan kembali kaum Muslimin sudah “terasa” sejak lama. Sejumlah pimpinan ormas Islam menyebutkan “roh kebangkitan” dengan kalimat “semakin ditekan dan dizalimi, maka semakin bersatulah kaum Muslimin untuk bangkit.”

    Sementara itu, bagi para pakar sejarah Islam, kebangkitan kaum Muslimin di masa sekarang sesungguhnya merupakan rangkaian dari masa silam. Sejarahwan Muslim, H. Ahmad Mansur Suryanegara, umpamanya, menyebutkan, perihal adanya kaitan antara pengusaha kerajinan dan kain Indonesia–di masa silam– dengan para pedagang di tanah suci, dan negeri-negeri Islam lainnya.

    Dalam konteks ini, realita sejarah menunjukkan Indonesia ternyata pernah “bersentuhan” dengan tatanan pemerintahan berdasarkan syariat Islam yakni Khilafah Islamiyah di Turki Utsmani. Saat itu, nuansa kejayaan Islam tampak di kawasan tersebut.

    Interaksi antara Indonesia dengan negeri-negeri Islam dan Khilafah Islamiyah itu, setidaknya terwakili dengan fakta adanya jalinan yang erat antara negeri-negeri kesultanan di nusantara, antara lain Sultan Iskandar Muda (di Aceh atau Nanggroe Aceh Darussalam/NAD), Kesultanan Sumatra Barat, Buton (Sulawesi Selatan), Ternate, dan Tidore (Maluku Utara), serta beberapa kesultanan di Pulau Jawa maupun peran dan kiprah dakwah yang dilakukan Walisongo di berbagai daerah di Indonesia.

    Nikmatnya hidup dalam atmosfer kejayaan Islam tersebut, sempat dirasakan kaum Muslimin di nusantara dan negeri-negeri lainnya sebelum terjadinya peristiwa peruntuhan Khilafah Islamiyah oleh Mustafa Kamal pada 3 Maret 1924. Upaya untuk merasakan nikmatnya hidup dalam sebuah tatanan global syariat Islam (Khilafah Islamiyah) yang sempat melembaga selama 1.300 tahun itu, sempat dilakukan melalui penyatuan wacana, visi, dan pijakan alternatif seperti melalui konferensi, pertemuan, atau musyawarah, antara lain :

    Kongres Kekhalifahan Islam di Kairo (1926), Kongres Muslim Dunia di Mekah (1926), Konferensi Islam al Aqsho di al Quds (Desember 1931), Konferensi Islam Internasional II di Karachi Pakistan (1949), Konferensi Islam Internasional III di Karachi Pakistan (1951), Pertemuan Puncak Islam di Mekah (Agustus 1954), Konferensi Muslim Dunia di Mogodasihu (1964), Pertemuan di Malaysia ( 1968 ) yang melahirkan Persemakmuran Muslim dengan tujuan memajukan solidaritas dan kerja sama yang pada akhirnya memunculkan gagasan Konfrensi Menteri-menteri Luar Negeri Muslim di Kuala Lumpur Malaysia (1969).

    Adanya informasi sejarah tentang masa kejayaan umat Islam dalam atmosfer Khilafah Islamiyah di Turki Utsmani, menurut sejumlah aktivis dakwah kampus di Kota Bandung, menimbulkan stimulus untuk berharap hal yang sama di masa kini.

    “Saya dan rekan-rekan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) khususnya maupun umat Islam umumnya, tentu mengharapkan kembalinya masa kejayaan Islam dan umatnya. Sebab, hanya kembali ke syariat Islamlah terdapat solusi atas segala problem di dunia ini,” kata ustaz Farid Fajdi

    Menurut pengelola majalah terbitan HTI Al Wa’ie ini, kaum Muslimin sudah saatnya meningkatkan pengetahuannya tentang syariat Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itulah, setiap diri dan keluarga Muslim berkewajiban mempelajari agama Islam secara serius, dan mengubah perilakunya yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

    “Jika kesadaran beragama di kalangan kaum Muslimin sudah meningkat dan syariat Islam benar-benar ditegakkan dalam pribadi, keluarga, serta masyarakat, dan negeri-negeri Muslim, tentu kejayaan Islam dan umatnya dapat kita songsong dengan baik. Ya, dengan ikhtiar itu mudah-mudahan kita dapat menghidupkan kembali Khilafah Islamiyah,” ujar Farid Wajdi.

    Dalam konteks ini, tentu menarik pula bila kita merenungi pernyataan pimpinan Rufaqa’, Ustaz Haji Abuya Imam Ashaari Muhammad At Tamimi,”Insya Allah kebangkitan umat Islam itu terjadi, dan kini sedang berlangsung di Timur. Untuk itulah, semua orang harus menghadirkan Tuhan, Allah, dimana-mana. Orang yang tidak merujukkan seluruh aspek kehidupannya kepada Allah, secara tidak sadar mereka menganggap urusan-urusannya bukan urusan Allah. Seolah-olah Allah tidak mengetahui apa-apa tentang ekonomi, politik, teknologi, perdagangan, keuangan, dan lain-lain. Akibat melupakan Allah dan aturan-aturan Allah untuk mengatur seluruh aspek dalam hidup mereka, maka Allah biarkan mereka dalam krisis dan keterpurukan.” (Sarnapi/Achmad Setiyaji/”PR”)