Penulis: adminSN

  • MEMBACA AL-QUR`AN

    Sesungguhnya ummat Islam memiliki sesuatu yang istimewa yang tidak dimiliki oleh ummat lain. Itulah Al-Qur`an. Di dalam Al-Qur`an itu terdapat segala petunjuk yang benar dan lurus, ilmu yang dahsyat, kejadian dan peristiwa. Al-Qur`an memuat alam semesta yang dipadatkan. Al-Qur`an adalah intisari. Al-Qur`an itu seperti benih; darinya tumbuh segala macam ilmu.

    Cukuplah sekiranya seseorang menanam benih ini di dalam hatinya, menyiram dan merawatnya sehingga tumbuh segala macam ilmu pada dirinya. Tetapi Al-Qur`an bukanlah bacaan sembarangan. Ia lebih canggih dibandingkan buku rahasia agen CIA. Untuk bisa menggali ilmu dari Al-Qur`an, kita harus tahu dulu sandi/kode bahasa Al-Qur`an. Tidak akan dapat mengambil manfaat dari Al-Qur`an kecuali orang yang mensucikan hatinya, terutama suci dari prasangka buruk. Dan –sekali lagi– kita harus membaca bersama Allah dengan penuh penyerahan diri. Untuk bisa hidup bersama Allah, tentu kita harus mengikut kepada Rasulullah SAW (Ali Imran: 31). Berkata Sahal bin Abdullah, “Tanda mencintai Allah adalah cinta Al-Qur`an. Tanda mencintai Al-Qur`an adalah cinta Nabi. Tanda mencintai Nabi adalah cinta Sunnah. Tanda mencintai Sunnah adalah mencintai akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah menjauhi nafsu. Tanda menjauhi nafsu adalah menjauhi dunia. Tanda menjauhi dunia adalah tidak mengambilnya kecuali sekedarnya saja.”

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran: 31)

    Dalam Al-Qur`an, Allah menceritakan tentang Nabi Sulaiman yang bertanya kepada para ningrat, “Siapa di antara kalian yang dapat mendatangkan singgasana Ratu Balqis kepadaku?” Jin Ifrit yang telah menimba ilmu dari alam dan melatih diri berkata, “Hamba dapat mendatangkannya sebelum baginda berdiri dari singgasana bahinda.” Kemudian seorang alim yang telah menimba ilmu dari Kitabullah pun berkata, “Hamba dapat mendatangkannya sebelum mata baginda berkedip.”

    Ternyata ilmu yang bersandar hanya pada penelitian kepada alam tidak dapat mencapai kesimpulan puncak dari ilmu tersebut. Kesimpulan puncak hanya dapat dijelaskan oleh Sang Pencipta alam itu sendiri. Maka, ketika kita telah memiliki, membaca, dan mengkaji Al-Qur`an dengan benar, itulah ilmu yang paling tepat yang mengalahkan dan mengungguli segala ilmu. Tidak pantas bagi seorang muslim untuk beranggapan bahwa ada kitab yang lebih dahsyat daripada Al-Qur`an.

    Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At-Taubah: 33)

  • MEMBACA BERSAMA ALLAH

    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.  (Al-‘Alaq : 1 – 5)
     

    Wahyu pertama adalah tanda pelantikan seorang Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul  Allah. Sebagai pesan pelantikan, tentulah wahyu pertama itu bukan perkataan main-main atau sembarangan. Tetapi itulah pesan yang sangat perlu diperhatikan.
    Membaca adalah suatu hal yang selalu kita lakukan. Segala tindakan kita adalah hasil dari membaca; membaca pengalaman, keinginan, alam semesta, dll. Membaca adalah hal yang kompleks. Salah dalam membaca dapat berakibat fatal.
    Setelah diciptakan Allah, Nabi Adam diajarkan untuk ‘membaca’ benda-benda. Kemudian Allah menyuruh beliau a.s. untuk membacakannya di hadapan para malaikat, sehingga para malaikat kagum dan mengakui Kemahatahuan Allah dan mengakui kelayakan Nabi Adam sebagai khalifah. Kemudian Allah mendampingi Nabi Adam untuk membaca sebuah pohon yang harus dihindari. Nabi Adam pun menghindari pohon tersebut sesuai dengan yang ia baca bersama Allah. Tetapi kemudian Iblis mendampingi Nabi Adam untuk membaca kembali pohon tersebut; dan Nabi Adam mengikuti bacaan Iblis sehingga ia tergelincir.
    Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Q.S. Al-Baqarah: 35–36)
    Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-A’raf: 200)
    Agar sewaktu kita ‘membaca’ tidak didampingi oleh syaithan, Allah menyuruh kita untuk berta’awudz; memohon perlindungan kepada Allah. Kemudian agar kita mendapat bimbingan dari Allah sewaktu membaca, kita diperintah untuk membaca basmallah (Al-‘Alaq: 1). ‘Bi’ pada kata ‘Bismillah’ atau ‘Bismirabbik’ mengandung pengertian dengan sebab, dengan pertolongan, dengan didampingi. Jadi sewaktu kita membaca basmallah, niatkan dalam hati kita bahwa kita memohon pertolongan dan ‘mengundang’ Allah untuk mendampingi kita; dan kita tanamkan pula dalam hati kita bahwa kita tidak dapat membaca kecuali dengan Allah, dengan pertolongan, Kasih-Sayang, dan idzin dari Allah.
    Hidup bersama Allah; itulah kunci kejayaan para pendahulu kita. Cara yang paling cepat dan tepat untuk meraih keberhasilan adalah dengan berserah diri (taslim) kepada Allah. Hanya Allah yang dapat kita andalkan. Cukuplah Allah bagi kita.
    Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (Q.S. At Taubah: 59)
    Nabi Ibrahim a.s. dulu pernah menggunakan aqal dan tenaganya untuk mencari Tuhan. Tetapi setelah beliau a.s. gagal menemukan Tuhan yang hebat dan kekal, beliau pun putus asa. Beliau menyerah; menyerah kepada Tuhan pencipta langit dan bumi. Pada saat beliau a.s. menyerah (taslim) itulah Allah menunjukkan kepada Nabi Ibrahim a.s. bahwa Dialah Tuhan alam semesta.
    Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. Al-An’am: 75–79)
     

     

  • AL-QUR`AN: THE GUIDE

    Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al-Baqarah: 2)

    Semua manusia menginginkan kesuksesan. Kesuksesan yang diinginkan manusia bukan kesuksesan sesaat di satu sisi. Tetapi kesuksesan abadi, selama-lamanya di berbagai sisi; kesuksesan yang sempurna. Maka diperlukan cara yang sempurna untuk dapat meraih kesuksesan seperti ini. Sebuah metode sempurna yang tidak bercacat. Maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti metode dari yang menciptakan kehidupan itu sendiri. Dia Yang tahu dengan pasti bagaimana sifat-sifat kehidupan dan cara menjalani kehidupan ini. Pembuat game pasti tahu bagaimana cara mudah dan jitu untuk menyelesaikan game dengan sempurna. Begitu juga Sang Pembuat game kehidupan. Tentu Dia tahu bagaimana cara menyelesaikan game ini dengan mudah dan selamat. Orang-orang yang tidak mengikuti metode ini, tentu akan mengalami kegagalan.
    Mahasuci Allah Yang mencipta game kehidupan dan memberikan buku panduan (player guide) untuk memainkan game ini dengan ni’mat dan selamat. Buku panduan itu adalah Al-Qur`an yang berisi informasi tentang peraturan ‘permainan’ dan cara ‘memainkannya’. Dan Allah juga mengutus seorang pemandu game yang handal untuk memandu kita dalam membaca buku panduan dan dalam menjalankan game sesuai buku panduan ini. Beliau adalah Muhammad Rasulullah SAAW, manusia yang paling pandai membaca, memahami dan menerapkan game guide ini. Beliau telah menguasai buku panduan itu dalam dadanya. Beliau adalah game master. Beliau (SAAW) adalah Al-Qur`an Berjalan. Dengan begitu, setiap player (pemain) yang menemukan masalah dalam memainkan game ini dapat bertanya kepada beliau. Beliau akan menjawab sesuai dengan buku panduan yang telah diajarkan kepada beliau dari Sang Pembuat game. Tidak semua orang dapat memahami atau menerapkan panduan tersebut. Tetapi dengan adanya The Game Master, kita dapat lebih mudah memahami bagaimana menerapkan instruksi-instruksi dalam buku panduan. Siapa yang mengikuti beliau, pasti akan dapat menyelesaikan game dengan lebih cepat.
    Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. (QS. An-Nuur: 35)

    Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran: 31]

    Tetapi tidak semua manusia mengindahkan atau pun percaya dengan player guide (panduan pemain) yang telah Allah turunkan. Orang yang percaya pun belum tentu mau memainkan game sesuai aturan tersebut. Semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang berusaha untuk memainkan game ini sesuai panduan dari Allah secara total dengan penuh keimanan. Aamiin.
    Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (Q.S. Ali Imran: 3-4)
    Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (Q.S. Ali Imran: 83)
    Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (Q.S. An-Naml: 1-3)
     

  • ISLAM AGAMA FITRAH

    Segala puji bagi Allah Yang telah mengutus pemandu yang membawa Kitab Panduan untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dan mengarahkan manusia kepada kemenangan. 

    Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Q.S. At Taubah: 33) 

    Sholawat serta salam semoga tercurah atas Pemandu kita juga keluarga beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. 

    Al-Islam adalah ajaran fitrah dan mengajak manusia kepada keselamatan, rasa aman, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Al-Islam adalah ajaran yang berlandaskan kepada Kalamullah dan Sunnah RasulNya. 

    Sudah fitrah manusia ingin selamat. Coba bayangkan jika Anda memasuki suatu area, di depannya ada tulisan ‘Area Beranjau’. Anda mungkin setengah percaya. Tetapi disebabkan Anda ingin selamat, Anda berjalan dengan hati-hati. Di saat kaki Anda menyentuh sesuatu yang Anda sadari bahwa itu adalah ranjau, barulah Anda yaqin bahwa daerah itu memang beranjau. Akhirnya Anda lebih hati-hati lagi. 

    Islam datang bukan untuk mengekang manusia, tetapi disebabkan Allah sayang kepada manusia. Islam datang agar manusia berhati-hati. Sudah banyak bukti, bahwa orang yang tidak mengindahkan ajaran Islam –sehingga tidak berhati-hati- akhirnya tertipu, gelisah, berpenyakit kronis, stres, gila, hancur masa depannya, sengsara, dsb. Islam adalah agama yang sempurna, agama yang sesuai dengan fitrah, agama yang membawa keselamatan, keadilan, kedamaian, kesejahteraan, kebenaran, dan segala kebaikan. 

    Syariat Islam dengan pedoman berupa Al-Qur`an dan Hadits, apabila diamalkan tanpa iman, ia akan menjadi penerang di dunia; apabila diamalkan dengan iman dan keyaqinan akan menjadi penerang di dunia dan petunjuk di akhirat. 

    (Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Ali Imran: 138) 

    Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (Q.S. Al-Jatsiyah: 20) 

    Jika Anda berkunjung ke singapore, dan kebetulan Anda melihat seseorang membuang sampah sembarangan dan diketahui petugas, maka Anda akan melihat orang itu akan dicambuk oleh petugas tersebut. Kejamkah? Jika orang yang membuang sampah sembarangan saja dicambuk, maka orang yang berzina lebih pantas untuk dicambuk. Orang yang melakukan pencurian dan korupsi lebih pantas untuk dipotong tangannya. Ini semua adalah untuk kebaikan masyarakat juga. Kita tentu membenci perbuatan korupsi dan prostitusi. Sebab keduanya sangat merusak sendi-sendi kehidupan yang beradab. Begitu pula dengan minuman keras dan narkotika. Semua kejahatan berat memang harus ditindak dengan tegas, agar ketentraman hidup tetap terjaga. Amputasi, terkadang diperlukan untuk mencegah menjalarnya penyakit. 

    Anda mungkin pernah mendengar bagaimana sistem zakat yang tertib telah mema’murkan masyarakat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz bin Umar bin Khaththab. Jika kita berusaha untuk mencari agama yang lebih baik dari Islam, maka pastilah kita tidak menemukannya. Dengan menjalankan syari’at Islam di berbagai bidang kehidupan itulah kita dapat meraih kejayaan. Jika ada yang sudah jelas, kenapa harus cari yang remang-remang? 

     

    Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. Ali Imran: 85) 

     

  • WAHYU

    Dikatakan wahaytu dan awhaytu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
    Wahyu dalam arti bahasa meliputi:
    1.       Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu kepada ibu Nabi Musa dalam QS. Al-Qoshosh [28]: 7.
    2.       Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah dalam QS. An-Nahl [16]: 68.
    3.       Isyarat yang cepat melalui rumusan dan kode, seperti Zakaria dalam QS. Maryam [19]: 11.
    4.       Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. Lihat QS. Al-An’am [6]: 112,121.
    5.       Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan. Lihat QS. Al-Anfal [8]: 12.
    Adapun wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syara’ didefinisikan sebagai “kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi”.
     

    CARA WAHYU ALLAH TURUN KEPADA MALAIKAT
    Di dalam Al-Qur`an terdapat nas mengenai kalam Allah kepada para malaikat-Nya. Lihat QS. 2:30. Juga terdapat nas tentang wahyu Allah kepada mereka (QS.8:12). Juga nas tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya (QS. 51:4; 79:5). Nas-nas itu dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu.
    Kemudian juga terdapat nas bahwa Al-Qur`an telah dituliskan di Lauhil Mahfuzh. [Lihat QS. 85: 21-22]. Demikian pula bahwa Al-Qur`an diturunkan sekaligus ke baitul ‘izzah yang berada di langit dunia pada Lailatul Qadr. [Lihat QS. 97:1; 44:3; 2:185].
    Dari Ibnu Abbas dalam suatu hadits mauquf, “Al-Qur`an itu diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia pada Lailatul Qadr. Kemudian diturunkan secara bertahap selama 20 tahun.” [HR. Hakim, Baihaqi, Nasai] [Lihat QS. 25:33; 17:106] Dan pada tahap pertama, Al-Qur`an turun pada 17 Ramadhan.
    “Telah dipisahkan Al-Qur`an dari Adz-Dzikr, lalu diletakkan di Baitul ‘izzah di langit dunia; kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi saaw.” [HR. Hakim]
    Tetapi berdasarkan hadits dari Nawas bin Sam’an, Jibril menerima Al-Qur`an secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
    “Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu; maka langit pun bergetarlah dengan dahsyat karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama kali mengangkat muka di antara mereka itu adalah Jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang Dia kehendaki. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah para malaikat langit kepadanya: Apakah yang telah dikatakan Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan yang haq dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla. [HR. Thabrani dari Nawas bin Sam’an]
    Lihat juga QS. 27:6; 9:6; 10:15. Jadi Al-Qur`an adalah Kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad.
     

  • DEFINISI AL-QUR`AN

    Qoro`a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun; dan qiro`ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Qur`an pada mulanya seperti qiro`ah, yaitu masdar (infinitif) dari kata qoro`a, qiro`atan, qur`anan. Qur`anah dalam QS. Al-Qiyamah: 17-18 berarti qiro`atuhu (bacaannya / cara membacanya).
    Qur`an dikhususkan sebagai nama bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saaw. Dan secara gabungan kata itu dipakai untuk nama Qur`an secara keseluruhan, begitu juga untuk penamaan ayat-ayatnya. Maka jika kita mendengar orang membacaayat Qur`an, kita bisa mengatakan bahwa ia sedang membaca Qur`an. (Lihat QS. 7:24)
    Para ulama mendefinisikan: “Qur`an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad saaw yang pembacaannya merupakan suatu ibadah.”
    Dengan demikian Al-Qur`an itu bukan kalam makhluq, bukan firman yang diturunkan kepada nabi-nabi lain, bukan pula hadits qudsi, bukan pula hadits ahad, bukan pula Kalam yang khusus menjadi milik-Nya yang tetap menjadi rahasia-Nya. (Lihat QS. 18: 109)
     

    NAMA DAN SIFATNYA

    1. Qur`an (QS. 17: 19)
    2. Kitab (QS. 21:10; 2:2)
    3. Furqan (QS. 25: 1)
    4. Dzikir (QS. 15:9)
    5. Tanzil (QS. 26: 192)

    Qur`an dan Al-Kitab lebih populer dari nama-nama yang lain. Dalam hal ini Dr. Muhammad Abdullah Daraz berkata, “Ia dinamakan Qur`an karena ia ‘dibaca’ dengan lisan, dan dinamakan Al-Kitab karena ia ‘ditulis’ dengan pena. Kedua nama ini menunjukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya.” Maka hendaknya ia dipelihara dalam bentuk bacaan/hafalan dan tulisan.
    Allah telah melukiskan Qur`an dengan beberapa sifat, antara lain:
    1.      Nur (Cahaya) [QS. 4:174].
    2.      Huda (Petunjuk), Syifa (obat/penawar), Rahmah, Mau’izhoh (nasihat) [QS. 10:57]
    3.      Mubin (yang menerangkan) [QS. 5:15]
    4.      Mubarok (yang diberkahi) [QS. 6:92]
    5.      Busyro (khabar gembira) [QS. 2:97]
    6.      ‘Aziz (yang mulia) [QS. 41:41]
    7.      Majid (yang dihormati) [QS. 85:21]
    8.      Basyir (pembawa khabar gembira), Nadzir (pembawa peringatan) [QS.41:3-4]
    HADITS NABAWI
     

    Hadits (baru/terkemudian) dalam bahasa merupakan lawan dari Qadim (lama/ terdahulu). Hadits adalah setiap kata-kata yang diucapkan dan dinukil serta disampaikan oleh manusia, baik kata-kata itu diperoleh melalui pendengarannya atau wahyu, baik dalam keadaan jaga ataupun dalam keadaan tidur. Dalam pengertian ini, Qur`an juga dinamai hadits (lihat QS. 4:87). Begitu pula apa yang terjadi pada manusia di waktu tidurnya juga dinamakan hadits (lihat QS. 12:10).
    Sedang menurut istilah, pengertian hadits ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi saaw, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifat.
    Yang berupa perkataan misalnya perkataan Nabi saaw: “Sesungguhnya segala amal itu dengan niat…”
    Yang berupa perbuatan ialah seperti ajarannya saaw kepada para shahabat mengenai bagaimana cara mengerjakan shalat, kemudian beliau bersabda: “Sholatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat.”
    Yang berupa persetujuan ialah seperti ia menyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang shahabat, baik perkataan atau pun perbuatan, dilakukan di hadapannya atau pun sampai berita kepada beliau mengenai perbuatan shahabat itu. Misalnya mengenai makanan berupa biawak yang dihidangkan kepadanya.
    Yang berupa sifat adalah riwayat seperti, “bahwa Nabi saaw itu selalu bermuka cerah, berperangai halus dan lembut, tidak keras dan tidak pula kasar, tidak suka berteriak keras, tidak pula berbicara kotor, dan tidak juga suka mencela…”
     

    HADITS QUDSI
    Hadits Qudsi ialah hadits yang oleh Nabi saaw disandarkan kepada Allah. Maksudnya Nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah. Maka Rasul menjadi perawi kalam Allah itu dengan lafal dari Nabi sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadits qudsi, maka dia meriwayatkan dari Rasulullah dengan disandarkan kepada Allah, dengan mengatakan, “Rasulullah saaw mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya”; atau ia mengatakan, “Rasulullah saaw berkata: Allah Ta’ala berfirman”; atau, “Rasulullah saaw berkata: berfirman Allah Ta’ala”.
     

    PERBEDAAN QUR`AN DENGAN HADITS QUDSI
    1.       Al-Qur`anul Karim adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafal dari Allah, dan dengan itu pula orang Arab ditantang. Sedang Hadits Qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mu’jizat.
    2.       Al-Qur`anul Karim hanya dinisbahkan kepada Allah, sehingga dikatakan: “Allah Ta’ala telah berfirman.” Sedangkan Hadits Qudsi terkadang diriwayatkan disanadkan kepada Rasulullah yang mengatakan mengenai apa yang difirmankan Allah kepadanya.
    3.       Seluruh isi Qur`an dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah muthlaq. Sedangkan Hadits Qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. Adakalanya hadits qudsi itu shahih, terkadang hasan (baik) dan terkadang dha’if (lemah).
    4.       Al-Qur`anul Karim dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Maka ia adalah wahyu, baik dalam lafal maupun maknanya. Sedangkan hadits qudsi maknanya saja yang dari Allah, sedang lafalnya dari Rasulullah saaw. Hadits qudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Oleh sebb itu, menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja.
    5.       Membaca Al-Qur`anul Karim merupakan ibadah; karena itu ia dibaca di dalam shalat. (Lihat QS. 73:20) Sedangkan hadits qudsi tidak disuruh membacanya di dalam shalat. Allah memberikan pahala membaca hadits qudsi secara umum saja. Maka membaca hadits qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadits mengenai membaca Al-Qur`an bahwa pada setiap huruf mendapatkan sepuluh kebaikan.
     

     

    PERBEDAAN HADITS QUDSI DENGAN HADITS NABAWI
     

    Hadits Nabawi ada dua macam sifatnya:
    1.       Tauqifi, kandungannya diterima dari wahyu, redaksinya dari Rasulullah.
    2.       Taufiqi, disimpulkan oleh Rasulullah menurut pemahamannya terhadap Al-Qur`an. (Semacam ijtihad).
    Hadits Qudsi itu maknanya dari Allah, redaksinya dari Rasulullah, tetapi beliau bersabda, “Allah berfirman,” sedangkan dalam hadits tauqifi tidak dikatakan bahwa Allah berfirman.
     

  • TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-Baqarah: 30)
    Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Manusia bertugas menyuburkan bumi dengan menjalankan syariat. Untuk menjalankan tugasnya itu manusia dilengkapi dengan perangkat yang sempurna. Perangkat itu dianugerahkan Allah secara bertahap, agar manusia dapat memiliki waktu untuk mengembangkan potensinya itu.
    Pada saat lahir manusia belum bisa melihat dan juga berbahasa seperti sekarang. Mereka baru bisa mendengar. Setelah pendengarannya berkembang, diberikanlah penglihatan. Kemudian mulailah ia mengembangkan organ-organ geraknya agar dapat berdiri dan berjalan. Kemudian setelah ia mendapatkan informasi berupa suara, warna, rasa, bau, dan tekstur, mulailah ia memiliki kemampuan berbahasa seperti kita saat ini. Aqalnya terus berkembang sehingga ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dia mulai dapat mempelajari hidup. Dia mulai dapat mengingat, membaca, kemudian memperoleh informasi lebih banyak lagi. Aqalnya semakin berkembang. Pada saat aqalnya berkembang inilah seharusnya manusia diajarkan tentang Allah dan syariat yang dibebankan kepadanya. Sebab pada masa ini nafsu dan emosi manusia belum sempurna, sehingga aqal masih dapat mendominasi fikirannya. Seperti kita ketahui, aqal adalah elemen hati yang patuh kepada Allah. Walaupun pada masa tersebut (masa tamyiz) manusia sudah memiliki emosi dan keinginan, tetapi emosi dan keinginannya belum sempurna. Dia belum memiliki keinginan seks –yang sempurna. Dia baru memiliki keinginan makan, minum, perasaan sayang yang tulus, perasaan marah, sedih, senang, dsb. Jika pada masa ini, manusia diberi informasi dan pelatihan yang cukup tentang Allah, syariat, akhlaq mulia, tugas manusia, Inysa Allah manusia tersebut akan mudah menjalankan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Tetapi jika tidak, mungkin menjelang saatnya ia bertugas ia akan mengalami kegoncangan yang sangat berat sehingga mengakibatkan ia lalai akan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Nafsu, yang berfungsi untuk menggerakkan manusia agar berkembang-biak dan membangun bumi, menjadi tidak terkendali. Maka sangat penting untuk mengembangkan aqal secara maksimal pada tahap-tahap awal.
    Setelah kedewasaan aqal dan emosi berkembang, mulailah saatnya manusia mengalami kedewasaan nafsu. Mulailah nafsu dan tubuhnya menjadi sempurna. Ia mulai memahami dan mengalami apa yang disebut syahwat terhadap lawan jenis. Mulai saat itulah ia harus berdiri menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Ia harus melaksanakan segala syariat yang telah dibebankan kepadanya, mengolah bumi agar terwujud kedamaian, melestarikan keturunan manusia, menyuburkan bumi.
    Tetapi ada satu hal yang mungkin dilupakan banyak manusia, yaitu kedewasaan ruh. Kedewasaan ruh seharusnya sudah berkembang sejak manusia itu lahir. Tetapi ternyata tidak semua manusia berkembang dengan pesat di waktu dini dalam hal ini. Mungkin hanya ruh para nabi dan rasul saja yang berkembang pesat ruhnya di saat masih bayi. Sedangkan yang lain ada yang setelah berumur tujuh tahun, barulah berkembang dengan sangat cepat; ada pula yang pada saat menjelang baligh, ada yang saat telah baligh, ada yang setelah berumur 30–an, ada yang setelah berumur 40–an, dan ada pula yang ruhnya malah makin kerdil, tidak berkembang. Padahal perkembangan ruh ini adalah yang sangat penting sekali. Ruh inilah yang di dalamnya terdapat potensi pengenalan terhadap Allah Yang telah mencipta segalanya. Ruh inilah yang akan mencintai Allah. Dan itulah tujuan manusia diciptakan, agar mereka mengenal Allah. Dengan mengenal Allah, ibadah dan perjalanan kita tidak salah alamat. Dengan syariat Allah, ibadah dan perjalanan kita tidak salah cara. Bagaimanakah Anda dapat mengantarkan suatu barang kepada seseorang jika Anda tidak mengenal orang itu dan tidak tahu cara memberikan barang itu, bahkan Anda tidak tahu apa barang yang Anda antarkan?
    Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Q.S. Adz Dzariyat: 56-58)
    Allah mengajarkan manusia untuk menyembahNya agar manusia tidak menyembah yang selainNya. Sebab menyembah dan mencintai yang selain Dia akan menyebabkan manusia menjadi resah-gelisah dan gundah-gulanah. Sesungguhnya dunia ini fana. Dunia hanyalah fatamorgana, khayalan, imajinasi. Mencintai yang fana akan membuat kita takut kehilangan. Dan dunia memang pasti akan sirna. Tetapi dengan berpegang kepada Allah Yang Kekal, kita akan merasa mantap.
    Semua yang ada di bumi itu akan binasa.  Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman: 26-27)

    Seharusnya kita sadar bahwa kita hanyalah suatu ciptaan. Allah menciptakan kita bukan sekedar iseng. Allah menciptakan kita untuk suatu yang besar, untuk menjadi khalifah di muka bumi. Tetapi kita sering melupakan Allah disebabkan kita terlalu asyik dengan pekerjaan kita.
    Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. (Q.S. Al-Anbiya`: 16 atau Adh-Dhukhan: 38)
    Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.( Q.S. Az-Zukhruf: 83 atau Al-Ma’aarij: 42)
    Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Q.S. Al-Ahzab: 72)
     

  • SUMBER DAYA MANAJEMEN

    Waktu adalah kehidupan, begitulah menurut Hasan Al-Bashri. Menyia-nyiakan waktu, berarti menyia-nyiakan hidup. Rasulullah SAAW pernah berpesan kepada kita agar menggunakan lima perkara sebelum datang lima perkara, yaitu sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum datang kesibukan, dan hidup sebelum mati. 

    Manusia dengan segala potensinya adalah sumber daya yang sangat berharga. Manusia adalah masa depan dunia. Merusaknya –baik lahir atau pun bathin- berarti merusak dunia. Maka manusia dengan segala potensinya harus dijaga dan dikembangkan. 

    Dua hal ini –waktu dan manusia- merupakan sumber daya terpenting. Menyiakan salah satunya atau keduanya, maka rusaklah dunia seluruhnya. 

    Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Q.S. Al-Maa`idah: 32) 

     

  • GAMBARAN KEHIDUPAN

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. {QS. Al-Fatihah}

     

    Dengan Asma Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Mahasuci Allah Yang menyuruh manusia untuk membaca segala sesuatu. Allah menyuruh kita untuk membaca dengan AsmaNya, Rabb Yang Mencipta. Hanya dengan bantuanNya manusia dapat membaca. Dialah Yang telah mencipta segala sesuatu dengan Kasih-SayangNya. Dengan Dia segala sesuatu menjadi ada. Dengan Dia segala sesuatu tetap ada. Kepada Dia segala sesuatu akan kembali. Dalam ajaran Hindu, Rububiyah itu dibagi 3, yaitu Brahman (Pencipta), Wisnu (Pemelihara), Siwa (Penghancur). Dalam Islam tidak dikenal yang demikian. Tetapi yang benar adalah Allah itulah Yang mencipta, memelihara, dan menghancurkan (Tauhid Rububiyah).
    Puji-pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Dialah Yang Mencipta segala bentuk, segala sifat, dan segala perbuatan (Q.S. Ash-Shaffat: 96). Dialah Yang mencipta Bumi dan sifat-sifatnya, serta menggerakkan Bumi dan segala apa yang ada padanya. Dia pula yang mencipta manusia, menyelamatkan mereka dan menggerakkan mereka untuk tha’at kepadaNya. Maka segala puji hanya bagi Allah di dunia juga di akhirat. Dan tidaklah puji-pujian itu terbit kecuali dari Allah Yang Mahapencipta.
    Allah Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Tidaklah seseorang itu selamat kecuali dengan Kasih-SayangNya. Dialah Yang telah menghamparkan bumi sebagai tempat tinggal dan menjadikan gunung sebagai pasak agar kita tidak berguncang bersama Bumi (Al-Anbiya: 31; An-Naba`: 6-7). Dia Yang menumbuhkan segala sesuatu dari Bumi, dan menurunkan segala sesuatu dari langit. Seandainya ni’mat Allah itu kami tuliskan semua, niscaya tidak cukuplah umur kami ini, tidak pula kertas dan tinta kami. Dan tidaklah kami ini selamat kecuali dengan Kasih-Sayang Allah. Semoga Allah memberikan Kasih-SayangNya kepada kita semua.
    Allah Penguasa Hari Pembalasan. Kami berlindung kepada Allah dari balasan atas segala amal kami. Sungguh, jika Allah bersikap adil terhadap kami, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Kami percaya bahwa hari pembalasan itu pasti adanya. Tetapi kami tidak sanggup untuk menghadapi hari itu. Semoga Allah mengampuni dan memberikan Kasih-SayangNya kepada kita semua.
    KepadaNya kita menyembah dan kepadaNya kita memohon. Tidak ada yang kekal di dunia ini. Hanya Dialah Yang selalu Ada dan memberi ketenangan ke dalam hati orang-orang yang tenang. Memberi keyaqinan kepada orang-orang yang yaqin. Memberi kehidupan kepada orang-orang yang hidup. Memberi semangat kepada orang-orang yang semangat. Mahasuci Dia Yang Menyelamatkan kita dari penyembahan kepada makhluq. Sesungguhnya makhluq itu gelap. Barangsiapa menyembah, berpegang dan mencintai makhluq akan mendapat kegelapan, keresahan, kebuntuan, keresahan, keputus-asaan, dan kebinasaan. Hanya dengan menyembah Allah, mencintaiNya, dan berpegang kepadaNya, kita akan mendapat cahaya, ketenangan, jalan keluar, semangat, kemantapan dan kebahagiaan. Makhluq itu adalah fana. Sesuatau yang fana akan sirna. Jika kita berpegang kepada makhluq, maka sewaktu makhluq itu sirna, kita pun kehilangan pegangan dan terjatuh. Tetapi Allah itu selalu Ada, maka serahkanlah segala urusan kita kepada Allah, dan mohonlah kebutuhan kita kepadaNya. Dialah Yang memberi kekuatan dan kemampuan, keshalihan dan ketha’atan, kehidupan dan kebahagiaan.
    Wahai Allah, berilah petunjuk agar kami dapat berjalan di jalanMu yang lurus. Berilah kami pedoman dalam menjalankan tugas kami sebagai wakilMu di muka bumi. Lindungilah kami dari metode yang sesat dan bathil. Tunjukilah kami kepada aturan yang sempurna. Pedoman yang dapat menjawab semua persoalan kami.
    Wahai Allah, gerakkanlah kami untuk melaksanakan aturan yang sempurna ini. Aturan yang telah Engkau ajarkan kepada orang-orang yang telah Engkau gerakkan untuk sampai kepadaMu. Lindungilah pula kami dari ajaran-ajaran cacat dan bathil yang berusaha merayu kami untuk beralih kepadanya.
    Wahai Allah, ampunilah kami, kedua orangtua kami, dan saudara-saudara kami yang beriman. Kami serahkan segala urusan kepadaMu. Sesungguhnya Engkau Memperhatikan hamba-hamba yang berserah diri kepadaMu.
     

  • SOMBONG

    Sombong adalah kita merasa diri kita baik, memandang rendah orang lain, dan menolak kebenaran.
    Ibnul Qayyum Al-Jauzi pernah berkata tentang lima kekayaan sebagai berikut:
    1.       Sesungguhnya semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula kesombongan dan kecongkakannya.
    Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa menuntut ilmu supaya bisa berbangga dengan ilmu itu terhadap ulama, atau supaya dengan ilmu itu ia dapat menyanggah orang-orang bodoh, atau supaya dengan ilmu itu orang memandang          kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.” (Al-Hadits)
    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia bercakap hanya perkara yang baik atau diam dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan jiran tetangganya. Begitu juga barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. [HR. Bukhori (Etika: 5559), Muslim (Iman: 67), Tirmidzi (Suasana Hari Kiamat: 2424), Abu Dawud (Etika: 4487), Ibnu Majah (Fitnah: 3691), Ahmad bin Hanbal]
    Ilmu merupakan salah satu syarat diterimanya suatu amal. Ilmu lebih berharga dari dunia seisinya. Jika manusia memandang ilmu tanpa kacamata iman dan tawadhu`, maka manusia bisa terperosok ke dalam kesombongan. Berapa banyak orang yang berilmu sedikit, menganggap bahwa dirinya telah mendapatkan ilmu seluruhnya.
    Rasulullah SAW bersabda, “Ketika aku mi’raj, aku diperlihatkan neraka, lalu aku melihat sebagian penduduk neraka adalah orang-orang miskin.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah miskin dari harta?” Rasulullah   SAW   menjawab,   “Tidak, melainkan miskin ilmu.” (Al-Hadits)
    2.      Setiap bertambah amalnya, semakin bertambah kebanggaannya dan semakin memandang rendah orang lain, serta semakin bertambah prasanggka baik terhadap diri sendiri. Berkata Syeikh Ibnu ‘Athoillah As Sukandari, “Engkau terhadap Shifat PenyantunNya ketika melakukan ketha’atan kepadaNya adalah lebih membutuhkan daripada engkau terhadap PenyantunNya ketika berbuat ma’siat kepadaNya.” Beliau juga berkata, “Sebagian dari tanda-tanda orang yang membanggakan amal perbuatannya ialah kurang berharap akan Rahmatullah ketika terjadi kekhilafan pada dirinya.”
    Di dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman, ”Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang benar (shiddiq), janganlah kalian tertipu (atas amal perbuatan kalian). Karena sesungguhnya Aku jika Aku tegakkan KeadilanKu, pasti Aku siksa mereka tanpa merupakan kezhaliman terhadap mereka. Dan katakanlah kepada orang-orang yang berbuat salah (dosa), janganlah kalian berputus asa dari (mengharap) RahmatKu. Karena sesungguhnya Aku tidak menganggap besar dosa yang telah Aku ampuni.”
    Di saat kita berbuat ketha’atan bahkan setelah kita berbuat ketha’atan banyak sekali godaan-godaan yang berusaha mengotori ketha’atan kita tersebut, seperti ujub, riya`, sombong, dsb. Kita berfikir telah melakukan ketha’atan, padahal belum tentu amal kita itu bersih dan diterima. Kita tidak berfikir akan kemungkinan-kemungkinan bahwa kita telah melakukan suatu ma’siat dengan amal tersebut Berbeda dengan ketika kita berbuat ma’siat. Kita justeru tidak mengharapkan ampunan Allah dan Rahmatullah setelah kita berbuat ketha’atan dapat menyadari kesalahan kita tersebut, sehingga kta dapat dengan segera memohon ampunan dan rahmatullah. Maka termasuk kesombongan adalah jika kita tidak mengharapkan ampunan Allah dan Rahmatullah setelah kita berbuat ketha’atan dan kema’siatan. Tanpa ampunan dan rahmah dari Allah, manusia tidak akan masuk ke dalam surga. Tidak ada manusia yang masuk ke dalam surga dengan amalnya, tetapi dengan Rahmatullah itulah manusia dan jin dapat selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga dan mendapat RidhaNya.
    Sesungguhnya semua amal kebajikan kita adalah anugerah dari Allah. Tidak pantas kita menyombongkan amal kita yang belum tentu diterima Allah. Tidak pantas kita membanggakan amal perbuatan kita, padahal kita tidak memiliki kekuatan untuk berbuat kebajikan kecuali dengan KekuasaanNya. Dosa-dosa kita tidak akan terhapus dengan amal shalih kita. Hanya Allah yang dapat menghapus dosa-dosa kita seluruhnya. Maka mohonlah Rahmat Allah dan AmpunanNya. Mohonlah dengan amal shalih. Dan ketahuilah bahwa amal shalih itu adalah tanda bahwa Allah sudah mau mengampuni dan menyayangi kita. Jika Allah masih marah, tentu Ia akan membiarkan kita dalam ma’siat. Rahmat Allah itu sangat dekat* dengan orang-orang yang berbuat amal shalih. Maka marilah kita beramal shalih karena ridho Allah.
    Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-A’raf: 56)
    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`. (Q.S. Al-Baqarah: 45)
    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. Al-Kahfi: 110)
    3.      Semakin bertambah usianya, semakin bertambah rakus dan serakahnya.
    Terkadang orang yang lebih tua merasa lebih hebat dari orang yang muda. Ia merasa lebih berhak mendapatkan keutamaan, penghormatan, dan dinomor satukan. Dia haus akan kehormatan dan serakah akan dunia. Begitulah anugerah tanpa syukur. Tidak bermanfaat tetapi justeru membawa mudharat. Terkadang kita juga sungkan untuk menerima nasihat dari orang yang lebih muda. Kita merasa lebih bijak dari orang yang lebih muda. Padahal kebijakan seseorang tidak ditentukan oleh usia melainkan oleh cara berfikir.
    4.      Semakin menumpuk hartanya, semakin bertambah bakhil dan kikirnya.
    Jika manusia memiliki dua gunung emas, maka ia akan mencari gunung emas yang ketiga. Banyak manusia yang telah dilalaikan oleh harta. Dia membelanjakan hartanya hanya untuk kepentingan duniawi belaka. Padahal harta menjadi tidak berguna jika tidak digunakan di jalan Allah. Dia lupa bahwa di dalam hartanya ada haq orang lain yang harus dikembalikan. Dia seakan tidak percaya akan kebenaran firman Allah bahwa zakat dan shadaqah itu mendatangkan kekayaan haqiqi. Sedangkan bakhil dan kikir mendatangkan kemiskinan. Jika kita berfikir harta yang kita miliki akan membuat kita bahagia, padahal kita kikir, berarti kita telah tertipu. Allah memperingatkan kepada kita bahwa bagi orang bakhil ada neraka huthamah (QS. Al-Humazah). Dalam surah Al-Lahab Allah juga memperingatkan kepada kita bagaimana harta menjadi tidak berguna jika tidak digunakan di jalan Allah, apalagi bila digunakan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Maka kecelakaanlah bagi orang yang menggunakan hartanya untuk mengeluarkan orang dari agama Islam. Hartanya itu tidak akan dapat menyelamatkan dia dari api neraka. Bukan kekayaan dan kebahagiaan yang dia dapat, melainkan kepailitan dan kesedihan tiada akhir.
    5.      Semakin meningkat derajat/ kedudukannya, semakin meningkat pula kesombongan dan keangkuhannya.
    Pada zaman N. Musa ada seseorang yang sangat rajin beribadah dan ilmu agamanya juga dalam. Hanya saja ia memiliki  potensi sombong  seperti  ‘Azazil (Iblis). Dia tinggal di antara kaum yang durhaka kepada Allah yang mana Nabi Musa bersama tentaranya akan menyerang mereka bila tetap durhaka. Maka kaum tersebut meminta pertolongan kepada sang ulama agar dapat menghalangi Nabi Musa dan tentaranya. Setelah dipuji-puji sebagai orang yang dekat dengan Allah, ia pun berjanji untuk berdoa agar rencana Nabi Musa digagalkan. Namun Allah memberi tanda bahwa Dia tidak suka akan perbuatan ulama tersebut. Untuk menjaga reputasinya di mata manusia, ia pun membuat rencana jahat sehingga tentara Nabi Musa mengalami kekalahan. Tetapi ulama tersebut berhasil dibunuh dan mati di dalam kemurkaan dan la’nat Allah. Na’udzubillahi min dzalik.
    Demikianlah manusia dibutakan oleh ilmunya, amalnya, jabatannya, hartanya, keelokan rupanya, dan segala kekayaannya; sehingga tidak dapat melihat Kasih-Sayang Allah. Bukan kekayaannya yang salah, tetapi hatinya lalai dari mengingat Allah. Bila hatinya hidup dengan dzikrullah, maka segala kekayaan itu akan ia pandang sebagai karunia dari Allah. Demikianlah hati, memerlukan dzikir, ilmu dan yaqin. Sebagaimana tubuh perlu untuk makan, minum, mandi, olahraga, dsb. Mari kita mengolah jiwa dan hati kita, membersihkannya, serta memberinya makan dan minum.

     

     

    * Jika dikatakan Allah atau RahmatNya dekat dengan manusia, bukan berarti Allah itu bersatu dengan manusia. Tetapi coba fikir, siapakah yang menggerakkan kita untuk makan, minum, shalat dan sebaginya? Siapakah yang menopang kaki kita, mengangkat tangan kita, menggerakkan lisan kita? Allah yang melakukan ini semua. Inilah bukti bahwa Allah itu dekat.
     

    Â