Penulis: adminSN

  • KELEMBUTAN ALLAH DALAM MUSIBAH

    Gempa Bumi, Gunung Meletus, Banjir, Wabah Penyakit, Hama, Angin Taufan, Matahari, Bulan, kesemuanya merupakan tentara Rabbul ‘Alamiin yang bergerak dan bertugas dengan Kehendak Nya dan Perintah Nya. Maka Dia Yang Maha Agung dalam Kekuasaan Nya yang Tunggal dan Abadi telah berfirman kepada Pemimpin para Duta Nya, Sayyidina Muhammad saw : “Sungguh Kuutus Engkau Sebagai Pembawa Rahmat Bagi Seluruh Alam”. (QS Al Anbiya – 107). 

    Maka sebagaimana disebutkan pada Tafsir Imam Attabari Juz 17 hal. 106, bahwa Rasul saw adalah Rahmat Allah (Kasih Sayang Allah) untuk seluruh manusia, muslim dan kafir, Rahmat Nya pada orang kafir adalah dengan tertundanya siksa mereka di muka bumi, tidak seperti ummat-ummat terdahulu yang mana saat mereka kafir pada Nabi Nya maka Allah segera menumpahkan musibah pada mereka, namun untuk ummat ini walaupun mereka Kufur dan kufur, Allah tetap tidak segera menjatuhkan siksa. 

    Maka fahamlah kita bahwa Bumi ini sejak Kebangkitan Rasul saw hingga akhir zaman, dalam naungan Rahmat Nya swt, yaitu Muhammad saw. Alangkah luhurnya nabi yang satu ini, hingga muslim dan kafir di masa beliau hingga akhir zaman tetap terjaga dari siksa kekufuran (Tafsir Imam Qurtubi Juz 4 hal 63). Bila kita menjenguk sedikit pada ayat yang lain Allah swt berfirman : “Hampir Saja Seluruh Langit Itu Pecah, Bumi Terbelah dan Gunung-Gunung Itu Hancur, Ketika Mereka Mengatakan Allah Mempunyai Putra”. (QS Maryam 90-91), Allah menahan alam ini hancur padahal seluruh alam ini murka terhadap manusia yang menghina Rabbul ‘Alamin, sebagaimana kita murka bila orang yang kita cintai dihina, atau ayah atau guru yang kita muliakan dihina, demikian pula alam, namun Allah menahannya karena masa ini adalah Masa Muhammad saw, Nah.. Rahmatan Lil’alamin ini adalah Penangkal Musibah bagi alam, dan ternyata bukan hanya itu, namun para ummat beliau saw pun mewarisi Rahmat itu, yaitu mereka yang beriman kepada beliau saw, Allah jadikan mereka itu penangkal musibah bagi kaumnya, sebagaimana firman Allah swt : “Dan Ketika Mereka (orang-orang kafir) Berkata: Wahai Allah, Bila Ini (Muhammad saw) Merupakan Kebenaran Dari Sisi Mu, Maka Turunkan Pada Kami Hujan Batu Atau Datangkan Pada Kami Siksaan Yang Pedih, dan Tiadalah Allah Akan Menyiksa Mereka Selama Engkau (Wahai Muhammad saw) Berada Diantara Mereka, dan Tiadalah Allah Akan Menyiksa Mereka Selama Ada Diantara Mereka (ada diantara muslimin diantara mereka) Yang Beristigfar” (QS Al Anfal 33). 

    Nah..jelaslah bahwa orang-orang yang beristighfar menahan siksa/ azab pula bagi kaumnya yang kufur, bahkan ayat lainnya : “Kalau Bukan Karena Lelaki-Lelaki Mukmin dan Wanita-Wanita Mukminat, Yang Kalian Tidak Mengetahui dan Hampir Kalian Membunuhnya, Maka Kalian Akan Mendapat Kesulitan Bila Mencelakai Mereka, dan Agar Allah Mengumpulkan Siapa Yang Dikehendaki Nya Dalam Kasih Sayang Nya, Dan Bila Mereka Itu Pergi, Maka Niscaya Kami Tumpahkan Siksaan Pada Orang Yang Kafir Diantara Mereka Dengan Siksaan Yang Pedih” (QS Al Fath 25) dan kini Allah menjelaskan bahwa orang-orang mukmin membuat kesejahteraan pada kaumnya, walaupun mereka kufur dan jahat, namun keberadaan orang-orang mukmin diantara mereka membuat Allah menahan siksa Nya. 

    Bahkan Rasul saw bersabda : “Tidaklah akan datang hari kiamat selama masih ada yang mengucapkan Allah.., Allah..”. (Shahih Muslim hadits no.148) dan sabda Rasul saw : “Tidak terjadi Kiamat diatas seseorang yang berkata Allah, Allah”. (Shahih Muslim no.149). Tentunya seorang muslim dari Ummat Muhammad saw, maka fahamlah kita bahwa Dzikir orang-orang muslim menahan datangnya Kiamat, dan kiamat adalah Musibah terbesar sepanjang usia Alam diciptakan, dan apalah artinya musibah banjir, gunung meletus dan lainnya yang tak sedebu dari kejadian Kiamat..?, Ketahuilah makin banyaknya musibah dimuka bumi ini adalah disebabkan semakin berkurangnya orang-orang yang berdzikir, semakin kurangnya orang yang beristighfar, semakin kurangnya orang yang berdoa, bermunajat, dan bertahajjud di malam hari. Lalu kelaparan, gunung meletus, gempa, banjir, dan segala bencana alam ini semakin santer dimuka bumi, maka jawabannya segera kita temukan, karena semakin berkurangnya orang-orang yang berdzikir dan beristighfar kepada Allah swt. 

    Maka muncullah segala musibah ini, mengapa?, dari Rahmat Nya swt tentunya, sebagaimana hadits-hadits dibawah ini, Sabda Rasululllah saw : “Tiadalah musibah menimpa seorang muslim, terkecuali penghapusan dosa baginya, walaupun hanya duri yang menusuknya”. (Shahih Muslim hadits no.2752, Shahih Bukhari hadits no.5317), Sabda Rasulullah saw : “Tiadalah seoang mukmin mendapat musibah berupa kesulitan, permasalahan, kesedihan, penyakit, bahkan kegundahan hati yang menyelimuti hatinya, kecuali merupakan penghapusan dosa baginya” (Shahih Musli hadits no. 2573, Shahih Bukhari hadits no.5318). Ketika turunnya ayat : “Semua Yang Berbuat Dosa Pasti Akan Dibalas”, maka para sahabat tampak kebingungan dan sangat ketakutan, maka Rasul saw memanggil mereka dan berkata : “Kemarilah kalian.., mendekatlah dan duduk berkumpullah padaku.., ketahuilah bahwa semua yang menimpa muslimin adalah penghapusan dosa, bahkan kesusahan dan pula duri yang melukainya” (Shahih Muslim hadits no.2754). 

    Wahai saudaraku, semakin banyak dosa kita maka telapak tangan penghapus dosa segera menyeka dosa-dosa kita, bila tak kita bersihkan maka akan datang “Tangan Penyeka” yang mengajak kita kembali kepada Nya dalam keadaan suci, “Tangan Penyeka” itu menyeka dosa disertai antibiotik pembersih penyakit di tubuh, bila dosanya kecil maka hanya perlu sedikit diusap maka akan bersih, namun bila kotoran itu sudah berkerak dan menular sekampung pula, bahkan sewilayah, bahkan sedunia, maka alat penyeka itu akan bertebaran dibelahan barat dan timur.., 

    Wahai Saudaraku bangkitlah, Majelis Rasulullah saw ditegakkan dengan tujuan agung, yaitu memperbanyak orang-orang bertobat dan mengenal Allah, menghidupkan dzikir, mengguncang jakarta dengan dzikir Allah, Allah.., dan menumbuhkan semangat dihati muslimin agar mewarisi semangat Muhammad saw, yang dengan jiwa seperti inilah musibah akan sirna, Anda lihat di Aceh?, bagaimana Pekuburan para shalihin tidak disentuh musibah?, bagaimana Air setinggi 30 meter dengan kecepatan rata-rata 300km/jam dengan kekuatan ratusan juta ton itu terbelah di masjid-masjid dan pekuburan orang shalih?, ada di masjid itu?, ada apa di kubur itu?, Singkat saja, ini adalah isyarat Nya kepada seluruh penduduk Bumi bahwa tempat-tempat sujud kepada Ku, dan tempat berdzikir bekas peninggalan hamba-hamba Ku yang shalih tak akan disentuh musibah, demikian pula pusara-pusara mereka yang telah wafat dari Hamba Ku yang shalih pun tak akan disentuh musibah…!” 

    Dan begitulah.. air bah yang sedemikian dahsyatnya itu tunduk dan menyingkir dari tempat-tempat beribadah mereka, siapa?, para ahli dzikir tentunya, hamba-hamba yang sujud dengan khusyu pada Nya, merekalah penangkal musibah, maka kita mesti memperbanyak kelompok masyarakat yang seperti ini.. Kita sering terlalu jauh, tak mungkin kita bisa menjadi penangkal musibah, kita adalah pendosa.., opini semacam ini sering meracuni pemikiran kita.. Ok kita buktikan, bukankah tempat yang paling banyak maksiatnya di seluruh Indonesia adalah jakarta?, berarti jakarta lah yang paling berhak ditimpa “Tangan Penyeka”, namun mengapa musibah selalu menimpa wilayah luar jakarta?, betul di jakarta ada kebanjiran, ada wabah, namun sangat tak seberapa dibanding musibah diluar jakarta, mengapa?, Ketahuilah bahwa jakarta inipun kota yang paling banyak majelis taklimnya di seluruh Indonesia, paling banyak majelis Dzikir, majelis maulid dll. 

    Maka semakin kita meramaikan masjid-masjid dan majelis-majelis, maka kasih sayang Nya terlimpah, sebagaimana Firman Nya dalam hadits Qudsiy : “Sudah Kupastikan Kasih Sayangku Pada Mereka Yang Saling Mengasihani Karena Aku, Saling Berkumpul Karena Aku, Dan Saling Berkorban Karena Aku” (Imam Hakim dalam Mustadrak ala Shahihain hadits no.7314 yang menyebutkan bahwa hadits ini memenuhi syarat shahihain sebagai hadits shahih), demikian pula dengan makna yang sama pada Shahih Ibn Hibban hadits no.575. Maka sudah selayaknya kita segera bangkit meramaikan masjid-masjid kita, rumah-rumah kita, wilayah kita, dengan dzikrullah dan majelis-majelis dzikir dan Ibadah, inilah yang mesti kita makmurkan, jangan kita terfokus kepada kemajuan dan kemajuan, yang pada dasarnya kemajuan tanpa iman adalah kepastian datangnya musibah, Gempa Bumi, Gunung meletus, taufan dan masih banyak lagi tentara Rabbul ‘Alamin yang akan diutus Nya sebagai alat penyeka.. 

    Wahai Yang Maha Luhur dan selalu memuliakan hamba Nya yang berzikir kepada Nya, muliakanlah setiap pembaca risalah ini dengan pengampunan Mu, penyelesaian dari segala kesulitan dan musibah, pengabulan segala doa dan munajat, dan pula Curahkan kemuliaan Mu dengan kenikmatan dan kebahagiaan Dunia dan Akhirat bagi saudara saudara kami muslimin yang tertimpa musibah di Jogja dan seluruh belahan bumi muslimin, gantikan harta mereka dengan yang lebih indah di dunia dan akhirat, muliakan yang wafat dari mereka dengan mati syahid, dan kumpulkan arwah mereka bersama para syuhada di alam barzakh, amiin amiin..
    Dan mudahkanlah perjuangan Majelis Rasulullah saw dan seluruh majelis taklim dan dzikir di muka bumi, selesaikan kesulitan dan hambatan kami, maafkan seluruh dosa pendukung kami, dan curahkan shalawat sebanyak banyaknya dan semulia-mulianya kepada Imam kami dan Idola kami Sayyidina Muhammad saw serta keluarga dan sahabatnya, muliakan pula semua orang orang yang memuliakannya, walhamdulillahi ala dzalik..

     

    (Habib Munzir Al-Musawa, www.majelisrasulullah.org) 

  • PEKERJA DI KEBUN ANGGUR

    Bagaimanakah perumpamaan ummat Nabi Muhammad dalam Alkitab dalam hal kedudukan mereka di sisi Allah? Ummat siapakah yang paling dicintai Allah?

    Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saaw bersabda, “Jarak masa tinggal kamu dibandingkan dengan ummat sebelumnya, yaitu seperti jarak antara shalat Ashar sampai matahari terbenam. Pengikut Taurat diberikan kitab Taurat (di pagi hari) lalu mereka mengamalkannya hingga menjelang siang hari, lalu mereka diberikan masing-masing satu qirath. Kemudian pengikut Injil diberi kitab Injil (di siang hari) lalu mereka amalkan hingga menjelang waktu Ashar, lalu mereka diberi masing-masing satu qirath. Kemudian kita diberi Al-Qur`an, lalu diamalkan hingga matahari terbenam, lalu kita diberi masing-masing dua qirath. Kemudian ahli kitab (Yahudi dan Nashoro) berkata, “Wahai Tuhan kami, Engkau berikan mereka masing-masing dua qirath, dan Engkau berikan kami masing-masing satu qirath, sedangkan kami paling banyak amal kebajikan?” Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berkata, “Apakah Aku telah berbuat zhalim kepada kalian (dengan mengurangi ganjaran kalian)?” Mereka berkata, “Tidak”, lalu Allah berkata, “Yang demikian itu adalah karunia-Ku yang Kuberikan kepada orang yang Aku kehendaki.” (HR. Bukhori) Dalam riwayat yang lain diberitakan bahwa Rasulullah saaw bersabda:
    Masa menetap kalian dibanding dengan ummat-ummat sebelum kalian adalah sebagaimana jarak antara shalat Ashar hingga terbenam matahari. Perumpamaan antara kalian dengan Yahudi dan Nasrani adalah seperti seorang laki-laki yang menyewa beberapa pelayan. Lalu ia berkata, “Barangsiapa yang bekerja dari pagi hingga pertengahan siang, maka baginya satu qirath.” Lalu bekerjalah seseorang, dan itulah kaum Yahudi. Kemudian dia berkata lagi, “Barangsiapa yang bekerja dari siang hingga waktu Ashar, maka baginya satu qirath.” Lalu bekerjalah seseorang, itulah kaum Nasrani. Kemudian tuan itu berkata lagi, “Barangsiapa yang bekerja dari Ashar hingga terbenam matahari, maka baginya dua qirath.” Maka bekerjalah seseorang, itulah kalian. Lalu pekerja pertama dan kedua berkata, “Mengapa kami lebih banyak bekerja, tetapi lebih sedikit ganjarannya?” Lalu tuan itu berkata, “Apakah aku menzhalimi haq kalian (dengan mengurangi upah yang aku janjikan kepada kalian)?” Mereka berkata, “Tidak” Lalu tuan itu berkata, “Yang demikian itu adalah karuniaku yang aku berikan kepada orang yang aku kehendaki.”

    Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa walaupun umur kita lebih pendek dari umur ummat-ummat terdahulu, tetapi kita bisa mendahului mereka dalam perlombaan mengumpulkan pahala dari Allah. Karena setiap ibadah yang diamalkan ummat Muhammad Rasulullah saaw akan dilipat-gandakan. Satu kebaikan digandakan hingga 10 kali lipat, 27 kali lipat, 70 kali lipat, 700 kali lipat, atau lebih daripada itu sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Bahkan dalam setiap tahun, kita mendapatkan malam lailatul qadar, di mana barangsiapa beribadah pada malam itu, maka pahalanya seperti orang yang beribadah selama seribu bulan siang dan malamnya. Padahal menurut injil Barnabas, malam tersebut hanya ada setiap seratus tahun bagi ummat-ummat terdahulu. Sedangkan bagi kita ummat Nabi Muhammad saaw, malam lailatul qadar ada setiap tahunnya. Jika kita mendapatkannya selama 20 kali saja, maka sungguh kita telah mendahului ummat-ummat sebelum kita. Bahkan dengan pelipat-gandaan bagi amal-amal kita setiap harinya saja, kita sudah bisa mengungguli ummat-ummat terdahulu. Apalagi jika kita bisa mendapatkan malam lailatul qadar tiap tahunnya. Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Itulah karunia Allah bagi ummat Muhammad Rasulullah saaw Sang Hamba Pilihan, Muhammad Al-Musthafa.
    MATIUS

    20:1 “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
    20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
    20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
    20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.
    20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
    20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
    20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
    20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
    20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
    20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.
    20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
    20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
    20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
    20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
    20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
    20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

  • TURUNNYA ISA MENJELANG KIAMAT

    Bagaimanakah Islam dan Alkitab memandang kedatangan Isa ke bumi untuk kedua kalinya?

    Dari Abu Umamah Al-Bahili ra, Rasulullah saaw bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat hingga …. Isa menjadi hakim yang adil bagi ummatku, ia menghancurkan salib, membunuh babi, berperang, membiarkan shadaqah sehingga tak seorang pun yang mencari kambing atau unta, rasa dendam dan benci diangkat, permusuhan dicabut dari jiwa manusia, seorang anak kecil memasukkan tangannya ke sarang ular, tetapi tidak membahayakannya, anak kecil menunggang singa, tetapi tidak membahayakannya, serigala berada di tengah-tengah kambing seolah-olah ia menjadi anjing penggembalanya, dan bumi dipenuhi perdamaian seperti wadah yang penuh dengan air, kalimat menjadi satu (semua orang memeluk ajaran tauhid), tidak ada yang disembah selain Allah, perang telah usai, dan kaum Quraisy mengambil hartanya sehingga permukaan bumi seperti permadani perak, pepohonannya tumbuh sesuai dengan janji Adam (bumi kembali subur, bahkan Tanah Arab menjadi hijau), Oleh karena itu, manusia berkumpul pada tandan anggur yang mengenyangkan mereka dan berkumpul pada delima hingga mengenyangkan mereka juga. Sapi jantan (harganya) seperti ini dan itu, sedangkan kuda hanya dengan beberapa dirham.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa kuda menjadi murah?” Beliau saaw menjawab, “Karena tidak dipakai untuk berperang selamanya.” Beliau ditanya lagi, “Mengapa sapi jantan menajdi mahal?” Beliau menjawab, “Karena dipakai untuk mengelola seluruh lahan bumi.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dan Hakim)

    Hadits di atas sesuai dengan Kitab Yesaya pasal 11. Hal ini menunjukkan bahwa berita yang dibawa Nabi Muhammad saaw memang berita yang telah dibawa oleh nabi-nabi terdahulu. Ajaran beliau adalah ajaran tauhid. Sedangkan orang-orang Kristen telah mencemarkan tauhid yang diajarkan nabi-nabi terdahulu dan juga yang dibawa Isa as, mereka mencemarinya dengan ajaran Trinitas yang dianut orang-orang pagan.

    YESAYA

    11:1 Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.

    11:2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN;

    11:3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.

    11:4 Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. (Dalam suatu hadits dijelaskan bahwa kelak nafas Nabi Isa itu begitu wangi. Jika yang mencium nafasnya itu adalah orang kafir dan fasik, maka orang itu akan mati)

    11:5 Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

    11:6 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.

    11:7 Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.

    11:8 Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

    11:9 Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.

    11:10 Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

  • GOG DAN MAGOG

    Gog adalah salah satu keturunan Magog. Gog dan Magog memiliki keturunan yang membentuk suku yang cukup besar. Dalam dialek Arab disebut sebagai Yajuj dan Majuj (tanpa hamzah) atau Ya`juj dan Ma`juj (dengan hamzah). Ya`juj dan Ma`juj merupakan keturunan Yafits (Yafet) bin Nuh.
    Dari Samurah bin Jundub ra, Rasulullah saaw bersabda, “Putera Nuh ada tiga, yaitu Sam, Ham, dan Yafits.” (HR. Ahmad dan Hakim)

    Kalangan sejarawan mengatakan bahwa putera Nuh ada tiga, yaitu Sam bapak orang Arab dan Persia; Ham bapak orang Habsyi/Ethiopia, Negro, dan Naubah; danYafits bapak orang Turki, Slavia, Ya`juj dan Ma`juj. Ibnu Abdul Barr menyebutkan ijma’ ulama bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah putera Yafits bin Nuh. Imam Nawawi berkata, “Pendapat ini menurut mayoritas ulama.”

    Inilah keturunan Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka. Keturunan Yafet ialah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh dan Tiras. (Kejadian 10:1-2)

    Pemilik Dua Tanduk

    Dzul Qornain berarti ‘yang memiliki dua tanduk’, maksudnya yang memiliki dua kerajaan atau dua kekuasaan, yaitu kerajaan di timur dan di barat. Menurut sebagian pendapat, Dzul Qornain adalah Alexander dari Macedonia. Namun menurut pendapat lain, Dzul Qornain adalah Raja Qurusy (Koresh) dari Persia. Raja Qurusy berpegang pada agama yang benar, yaitu agama Zeradsyat yang masih tauhid; yang kemudian agama tersebut berubah menjadi agama Majusi yang menyembah api.
    Pada masa Dzul Qornain, Ya`juj dan Ma`juj ‘dipenjarakan’ pada sebuah bukit. Dzul Qornain membuat dinding dari lempengan besi yang dilas dengan tembaga.

    Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.” Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. (QS. Al-Kahfi: 94-97)

    Namun demikian, jika hari yang dijanjikan telah tiba, dinding itu akan roboh dan mereka keluar untuk membinasakan manusia.

    Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar.” (QS. Al-Kahfi: 98)

    Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiya`: 96)

    Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. (Wahyu 20:7-8) Namun Allah menolong orang-orang beriman dan membinasakan Ya`juj dan Ma`juj. Allah mengirimkan ulat yang keluar dari tengkuk-tengkuk Ya`juj dan Ma`juj dan mereka semua binasa.

    Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Sa’id Al-Khudry diriwayatkan bahwa kelak benteng Ya`juj dan Ma`juj akan terbuka, lalu mereka keluar dan membuat kerusakan di muka bumi. Nabi Isa as dan kaum muslimin berlindung di benteng-benteng. (Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Isa berlindung bersama sekelompok kaum muslimin di Palestina di suatu daerah bernama Babul Lud atau Pintu Lud). Ya`juj dan Ma`juj melewati lahan pertanian kaum muslimin. Setiap melewati sungai, mereka meminum airnya hingga kering, hingga kelompok setelhanya yang melewati sungai tersebut berkata, “Sungguh dahulu sungai ini ada airnya.” Ketika tidak ada seorang pun penduduk bumi yang tersisa kecuali yang berlindung di benteng kota, salah seorang dari mereka berkata, “Penduduk bumi telah kita binasakan, tinggal penduduk langit.” Lalu dia mengayunkan tombaknya, lalu dilemparkan ke langit, tetapi kembali kepadanya dengan berlumuran darah, sebagai tanda bala bencana. Secara tiba-tiba Allah mengirimkan ulat di pundak-pundak mereka seperti gerakan belalang yang keluar dari kepompong. Ya`juj dan Ma`juj mati seketika. Lalu kaum muslimin mengirim seseorang untuk melihat keluar benteng. Lalu orang itu berseru, “Wahai kaum muslimin, bergembiralah! Sesungguhnya Allah telah membinasakan musuh kalian.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim) At-Turmudzi berkata bahwa Isa dan kaum muslimin berdoa kepada Allah dan Dia mengirimkan burug seperti leher unta, lalu burung itu membawa bangkai Ya`juj dan Ma`juj dan melemparkannya ke Mahbal. Lalu Allah menurunkan air hujan sehingga tak satu rumah pun yang tertutup debu dan kapas. Lalu kaum muslimin menyalakan api dari uang dinar, anak panah, dan busur panah selama tujuh tahun.

    Zaid bin Aslam berkata, “Kaum muslimin memanfaatkan uang logam dan anak panah mereka selama bertahun-tahun.” (HR. Nu’aim bin Hamad dalam kitab Al-Fitan) Dan engkau, anak manusia, bernubuatlah melawan Gog dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, hai Gog raja agung negeri Mesekh dan Tubal dan Aku akan menarik dan menuntun engkau dan Aku akan mendatangkan engkau dari utara sekali dan membawa engkau ke gunung-gunung Israel. Aku akan memukul tangan kirimu sehingga busurmu jatuh dan membuat panah-panahmu berjatuhan dari tangan kananmu. Di atas gunung-gunung Israel engkau akan rebah dengan seluruh bala tentaramu beserta bangsa-bangsa yang menyertai engkau; dan engkau akan Kuberikan kepada burung-burung buas dari segala jenis dan kepada binatang-binatang buas menjadi makanannya… Dan yang diam di kota-kota Israel akan keluar dan menyalakan api serta membakar semua perlengkapan senjata Gog, yaitu perisai kecil dan besar, busur dan panah, tongkat pemukul dan tombak, dan mereka membakarnya selama tujuh tahun. Mereka tidak akan mengambil kayu dari hutan belukar atau membelah kayu api di hutan-hutan, sebab mereka akan menyalakan api itu dengan perlengkapan senjata itu. Mereka akan merampas orang-orang yang merampas mereka dan menjarah orang-orang yang menjarah mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (Yehezkiel 39:1-4,9-10) Perlu diketahui juga bahwa dalam Alkitab, anak manusia bisa berarti manusia, bisa berarti nabi atau orang pilihan, terkadang juga mengacu pada Nabi Isa as, dan terkadang mengacu pada Nabi Muhammad saaw.

  • SU`UZH-ZHON

    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. (QS. Al-Hujurat: 12)

    Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk berprasangka kepada siapa pun. Karena kebanyakan prasangka itu adalah dosa. Kalau pun harus berprasangka, Islam mengajarkan kita agar berprasangka baik (husnuzh-zhon) dan bukannya berburuk sangka (su’uzhon). Tetapi sayangnya, sebagian manusia berprasangka terhadap seseorang itu berdasarkan tampilan luarnya yang mana persangkaan demikian itu sering keliru.

    Sering seseorang memandang dengan penuh hormat kepada orang yang datang ke rumahnya dengan pakaian yang rapih apalagi jika dengan mengenakan jas. Tetapi tidak demikian jika yang datang itu adalah seseorang dengan rambut gondrong dan acak-acakan serta mengenakan kaus oblong. Maka dengan segera dia memandang orang tersebut sebagai orang yang tidak pantas didengar arahan dan nasihatnya. Akan tetapi sikapnya akan berubah ketika tahu bahwa si gondrong berkaus oblong itu ternyata adalah seorang pengusaha sukses.

    Itulah sebabnya Islam berpesan kepada kita agar kita melihat kepada apa yang dikatakan dan jangan melihat kepada siapa yang mengatakan. Maksudnya agar kita mengambil pelajaran dengan menggunakan aqal kita dan bukannya dengan prasangka kita. Dan supaya kita menilai orang dari apa yang dia katakan. Sering hati dan fikiran seseorang dapat tercermin dari kata-kata yang keluar dari lisannya. Dan terkadang kita harus mengambil kebenaran dengan cara yang agak menyakitkan kita. Terimalah nasihat yang benar, walau cara menyampaikan nasihat itu tidak baik. Apakah kita ingin menyusahkan orang yang ingin menasihati kita dengan menyuruhnya memikirkan cara yang baik dalam mengingatkan kita? Sudah bagus orang itu mau memperhatikan kita.

    Adapun mengenai perkataan ‘Allah melihat yang bathin, manusia melihat yang zhahir’, perkataan itu adalah diterapkan dalam bidang hukum dengan pengertian bahwa hakim itu memutuskan berdasarkan saksi dan bukti yang dapat diterima secara kaidah hukum. Jika hakim itu ternyata menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah, maka hal itu bukanlah suatu dosa, karena hakim itu sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan keadilan berdasarkan bukti dan saksi yang sah berdasarkan kaidah hukum. Sedangkan mengenai kebenaran yang sesungguhnya yang mungkin tersembunyi dari hakim, maka Allah adalah Mahamelihat kepada yang bathin. Perkataan ini tidak bisa digunakan untuk membenarkan kita dalam berprasangka buruk kepada orang yang berpenampilan buruk.

    PENGAMATAN PARSIAL

    Pengamatan parsial sering menghasilkan kesimpulan parsial yang tidak akurat dan cenderung invalid, kecuali jika sang pengamat mau membandingkan hasil pengamatannya dengan orang lain yang juga mengamati objek yang sama.

    Ada seorang murid yang setiap kali melewati kelas salah seorang guru, dia selalu melihat guru itu sedang mengomel kepada murid-muridnya. Lalu akhirnya ia berkesimpulan bahwa guru tersebut adalah guru yang galak. Sebagian orang lebih suka untuk berprasangka daripada tabayun (mengklarifikasi). Seandainya murid tersebut mau membandingkan hasil pengamatannya dengan murid-murid guru tersebut, mungkin dia akan mendapatkan jawaban yang mengherankan. Sebab bisa jadi murid-murid dari guru tersebut akan berkata, “Tidak, dia adalah guru yang baik. Mengapa Anda bertanya seperti itu?” Ternyata sang guru ini adalah guru yang baik. Kebetulan saja ketika sang ‘observator’ melihat guru ini adalah sewaktu para murid melakukan hal yang melampaui batas, dan sang guru sudah tidak bisa lagi bersikap lunak. Ternyata sang observator menyimpulkan hanya berdasarkan observasinya yang tidak terus-menerus. Observator tadi melihat sang guru marah hanya ketika dia melewati kelas guru tersebut, dan itu dia lakukan dengan interval 3 bulan, dan dia hanya ‘mengamati’ sebanyak 3 kali. Intinya, dia tidak melakukan observasi yang terus-menerus dan tidak pula membandingkan dengan pengamatan orang lain. Ketika dia membandingkan dengan pengamatan orang lain, dia menemukan kesimpulan yang sungguh berbeda. Karena pengamat lainnya mengamati dengan terus-menerus dan lebih utuh datanya.

    Mungkin Anda teringat dengan kisah tiga orang buta yang mencoba menggambarkan bagaimana rupa gajah itu. Tidak satu pun penjelasan mereka tentang bentuk gajah dapat diterima sebagai penggambaran yang tepat, karena mereka hanya menggambarkan secara parsial. Ketika penjelasan mereka digabungkan, barulah kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bentuk gajah.

    Pengamatan yang kurang lengkap ini juga saya lihat pada sebagian motivator yang pernah saya baca atau saya dengar motivasinya. Mereka sering memberikan ‘motivasi positif’ kepada para peserta. Jarang di antara mereka memberikan ‘ancaman’ kepada para peserta. Mereka beranggapan bahwa kata-kata negatif tidak perlu ada pada otak bawah sadar. Padahal sebagian kata-kata negatif, yang saya sebut dengan ‘ancaman’, juga dibutuhkan oleh jiwa. Karena tidak semua jiwa berfikir tentang ‘apa manfaatnya bagi saya?’, tetapi ada juga jiwa yang berfikir, ‘apa ruginya bagi saya?’. Bagi sebagian orang yang tidak suka ‘ngoyo’, penjelasan tentang ‘apa ruginya bagi saya’ akan lebih menggerakkan dia untuk bertindak positif bila dibandingkan dengan iming-iming dalam ‘apa manfaatnya bagi saya’. Kata-kata larangan akan membuat pagar pembatas agar seseorang tidak memasuki daerah berbahaya yang membinasakan, seperti anti-virus yang melindungi computer dari virus-virus yang merusak. Kesimpulan yang di dasari data yang kurang lengkap hanya menghasilkan persangkaan, bukan teori yang sah. Sedangkan kebanyakan persangkaan adalah keliru. Saya tidak yakin bahwa orang yang membuat persangkaan seperti itu adalah orang yang dekat dengan agama. Karena agama apa pun akan berisi perintah dan larangan. Bahkan dalam Alkitab, kita akan menemukan ‘Sepuluh Perintah’ yang sesungguhnya berisi sepuluh larangan yang diawali dengan kata ‘jangan’. Adapun di dalam Islam, begitu banyak kita dapati dalam Al-Qur`an, ketika ayat mengenai surga yang merupakan balasan bagi orang beriman dan beramal shalih disebutkan, pasti setelahnya atau sebelumnya kita menemukan ayat tentang neraka yang merupakan balasan bagi orang yang ingkar. Wallahu a’lam.

  • KUSEBUT NAMAMU

    Dari Abu Hurairah ra ia berkata, “Jibril mendatangi Nabi saaw lalu berkata, ‘Ya Rasulullah! Sebentar lagi Khadijah datang kepdamu membawa bejana berisi makanan atau minuman. Apabila dia datang, maka sampaikanlah salam untuknya dari Tuhannya dan dariku! Kabarkanlah kepadanya berita gembira tentang rumah yang berhiaskan permata untuknya di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kelelahan.’” (HR. Bukhari)

     

    Lihatlah bagaimana Allah memberi salam kepada Khadijah. Allah tidak hanya menyebut nama Khadijah, tetapi juga memberinya salam, keselamatan, kesejahteraan. Allah menyapa Khadijah dengan berkirim salam melalui Jibril dan Rasulullah saaw. Begitu mulya Sayyidah Khadijah ra. Dan Allah berkirim pesan bahwa Dia telah menyediakan rumah yang berhiaskan permata baginya di durga. (lebih…)

  • KEDAHSYATAN DOA

    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mu`min: 60)

    Berdoa merupakan suatu ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Nabi bersabda bahwa doa adalah inti ibadah. Doa merupakan ibadah yang dahsyat. Dalam segala ibadah yang Allah perintahkan, tentu ada hikmah dibaliknya yang begitu dahsyat. (lebih…)

  • KEDAHSYATAN DZIKRULLAH

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. Al-Anfal: 45)

    Sebagian orang kafir ada yang membiasakan dirinya untuk berkata, “Aku bisa!” sebanyak 100 kali di pagi hari dengan suara yang dapat ia dengar. Hal ini mereka lakukan untuk menseting otak bawah sadar mereka agar menjadi otak yang sukses. Mereka yakin bahwa kesuksesan itu berawal pada otak yang sukses. Dan mereka menjadikan rasa percaya diri sebagai sesuatu hal yang harus ada dalam otak mereka. Mereka berpijak pada rasa percaya diri. Banyak orang percaya akan hal ini. Bahkan kaum muslimin juga ikut-ikutan melakukannya, bahkan banyak kaum muslimin yang menganggap bahwa rasa percaya diri adalah sesuatu yang diajarkan oleh agama. (lebih…)

  • ADA APA DENGAN AIR?

    Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah `Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (QS. Huud: 7)

    Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. (QS. Al-Mu`minun: 18)

    Dalam Al-Qur`an, Allah menyebut kata “air” sebanyak 51 kali. Dan tidak satu ayat pun yang menyatakan bahwa Allah “menciptakan air”, justeru sebanyak 25 ayat menyebutkan bahwa Allah “menurunkan air dari langit”. Ini menunjukkan bahwa air itu tidak diciptakan di bumi. Bahkan ada 4 ayat yang secara tegas menjelaskan bahwa Allah “menurunkan air dari langit kemudian menghidupkan bumi setelah bumi itu mati sebelumnya” dan beberapa ayat lainnya menyatakan bahwa Allah “menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghijaukan bumi dengan sebab air itu”. Hal ini menunjukkan bahwa dahulunya, bumi tidak mengandung air dan kehidupan. Tetapi kemudian Allah menurunkan air dari langit dan menghidupkan bumi.

    Saat ini kita telah mengenal suatu teori yang menyatakan bahwa bumi tidak mengandung air pada awalnya. Kemudian ada komet-komet yang mengandung es yang jatuh ke bumi. Komet-komet tersebut bergesekan dengan atmosfer dan menguap menjadi awan. Kemudian dari awan itu turunlah air hujan yang memiliki kemampuan “menghidupkan”. Hingga saat ini, air itu menetap di bumi. Prof. Higa telah meneliti mengenai Effective Micro-organism (EM), suatu mikro-organisme yang mampu “menghidupkan”. Selain air itu memiliki keberkahan, hado positif, energi positif, dan apa pun istilahnya, mungkin EM ini juga salah satu faktor yang menyuburkan atau menghidupkan bumi, yang mana EM ini juga terkandung dalam air yang Allah turunkan dari langit.

    Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan eksistensi Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (QS. An-Nahl: 65)

    Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hajj: 63)

    Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An-Nur: 45)

    Ayat di atas sama sekali tidak mendukung teori evolusi yang bersandar pada atheisme dan “peristiwa kebetulan”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala macam hewan dijadikan oleh Allah dari unsur air. Bahkan manusia, selain ia diciptakan dari air sperma, manusia juga Allah ciptakan dengan 2/3 tubuhnya adalah air. Kita tahu, Al-Qur`an menjelaskan bahwa unsur pembentuk tubuh Adam adalah tanah liat yang tentunya mengandung air, lumpur hitam seperti yang saat ini keluar di Sidoarjo yang juga mengandung air, dan tanah-tanah lainnya yang mengandung air dan mineral lainnya. Dari campuran-campuran tersebut, maka jadilah tubuh Adam yang 2/3-nya adalah air. Kemudian Allah tiupkan roh dari-Nya, maka hiduplah Adam.

    Dia (manusia) diciptakan dari air yang terpancar. (QS. Ath-Thariq: 6)
    Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? (QS. Al-Mursalat: 20)

    KEBERKAHAN AIR

    Dari Anas ra berkata: Kami bersama Rasulullah saaw terperangkap hujan. Tiba-tiba Rasulullah saaw melepas bajunya, sampai-sampai beliau basah terkena hujan. Lantas kami bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau berbuat begitu?” Rasulullah saaw menjawab, “Karena hujan ini baru saja datang dari Tuhannya.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

    Lihatlah bagaimana Rasulullah saaw memandang hujan itu sebagai sesuatu yang mengandung rahmat dan keberkahan dari Allah, sesuatu yang oleh Masaru Emoto dikenal sebagai hado positif. Hado positif ini, selain dapat mempengaruhi kesehatan fisik, juga dapat mempengaruhi kesehatan jiwa seperti dijelaskan dalam Al-Qur`an, dimana air hujan dapat mensucikan hati dan jiwa dari segala penyakit hati dan juga membersihkan diri dari kotoran syaithon.

    (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu kotoran-kotoran syaithan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu). (QS. Al-Anfal: 11)

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Maidah: 6)

    Allah mengajarkan bagi kita yang berhadas agar bersuci dengan air sebelum mendirikan shalat. Karena orang yang berhadas itu sedang dalam keadaan dimana ia kekurangan hado positif. Dengan hado positif dari air wudhu, diharapkan bahwa kita bisa mendapatkan keni’matan ketika sholat berupa akses langsung kepada sumber energi alam semesta, yaitu Allah. Melalui sholat yang khusyu, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat. Satu lagi rahasia Ilahi telah terungkap. Maka bersyukurlah wahai Anda yang telah memeluk Islam, karena Anda telah berada di Jalan Lurus.

    Sumber:
    Al-Qur`an (2:22,74,164; 4:43; 5:6; 6:99; 7:57; 8:11; 11:7; 13:17; 14:32; 15:22; 16:10,65; 20:53; 21:30; 22:5,63; 23:18; 23:45; 25:48,54; 27:60; 28:23; 29:63; 30:24; 31:10; 30:8; 32:27; 35:27; 39:21; 41:39; 43:11; 47:15; 50:9; 54:12; 56:68,69; 77:20,27; 78:14; 80:25; 86:6)

    The Secret Life of Water, Masaru Emoto

  • TANDA KIAMAT

    Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Di antara tanda-tanda hampir Kiamat ialah terhapusnya ilmu Islam, munculnya kejahilan, ramainya peminum arak dan perzinaan dilakukan secara terang-terangan. (HR. Bukhori dan Muslim)

    TERHAPUSNYA ILMU

    Terhapusnya ilmu ini bukan dengan Allah cabut ilmu itu dari ulama. Akan tetapi dengan cara Allah wafatkan banyak ulama pada suatu masa. Ada ilmu-ilmu yang jarang dikuasai oleh muslimin saat ini. Tetapi sebelum ilmu itu bisa dikuasai oleh penuntut ilmu, sang guru sudah keburu wafat. Maka hilanglah beberapa ilmu itu. Semakin banyak ulama-ulama besar yang wafat, maka tinggallah ulama-ulama kecil. Begitu seterusnya hingga tidak satu orang ahli ilmu pun yang hidup di dunia ini. (lebih…)